MULAZAMAH: Memetik Adab Kepada Sang Guru



Oleh Akhid Nur Setiawan

Suatu siang dua orang murid mendatangi saya lalu menanyakan berbagai data pribadi saya mulai nama lengkap, tanggal lahir, keluarga, hingga hobi.

"Ini untuk apa Mas?"

"Tugas, Ustadz. Kami disuruh mulazamah dengan salah seorang ustadz. Disuruh bantu-bantu ustadz."
KLIK DI SINI >> INFORMASI MURID BARU 2020/2021
Bagus sekali program itu. Memang mulazamah mereka belum se-ideal mulazamah Anas bin Malik dengan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam atau "nginthil"nya para santri dengan kiai-nya, namun setidaknya murid-murid itu telah belajar bahwa posisi guru atau ustadz beserta adab-adab ketika bersamanya sangatlah penting sebagai sebagian sarana untuk memperoleh ilmu. Seringkali ilmu datang dari kejelian seorang murid mengamati keseharian gurunya, bukan semata saat menyimak gurunya mengajar.

Usai sholat dzuhur seorang murid bertanya kepada gurunya.

"Ustadz, kenapa kok pakai jam di tangan kanan, kan biasanya orang-orang memakai jam di tangan kiri?"

"Ini ustadznya ustadz yang nyuruh. Dipakai di tangan kanan sebagai simbol agar kita selalu berusaha menghargai dan memuliakan waktu."

Segera murid itu melepas jam yang terpasang di tangan kirinya kemudian memasangnya di tangan kanan.

Seorang murid yang melakukan mulazamah bahkan mengamati gurunya saat pergi ke kamar mandi. Suatu ketika sang guru sedang memiliki hajat. Baru beberapa saat beliau masuk ke kamar mandi tiba-tiba beliau keluar lagi. Apa yang menyebabkan sang guru menunda untuk memenuhi hajatnya? Ternyata sang guru ingin menjawab adzan dan berdoa setelahnya, karena hal itu tidak mungkin dilakukan di dalam kamar mandi.

Murid pun akhirnya memahami betapa pentingnya amalan menjawab adzan dan berdoa setelahnya karena sang guru rela menunda hajatnya demi melakukan amalan itu. Barangsiapa menjawab adzan dan berdoa setelahnya, kelak akan mendapat syafaat baginda Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Itulah mulazamah.

Sungguh, melalui mulazamah semakin benarlah sebuah ungkapan bahwa "satu teladan lebih baik daripada seribu nasihat".

Foto: Thorif

Outbound For Kids SDIT Hidayatullah: Belajar Sambil Bermain!



www.sdithidayatullah.net | Rabu (2 Rabiul Awwal 1441 H/30 Oktober 2019 M), bertempat di Shaba Outbound, Dusun Karanggeneng, Desa Purwobinangun, Kecamatan Pakem seluruh murid kelas 1, 2, dan 3 ABCD SDIT Hidayatullah Sleman melaksanakan kegiatan 'Outbound for Kids'.


Kegiatan tahunan yang dilaksanakan di luar kelas (outdoor) ini dalam rangka refreshing bagi murid dan guru setelah aktivitas belajar di dalam kelas sehingga tidak merasa bosan.

Ustadz Muhammad Rifki Saputra, S.Pd.I., selaku Kepala Sekolah SDIT Hidayatullah Yogyakarta dalam pembukaan menyampaikan bahwa, "Anak-anak berada di sini dalam rangka belajar tentang kekompakan, kedisiplinan, dan ketaatan," Ujar Ustadz kelahiran Balikpapan ini di hadapan ratusan murid.
 
Melatih Ketangkasan
"Selalu kompak dan disiplin karena ada banyak permainan yang memerlukan kekompakan, dan juga taat, karena kalian harus menaati kakak-kakak dari Shaba Outbound." Tambah Ustadz Rifki dilanjutkan dengan memberikan sebuah permainan kecil, mengetes konsentrasi murid.

Anak-anak terlihat sangat gembira dan antusias dalam melaksanakan setiap game yang telah disiapkan oleh para trainer outbound dari Shaba.

Melatih Kekompakan

Bermain Poli Air
Sesi terakhir selepas shalat Zhuhur ada pemaknaan dari panitia tentang kegiatan ini. Ustadz Muhammad Haris menyampaikan bahwa, "Kita bisa belajar dengan suasana yang berbeda adalah nikmat dari Allah," Kata Ustadz Haris, selaku Waka Kemuridan di sekolah ini.

