@sdhidayatullah (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB

Dua Jenis Manusia

 

foto diambil sebelum pandemi


Oleh: Ulfah Hasanah, guru Bahasa Arab di SDIT Hidayatullah Yogyakarta 


Pada suatu hari, Nabi SAW. duduk-duduk dengan para sahabat r.hum. Kemudian lewatlah seseorang di hadapan mereka, lalu Nabi SAW. bertanya kepada kami, “Bagaimanakah pendapat kalian tentang orang itu?”. Kami menjawab “ Ya Rasulullah, ia keturunan bangsawan. Demi Allah, jika ia melamar seorang wanita, tentu lamarannya tidak akan ditolak. Jika ia mengusulkan sesuatu tentu akan disetujui oleh yang lain.” Nabi SAW. berdiam diri tidak berkata apapun.

Tidak lama kemudian, seseorang lainnya lewat di hadapan mereka. Nabi SAW. bertanya tentang orang itu kepada kami. Kami menjawab, “Ya Rasulullah, ia seorang muslim yang miskin. Jika ia meminang seorang wanita, tentu akan sulit untuk diterima. Jika ia mngusulkan sesuatu, maka akan ditolak. Jika ia berbicara, tidak ada orang yang akan mendengarnya.” Sabda Nabi SAW., “Orang Habsyi kedua itu lebih baik daripada orang pertama. Walaupun dunia dipenuhi orang pertama tadi, maka satu orang ini lebih baik dari mereka semua.”

Allah SWT. tidak memandang seseorang dari segi keduniaannya. Terkadang, seorang muslim miskin dipandang rendah oleh orang lain, tidak memiliki keduniaan sedikitpun, dan jika ia berkata-kata maka tidak akan diperhatikan. Namun dalam pandangan Allah SWT ia lebih dekat kepadaNya daripada ratusan bangsawan terhormat yang dimuliakan orang banyak, memiliki keduniaan yang lebih dari cukup, tetapi dalam panddangan Allah SWT ia tidak memiliki kelebihan apapun.

 

MENGEJA SYUKUR DALAM KUBANGAN KUFUR

 


📝 Oleh: Ida Nahdhah, Guru Al-Qur'an di SDIT Hidayatullah


Kemarin, aku tertawa

Menangis, tersenyum,  sendawa

Menyesap dan menghela nafas seirama

Bagiku itu biasa saja


Kemarin, aku berpacu

Berlari diiringi kesah ini itu

Inginku rehat terlebih dahulu


Kemarin, aku terpejam

Melepaskan segala lelah merajam

Sedikit enggan beraktivitas siang dan malam


Tapi tunggu, bagaimana bisa aku terlupa? 

Tentang nikmat dari-Nya 

yang selalu datang tanpa pernah salah nama

Tentang ketulusan kasih-Nya 

yang menghampiriku ditiap detik yang ada


Yaa Allaahu.. 

Bagaimana bisa aku melupakan pemberian dan nikmat dari-Mu?

Bagaimana bisa aku lupa untuk terus bersyukur atas apa yang ada padaku?

Bahkan sebenarnya, itu semua hanya kepunyaan-Mu, bukankah begitu?


Ilaahi.. 

Aku hamba yang tak tahu diri

Disaat anak kecil pun pandai berterima kasih saat diberi chiki-chiki,

Lalu aku, apa ini?

Bernafas, lengkap anggota badan ini

Semakin paripurna dengan hadirnya keluarga di sisi 


Ampuni aku, ya Rabb, atas segala alpa

Dan pada-Mu semesta syukur ini kueja

Hamdan wa Syukran laKa yaa Ilaahanaa.. 


"Segala nikmat yang ada pada kamu (berasal) dari Allah." [Q.S. An Nahl:53] 


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Pagi itu, kunikmati secangkir minuman hangat dari jahe merah dan selembar roti tawar yang dioles coklat pasta. Kulirik sekilas jam hijau di dinding, 06.00, waktunya mandi dan bersiap. Tepat pukul 07.00 seharusnya aku sudah tiba di sekolah. Apalah kata orang nanti, rumah terpaut 5 langkah saja dari gedung 3 lantai itu, tapi aku terlambat? Aku pun bergegas. 

Pukul 07.00. Setelah kupastikan pintu rumah terkunci, kulangkahkan kaki setapak demi setapak hingga tiba di halaman SDIT Hidayatullah Yogyakarta, tempatku mengabdi sejak Juli 2015 silam.

Di sekolah, aku memulai aktifitas seperti biasa. Tak ada yang berbeda, selayaknya rutinitas harian bagiku. Bernafas, tidur, bangun, beribadah, mandi, masak, makan, mengajar, beres-beres rumah, dan lainnya. Tepat di saat aku hendak memulai Kegiatan Belajar dan Mengajar (KBM) online, seorang teman menghampiri ke kelas, 

"Mbak Ida, tripod sekolah ada sama njenengan, nggih?" 

"Nggih, ada di rumah," jawabku. 

Dia melanjutkan, "Bisa saya pinjam, Ustadzah? Mau saya pakai untuk KBM online."

“Oh, Bisa. Sekedap, Nggih. Saya ambilkan dulu di rumah.” Tukasku sambal tersenyum.

 Jujur saja, bibir mudah saja tersenyum palsu, tapi hati manusia tak pandai berbohong. Sayangnya, syaithan berhasil meniupkan dalam dadaku rasa uring-uringan dan kurang ikhlas atas permintaan teman tadi.

'Duuh, kadung sudah siap mau video call, malah harus pulang lagi ngambilin tripod. Harusnya bilang lebih awal. Kemarin, kek.' Aku menggerutu di dalam hati, sebab pembelajaran daring kelompokku baru saja akan kulakukan. 

Meski begitu, tetap saja kuputuskan untuk segera pulang, memenuhi permintaan sang rekan kerja. Kupacu langkah sambil menghela nafas. Meski tak terhitung betapa seringnya aku harus pulang ke rumah untuk mengambil barang-barangku yang tertinggal, tapi entah mengapa kali ini rasanya berat sekali, padahal rumah dinas hanya selemparan batu dari Gedung sekolah. Sambil berlari kencang, aku sedikit mengeluh dan menggerutu di dalam hati. Yah, aku manusia biasa. 

Begitu sampai, aku dibuat kaget oleh suara aneh dari dalam rumah. Dan di sinilah detik dimana aku benar-benar mengeja kata syukur pada Allah di lisan maupun di dalam relung sanubari. 

