@sdhidayatullah (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB

“Mother, I can’t be perfect”

 



Anakku, lihat mas A, mbak B, pandai sekali logika matematika!

Harusnya kau lebih pandai darinya, minialnya sama seperti prestasinya!

 

Mother, I just want to tell you “I can’t be perfect”

 

Bunda yang sholih, bunda yang baik, bunda yang anggun nan bijak,

Pengibaratan dalam dunia binatang

Katak takkan mampu berlari, ikan tak kan mampu terbang

 

3 hal penting yang menjadi kekhasan setiap insan adalah serba kurang, lemah, membutuhkan yang lain. Setiap anak adalah 1 bagian dari insan dalam kancah kehidupan dunia, yang memiliki ciri khas tadi.

            Jadikanlah kekurangan sebagai kelebihan. Janganlah fokus di satu bidang, semisal tak pandai logika matematika, pastilah Allah memberikan potensi yang lain. Kembangkan potensi tanpa harus berbenturan dengan syari’at Islam, bersamai dalam meng­upgrade passion yang Ananda sukai.

Kekayaan tata bahasa yang indah, elegant/ mempesona, dan sastra yang tinggi insyaAllah akan menjadi modal sekaligus motor penggerak bagi perubahan pola pikir (aqliyah), kemudian beriringan dengan pola sikap (nafsiyah), yang akan melahirkan ide-ide mustanir (cemerlang) serta kreativitas.

 

Now, I know what you are saying

“Mother, I can’t be perfect”

So answer, but you can be like a mountain

 

Filosofi “mountain”/ gunung adalah tinggi, elegant, dengan banyak material potensi yang terpendam.

 

Oleh: Us In

English Teacher at North Office, Djogja
SD IT Hidayatullah Yogyakarta

Hantu Yang Menakutkan ?

photo by google

oleh: Toto Sutarto, guru SD IT Hidayatullah Yogyakarta

Sudah menjadi rahasia umum bahwa pelajaran Matematika merupakan  momok, hantu yang menakutkan bagi sebagian siswa bahkan guru. Ditambah lagi biasanya guru yang mengajar menunjukkan kesan galak, seram, menakutkan. Ada yang membuat Matematika sebagai singkatan dari Makin Tekun Makin Tidak Karuan. Tersirat pengertian tidak usah belajar Matematika dengan tekun, nanti akan semakin mumet,pusing, tidak karuan artinya kalau ingin tidak pusing, tidak mumet dan karuan tidak usah belajar Matematika.

Lalu bisakah Matematika dibuat tidak menakutkan ?

Sebagai seorang pengajar/guru/ustadz ustadzah tentu kita harus mencari cara supaya murid  tidak alergi/ketakutan terhadap Matematika bahkan senang belajar Matematika.

Terlebih sebagai seorang muslim , kita seharusnya dapat mengajak anak belajar matematika dengan sungguh-sungguh karena ternyata banyak ayat Al-Quran yang berkaitan dengan matematika baik secara langsung maupun tidak, tersurat maupun tersirat.

Mari kita awali dengan mengubah singkatan Matematika menjadi Makin Aku Tekun Eh Makin Aku Tahu Ih Koq Asyik ya.. Jadi semakin tekun belajar, banyak hal yang akan diketahui ,mengundang rasa penasaran dan merasakan betapa asyiknya belajar Matematika itu.

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk membuat Matematika menjadi menarik adalah dengan menggunakan nyanyian/syair ketika menyampaikan konsep atau pembelajaran. Anak tidak terasa akan memahami konsep itu dan menggunakannya untuk menyelesaikan permasalahan yang terkait.

Misal ketika menjelaskan konsep penjumlahan dan pengurangan pecahan ( di kelas V ) bisa menggunakan syair berikut dengan nada lagu “ Kalau Kau Suka Hati “  :

Cara menjumlah mengurang pecahan

Cara menjumlah mengurang pecahan

Samakan penyebutnya

Dengan cara KPK

Jumlah kurangkan pembilang barunya

Itu hanya salah satu contoh yang bisa dilakukan untuk mempermudah pembelajaran Matematika di dunia anak yang senang dengan nyanyian. Masih banyak kreasi-kreasi yang dapat dimunculkan untuk menjadikan Matematika sebagai pelajaran yang tidak ditakuti anak, bahkan membuat anak senang dan menunggu kapan pelajaran Matematika hadir di kelasnya . Wallahu a’lam.

Monitoring Pembelajaran Tatap Muka Terbatas SD IT Hidayatullah oleh Satgas Covid Kapanewon Ngaglik dan Kabupaten Sleman


Alhamdulillah SDIT Hidayatullah Yogyakarta mendapat kunjungan kerja monitoring pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) dari  Tim Satgas Covid 19 Gabungan  Kapanewon Ngaglik dan Kabupaten Sleman pada hari Kamis 21 Oktober 2021.