"Belajar untuk bekerjasama, belajar untuk bermain bersama, belajar untuk membantu teman atau saudara, dan belajar untuk mengatur strategi." Lanjut Ustadz Haris di hadapan ratusan murid kelas 1, 2, dan 3.

Semoga kegiatan yang dilaksanakan selama setengah hari ini memberi banyak pengalaman belajar bagi anak-anak semua.


Laporan : Thorif
Foto : Ida Nahdhah

Coach Implementasi Turjuman Metode Umi di SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net || Selasa-Rabu, (22-23 Shafar 1441 H/22-23 Oktober 2019 M), Selama 2 hari, 1 trainer dari Umi Foundation Surabaya dan 1 trainer dari Ummi Daerah Yogyakarya melakukan coach implementasi dan pembinaan Tim Al-Qur'an  di SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Hadir dalam kunjungan tersebut Ustadz Muhammad Nidauddin Lc. M.Th.I. sebagai penggagas Metode Turjuman dari Ummi Foundation Surabaya dan Ustadz Akbar Sandro Yudho Diharso, S.Sos.I, M.S.I trainer Ummi Foundation Yogyakarta. 
Klik >> Info Murid Baru Tahun 2020/2021
Kunjungan tersebut bertujuan mengetahui secara langsung proses pembelajaran turjuman di SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Selama dua hari perwakilan dari Ummi Foundation tersebut melakukan pengamatan dan evaluasi kelas turjuman. Kelas perdana yang diampu oleh Ustadzah Nur Indah Rahmattika ini beranggotakan 10 anak mulai berjalan sejak 20 September 2019. Selama tujuh pekan terakhir, anak berhasil menghafal materi doa setelah adzan, doa iftiitah 1 & 2, doa ruku', dan doa i'tidal. 

"Jangan sampai hafalan kita berhenti di tenggorokan!" Begitu pesan Ustadz Nidauddin, penggagas turjuman dari Umi Surabaya. 

Oleh karena itu, dalam metode turjuman berisi materi dasar membaca, asbabun nuzul, tatacara beribadah, dan keutamaan-keutamaannya. Disampaikan dengan mengkombinasikan antara ilmu teori dan gerakan dengan bahasa isyarat, sangat memudahkan anak selama proses belajar. 

"Pembelajaran turjuman di SDIT Hidayatullah Yogyakarta sudah baik, yang perlu ditingkatkan adalah efektivitas dalam setiap tahapan serta pembagian waktu." Kata Beliau

Pada hari kedua, dilanjutkan dengan pembinaan Tim Al-Quran SDIT Hidayatullah Yogyakarta oleh Muhammad Nidauddin Lc. M.Th.I. Beliau menyampaikan tentang konsep dasar metode turjuman. Dan menghimbau guru baru untuk ikut dalam pelatihan metode turjuman agar mampu mengajarkannya pada siswa. 

Dengan adanya program ini, semoga anak menjadi lebih bersemangat dan lebih memaknai ibadah yang mereka lakukan. Mencetak mereka menjadi generasi tangguh akhir zaman, penakhluk peradaban.

Laporan : Rofi Wahyulina
Foto : Haris

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah Tahun Ajaran 2020/2021

~ SDIT Hidayatullah Yogyakarta, Buka Hati dengan Pendidikan Tauhid~

Alamat : Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 14,5 Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, D. I. Yogyakarta 55581. Telp. (0274)2861541

 Profil Sekolah
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Hidayatullah Sleman Yogyakarta didirikan tahun 1998 oleh Yayasan As-Sakinah Yogyakarta. Sekolah ini berafiliasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sleman dengan Ijin Operasional Nomor: 039/KPTS/108/2001 dan Ijin Pendirian Nomor : 054/KPTS/PEND.SLM/IV/2004. Pada tahun 2016 lulus akreditasi oleh Badan Akreditasi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nilai A.

Visi
“Menjadi sekolah yang mampu membangun generasi bertauhidu Unggul dan berkarakter”

Misi
1. Menanamkan dan memantapkan nilai-nilai Aqidah Islam yang teraktualisasi dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menyelenggarakan KBM (Kegiatan Belajar dan Mengajar) berbasis tauhid.

3. Menumbuhkan kesadaran terhadap pengamalan ajaran Islam pada peserta didik.

4. Menyelenggarakan Pendidikan Al Qur’an yang unggul dan bermutu.

5. Menumbuhkan semangat berprestasi dalam bidang akademik kepada seluruh warga sekolah.

6. Mengembangkan minat dan bakat murid serta meningkatkan prestasi nonakademik melalui ekstrakurikuler.

7. Mendorong pengembangan kreativitas murid dalam bidang literasi dengan program-program yang mendukung.

8. Membina kemandirian peserta didik melalui pembiasaan, latihan kepemimpinan, kegiatan alam, kewirausahaan, dan pengembangan diri.