Suara seperti letupan sesuatu yang terbakar, dari arah dapur. Asap hitam dan bau plastik terbakar memenuhi penciumanku.

Allaahu Rabbiiii! 

Seketika kakiku lemas, tulang belulang seakan melunak. Aku lupa mematikan kompor gas sebelum berangkat ke sekolah. Tadi sehabis mandi, kupanaskan sayur di panci itu. Qodarullaah, aku lupa mematikannya, berlalu begitu saja keluar rumah.

Segera kumatikan kompor, panci kini berubah warna menjadi sekelam arang. Tak perlu lagi ditanya bagaimana rupa sayur santan di dalamnya, menjelma menjadi bongkahan arang pula. Tak mengapa, itu tak penting lagi saat ini. 

Alhamdulillah 

Alhamdulillah 

Alhamdulillaaaaah 

Alhamdulillah ya Allah.. 

Kakiku benar-benar lemas dan tubuh bergetar hebat. Sekitar 5 menit aku terduduk sembari mengatur detak jantung, baru kemudian mengambil tripod dan kembali ke sekolah. 

Lihatlaaah.. Lihatlah wahai diri yang kerdil dan hina. Betapa Allah Maha Baik, lewat perantara rekan kerja yang meminjam tripod, Allah menyelamatkan dari hal yang tidak diinginkan. 

Alhamdulillah 

Alhamdulillah 

Alhamdulillah wasy syukru lillaah. 

Tak eloklah berandai, tapi sepanjang jalan menuju sekolah, aku jadi berandai-andai, bagaimanakah jadinya jika rekanku tadi tak meminjam tripod? Atau bagaimana jika tadi aku akhirnya menolak halus dan enggan pulang ke rumah? Sedangkan jam kepulangan masih lama. Na'udzubillaahi min dzaalik. 

Sesampai di sekolah, kuucapkan terima kasih pada sang rekan kerja, tak lupa kuceritakan perihal kejadian yang kutemui di rumah tadi. Sungguh syukur tak terkira Allah mengingatkanku dengan cara yang paling mudah.Teramat Indah, yang sayangnya hampir terlambat kusadari. 

Sampai kini, masih kueja rasa syukurku pada Sang Maha Rahiim, Allaah Rabbul 'Aalamiin. 

Malu diri ini, betapa mudah menggerutu, begitu mudah menilai sesuatu itu buruk, terlampau gampang berkeluh kesah, tanpa mau menunggu akan indahnya pelangi yang Allah janjikan setelah hujan meresap ke bumi. 

Allah Maha Baik.

Alhamdulillaah..


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿

Anakku, Perhatikan Waktu Tidurmu


Oleh : Nur Kholiq

وَّجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًاۙ
“Dan Aku jadikan tidurmu untuk istirahat.” 

Sebagai seorang muslim semua aktivitas bernilai ibadah dan mendapat pahala dari Allah subhanahu wa ta'ala dan membawa keberkahan di dalam kehidupan sehari-hari di antara salah satunya adalah tidur. Salah satunya adalah tidur. Seorang muslim dilarang tidur yang berlebihan.

Mari perhatikan adab pribadi seorang murid tentang mengurangi tidur yang berlebihan.  sebagaimana disebutkan.

Tidur menurut sebagian orang adalah perkara yang biasa atau mubah tapi ketika diniatkan untuk mengkondisikan tubuh agar pulih kembali dan untuk bersegera ibadah, maka bernilai pahala.

Tidur yang baik dan cukup mempunyai banyak manfaat untuk tubuh kita di antaranya badan kita tetap segar, tidak mudah sakit, dan mengurangi resiko stress dan bisa menjaga hati otak kita tetap baik sehingga kita dengan mudah dapat menerima pembelajaran dari ustadz-ustadzah di sekolah.

Lalu berapa lama sebaiknya kita tidur dalam sehari semalam? Menurut ahli kesehatan anak usia SD dianjurkan untuk tidur 8 jam dalam sehari semalam. Sedangkan untuk anak usia remaja dan dewasa dianjurkan 7-8 jam dalam sehari semalam.

Namun demikian jangan tidur melebihi 8 jam dalam satu hari satu malam. Bila memungkinkan boleh tidur kurang darinya sekiranya tidak membahayakan bagi tubuh dan pikiran. Tentu saja waktunya gunakan untuk belajar dan beribadah dengan sebaik-baiknya.

Demikian semoga bermanfaat untuk semua. 

Penerimaan Murid Baru SDIT Hidayatullah Sleman Tahun Pelajaran 2022/2023


SDIT Hidayatullah Yogyakarta, 
Buka Hati dengan Pendidikan Tauhid

Alamat : Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 14,5 Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, D. I. Yogyakarta 55581. Telp. (0274)2861541

Profil Sekolah
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Hidayatullah Sleman Yogyakarta didirikan tahun 1998 oleh Yayasan As-Sakinah Yogyakarta. Sekolah ini berafiliasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sleman dengan Ijin Operasional Nomor: 039/KPTS/108/2001 dan Ijin Pendirian Nomor : 054/KPTS/PEND.SLM/IV/2004. Pada tahun 2016 lulus akreditasi oleh Badan Akreditasi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nilai A.

Bagaimana KBM di SDIT Hidayatullah Yogyakarta pada masa pandemi?
Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di masa pandemi covid-19 di SD IT Hidayatullah dilaksanakan secara luring (luar jaringan/offline) dan daring (dalam jaringan/online) dengan pembagian 2 hari belajar di sekolah dan 3 hari belajar di rumah. 

Belajar di Sekolah (BDS)
Teknis BDS selama masa pandemi dibagi menjadi 2, yaitu kelas 1, 2, dan 3 dengan hari masuk Selasa dan Kamis. Kelas 4, 5, dan 6 dengan hari masuk Senin dan Rabu. Setiap kelas akan dibagi menjadi 2 kelompok, kelompok 1 waktu KBM pukul 07.30 - 10.00 WIB dan kelompok 2 waktu KBM pukul 12.45 - 14.45 WIB. Hal ini dilakukan untuk mengurangi jumlah yang hadir di sekolah selama KBM.

Belajar di Rumah (BDR)
Teknis BDR selama masa pandemi ini, anak-anak diberikan tugas belajar melalui link https://daring.sdithidayatullah.net/ dengan 3 mata pelajaran setiap hari dan setiap tugas yang diberikan dilaporkan melalui grup WA di masing-masing kelas paling lambat adalah pukul 21.00 wib. 