Alhamdulillah pelaksanaan PTMT yang dilakukan berjalan lancar  dan SDIT Hidayatullah dinilai telah menerapkan protokol kesehatan dengan baik.

Terima kasih kepada semua pihak yang sudah bekerjasama sehingga proses pembelajaran tatap muka terbatas di SDIT Hidayatullah bisa berjalan dengan baik.

Semoga kedepan terus lebih baik dan berkah dari Allah untuk semuanya.

Aamiiin

Kak Bimo Berkisah di SDIT Hidayatullah tentang Keagungan Nabi


Alhamdulillah sudah terlaksana Kak Bimo @kakbimo Berkisah di SDIT Hidayatullah pada Rabu, 13 Rabiul Awal 1443 bertepatan dengan 20 Oktober 2021.

Kegiatan disambut secara langsung oleh Ustadz Muhammad Rifki Saputra @ikki.ida8690 dari Turki yang mengikuti kegiatan Study Tour untuk meningkatkan Program Pendidikan di SDIT Hidayatullah

Bagi yang belum menyimak, silakan kunjungi Channel Youtube SDIT Hidayatullah  Yogyakarta


Semoga bermanfaat dan berkah. Aamiiin

Simulasi ANBK Kelas V SD IT Hidayatullah Yogyakarta

 


Pada hari Senin 18 Oktober 2021 perwakilan murid kelas V SD IT Hidayatullah Yogyakarta sukses melaksanakan Simulasi ANBK (Asesmen Nasional Berbaris Komputer). Simulasi diadakan di laboratorium komputer Sekolah Integral Hidayatullah kampus Pondok Pesantren Hidayatullah Jalan Palagan Tentara Pelajar km 14,5 Balong Donoharjo Ngaglik Sleman.

Dengan simulasi ANBK diharapkan perangkat komputer sudah siap untuk pelaksanaan asesmen yang sesungguhnya. Selain itu murid juga diperkenalkan sistem penilaian atau asesmen paperless yang menjadi satu langkah terobosan internet of things di dunia pendidikan.

Dua Jenis Manusia

 

foto diambil sebelum pandemi


Oleh: Ulfah Hasanah, guru Bahasa Arab di SDIT Hidayatullah Yogyakarta 


Pada suatu hari, Nabi SAW. duduk-duduk dengan para sahabat r.hum. Kemudian lewatlah seseorang di hadapan mereka, lalu Nabi SAW. bertanya kepada kami, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang orang itu?”. Kami menjawab “ Ya Rasulullah, ia keturunan bangsawan. Demi Allah, jika ia melamar seorang wanita, tentu lamarannya tidak akan ditolak. Jika ia mengusulkan sesuatu tentu akan disetujui oleh yang lain.” Nabi SAW. berdiam diri tidak berkata apapun.

Tidak lama kemudian, seseorang lainnya lewat di hadapan mereka. Nabi SAW. bertanya tentang orang itu kepada kami. Kami menjawab, “Ya Rasulullah, ia seorang muslim yang miskin. Jika ia meminang seorang wanita, tentu akan sulit untuk diterima. Jika ia mngusulkan sesuatu, maka akan ditolak. Jika ia berbicara, tidak ada orang yang akan mendengarnya.” Sabda Nabi SAW., “Orang Habsyi kedua itu lebih baik daripada orang pertama. Walaupun dunia dipenuhi orang pertama tadi, maka satu orang ini lebih baik dari mereka semua.”

Allah SWT. tidak memandang seseorang dari segi keduniaannya. Terkadang, seorang muslim miskin dipandang rendah oleh orang lain, tidak memiliki keduniaan sedikitpun, dan jika ia berkata-kata maka tidak akan diperhatikan. Namun dalam pandangan Allah SWT ia lebih dekat kepadaNya daripada ratusan bangsawan terhormat yang dimuliakan orang banyak, memiliki keduniaan yang lebih dari cukup, tetapi dalam panddangan Allah SWT ia tidak memiliki kelebihan apapun.

 

MENGEJA SYUKUR DALAM KUBANGAN KUFUR

 


📝 Oleh: Ida Nahdhah, Guru Al-Qur'an di SDIT Hidayatullah


Kemarin, aku tertawa

Menangis, tersenyum,  sendawa

Menyesap dan menghela nafas seirama

Bagiku itu biasa saja


Kemarin, aku berpacu

Berlari diiringi kesah ini itu

Inginku rehat terlebih dahulu


Kemarin, aku terpejam

Melepaskan segala lelah merajam

Sedikit enggan beraktivitas siang dan malam


Tapi tunggu, bagaimana bisa aku terlupa? 