9. Menerapkan dan membiasakan peserta didik untuk bersikap tanggung jawab, jujur, amanah, peduli, dan beradab.

10. Mengembangkan budaya 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan dan Santun).

Tujuan 
Menjadikan lulusan SDIT Hidayatullah Yogyakarta memiliki kompetensi sebagai berikut:
1. Beraqidah benar sesuai panduan Al Qur’an dan As Sunnah.

2. Memiliki sikap perilaku rajin, taat dan tertib menjalankan ibadah sesuai dengan tuntunan agama Islam dalam praktik kehidupan sehari–hari.

3. Lulus Munaqosyah Al Qur’an.

4. Memiliki hafalan Al Qur’an 2 Juz (kelas regular) dan 10 juz (kelas Tahfidz).

5. Terwujudnya Nilai rata-rata kelulusan murid 24,00.

6. Menjadi murid yang terampil dalam bidang literasi.

7. Mampu berpartisipasi secara aktif dan optimal dalam berbagai kegiatan lomba atau festival baik bidang akademik maupun non akademik (terutama bidang al-Qur’an) dan memperoleh hasil yang membanggakan.

8. Memiliki karakter TAUHID (TAnggung jawab, jUjur, amanaH, pedulI, beraDab)
9.      Berperilaku sosial yang baik

Mengapa Memilih SDIT Hidayatullah?

Tenaga Pendidik
Didukung oleh tenaga pendidik yang berdedikasi, muda, terampil, dan berlatar belakang pendidikan S1 dan S2, memungkinkan SDIT Hidayatullah mampu mewujudkan suasana belajar yang kreatif dan inovatif.

Pembelajaran Berbasis Tauhid
Melalui program yang mengintegrasikan nilai-nilai tauhid pada kurikulum dan seluruh aktivitas belajar, SDIT Hidayatullah merupakan partner yang tepat bagi orangtua dalam menggali potensi anak secara optimal baik potensi fisik, akal, maupun jiwanya. Dengan pembelajaran seperti ini, diharapkan anak-anak kelak menjadi muslim-muslimah yang saleh dan bertanggungjawab.

Pendekatan Belajar Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Memperhatikan kebutuhan anak merupakan sesuatu yang penting bagi sekolah. Hal ini agar anak tidak kehilangan saat-saat yang paling indah dan menyenangkan dalam hidupnya. Dengan pendekatan berbagai metode pembelajaran dan proses pembelajaran yang sesuai tahap perkembangan anak, diharapkan tumbuh dalam diri anak minat belajar yang tinggi serta anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya.

Kelas Karakter
Kelas karakter adalah kelas penanaman dasar-dasar perilaku anak yang diselenggarakan pada 3 bulan pertama pembelajaran.

Kelas Tahfizh dan Kelas Reguler
Mulai Tahun Ajaran 2018/2019 SDIT Hidayatullah membuka Kelas Tahfizh. Target dari lulusan Kelas Tahfizh ini adalah hafal 10 juz dengan bacaan yang baik dan benar. Adapun untuk kelas reguler, target hafalan selama 6 tahun adalah hafal 2 juz.

Sekolah Tanpa Rangking
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Mereka bisa menjadi juara di bidangnya masing-masing sehingga sekolah tidak menerapkan casta rangking, namun berupaya menggali dan mengembangkan potensi dari masing-masing peserta didik.

Kelas dipisah Putra dan Putri
Anak laki-laki dan perempuan memiliki perkembangan fisik dan sosial emosional yang berbeda. Kelas yang homogen (dipisah putra dan putri) memudahkan guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan mereka.

Tiada Hari Tanpa Al-Qur’an
Untuk menumbuhkan cinta al-Qur’an pada diri anak, pembelajaran al-Qur’an dilaksanakan setiap hari menggunakan Metode Ummi dengan guru-guru yang telah tersertifikat oleh Ummi Foundation

Lingkungan yang Kondusif
Sekolah berada di alam pedesaan yang nyaman dan jauh dari keramaian. Sekolah juga berada di lingkungan pesantren yang di dalamnya ditegakkan nilai-nilai Islam yang mulia.

Fullday School
Kegiatan pembalajaran di SDIT Hidayatullah mulai hari Senin s.d. Jumat. Dimulai pukul 07.15 s.d. 14.30 wib. Untuk kegiatan pengembangan diri dilaksanakan pukul 15.30 s.d. 16.45 wib dengan jadwal yang ditentukan pada setiap kelasnya.

Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler di SDIT Hidayatullah dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar, untuk kelas 3 ke atas; dimulai pukul 15.30 s.d. 16.45 wib. Adapun ekstrakurikuler adalah sebagai berikut :
> Pramuka Pandu Hidayatullah
> Al-Quran (Hafalan dan Membaca)
> Beladiri Karate
> Berenang
> Memanah

Syarat Murid Baru
> Usia minimal 6 tahun (Juli 2020)
> Mengisi formulir pendaftaran
> Menyerahkan fotocopy akta kelahiran 1 lembar
> Menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga 1 lembar
> Menyerahkan pas photo ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar

Pendaftaran
SDIT Hidayatullah menggunakan sistem one day service (sehari selesai) dalam pelayanan penerimaan Peserta Didik Baru. Alur penerimaan peserta didik baru meliputi : (1) Pelayanan Informasi/Konsultasi. (2) Pendaftaran. (3) Observasi Calon Peserta Didik dan Ortu/Wali. (4) Pengumuman. (5) Daftar Ulang.

Pendaftaran secara online, formulir bisa diunduh di www.sdithidayatullah.net dan formulir yang telah diisi dikirim via email ke sdithidayatullahsleman@hidayatullah.or.id (konfirmasi ke nomor 087738219070).

Pendaftaran :
Hari : Senin s.d. Jumat, 
Waktu : Pukul 07.30 s.d. 14.30 wib 

Hari : Sabtu 
Waktu : Pukul 07.30 s.d. 12.00 wib

> Gelombang I : November 2019 – Januari 2020
> Gelombang II : Februari – April 2020
> Gelombang III : Mei – Juni 2020

Pendaftaran ditutup jika kuota telah terpenuhi

Buku Panduan, Formulir, dan Biaya Masuk
                      
Info Murid Baru
> Rifki 0812-3459-9789
> Thorif 0877-3821-9070, 0857-2955-5454

Belajar Jurnalistik di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3)



www.sdithidayatullah.net || Tim Humas SDIT Hidayatullah Yogyakarta berkesempatan mengikuti Dauroh Jurnalistik bertema "Journalism is Dead. What's Next?" pada Sabtu-Ahad, 19-20 Oktober 2019. Acara ini berlokasi di Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu beralamat di Jl. Magelang-Boyolali Candaran, Wonolelo, Sawangan, Magelang, Jawa Tengah. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas jurnalis muslim dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar. 
Baca : Informasi Murid Baru Tahun 2020/2021
Perjalanan menghabiskan waktu sekitar 90 menit dari sekolah. Sesampai di lokasi kita disambut oleh bangunan pesantren yang berdiri kokoh sejak tahun 2010 pasca erupsi Merapi. Agenda ini diikuti pula oleh wartawan dan jurnalis dari berbagai kalangan, diantaranya : Majalah Nur Hidayah, MIUMI Yogyakarta, Majelis Qonitaat, IMUNE (Institut Muslimah Negarawan), Hidayatullah, Teras Dakwah, dll. 

Sesi pertama dipandu oleh Ustadz Dzikrullah (Tim Media Sahabat Al Aqsha) bersama sang istri, Ibu Santi Sukanto (ex-Pemred Brunei Times). Kali ini tema yang diusung adalah "Mengelola Fakta dan Peristiwa Jadi Berita". Peserta dibagi menjadi kelompok kecil beranggotakan 6-8 orang untuk membentuk satu tim redaksi. Dalam menyajikan sebuah berita dibutuhkan adanya News Value (Nilai Berita) yang meliputi : Actuallity (Kehangatan), Magnitude (Besaran), Proximity (Kedekatan), Public Interest (Kepentingan Hidup Masyarakat), Human Interest (Hal yang menyentuh rasa kemanusiaan), Oddity (Keanehan). 

Sesi selanjutnya dimulai pukul 16.00 WIB, "Riset dan Wawancara". Ustadz Dzikrullah atau yang lebih akrab disapa Babeh menjelaskan tentang teknik-teknik wawancara, menyusun daftar pertanyaan, dll. Saat matahari tenggelam cuaca mulai terasa dingin. 