Khusus untuk KBM Al-Qur'an dilaksanakan melalui Video Call WA bersama guru Al-Qur'an masing-masing kelompok. Setiap panggilan bisa 5-7 anak dengan durasi waktu kurang lebih 20-30 menit. KBM Al-Qur'an ini anak-anak diajarkan metode membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar, serta hafalan surat-surat pendek. Adapun metode yang diajarkan adalah Metode Ummi.  

Tampilan Website Belajar dari Rumah (BDR)

Mengapa Memilih SDIT Hidayatullah?

Tenaga Pendidik
Didukung oleh tenaga pendidik yang berdedikasi, muda, terampil, dan berlatar belakang pendidikan S1 dan S2, memungkinkan SDIT Hidayatullah mampu mewujudkan suasana belajar yang kreatif dan inovatif.

Pembelajaran Berbasis Tauhid
Melalui program yang mengintegrasikan nilai-nilai tauhid pada kurikulum dan seluruh aktivitas belajar, SDIT Hidayatullah merupakan partner yang tepat bagi orangtua dalam menggali potensi anak secara optimal baik potensi fisik, akal, maupun jiwanya. Dengan pembelajaran seperti inidiharapkan anak-anak kelak menjadi muslim-muslimah yang saleh dan bertanggungjawab.

Pendekatan Belajar Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Memperhatikan kebutuhan anak merupakan sesuatu yang penting bagi sekolah. Hal ini agar anak tidak kehilangan saat-saat yang paling indah dan menyenangkan dalam hidupnya. Dengan pendekatan berbagai metode pembelajaran dan proses pembelajaran yang sesuai tahap perkembangan anak, diharapkan tumbuh dalam diri anak minat belajar yang tinggi serta anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Kelas Karakter
Kelas karakter adalah kelas penanaman dasar-dasar perilaku anak yang diselenggarakan pada 3 bulan pertama pembelajaran.

Kelas Tahfizh dan Kelas Reguler
Mulai Tahun Ajaran 2018/2019 SDIT Hidayatullah membuka Kelas Tahfizh. Alhamdulillah sudah 5 tahun berjalan kegiatan Kelas Tahfizh ini berjalan. Target dari lulusan Kelas Tahfizh ini adalah hafal 10 juz dengan bacaan yang baik dan benar. Adapun untuk kelas reguler, target hafalan selama 6 tahun adalah hafal 2 juz.

Sekolah Tanpa Rangking
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Mereka bisa menjadi juara di bidangnya masing-masing sehingga sekolah tidak menerapkan casta rangking, namun berupaya menggali dan mengembangkan potensi dari masing-masing peserta didik.

Kelas dipisah Putra dan Putri
Anak laki-laki dan perempuan memiliki perkembangan fisik dan sosial emosional yang berbeda. Kelas yang homogen (dipisah putra dan putri) memudahkan guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan mereka.

Tiada Hari Tanpa Al-Qur’an
Untuk menumbuhkan cinta al-Qur’an pada diri anak, pembelajaran al-Qur’an dilaksanakan setiap hari menggunakan Metode Ummi dengan guru-guru yang telah tersertifikat oleh Ummi Foundation

Lingkungan yang Kondusif
Sekolah berada di alam pedesaan yang nyaman dan jauh dari keramaian. Sekolah juga berada di lingkungan pesantren yang di dalamnya ditegakkan nilai-nilai Islam yang mulia.

Fullday School
Kegiatan pembalajaran di SDIT Hidayatullah mulai hari Senin s.d. Jumat. Dimulai pukul 07.15 s.d. 14.30 wib. Untuk kegiatan pengembangan diri dilaksanakan pukul 15.30 s.d. 16.45 wib dengan jadwal yang ditentukan pada setiap kelasnya.

Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler di SDIT Hidayatullah dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar, untuk kelas 3 ke atas; dimulai pukul 15.30 s.d. 16.45 wib. Adapun ekstrakurikuler adalah sebagai berikut :
> Pramuka Pandu Hidayatullah
> Al-Quran (Hafalan dan Membaca)
> Beladiri Karate
> Berenang
> Memanah

Syarat Murid Baru
> Usia minimal 6 tahun (Juli 2022)
> Mengisi formulir pendaftaran (Online/Offline)
> Menyerahkan/mengirim berkas fotocopy akta kelahiran 1 lembar.
> Menyerahkan/mengirim berkas fotocopy Kartu Keluarga 1 lembar.
> Menyerahkan/mengirim berkas pas photo pose dan ukuran bebas.

Pendaftaran
Alur penerimaan peserta didik baru meliputi : 
(1) Pelayanan Informasi/Konsultasi. 
(2) Pendaftaran, bisa online atau offline. 
(3) Observasi Calon Peserta Didik dan Ortu/Wali. 
(4) Pengumuman. 
(5) Daftar Ulang.

Layanan Pendaftaran online
Daftar Offline >> KLIK DI SINI 
> Buku Panduan >> KLIK DI SINI 

Pendaftaran :
> Senin s.d. Jumat, pukul 07.30 s.d. 11.30 wib 
> Sabtu, pukul 08.00 s.d. 11.00 wib

> Gelombang I : September 2021 – Desember 2021
> Gelombang II : Januari– Maret 2022
> Gelombang III : April – Juni 2022

Pendaftaran ditutup jika kuota telah terpenuhi

Kontak Person :
> Ustadz Nurkholiq https://wa.me/6283862080002

Manusia yang Serakah

 


Penulis: Jajang, S.Pd. adalah guru PAI di SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sebuah sekolah Islam di Sleman


Setiap anak Adam (manusia) dalam dirinya memiliki sifat dasar yaitu tama' (rakus) sehingga keinginan untuk memperkaya diri dan mengumpulkan harta sangat besar dengan terus  diupayakan, bahkan dengan cara-cara yang tidak dibenarkan oleh Islam seperti korupsi, suap, mencuri dan lain sebagainya. Hal ini menjadikannya lalai dari mengingat Allah, dari pengawasan Allah dan juga lupa akan penciptaan dirinya yaitu untuk mengabdikan diri beribadah kepada Allah sebagai seorang hamba, sebagai khalifah di muka bumi. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ 

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,"(QS. At-Takasur 102: Ayat 1)

Ayat ini menunjukkan sifat manusia yang suka bermegah-megahan, manusia yang tidak pernah merasa puas dengan harta.