Tentang nikmat dari-Nya 

yang selalu datang tanpa pernah salah nama

Tentang ketulusan kasih-Nya 

yang menghampiriku ditiap detik yang ada


Yaa Allaahu.. 

Bagaimana bisa aku melupakan pemberian dan nikmat dari-Mu?

Bagaimana bisa aku lupa untuk terus bersyukur atas apa yang ada padaku?

Bahkan sebenarnya, itu semua hanya kepunyaan-Mu, bukankah begitu?


Ilaahi.. 

Aku hamba yang tak tahu diri

Disaat anak kecil pun pandai berterima kasih saat diberi chiki-chiki,

Lalu aku, apa ini?

Bernafas, lengkap anggota badan ini

Semakin paripurna dengan hadirnya keluarga di sisi 


Ampuni aku, ya Rabb, atas segala alpa

Dan pada-Mu semesta syukur ini kueja

Hamdan wa Syukran laKa yaa Ilaahanaa.. 


"Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah." [Q.S. An Nahl:53] 


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi itu, kunikmati secangkir minuman hangat dari jahe merah dan selembar roti tawar yang dioles coklat pasta. Kulirik sekilas jam hijau di dinding, 06.00, waktunya mandi dan bersiap. Tepat pukul 07.00 seharusnya aku sudah tiba di sekolah. Apalah kata orang nanti, rumah terpaut 5 langkah saja dari gedung 3 lantai itu, tapi aku terlambat? Aku pun bergegas. 

Pukul 07.00. Setelah kupastikan pintu rumah terkunci, kulangkahkan kaki setapak demi setapak hingga tiba di halaman SDIT Hidayatullah Yogyakarta, tempatku mengabdi sejak Juli 2015 silam.

Di sekolah, aku memulai aktifitas seperti biasa. Tak ada yang berbeda, selayaknya rutinitas harian bagiku. Bernafas, tidur, bangun, beribadah, mandi, masak, makan, mengajar, beres-beres rumah, dan lainnya. Tepat di saat aku hendak memulai Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) online, seorang teman menghampiri ke kelas, 

"Mbak Ida, tripod sekolah ada sama njenengan, nggih?" 

"Nggih, ada di rumah," jawabku. 

Dia melanjutkan, "Bisa saya pinjam, Ustadzah? Mau saya pakai untuk KBM online."

“Oh, Bisa. Sekedap, Nggih. Saya ambilkan dulu di rumah.” Tukasku sambal tersenyum.

 Jujur saja, bibir mudah saja tersenyum palsu, tapi hati manusia tak pandai berbohong. Sayangnya, syaithan berhasil meniupkan dalam dadaku rasa uring-uringan dan kurang ikhlas atas permintaan teman tadi.

'Duuh, kadung sudah siap mau video call, malah harus pulang lagi ngambilin tripod. Harusnya bilang lebih awal. Kemarin, kek.' Aku menggerutu di dalam hati, sebab pembelajaran daring kelompokku baru saja akan kulakukan. 

Meski begitu, tetap saja kuputuskan untuk segera pulang, memenuhi permintaan sang rekan kerja. Kupacu langkah sambil menghela nafas. Meski tak terhitung betapa seringnya aku harus pulang ke rumah untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal, tapi entah mengapa kali ini rasanya berat sekali, padahal rumah dinas hanya selemparan batu dari Gedung sekolah. Sambil berlari kencang, aku sedikit mengeluh dan menggerutu di dalam hati. Yah, aku manusia biasa. 

Begitu sampai, aku dibuat kaget oleh suara aneh dari dalam rumah. Dan di sinilah detik dimana aku benar-benar mengeja kata syukur pada Allah di lisan maupun di dalam relung sanubari. 

Suara seperti letupan sesuatu yang terbakar, dari arah dapur. Asap hitam dan bau plastik terbakar memenuhi penciumanku.

Allaahu Rabbiiii! 

Seketika kakiku lemas, tulang belulang seakan melunak. Aku lupa mematikan kompor gas sebelum berangkat ke sekolah. Tadi sehabis mandi, kupanaskan sayur di panci itu. Qodarullaah, aku lupa mematikannya, berlalu begitu saja keluar rumah.

Segera kumatikan kompor, panci kini berubah warna menjadi sekelam arang. Tak perlu lagi ditanya bagaimana rupa sayur santan di dalamnya, menjelma menjadi bongkahan arang pula. Tak mengapa, itu tak penting lagi saat ini. 

Alhamdulillah 

Alhamdulillah 

Alhamdulillaaaaah 

Alhamdulillah ya Allah.. 