Malam harinya berlanjut sesi ketiga dengan materi "Editing". Bu Santi menjelaskan langkah-langkah mengedit tulisan. Pertama, meletakkan peristiwa atau fakta terpenting di kalimat pertama. Kedua, Kalimat pertama tidak lebih panjang dari sepuluh kata dengan urutan Subyek, Predikat, Obyek, dan Keterangan yang mudah dicerna. Ketiga, menghindari serapan atau kata dari bahasa asing. Keempat, Menghapus paragraf yang apabila dihapus tidak melemahkan paragraf. Dan menghapus kata yang apabila dihapus tidak mengubah makna kalimat. Kelima, mempelajari dan disiplin dengan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, menggunakan gaya bahasa masa kini seperlunya. 

Keesokan harinya, agenda diawali dengan jalan-jalan inspirasi menikmati suasana pegunungan. Sayur mayur tertanam rapi sepanjang jalan. Kami berhenti disebuah tempat yang cukup lapang, beralaskan tikar peserta mendengarkan tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Fatan Fantastik. Mereka diminta berpasangan dua orang, melakukan permainan "Cermin dan Peraga". Cara bermainnya adalah peserta pertama bebas melakukan gerakan apa saja, sedangkan peserta kedua bertugas menirukannya. "Seorang jurnalis itu apakah menjadi cermin atau peraga?" tanya Ustadz Fatan. 

Sebagian menjawab cermin, yang lain menyahut peraga. Kelompok cermin berpandangan, sebagai seorang jurnalis kita harus seperti cermin, memantulkan bayangan apa sesuai fakta. Sedangkan kelompok peraga berasumsi, bahwa jurnalis itu bertugas mengolah data yang ada agar layak untuk dibaca. Dari dua pendapat tersebut dapat ditarik garis tengah, menjadi seorang jurnalis itu harus jujur dan obyektif menyampaikan suatu berita. Namun juga berkewajiban untuk mengolah data agar layak disantap oleh pembaca dan tidak menimbulkan miss persepsi. 

Kegiatan selanjutnya dimulai pukul 8.30 WIB, yaitu sesi "Praktikum dan Reportase". Peserta bebas mencari narasumber di desa. Ada yang mewawancarai Pendeta, Warga Masyarakat, Pak Lurah, hingga Abah Fani sang pemimpin Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu (PM3). Tema wawancara pun beragam, ada yang mengambil tema crosshijabers, kristenisasi, politik, hingga kreasi majalah dinding. 

Matahari kian meninggi, tiba saatnya memasuki sesi terakhir "Praktik Manajemen Media". Peserta diminta mempresentasikan hasil kerja tim. Kelucuan dan keseruan mewarnai tingkah mereka. Tak lupa Babeh dan Bu Santi mengoreksi dan memberi masukan atas hasil liputan. Kemudian berbagi tips mengenai design visual. 

Jurnalisme atau kegiatan pengumpulan dan penyebaran informasi sudah dimulai sejak abad ke16 hingga sekarang. Mungkin berlanjut, mungkin juga mati. Sedangkan Islam sudah ada sejak manusia belum lahir di dunia. 

Dalam jurnalisme ada yang bersinggungan dengan peradaban Islam, yaitu dari aspek keilmuan. Sebagai seorang jurnalis muslim kita mempunyai tugas untuk melaporkan berita sesuai fakta apa adanya di lapangan. Sebab, setiap kata akan dipertanggungjawaban. Jurnalisme boleh mati, tapi islam tidak akan mati. 

Laporan : Rofi Wahyulina, Guru Al-Quran SDIT Hidayatullah
Foto      : Atin 

MI Bina Ummat Belajar Metode Ummi di SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | Jumat (19 Shafar 1441 H/18 Oktober 2019 M) Sebanyak 8 orang guru Madrasah Ibditadiyah  Bina Ummat, Moyudan Sleman mengadakan kunjungan studi banding tentang pembelajaran Al-Quran Metode Umi di SDIT Hidayatullah Yogyakarta.
Baca : Info Murid Baru SDIT Hidayatullah 
Para tamu dari MI Bina Umma ini diterima oleh Kepala Bagian Kemuridan dan Koordinator Al-Quran SDIT Hidayatullah Yogyakarta, Muhammad Haris, SP. dan Andriyani Nurhayati, SEI. belajar tentang mengelola pembelajaran Al-Quran.
Baca : Study Banding Sekolah Athirah Makassar
Para peserta studi banding juga diajak berkeliling melihat-lihat proses belajar mengajar Al-Quran di sekolah ini. Sehingga memahami taknik-teknik mengajar Al-Quran Metode Umi.
Baca : Study Banding SDIT Al Madinah Kebumen 
Usai berkeliling melihat pembelajaran dilanjutkan dengan diskusi tentang seluk beluk Kegiatan Belajar Mengajar Al-Quran Metote Umi.