Rasulullah Saw bersabda:

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

« الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ الْخَمِيصَةِ لَمْ لَمْ »

“Celakalah hamba dinar, hamba dirham, hamba pakaian dan modus hamba. Jika diberi, ia ridho. Namun jika tidak diberi, ia pun tidak ridho”. (HR. Bukhari no. 6435)

Kedua:

Dari Ibnu 'Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ انَ لاِبْنِ ادِيَانِ الٍ لاَبْتَغَى الِثًا لاَ لأُ ابْنِ لاَّ الابُ

“Seandainya manusia diberi dua lembah berisi harta, tentu saja masih menginginkan lembah yang ketiga. Yang bisa memenuhi dalam perut manusia hanyalah tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6436)

Ketiga:

Dari Ibnu 'Abbas, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ لاِبْنِ لَ الاً لأَحَبَّ لَهُ لَيْهِ لَهُ لاَ لأُ ا ال ال ابَ

“Seandainya manusia memiliki lembah berisi harta, tentu saja masih menginginkan harta yang banyak semisal itu pula. Mata manusia barulah penuh jika diisi dengan tanah. Allah tentu akan menerima taubat bagi siapa saja yang ingin bertaubat.” (HR. Bukhari no. 6437)

Pada zaman sekarang ini kita dipertontonkan oleh sajian dimana para pemimpin kita yang sejatinya disiapkan dan diberi amanah untuk mengelola kekayaan negara guna mensejahterakan rakyatnya justru mereka manfaatkan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya. Mereka tidak sadar jika semua itu akan dia ditinggalkan, justru malah sebaliknya dia merasa akan hidup selamanya dan menikmati harta yang dikumpulkannya lupa kalau semua nikmat itu adalah pemberian Allah SWT dan sudah barang tentu dia akan merasakan adzab Allah kelak menimpa dirinya ketika diingkarinya seperti halnya Qarun yang ditenggelamkan Allah kedasar bumi beserta hartanya disebabkan tidak bersyukur merasa harta yang dimilikinya merupakan hasil dari usahanya, ilmunya dan usaha upayanya. Nauzubillah. Untuk itu Allah menginginkan kita agar pandai bersyukur atas apa yang kita dapatkan sekecil apapun, karena yang bisa menjadikan kita cukup yaitu ketika kita memiliki hati yang kaya, hati yang bisa mengiyakan bahwa nikmat yang Allah anugerahkan bisa menjadikan kita semakin dekat  dengan اَلْغَنِى ( Yang Maha Kaya) yaitu Allah SWT. Demikian semoga bermanfaat. 

Wallahu'alam

Mengelola Pembelajaran di Masa Pandemi

 

*Foto diambil sebelum pandemi

Oleh: Untung Purnomo S.Pd, adalah staf pengajar di SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sekolah Islam di Sleman yang mendidik generasi bertauhid, unggul, dan berkarakter.

Pandemi berimplikasi terhadap semua sektor kehidupan manusia. Salah satunya sektor pendidikan . Salah satu subyek yang bersinggungan dengan sektor pendidikan ini adalah orangtua/ wali murid. Di mana mereka menyampaikan banyaknya keluhan yang dirasakan oleh orangtua.

Keluhan-keluhan tersebut beraneka ragam. Belum siapnya orangtua mendampingi belajar anak, turunnya motivasi dan minat belajar anak, ketergantungan anak terhadap gadged, turunnya prestasi belajar anak dan lain sebagainya.

Kita memang tidak bisa lepas dari efek pandemi. Namun mengurangi efek bahkan jika mampu  menghilangkan itu adalah tugas bagi setiap orang. Apalagi sebagai sebagai guru atau pengelola lembaga pendidikan.

Ada beberapa skema yang bisa dilakukan oleh seorang guru. Pertama, perlunya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah sudah menjadi ketentuan dari Allah subhanahu wa taala. Datangnya pandemi karena Allah, maka hilangnya karena kehendak Allah juga. Keyakinan ini juga perlu dibarengi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang sudah menjadi kebijakan dari pemerintah.

Kedua, perlunya membangun ikatan emosional yang erat antara guru dengan orangtua ataupun murid. Ikatan emosional ini bukan hanya sifatnya lip service, namun berlandasan dari hati nurani. Pengenalan terhadap masing-masing karakter siswa dapat membantu guru melaksanakan tahapan ini. Laporan perkembangan siswa dari guru wali kelas sebelumnya dapat dipakai sebagai landasannya.

Ketiga, guru perlu mengajak peran serta aktif orangtua dalam membimbing putra putrinya di rumah. Bisa jadi orangtua tidak mempunyai kemampuan secara materi terhadap mata pelajaran yang dipelajari. Kesediaan guru dalam memberi bantuan terhadap kesulitan yang dihadapi orangtua dengan kunjungan atau memberi kesempatan secara lebar jika diperlukan menghubungi gurunya serta membangun komunikasi yang baik dirasakan sangat membantu bagi orangtua.

Keempat, respon positif serta memberikan timbal balik terhadap tugas anak sangat penting dilakukan. Adanya kepercayaan bahwa setiap tugas dievaluasi guru sangat membantu dalam menjaga kontinuitas anak belajar di rumah.

Kelima, kesediaan guru mendatangi anak manakala tugas tersendat atau saat anak mengalami kesulitan dapat membantu siswa memahami materi ajar yang dipelajarinya. Kegiatan ini dapat dilakukan secara privat ataupun klasikal.

Demikianlah beberapa skema yang dapat dilakukan guru di dalam melaksanakan tugasnya selama pandemi. Terakhir semoga pendemi yang terjadi di negeri ini segera berakhir dan proses pembelajaran dapat dilakukan secara ideal kembali.

Mimpi-mimpi Itu Kita Wariskan

Oleh : Akhid Nur Setiawan

Seorang kakek menangis haru usai mendengar salah seorang cucunya melantunkan surat An Naba'.

"Saya dulu baru sampai surat Al Ma'un, guru saya wafat. Alhamdulillah, sekarang sudah ada yang meneruskan," kata Sang Kakek.

Sekitar tujuh tahun kemudian cucu dari kakek itu selesai menghafal 30 Juz Al Qur'an.

Usia dakwah terlalu panjang untuk ditopang oleh satu atau dua generasi. Dakwah membutuhkan banyak generasi. Dakwah harus terus bergulir hingga hari akhir.

SD IT Hidayatullah, SD IT Pertama di Sleman, Informasi dan Pendaftaran https://klikwa.net/sdithidayatullah

Adakala suatu generasi hanya sempat menyemai benih, generasi berikutnya hanya sempat menyiangi rumput, generasi berikutnya mengairi. Generasi selanjutnya mungkin melihat tanaman saat sedang berbunga, selainnya Allah beri kesempatan bisa memetik buah. Terkadang satu generasi menemui tanaman layu hingga hanya bisa mempertahankan diri dari kepunahan, sembunyi. Setelahnya ada generasi yang menyuburkan ulang lahan lalu menyemai benih kembali.