Kakiku benar-benar lemas dan tubuh bergetar hebat. Sekitar 5 menit aku terduduk sembari mengatur detak jantung, baru kemudian mengambil tripod dan kembali ke sekolah. 

Lihatlaaah.. Lihatlah wahai diri yang kerdil dan hina. Betapa Allah Maha Baik, lewat perantara rekan kerja yang meminjam tripod, Allah menyelamatkan dari hal yang tidak diinginkan. 

Alhamdulillah 

Alhamdulillah 

Alhamdulillah wasy syukru lillaah. 

Tak eloklah berandai, tapi sepanjang jalan menuju sekolah, aku jadi berandai-andai, bagaimanakah jadinya jika rekanku tadi tak meminjam tripod? Atau bagaimana jika tadi aku akhirnya menolak halus dan enggan pulang ke rumah? Sedangkan jam kepulangan masih lama. Na'udzubillaahi min dzaalik. 

Sesampai di sekolah, kuucapkan terima kasih pada sang rekan kerja, tak lupa kuceritakan perihal kejadian yang kutemui di rumah tadi. Sungguh syukur tak terkira Allah mengingatkanku dengan cara yang paling mudah.Teramat Indah, yang sayangnya hampir terlambat kusadari. 

Sampai kini, masih kueja rasa syukurku pada Sang Maha Rahiim, Allaah Rabbul 'Aalamiin. 

Malu diri ini, betapa mudah menggerutu, begitu mudah menilai sesuatu itu buruk, terlampau gampang berkeluh kesah, tanpa mau menunggu akan indahnya pelangi yang Allah janjikan setelah hujan meresap ke bumi. 

Allah Maha Baik.

Alhamdulillaah..


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Anakku, Perhatikan Waktu Tidurmu


Oleh : Nur Kholiq

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ
“Dan Aku jadikan tidurmu untuk istirahat.” 

Sebagai seorang muslim semua aktivitas bernilai ibadah dan mendapat pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala dan membawa keberkahan di dalam kehidupan sehari-hari di antara salah satunya adalah tidur. Salah satunya adalah tidur. Seorang muslim dilarang tidur yang berlebihan.

Mari perhatikan adab pribadi seorang murid tentang mengurangi tidur yang berlebihan.  sebagaimana disebutkan.

Tidur menurut sebagian orang adalah perkara yang biasa atau mubah tapi ketika diniatkan untuk mengkondisikan tubuh agar pulih kembali dan untuk bersegera ibadah, maka bernilai pahala.

Tidur yang baik dan cukup mempunyai banyak manfaat untuk tubuh kita di antaranya badan kita tetap segar, tidak mudah sakit, dan mengurangi resiko stress dan bisa menjaga hati otak kita tetap baik sehingga kita dengan mudah dapat menerima pembelajaran dari ustadz-ustadzah di sekolah.

Lalu berapa lama sebaiknya kita tidur dalam sehari semalam? Menurut ahli kesehatan anak usia SD dianjurkan untuk tidur 8 jam dalam sehari semalam. Sedangkan untuk anak usia remaja dan dewasa dianjurkan 7-8 jam dalam sehari semalam.

Namun demikian jangan tidur melebihi 8 jam dalam satu hari satu malam. Bila memungkinkan boleh tidur kurang darinya sekiranya tidak membahayakan bagi tubuh dan pikiran. Tentu saja waktunya gunakan untuk belajar dan beribadah dengan sebaik-baiknya.

Demikian semoga bermanfaat untuk semua. 

Penerimaan Murid Baru SDIT Hidayatullah Sleman Tahun Pelajaran 2022/2023


SDIT Hidayatullah Yogyakarta, 
Buka Hati dengan Pendidikan Tauhid

Alamat : Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 14,5 Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, D. I. Yogyakarta 55581. Telp. (0274)2861541

Profil Sekolah
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Hidayatullah Sleman Yogyakarta didirikan tahun 1998 oleh Yayasan As-Sakinah Yogyakarta. Sekolah ini berafiliasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sleman dengan Ijin Operasional Nomor: 039/KPTS/108/2001 dan Ijin Pendirian Nomor : 054/KPTS/PEND.SLM/IV/2004. Pada tahun 2016 lulus akreditasi oleh Badan Akreditasi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nilai A.

Bagaimana KBM di SDIT Hidayatullah Yogyakarta pada masa pandemi?
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di masa pandemi covid-19 di SD IT Hidayatullah dilaksanakan secara luring (luar jaringan/offline) dan daring (dalam jaringan/online) dengan pembagian 2 hari belajar di sekolah dan 3 hari belajar di rumah. 