Laporan : Thorif
Foto : Haris

BMH Salurkan Ratusan Al-Quran ke Puluhan Masjid dan Mushala



www.sdithidayatullah.netLembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Baitul Maal  Hidayatullah (BMH) perwakilan Yogyakarta melakukan pembinaan kepada TPA dan TPQ sekaligus menyalurkan Alquran kepada puluhan masjid dan mushala, Jumat (18/10).
Info Murid Baru 2020/2021 : KLIK DI SINI
“Di sekeliling kita masih banyak masjid dan mushala yang Alqurannya sudah tidak layak karena pada rusak.  Dan ada beberapa masjid yang tidak ada Al-qurannya, alhamdulillah pada hari ini BMH memberikan bantuan mushaf Alquran untuk masjid dan mushala. Masjid dan mushala yang Alqurannya minim dan sudah lusuh menjadi prioritas kami dalam penyaluran Alquran ini,” kata  Kepala Divisi Program BMH Yogyakarta, Syai’in Kodir.

Syai’in melanjutkan, selain membagikan Alquran ke masjid dan mushala, lembaga zakatnya juga membagikan Alquran pesantren tahfidz.. “Selain menyasar ke masjid dan mushala, penyaluran kali ini kami juga salurkan Al-quran juga ke beberapa pesantren tahfidz,” lanjutnya.

Pihaknya berharap, program pemberian bantuan sarana dan prasarana masjid dan mushala ini kedepannya bisa semakin dirasakan oleh masyarakat luas. “Kami masih membuka peluang kerja sama kepada siapapun, lembaga maupun perorangan,” ajaknya.

Penyaluran Al-quran tersebut disambut gembira oleh para takmir masjid. Ustadzah Astuti misalnya, ia merasa senang dengan adanya program ini. “Kami selaku yang diamanahi untuk membina di beberapa masjid di lereng gunung Merapi sangat bahagia dengan adanya penyaluran Alqur'an dari BMH. Barokallah, kami hanya bisa ucapkan terima kasih,” ujar Astuti.

Selain di Yogyakarta, BMH juga salurkan Al-quran dibeberapa kota di sekitarnya, “Untuk memperluas jaungkauan penerima manfaat, pada kali ini kita juga salurkan Al-quran ke beberapa kota di Jawa Tengah seperti Sragen, Sukoharjo, Surakarta dan Kebumen,” tutup Syai’in.

Laporan dan Foto : Admin BMH

Study Banding SDIT Al Madinah Kebumen di SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | Kamis (18 Shafar 1441 H/17 Oktober 2019 M). SDIT Al Madinah Kebumen Jawa Tengah, salah satu Sekolah Dasar (SD) Favorit di Kebumen Jawa Tengah melakukan study banding pembelajaran Metode Umi di SDIT Hidayatullah Yogyakarta.
Baca : INFOMASI MURID BARU 2020/2021
Ditemui oleh Kepala Bagian Kemuridan, Ustadz Muhammad Haris, SP dan Koordinator Al-Quran, Ustadzah Andriyani Nurhayati, SEI para tamu ini diberi penjelasan panjang lebar tentang seluk beluk, suka duka, dan tips-tips bagaimana pembelajaran Al-Quran Metode Umi diterapkan di SDIT Hidayatullah Yogyakarta.
Baca : Study Banding SD Islam Athirah Makassar 
"Ruhiyah seorang guru harus hadir dalam setiap pembelajaran, karena 80% kesuksesan belajar mengajar dalam sebuah kelas bermula dari para guru pengajarnya." Begitu yang disampaikan oleh Ustadz Haris memberi motivasi kepada para tamu yang hadir.

Hadir pada kunjungan tersebut Ustadz Fuad Fahrudin, M.Pd.I., selaku Kepala Departemen Pendidikan Wilayah Hidayatullah DIY-Jawa Tengah Bagian Selatan, Kepala Sekolah dan Koordinator AL-Quran SDIT Al Madinah Kebumen, Kepala Sekolah SMP Al Madinah Kebumen. serta beberapa guru Al-Quran.

Laporan dan Foto : Thorif

Study Banding Sekolah Islam Athirah Makassar di SDIT Hidayatullah Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | Senin (15 Shafar 1441 H/14 Oktober 2019). Sebanyak 5 orang Guru SD Islam Athirah Makassar melakukan study banding pembelajaran Metode Umi di SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Hadir dalam kunjungan tersebut Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah.
Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah Tahun 2020/2021 : KLIK DI SINI
Kunjungan dari SD kepunyaan Bapak Jusuf Kalla, Wakil Presiden RI ini, dalam rangka untuk mengetahui seluk belum pembelajaran Al-Quran Metode Umi di SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Begitu yang disampaikan oleh Ustadz Haris, selaku koordinator Al-Quran SDIT Hidayatullah.