Seakan mengajarkan bahwa jalan dakwah memang panjang, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidak berdoa agar dakwah menang pada masa kenabiannya. Beliau berdoa pada Allah agar kelak di tengah-tengah penduduk Makkah diutus seorang Rasul yang membacakan ayat, mengajarkan hikmat, dan menyucikan jiwa umat. Cukuplah meninggikan bangunan Ka'bah menjadi salah satu proyek dakwah yang harus diselesaikan oleh generasinya.

SD IT Hidayatullah, Sekolah Tahfizh di Sleman, Informasi dan Pendaftaran https://klikwa.net/sdithidayatullah

Adanya kesadaran bahwa waktu yang tersedia amat singkat memaksa para da'i untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang tiba. Kenyataan akan sumberdaya yang terbatas mengarahkan para da'i agar menyusun prioritas. Karena merasa perlu menyiapkan dakwah di masa depan, para da'i berusaha memperbanyak peluang dan memperbesar ruang gerak bagi generasi setelahnya.

Sebuah ungkapan mengatakan, "Orang biasa merencanakan Sabtu malam, orang besar merencanakan tiga generasi."

Kalau boleh menambahkan, "Orang beriman merencanakan hingga hari pembalasan."

Mimpi-mimpi dakwah tak mungkin selesai hanya dalam satu malam. Penting bagi para dai untuk mewariskan mimpi kepada generasi berikutnya. Kelak generasi itu akan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh generasi pendahulu mereka.

"Kalau Abah masih ada, kira-kira apa yang akan Abah lakukan dengan kondisi kita saat ini?"

"Dari dulu simbah pengen banget begini."

"Ummi itu biasanya begini."

Mungkin itu kalimat-kalimat yang otomatis muncul dari anak keturunan ideologis saat mereka menghadapi masalah atau merumuskan strategi dakwah sepeninggal leluhurnya.

Jika pewarisan mimpi berhasil, ada manusia-manusia yang hidupnya singkat tapi umurnya panjang. Mimpi mereka terus berlanjut meskipun maut telah menjemput. Dakwah mereka berkesinambungan, tidak hanya selama mereka masih hidup tapi sambung menyambung antargenerasi setelah mereka mati.

Dengan pewarisan, para dai mutaakhir tidak harus memulai dakwah dari awal. Mereka hanya perlu melanjutkan apa yang telah dimulai sebelumnya. Susah payah para pendahulu meniscayakan mudah jalan para pembaharu.

Mereka yang masih bertahan harus menemukan jejak-jejak kebaikan para pendahulunya. Penelusuran jejak itu bukan untuk sekedar meneladani baiknya kepribadian tetapi berusaha agar bisa menyambung benang merah kerja-kerja dakwah. Semoga Allah bimbing kita semua.

Akhid Nur Setiawan, Guru SD IT Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Pentingnya Pengetahuan Mitigasi kepada Murid Sekolah Dasar

 


Penulis : Sunarno, S. si  adalah staf pengajar di SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sekolah Islam di Sleman yang mendidik generasi bertauhid, unggul, dan berkarakter.


Alhamdulillah kita ditakdirkan oleh Allah  ta’ala hidup di daerah yang sangat subur makmur gemah ripah loh jinawi kata orang Jawa. Namun di balik itu semua kita juga digadapkan pada daerah yang rawan bencana alam, semisal letusan gunung Merapi, angin ribut, gempa bumi, cuaca ekstrem, banjir, dan lain sebagainya. 

Nah, dengan keadaan tersebut kita dituntut untuk sealu sigap siap dan waspada setiap saat untuk itulah disiapkan mitigasi bencana yang terencana, terukur, cepat dan tepat. Mitigasi bencana adalah segala upaya mengurangi resiko bencana, program mitigasi dilakukan melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. 

Dikarenakan bencana alam dapat menimpa siapa saja, maka pengetahuan tentang mitigasi ini harus diajarkan semenjak dini lebih-lebih usia sekolah dasar, selain itu yang tidak kalah pentingnya memberikan edukasi pelatihan penanggulangan, simulasi yang dilakukan secara terus menerus secara berkala baik secara fisik maupun mental lebih-lebih spritual dan akidah. Jangan sampai dengan adanya bencana alam mendangkalkan akidah anak semisal bencana alam sering dikaitkan dengan mitos dan  hal-hal mistis, sebagai contoh meletusnya gunung Merapi dikaitkan dengan “ mbah Petruk “ yang sedang marah, contoh lain kejadian gempa bumi laut selatan  dikaitkan dengan “ ratu Selatan “ yang sedang ngamuk. 

Mitos-mitos inilah yang masih ada disebagian masyarakat Jawa tentang pengetahuan bencana alam, yang seharusnya menjadi tanggung  kita sebagai pendidik di lembaga pendidikan Islam selain pengetahuan tentang bencana alam  secara ilmiah, mitigasinya, juga harus menyentuh dampak-dampak lain yang lebih penting yaitu dampak akidah yang akan timbul. Jangan sampai mitigasi secara fisik baik, namun menyisakan permasalahan lain pada diri murid yang didapatkan dari lingkungan mereka tinggal maka menjadi  tugas kita untuk melurus pengetahuan mereka.

Wallahu a’lam bishawab




Protes Orangtua Murid itu Makanan Bergizi bagi Sekolah


Penulis: Mahmud Thorif adalah koordinator Humas dan Kabag TU di SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sekolah Islam di Sleman yang mendidik generasi bertauhid, unggul, dan berkarakter.

Lembaga pendidikan yang dikelola oleh swasta di tengah situasi pandemi covid-19 ini mau tidak mau harus memeras otak dan pikiran agar bisa menjaga kualitas para muridnya dalam menyerap materi pembelajaran, disamping itu lembaga swasta ini juga harus mencari jurus-jurus jitu agar guru dan pegawainya bisa terus menerima gaji bulanan, agar guru-gurunya bisa konsentrasi mengajar ketika kebutuhan pokok untuk keluarganya bisa terpenuhi. Untuk urusan gaji bulanan ini tentu semakin berat, ketika orang tua/wali murid yang biasa rutin membayar biaya pendidikan bulanan prosentasenya tidak mencapai 100%, mungkin hanya 60%, atau malah 50%, atau bahkan di bawah 50%. Tentu menjadi hal yang berat bagi sekolah swasta, karena urusan gaji ini sumber biayanya dari iuran bulanan para orang tua/wali murid. 