Belajar di Sekolah (BDS)
Teknis BDS selama masa pandemi dibagi menjadi 2, yaitu kelas 1, 2, dan 3 dengan hari masuk Selasa dan Kamis. Kelas 4, 5, dan 6 dengan hari masuk Senin dan Rabu. Setiap kelas akan dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok 1 waktu KBM pukul 07.30 - 10.00 WIB dan kelompok 2 waktu KBM pukul 12.45 - 14.45 WIB. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah yang hadir di sekolah selama KBM.

Belajar di Rumah (BDR)
Teknis BDR selama masa pandemi ini, anak-anak diberikan tugas belajar melalui link https://daring.sdithidayatullah.net/ dengan 3 mata pelajaran setiap hari dan setiap tugas yang diberikan dilaporkan melalui grup WA di masing-masing kelas paling lambat adalah pukul 21.00 wib. 

Khusus untuk KBM Al-Qur'an dilaksanakan melalui Video Call WA bersama guru Al-Qur'an masing-masing kelompok. Setiap panggilan bisa 5-7 anak dengan durasi waktu kurang lebih 20-30 menit. KBM Al-Qur'an ini anak-anak diajarkan metode membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, serta hafalan surat-surat pendek. Adapun metode yang diajarkan adalah Metode Ummi.  

Tampilan Website Belajar dari Rumah (BDR)

Mengapa Memilih SDIT Hidayatullah?

Tenaga Pendidik
Didukung oleh tenaga pendidik yang berdedikasi, muda, terampil, dan berlatar belakang pendidikan S1 dan S2, memungkinkan SDIT Hidayatullah mampu mewujudkan suasana belajar yang kreatif dan inovatif.

Pembelajaran Berbasis Tauhid
Melalui program yang mengintegrasikan nilai-nilai tauhid pada kurikulum dan seluruh aktivitas belajar, SDIT Hidayatullah merupakan partner yang tepat bagi orangtua dalam menggali potensi anak secara optimal baik potensi fisik, akal, maupun jiwanya. Dengan pembelajaran seperti inidiharapkan anak-anak kelak menjadi muslim-muslimah yang saleh dan bertanggungjawab.

Pendekatan Belajar Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Memperhatikan kebutuhan anak merupakan sesuatu yang penting bagi sekolah. Hal ini agar anak tidak kehilangan saat-saat yang paling indah dan menyenangkan dalam hidupnya. Dengan pendekatan berbagai metode pembelajaran dan proses pembelajaran yang sesuai tahap perkembangan anak, diharapkan tumbuh dalam diri anak minat belajar yang tinggi serta anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Kelas Karakter
Kelas karakter adalah kelas penanaman dasar-dasar perilaku anak yang diselenggarakan pada 3 bulan pertama pembelajaran.

Kelas Tahfizh dan Kelas Reguler
Mulai Tahun Ajaran 2018/2019 SDIT Hidayatullah membuka Kelas Tahfizh. Alhamdulillah sudah 5 tahun berjalan kegiatan Kelas Tahfizh ini berjalan. Target dari lulusan Kelas Tahfizh ini adalah hafal 10 juz dengan bacaan yang baik dan benar. Adapun untuk kelas reguler, target hafalan selama 6 tahun adalah hafal 2 juz.

Sekolah Tanpa Rangking
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Mereka bisa menjadi juara di bidangnya masing-masing sehingga sekolah tidak menerapkan casta rangking, namun berupaya menggali dan mengembangkan potensi dari masing-masing peserta didik.

Kelas dipisah Putra dan Putri
Anak laki-laki dan perempuan memiliki perkembangan fisik dan sosial emosional yang berbeda. Kelas yang homogen (dipisah putra dan putri) memudahkan guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan mereka.

Tiada Hari Tanpa Al-Qur’an
Untuk menumbuhkan cinta al-Qur’an pada diri anak, pembelajaran al-Qur’an dilaksanakan setiap hari menggunakan Metode Ummi dengan guru-guru yang telah tersertifikat oleh Ummi Foundation

Lingkungan yang Kondusif
Sekolah berada di alam pedesaan yang nyaman dan jauh dari keramaian. Sekolah juga berada di lingkungan pesantren yang di dalamnya ditegakkan nilai-nilai Islam yang mulia.

Fullday School
Kegiatan pembalajaran di SDIT Hidayatullah mulai hari Senin s.d. Jumat. Dimulai pukul 07.15 s.d. 14.30 wib. Untuk kegiatan pengembangan diri dilaksanakan pukul 15.30 s.d. 16.45 wib dengan jadwal yang ditentukan pada setiap kelasnya.

Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler di SDIT Hidayatullah dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar, untuk kelas 3 ke atas; dimulai pukul 15.30 s.d. 16.45 wib. Adapun ekstrakurikuler adalah sebagai berikut :
> Pramuka Pandu Hidayatullah
> Al-Quran (Hafalan dan Membaca)
> Beladiri Karate
> Berenang
> Memanah

Syarat Murid Baru
> Usia minimal 6 tahun (Juli 2022)
> Mengisi formulir pendaftaran (Online/Offline)
> Menyerahkan/mengirim berkas fotocopy akta kelahiran 1 lembar.
> Menyerahkan/mengirim berkas fotocopy Kartu Keluarga 1 lembar.
> Menyerahkan/mengirim berkas pas photo pose dan ukuran bebas.

Pendaftaran
Alur penerimaan peserta didik baru meliputi : 
(1) Pelayanan Informasi/Konsultasi. 
(2) Pendaftaran, bisa online atau offline. 
(3) Observasi Calon Peserta Didik dan Ortu/Wali. 
(4) Pengumuman. 
(5) Daftar Ulang.

Layanan Pendaftaran online
Daftar Offline >> KLIK DI SINI 
> Buku Panduan >> KLIK DI SINI 

Pendaftaran :
> Senin s.d. Jumat, pukul 07.30 s.d. 11.30 wib 
> Sabtu, pukul 08.00 s.d. 11.00 wib

> Gelombang I : September 2021 – Desember 2021
> Gelombang II : Januari– Maret 2022
> Gelombang III : April – Juni 2022

Pendaftaran ditutup jika kuota telah terpenuhi

Kontak Person :
> Ustadz Nurkholiq https://wa.me/6283862080002

Manusia yang Serakah

 


Penulis: Jajang, S.Pd. adalah guru PAI di SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sebuah sekolah Islam di Sleman


Setiap anak Adam (manusia) dalam dirinya memiliki sifat dasar yaitu tama' (rakus) sehingga keinginan untuk memperkaya diri dan mengumpulkan harta sangat besar dengan terus  diupayakan, bahkan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh Islam seperti korupsi, suap, mencuri dan lain sebagainya. Hal ini menjadikannya lalai dari mengingat Allah, dari pengawasan Allah dan juga lupa akan penciptaan dirinya yaitu untuk mengabdikan diri beribadah kepada Allah sebagai seorang hamba, sebagai khalifah di muka bumi. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ 

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,"(QS. At-Takasur 102: Ayat 1)

Ayat ini menunjukkan sifat manusia yang suka bermegah-megahan, manusia yang tidak pernah merasa puas dengan harta.

Rasulullah Saw bersabda:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ الْخَمِيصَةِ لَمْ لَمْ »

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian dan modus hamba. Jika diberi, ia ridho. Namun jika tidak diberi, ia pun tidak ridho”. (HR. Bukhari no. 6435)

Kedua:

Dari Ibnu 'Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ انَ لاِبْنِ ادِيَانِ الٍ لاَبْتَغَى الِثًا لاَ لأُ ابْنِ لاَّ الابُ

“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu saja masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)

Ketiga:

Dari Ibnu 'Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ لاِبْنِ لَ الاً لأَحَبَّ لَهُ لَيْهِ لَهُ لاَ لأُ ا ال ال ابَ

“Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu saja masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6437)

Pada zaman sekarang ini kita dipertontonkan oleh sajian dimana para pemimpin kita yang sejatinya disiapkan dan diberi amanah untuk mengelola kekayaan negara guna mensejahterakan rakyatnya justru mereka manfaatkan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Mereka tidak sadar jika semua itu akan dia ditinggalkan, justru malah sebaliknya dia merasa akan hidup selamanya dan menikmati harta yang dikumpulkannya lupa kalau semua nikmat itu adalah pemberian Allah SWT dan sudah barang tentu dia akan merasakan adzab Allah kelak menimpa dirinya ketika diingkarinya seperti halnya Qarun yang ditenggelamkan Allah kedasar bumi beserta hartanya disebabkan tidak bersyukur merasa harta yang dimilikinya merupakan hasil dari usahanya, ilmunya dan usaha upayanya. Nauzubillah. Untuk itu Allah menginginkan kita agar pandai bersyukur atas apa yang kita dapatkan sekecil apapun, karena yang bisa menjadikan kita cukup yaitu ketika kita memiliki hati yang kaya, hati yang bisa mengiyakan bahwa nikmat yang Allah anugerahkan bisa menjadikan kita semakin dekat  dengan اَلْغَنِى ( Yang Maha Kaya) yaitu Allah SWT. Demikian semoga bermanfaat. 

Wallahu'alam

Mengelola Pembelajaran di Masa Pandemi

 

*Foto diambil sebelum pandemi

Oleh: Untung Purnomo S.Pd, adalah staf pengajar di SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sekolah Islam di Sleman yang mendidik generasi bertauhid, unggul, dan berkarakter.