Peserta study banding ini juga mengunjungi unit kerja sekolah yang dikelola oleh Yayasan As-Sakinah Yogyakarta, seperti TK IT Yaa Bunayya, MTs Hidayatullah, dan MA Hidayatullah Yogyakarta.

Peserta kunjungan langsung diajak melihat-lihat proses pembelajaran yang ada di sekolah ini dilanjutkan dengan diskusi yang dilaksanakan di ruang rapat gedung SMI Hidayatullah Yogyakarta.

Lap. Thorif
Foto Haris

Komite Sekolah SDIT Hidayatullah adakan Sharing Peningkatan Mutu Akademik


www.sdithidayatullah.net || Sabtu (13 Shafar 1441 H/12 Oktober 2019 M) bertempat di Rumah Makan Bale Roso, Jalan Kaliurang Yogyakarta kegiatan “Sharing Pengalaman Peningkatan Mutu Akademik” bagi guru kelas 4, 5, dan 6" SDIT Hidayatullah berlangsung.

Acara yang diselenggarakan oleh Komite Sekolah SDIT Hidayatullah dan Bagian Kurikulum sekolah. Panitia berusaha menghadirkan Bapak Rois Saifuddin Zuhri, M.Pd. selaku Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Condongcatur, dan beberapa tim dari sekolah lain, seperti SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta, dan SD Negeri Ungaran 1.

"Sayang sekali, dari pihak SD Negeri Ungaran 1 belum bisa bergabung untuk acara ini," demikian yang disampaikan oleh Ustadzah Ima, selaku tim dari pengembangan akademik sekolah ini.

"MasyaAllah, alhamdulillah, acara hari ini berjalan dengan sangat baik dan sangat banyak manfaatnya (semoga semua juga merasakannya sama)." Tulis Bapak Agus Susanto, yang merupakan tim pengembangan akademik dari Komite Sekolah SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

"Terimakasih kepada semuanya, atas segala peran dan partisipasinya, jazakumullah khairanBeberapa poin istimewa yang menggembirakan juga (bagi saya) dan semakin menambah optimisme kita diantaranya : Ternyata SD Muhammadiyah Sapen pun masuknya tanpa seleksi (paling tidak, bisa dikatakan demikian) dan yang lebih membuat semakin optimis : Ternyata sampai memasuki kelas 6 pun mereka (anak anak didik kelas 6) masih sangat "bermasalah", nilai evaluasi mapel yang di UN kan juga masih jeblok." Lanjut Beliau.

"Namun dengan treatment yang jitu, hasil akhirnya istimewa (dan kalau saya melihat konsep/cara yang mereka lakukan), ya sangat pantas kalau hasilnya sangat baik." Tulis Bapak Agus Susanto panjang lebar.

"Yuk, segera kita tindaklanjuti. Waktu tinggal sangat singkat, terutama untuk yang tahun ini. Padahal hasil tahun ini InsyaAllah sangat besar efeknya untuk tahun-tahun berikutnya (membuat semakin mantap, semangat, yakin, dll). Monggo, diatur waktunya kapan kita pertemuan." Pungkas Beliau memberi semangat kepada pengurus yang lain dan dijawab oleh beberapa penggurus komite sekolah dengan semangat.

Hadir dalam kegiatan ini seluruh guru kelas 4, 5, dan kelas 6 SDIT Hidayatullah, pengurus komite sekolah, dan beberapa guru lainnya guna menyerap pengalaman dari kedua sekolah Muhammadiyah, yaitu SD Muhammadiyah Sapen dan SD Muhammadiyah Condongcatur, yang prestasi akademiknya sudah tidak diragukan lagi di kancah nasional maupun internasional.

Laporan : Thorif
Foto : Agus Susanto


Kemah Ceria 2019: Mandiri, Disiplin & Tanggung Jawab Karena Allah


www.sdithidayatullah.net | (Jum'at, 12 Safar 1441 H / 11 Oktober 2019 M) Rabu - Jum'at pagi 9-11 Oktober 2019 merupakan hari-hari ceria plus menegangkan bagi peserta didik SDIT Hidayatullah Sleman, Yogyakarta. Pasalnya pada hari-hari ini digelar acara kemping bagi peserta didik kelas 4 s.d. 6. Lokasi kemping kali ini mengambil tempat di Bumi Perkemahan Lembah Merapi, Nganggring, Girikerto, Kec. Turi, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, seperti tahun 2015 silam.