Di tengah situasi begini tentu berbagai tuntutan dari orangtua murid juga banyak ke sekolah, wajar saja sih, karena orangtua murid juga merasa pusing dan pening memikirkan anak-anaknya lebih banyak di rumah, lebih banyak memegang gadget, lebih senang bermain daripada belajar. Karena orangtua murid ada tambahan pekerjaan yaitu menggantikan peran guru di sekolah yang pindah ke rumah. Jika sehari, dua hari, tiga hari, empat hari mungkin tidak menjadi masalah, ini sudah berlaku 1,5 tahun bro, sis, waktu yang tidak sebentar. Ada orantua yang setuju dan menginginkan anaknya masuk belajar di sekolah ada juga orangtua yang masih khawatir jika sekolah melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka. Sekolah harus memperhatikan 2 gelombang yang seperti ini dari orangtua. Jika sekolah mengabaikan salah satu, maka hidup dan kehidupan sekolah bakal terancam (widih, ngeri bener kaaan)

Lantas tuntutan orangtua murid, protes orangtua, kritik orangtua murid kepada lembaga pendidikan, kepada kepala sekolah, kepada para guru dan pegawainya harus menjadi bahan evaluasi sekolah untuk memperbaiki diri. Jangan mudah terbawa suasana alias baper sehingga menambah loyo kepala sekolah dalam memimpin lembaga pendidikannya, menambah loyo para guru dan pegawai dalam mengajar dan bekerja. Jadikan itu semua sebagai makanan bergizi yang bisa meningkatkan imun di tengah pandemi (walau penulis yakin, ini susah dilaksanakan).

Tentu berbeda jika tuntutan, protes, dan kritik orangtua murid dijadikan ‘makanan yang bergizi’ bagi sekolah, maka sekolah akan berbenah, sekolah akan mengevaluasi, sekolah akan menjadikan tuntutan, protes, dan kritik orangtua murid menjadi ‘cambuk’ bagi sekolahnya untuk meningkatkan mutu. Tidak mudah memang menerima sebuah tuntutan, banyak protes dan kritik dari orang lain yang kadang bikin kuping dan pikiran panas.

Jika tuntutan, protes, dan kritik orangtua murid dijadikan ‘makanan bergizi’ bagi sekolah, maka sekolah harus berusaha memperbaiki manajemen yang ada sekarang, para guru harus banyak belajar tentang mengelola kelas virtual, mengelola emosi, menangani murid yang bermasalah atau bahkan murid yang sangat cerdas. 

Jika tuntutan, protes, dan kritik orangtua murid dianggap ‘makanan bergizi’ tapi sikap sekolah, sikap gurunya tidak mengubah kebiasaan mereka, maka jangan berharap banyak, sekolah atau gurunya bisa menjadi lebih baik dalam mendidik anak-anak didik mereka. Bisa jadi para gurunya akan lebih fokus  memberi alasan akan tuntutan orangtua, para gurunya sibuk mengcounter protes dari para wali murid, para gurunya selalu membela diri dari kritik orangtua murid. Yang perlu dicari adalah mencari solusi dari tuntutan, protes, dan kritik orangtua murid.

Guru di sekolah dan orangtua di rumah adalah partner dalam mendidik anak-anak. Jika keduanya saling mendukung, saling memotivasi, saling memahami, saling tolong menolong tentu pekerjaan dalam mendidik anak-anak akan semakin mudah. 

Wallahu a’lam bishawab

Bermanfaat untuk Umat


Oleh : Muhammad Haris, SP. 

Pemuda itu tertegun dan menyimak dengan seksama apa yang disampaikan Sang Guru padanya. Malam itu Sang Guru menjelaskan secara terperinci mengenai manfaat dari tanaman kelapa. 

Sekolah Terbaik Sleman 0877-3281-9070 

Belajar lah dari kelapa. Sebagian besar anggota tubuhnya memberikan manfaat pada manusia. Buahnya dinikmati kesegarannya, baik airnya maupun dagingnya. 

Daunnya biasa digunakan untuk berbagai hal, seperti bahan untuk ketupat, untuk sapu lidi, tanda pernikahan, atau bahkan atap. Bunganya bisa diambil nira nya untuk dijadikan minuman, gula maupun cuka. Batangnya digunakan untuk kayu bahan bangunan. Akarnya yang berserabut membantu mencegah kerusakan pada tanah di daerah pantai. Tempurung atau batok kelapa bisa menjadi kerajinan maupun bahan baku untuk membuat arang. Sabutnya bisa digunakan untuk bahan dasar pembuatan tali, karpet ataupun kerajinan lainnya. 

Sekolah Tahfizh Sleman 0877-3281-9070 

Begitulah pula semestinya kita, dalam kehidupan sehari-hari ketika kita berinteraksi dengan sesama makhluk Allah Subhanahu wata'ala. 

Sang Guru meneruskan, agama kita ini mendidik kita agar mengambil peran aktif dalam aktifitas amal yang ada, "Naafi'un lighoirihi" bermanfaat bagi orang lain. Meskipun tak bisa sempurna namun usahakan lah perbesar persentasenya. 

SDIT Unggul Sleman 0877-3281-9070

Teringat nasihat Baginda Rasullullah Shallallahu 'alaihi wasallam untuk kita bahwa

 خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya” (Al Hadits)

Setiap kita In Syaa Allah memiliki potensi besar yang Allah titipkan untuk bisa berperan di bangunan keumatan ini.

Malam itu menjadi malam perputaran 180 derajat orientasi hidup si pemuda. Menjadi malam terberat ketika dia harus me-muhasabah-i diri, teringat begitu banyak sekali lingkaran kehidupannya yang belum bisa bermanfaat untuk orang banyak. Ia pun bertekad untuk menjadi lebih baik lagi untuk bisa menjadi lebih bermanfaat untuk umat.

Mari kita belajar bersama darinya. Semoga bermanfaat untuk umat.


Muhammad Haris, SP., Guru dan Motivator Al-Qur’an Metode Ummi Yogyakarta

Wahai Bunda, Berikan Waktumu Ketika Si Kecil Membutuhkan



Ditulis oleh Ustadzah Norhikmah, guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sekolah Islam di Sleman yang mendidik generasi bertauhid, unggul, dan berkarakter.


Bunda ini apa namanya ?

Bunda lihat gambaranku....bagus ngga?

Bunda bagaimana ini caranya ?...aku belum bisa...