Pandemi berimplikasi terhadap semua sektor kehidupan manusia. Salah satunya sektor pendidikan . Salah satu subyek yang bersinggungan dengan sektor pendidikan ini adalah orangtua/ wali murid. Di mana mereka menyampaikan banyaknya keluhan yang dirasakan oleh orangtua.

Keluhan-keluhan tersebut beraneka ragam. Belum siapnya orangtua mendampingi belajar anak, turunnya motivasi dan minat belajar anak, ketergantungan anak terhadap gadged, turunnya prestasi belajar anak dan lain sebagainya.

Kita memang tidak bisa lepas dari efek pandemi. Namun mengurangi efek bahkan jika mampu  menghilangkan itu adalah tugas bagi setiap orang. Apalagi sebagai sebagai guru atau pengelola lembaga pendidikan.

Ada beberapa skema yang bisa dilakukan oleh seorang guru. Pertama, perlunya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah sudah menjadi ketentuan dari Allah subhanahu wa taala. Datangnya pandemi karena Allah, maka hilangnya karena kehendak Allah juga. Keyakinan ini juga perlu dibarengi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah menjadi kebijakan dari pemerintah.

Kedua, perlunya membangun ikatan emosional yang erat antara guru dengan orangtua ataupun murid. Ikatan emosional ini bukan hanya sifatnya lip service, namun berlandasan dari hati nurani. Pengenalan terhadap masing-masing karakter siswa dapat membantu guru melaksanakan tahapan ini. Laporan perkembangan siswa dari guru wali kelas sebelumnya dapat dipakai sebagai landasannya.

Ketiga, guru perlu mengajak peran serta aktif orangtua dalam membimbing putra putrinya di rumah. Bisa jadi orangtua tidak mempunyai kemampuan secara materi terhadap mata pelajaran yang dipelajari. Kesediaan guru dalam memberi bantuan terhadap kesulitan yang dihadapi orangtua dengan kunjungan atau memberi kesempatan secara lebar jika diperlukan menghubungi gurunya serta membangun komunikasi yang baik dirasakan sangat membantu bagi orangtua.

Keempat, respon positif serta memberikan timbal balik terhadap tugas anak sangat penting dilakukan. Adanya kepercayaan bahwa setiap tugas dievaluasi guru sangat membantu dalam menjaga kontinuitas anak belajar di rumah.

Kelima, kesediaan guru mendatangi anak manakala tugas tersendat atau saat anak mengalami kesulitan dapat membantu siswa memahami materi ajar yang dipelajarinya. Kegiatan ini dapat dilakukan secara privat ataupun klasikal.

Demikianlah beberapa skema yang dapat dilakukan guru di dalam melaksanakan tugasnya selama pandemi. Terakhir semoga pendemi yang terjadi di negeri ini segera berakhir dan proses pembelajaran dapat dilakukan secara ideal kembali.

Mimpi-mimpi Itu Kita Wariskan

Oleh : Akhid Nur Setiawan

Seorang kakek menangis haru usai mendengar salah seorang cucunya melantunkan surat An Naba'.

"Saya dulu baru sampai surat Al Ma'un, guru saya wafat. Alhamdulillah, sekarang sudah ada yang meneruskan," kata Sang Kakek.

Sekitar tujuh tahun kemudian cucu dari kakek itu selesai menghafal 30 Juz Al Qur'an.

Usia dakwah terlalu panjang untuk ditopang oleh satu atau dua generasi. Dakwah membutuhkan banyak generasi. Dakwah harus terus bergulir hingga hari akhir.

SD IT Hidayatullah, SD IT Pertama di Sleman, Informasi dan Pendaftaran https://klikwa.net/sdithidayatullah

Adakala suatu generasi hanya sempat menyemai benih, generasi berikutnya hanya sempat menyiangi rumput, generasi berikutnya mengairi. Generasi selanjutnya mungkin melihat tanaman saat sedang berbunga, selainnya Allah beri kesempatan bisa memetik buah. Terkadang satu generasi menemui tanaman layu hingga hanya bisa mempertahankan diri dari kepunahan, sembunyi. Setelahnya ada generasi yang menyuburkan ulang lahan lalu menyemai benih kembali.

Seakan mengajarkan bahwa jalan dakwah memang panjang, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidak berdoa agar dakwah menang pada masa kenabiannya. Beliau berdoa pada Allah agar kelak di tengah-tengah penduduk Makkah diutus seorang Rasul yang membacakan ayat, mengajarkan hikmat, dan menyucikan jiwa umat. Cukuplah meninggikan bangunan Ka'bah menjadi salah satu proyek dakwah yang harus diselesaikan oleh generasinya.

SD IT Hidayatullah, Sekolah Tahfizh di Sleman, Informasi dan Pendaftaran https://klikwa.net/sdithidayatullah

Adanya kesadaran bahwa waktu yang tersedia amat singkat memaksa para da'i untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang tiba. Kenyataan akan sumberdaya yang terbatas mengarahkan para da'i agar menyusun prioritas. Karena merasa perlu menyiapkan dakwah di masa depan, para da'i berusaha memperbanyak peluang dan memperbesar ruang gerak bagi generasi setelahnya.

Sebuah ungkapan mengatakan, "Orang biasa merencanakan Sabtu malam, orang besar merencanakan tiga generasi."

Kalau boleh menambahkan, "Orang beriman merencanakan hingga hari pembalasan."

Mimpi-mimpi dakwah tak mungkin selesai hanya dalam satu malam. Penting bagi para dai untuk mewariskan mimpi kepada generasi berikutnya. Kelak generasi itu akan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh generasi pendahulu mereka.

"Kalau Abah masih ada, kira-kira apa yang akan Abah lakukan dengan kondisi kita saat ini?"

"Dari dulu simbah pengen banget begini."

"Ummi itu biasanya begini."

Mungkin itu kalimat-kalimat yang otomatis muncul dari anak keturunan ideologis saat mereka menghadapi masalah atau merumuskan strategi dakwah sepeninggal leluhurnya.

Jika pewarisan mimpi berhasil, ada manusia-manusia yang hidupnya singkat tapi umurnya panjang. Mimpi mereka terus berlanjut meskipun maut telah menjemput. Dakwah mereka berkesinambungan, tidak hanya selama mereka masih hidup tapi sambung menyambung antargenerasi setelah mereka mati.

Dengan pewarisan, para dai mutaakhir tidak harus memulai dakwah dari awal. Mereka hanya perlu melanjutkan apa yang telah dimulai sebelumnya. Susah payah para pendahulu meniscayakan mudah jalan para pembaharu.

Mereka yang masih bertahan harus menemukan jejak-jejak kebaikan para pendahulunya. Penelusuran jejak itu bukan untuk sekedar meneladani baiknya kepribadian tetapi berusaha agar bisa menyambung benang merah kerja-kerja dakwah. Semoga Allah bimbing kita semua.

Akhid Nur Setiawan, Guru SD IT Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Pentingnya Pengetahuan Mitigasi kepada Murid Sekolah Dasar

 


Penulis : Sunarno, S. si  adalah staf pengajar di SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sekolah Islam di Sleman yang mendidik generasi bertauhid, unggul, dan berkarakter.


Alhamdulillah kita ditakdirkan oleh Allah  ta’ala hidup di daerah yang sangat subur makmur gemah ripah loh jinawi kata orang Jawa. Namun di balik itu semua kita juga digadapkan pada daerah yang rawan bencana alam, semisal letusan gunung Merapi, angin ribut, gempa bumi, cuaca ekstrem, banjir, dan lain sebagainya. 

Nah, dengan keadaan tersebut kita dituntut untuk sealu sigap siap dan waspada setiap saat untuk itulah disiapkan mitigasi bencana yang terencana, terukur, cepat dan tepat. Mitigasi bencana adalah segala upaya mengurangi resiko bencana, program mitigasi dilakukan melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. 

Dikarenakan bencana alam dapat menimpa siapa saja, maka pengetahuan tentang mitigasi ini harus diajarkan semenjak dini lebih-lebih usia sekolah dasar, selain itu yang tidak kalah pentingnya memberikan edukasi pelatihan penanggulangan, simulasi yang dilakukan secara terus menerus secara berkala baik secara fisik maupun mental lebih-lebih spritual dan akidah. Jangan sampai dengan adanya bencana alam mendangkalkan akidah anak semisal bencana alam sering dikaitkan dengan mitos dan  hal-hal mistis, sebagai contoh meletusnya gunung Merapi dikaitkan dengan “ mbah Petruk “ yang sedang marah, contoh lain kejadian gempa bumi laut selatan  dikaitkan dengan “ ratu Selatan “ yang sedang ngamuk. 

Mitos-mitos inilah yang masih ada disebagian masyarakat Jawa tentang pengetahuan bencana alam, yang seharusnya menjadi tanggung  kita sebagai pendidik di lembaga pendidikan Islam selain pengetahuan tentang bencana alam  secara ilmiah, mitigasinya, juga harus menyentuh dampak-dampak lain yang lebih penting yaitu dampak akidah yang akan timbul. Jangan sampai mitigasi secara fisik baik, namun menyisakan permasalahan lain pada diri murid yang didapatkan dari lingkungan mereka tinggal maka menjadi  tugas kita untuk melurus pengetahuan mereka.

Wallahu a’lam bishawab