Bunda bisa buatkan yang seperti ini ngga ?

Bunda mengapa sih kita harus wudhu sebelum sholat?

Bunda mengapa sih kita harus sholat terus ?

Bunda mengapa sih orang banyak sakit ?

Allah ngga sayang kita ya Bunda?

Bunda...buku yang kemaren mana?

Dan banyak lagi lainnya kita alami dalam kehidupan sehari-hari selama membersamai mereka. Banyak sekali yang mereka tanyakan, inginkan, harapkan dari kita sebagai orang tuanya. Setiap saat, setiap menit, setiap jam bahkan setiap hari. Mereka belum bisa memahami kondisi kita. Apakah kita sibuk bekerja, sedang istirahat setelah lelah seharian bekerja, ada masalah, sedih, bahkan ketika kita sedang sholat, tidak luput dari berondongan pertanyaan-pertanyaan atau hanya sekedar minta sedikit perhatian dari kita. Yang mereka tahu bahwa ada seseorang yang selalu bisa membantu memecahkan permasalahan yang mereka hadapi dan bisa menjadi pendengar yang baik untuk cerita dan keluh kesah mereka.

Terkadang terhadap semua celotehan atau keinginan-keinginan anak tersebut, kita sebagai orang tuanya hanya menyikapi dengan sikap biasa-biasa saja, merespon dengan seadanya, dan lebih menyedihkan lagi ada yang tidak merespon bahkan memarahinya karena dirasa mengganggu aktifitas orang tua. Padahal kita tidak selamanya dibutuhkan mereka. Kita hanya sebentar membersamai hidup mereka. Ada waktunya mereka tidak membutuhkan kita lagi untuk tempat bertanya, tempat berbagi kebahagiaan dan kesedihan, dan sebagai teman bermain. 

Bunda....kalau kita ingat-ingat, hal-hal tersebut  seringnya terjadi di masa kecil anak seusia usia 2-7 tahun, di mana usia tersebut kita kenal dengan golden age (usia keemasan). Di mana di usia tersebut anak-anak sering bertanya dan minta perhatian yang lebih dari kita. Melakukan hal-hal yang yang menurut kita nggak masuk akal/tidak penting hanya untuk mengalihkan perhatian kita kepada mereka. Apa yang bisa kita lakukan agar pendampingan anak bisa optimal di masa perkembangannya? 

Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu bahwa di masa perkembangan anak menuju remaja dan dewasa, ada masa keemasan tumbuh kembang  anak   (golden age). Masa itu sekitar umur 0 – 7 tahun. Masa ini merupakan :

Masa keemasan tumbuh kembang anak

Masa penting penanaman mahabbatullah

Masa dimulai pengajaran agama dan adab yang baik

Masa butuh perhatian dan kasih sayang

Masa diberi kesempatan dan diajak bersama

Di masa ini anak banyak memberdayakan penglihatan dan pendengaran mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar (pembelajaran kehidupan). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang terdapat di QS. An Nahl (16) : 78

       وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan  Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur”.

Memahami karakter anak di usia keemasan. Berbagai karakter tersebut adalah sebagai berikut :

Banyak bergerak dan tak bisa diam

Imitater (peniru) ulung 

Keras kepala dan menentang

Tak bisa membedakan mana benar dan salah

Banyak bertanya

Ingatan yang tajam

Suka diapresiasi dan disemangati

Suka main dan bergembira

Suka berlomba

Berpikir dan berimajinasi

Cenderung untuk eksplor keterampilan

Perkembangan bahasanya cepat

Cenderung untuk bongkar pasang sesuatu

Berpotensialnya perasaan takut, marah, dan cemburu. 

Mendampingi masa perkembangan anak dengan memberikan waktu yang cukup untuk anak ketika kita dibutuhkan oleh mereka. Ketika anak bertanya sesuatu, ketika itulah saat yang paling tepat untuk pembelajaran hidup, menanamkan nilai-nilai tauhid, adab dan nilai-nilai kehidupan positif lainnya. Kenapa ? Karena saat itu rasa ingin tahu anak sangat tinggi, otaknya siap menerima informasi dari kita dan dalam kondisi senang. Maka jangan pernah melewatkan moment-moment penting itu dalam kehidupan sehari-hari. Meski kadang moment-moment tersebut hadir di waktu yang tidak tepat. Misal kita sedang sibuk bekerja mengejar deadline, anak datang dengan rentetan pertanyaan yang membuat kita emosi dan marah. Dalam kondisi seperti ini kita bisa memberikan jawaban sementara dan menjadwal ulang diskusinya. Tetapi ketika kita tidak melakukan hal yang penting, hanya sekedar melaksanakan hobi maka berikanlah waktu yang cukup untuk kebutuhan anak-anak kita.


Maasya Allah...Bunda....

Ketika masa keemasan anak tersebut tidak kita isi dengan pendampingan optimal, maka pastilah terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan pada diri anak kita. Mereka keluar dari jalur fitrahnya yang sejak dilahirkan sudah Allah karuniakan kepadanya. Misal ketika kita selalu tak acuh pada apa yang dilakukan anak, pertanyaan-pertanyaan mereka jarang kita respon, dan cerita-cerita mereka jarang kita dengarkan bahkan kita jarang berkomunikasi dengan mereka maka tunggulah kedatangan  saat dimana sesuatu atau seseorang akan menggantikan peran kita sebagai orang tua. Ketika dunia luar sudah memberikan kebahagiaan, ketika dunia luar lebih menarik dari apa yang kita persembahkan, ketika itu pula peran kita tergantikan, baru terasa sedih dan pilu menyapa hati kita. 

Bunda, sebelum semuanya terlambat, sebelum berakhir masa keemasan anak kita, pastikan bahwa kita sudah mendampingi mereka, memberikan perhatian dan penghargaan yang cukup untuk mereka serta sudah menanamkan nilai-nilai tauhid dan adab kepada mereka supaya mereka mempunyai bekal yang cukup untuk terjun ke dunia luar yang sarat dengan fitnah. Terakhir pastikan anak kita bisa menjawab, memahami, dan mengamalkan pertanyaan ini dengan baik dan benar.

Maa ta’budu mimba’di (apa yang kamu sembah sepeninggalku ?)


Wallahu ‘alam





Pertimbangan Memilih Sekolah Dasar

SDIT Hidayatullah, salah satu sekolah islam terbaik di Sleman


Anda sedang bingung memilihkan sekolah Islam terbaik di Sleman untuk anak-anak Anda? Manakah sekolah dasar islam paling direkomendasikan di Sleman? Banyak sekali sekolah islam berdiri, apa yang perlu kita pertimbangkan saat memilihkan sekolah untuk anak-anak kita? Sekolah dasar yang cocok untuk kita pilih sebenarnya yang seperti apa?


Sekolah dasar menjadi anak tangga pertama anak-anak menempuh pendidikan formal. Sekalipun semakin marak homeschooling dan sudah lebih dari satu tahun sekolahan tidak bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, tetap penting bagi orang tua memilih sekolah sebagai partner mendidik anak. Bagaimanapun juga sekolah telah berpengalaman mendidik sekian banyak generasi dibandingkan kita sebagai orang tua.


Sekolah seperti apa yang sebaiknya kita pilih? Enam tahun belajar di bangku sekolah dasar bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal bisa didapat oleh anak-anak kita tapi juga ada banyak hal bisa terlewat selama waktu pendidikan itu.


Berikut ini beberapa pertimbangan yang penting untuk menentukan sekolah ananda.


1. Visi dan misi sekolah

Visi dan misi sekolah sangat penting menjadi pertimbangan. Sekolah yang memiliki visi selaras dengan visi orang tua akan lebih cocok dipilih dibandingkan sekolah dengan visi yang berbeda. Bagaimana mungkin kita menginginkan anak kita berjalan ke utara jika kita menyekolahkan mereka di sekolah yang mengajak berjalan ke arah selatan.


2. Komitmen dan dedikasi guru

Sebuah ungkapan menyatakan bahwa keberadaan guru lebih penting daripada metode pengajaran. Yang jauh lebih penting dari sekedar keberadaan guru adalah ruh dan jiwa guru itu sendiri. Sebaik apapun visi, misi, kurikulum, kegiatan, target lulusan, dan apapun yang tertulis di dalam dokumen akreditasi sekolah, semua itu tidak bermakna sama sekali tanpa guru-guru yang berdedikasi. Dari mana kita mengetahui kadar dedikasi mereka? Saat berkunjung ke sekolah coba berbincang ringan dengan pegawai-pegawai non akademik seperti tata usaha, satpam, pekarya, dan sebagainya. Jika kita bisa merasakan semangat dan antusias mereka meladeni pertanyaan-pertanyaan kita, barangkali sekolah itu cocok bagi anak kita.


3. Lama berdirinya sekolah

Bukan berarti mengesampingkan kualitas sekolah-sekolah yang baru berdiri, bisa bertahannya sekolah dalam jangka waktu lama bisa menunjukkan kualitas sekolah tersebut. Sebagus apapun konsep yang diusung sekolah-sekolah baru, sekolah-sekolah lama masih menang pengalaman. Sebuah hipotesis menyebutkan bahwa sekolah yang baru berdiri akan mengalami penurunan kinerja setelah sepuluh tahun. Jika sebuah sekolah mampu melewati masa itu, pertimbangkan sekolah itu untuk dipilih.


4. Profil alumni

Semakin banyak alumni yang lulus maka semakin bisa dibaca kualitas sebuah sekolahan. Sekolah tidak perlu memasang foto alumni berprestasi untuk menunjukkan kualitas proses pendidikan mereka. Masyarakat bisa menilai sekolah dari para alumni yang beredar di masyarakat, sekalipun tidak semua alumni berprestasi, dari mereka akan terbaca pola sekolah dalam mendidik anak.


5. Biaya pendidikan

"Jer basuki mawa beya"

Sesuatu yang berharga itu ada harganya. Jika kita memilih sekolah hanya berdasarkan murahnya, jangan banyak berharap selain mendapatkan kemurahannya. Para ulama bahkan menjual atap rumah, baju, dan apapun demi membeli kertas untuk menulis, demi mendatangi guru, demi menginap di rumah guru, demi ilmu. Guru sejati tak pernah meminta upeti, murid sejati tak pernah tak berbakti. Sekalipun begitu, jangan juga hanya memilih sekolah karena mahalnya. Mahal murah suatu sekolah tidak serta merta menunjukkan kualitas, bisa jadi hal tersebut hanya menunjukkan segmen pasar yang ditargetkan oleh sekolah.


6. Jarak lokasi sekolahan dengan rumah

Sekalipun jarak tak lagi jadi kendala di zaman sekarang, tentu kita tak ingin mengalami kesulitan dalam mengantarkan anak-anak kita bertemu guru mereka. Pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu. Jika hanya itu, mesin telusur di internet mungkin jauh lebih berilmu. Apabila kita tetap ingin menyekolahkan anak kita di tempat yang jauh, pertimbangkanlah sekolah berasrama agar ilmu mereka tidak tercecer di jalan.


7. Kabar miring

Sebagaimana kita perlu mencari ulasan pembeli saat belanja di toko online, cobalah mengecek kabar-kabar miring yang beredar tentang sekolah yang sedang kita amati. Selain sebagai bentuk kewaspadaan, mengonfirmasi kabar tersebut kepada pihak sekolah akan lebih menenangkan kita. Semoga bukan mencari aib yang sedang kita lakukan karena kita akan bekerjasama dengan pihak lain terkait masa depan anak kita. Sudah menjadi kewajaran ketika kita perlu memastikan semuanya clear.


Semoga tulisan mengenai beberapa pertimbangan memilih sekolah dasar ini bermanfaat. Perlu diingat, sebaik apapun kualitas sekolah yang kita pilihkan untuk anak-anak kita, tak akan banyak berguna jika anak-anak tidak mendapat sentuhan langsung dari orang tua dalam proses pendidikan mereka.

Qurban Tanda Cinta di SDIT Hidayatullah 1442 H

 


www.sdithidayatullah.net | Kamis, 12 Dzulhijjah 1441 H/ 22 Juli 2021 M. Alhamdulillah telah terlaksana qurban di sekolah kita tercinta, SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Tercatat ada 2 ekor sapi dan 10 ekor kambing yang disembelih hari ini

Qurban kali ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini para murid tidak ikut terjun langsung dalam membantu merajang daging seperti tahun-tahun sebelumnya. Dikarenakan pandemi yang belum berakhir dan adanya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat).

Tak terasa sudah 2 tahun Idul Adha bersama pandemi dan tanpa anak-anak di sekolah.
Meski begitu alhamdulillah qurban berjalan dengan lancar.

Semoga ini kali terkahir qurban bersama pandemi. Semoga pandemi segera berakhir.

Proses pengulitan sapi


Proses perajangan

Proses pemotongan tulang 


Pendistribusian kepada shahibul qurban