Tempat ini sengaja dipilih karena selain jarak tempuh yang tidak terlalu jauh dari sekolah (Sekitar 20 menit berkendara) juga karena mudah dijangkau tanpa harus mendaki dan sudah memiliki fasilitas yang lengkap termasuk toilet, lapangan upacara, 2 pendopo, penerangan, tandon air serta jalanan beraspal. 

Dengan luas area sekitar 3 ha, kawasan ini ditumbuhi pepohonan rindang yang membuat suasana terasa nyaman dan menyenangkan. Tempat ini cocok bagi siapapun yang ingin menikmati kemah dengan cara sederhana. Tempat perkemahan ini juga sering diapakai untuk acara beberapa komunitas atau acara kampus. Lokasi bumi perkemahan di sekitar Merapi ini cukup strategis karena terletak di desa Nanggring yang berdekatan dengan Desa Wisata bernama Desa Tunggularum. 

Barisan tenda kelompok putri
Acara diawali dengan upacara pembukaan yang berlangsung khidmat. Selaku Pembina Upacara, Ustadz Muhammad Rifki Saputra memberi motivasi dan pesan-pesan agar seluruh murid dapat mengikuti kegiatan kemah ini dengan sebaik-baiknya.

"Ustadz berharap selama mengikuti kegiatan kemah ceria yang akan berlangsung selama 2 hari 3 malam ini kalian menjaga adab, anak-anakku yang shalih dan shalihah. Jangan membuang sampah sembarangan, gunakanlah fasilitas yang telah disediakan dengan baik, pakai air secukupnya, dan bersikap 5 S terhadap warga sekitar kita berada sekarang." Pesan Kepala Sekolah SDIT Hidayatullah ini.

"Apa itu 5 S? Senyum, Salam, Sapa, Sopan, dan Santun." Lanjutnya sembari memberi isyarat dengan 5 jemari dan diikuti oleh para murid.

Acara pembukaan dilanjutkan dengan pendirian tenda oleh masing-masing kelompok beserta pendampingnya. Setelah itu makan siang, sholat dhuhur berjama’ah dan acara yang dinanti-nanti semua peserta pun tiba, yaitu longmarch. Horeee! Semua anak bersuka cita mengikuti kegiatan meskipun sedikit lelah. Alhamdulillah, nantinya lelah itu terbayarkan dengan menikmati pesona dari beragam jenis bunga yang indah di Rumah Bunga, salah satu spot wisata Desa Tunggularum.

Obat lelah
Kerjasama mendirikan tenda
Menjelang sore, sholat ashar berjamaah, baca Al Ma’tsurat dan masak berkelompok untuk persiapan makan malam. Menunya beragam sesuai kreativitas anggota kelompok dan juga pendamping dari Ustadz/Ustadzah, ada yang mengolah tempe, membuat mie kuah, nasi goreng, telur dadar, dan lainnya dimakan bersama nasi putih yang masih mengepul. Ehmmmm… disantap saat letih, lapar dan cuaca dingin. Dalam sekejap makanan tandas.

Malam harinya satelah sholat isya berjamaah dan tausiyah oleh Ustadz yang ditunjuk, tibalah acara yang menegangkan sekaligus paling dinanti oleh kebanyakan murid, Jurit Malam. Peserta putra secara berkelompok  menyusuri jalan berundak dan berhenti di pos-pos tertentu dengan tugas dan amanah yang berbeda-beda di tiap posnya. Semua antusias mengikutinya. Adapun peserta putri juga melaksanakan kegiatan yang tidak kalah seru, yaitu bermain Atur Komando atau 'perang-perangan'. Wah.. situasi heboh dan sangat seru, tentunya dengan tetap memperhatikan keamanan dan kenyamanan setiap peserta kemah ceria.

Indahnya kebersamaan
Masak-masak duluu
 Hari kedua diisi dengan beragam perlombaan dan ajang kreativitas. Lomba PBB, Yel-yel, Pioneering, Unjuk Ketangkasan, dan pentas seni. Rentetan kegiatan hari kedua ini ditutup dengan kegiatan bakar-bakar Sate dan menikmati hangatnya 'Api Unggun'.

Hari terakhir dibuka dengan qiyamullail berjamaah di aula pendopo. Dilanjutkan shalat subuh, pemberian tausiyah oleh Ustadz dan ustadzah, dan tentunya senam pagi Ar Ruhul Jadid yang dipandu oleh Ustadz Bagas. Upacara penutupan diiringi pengumuman kelompok terbaik dan peserta terbaik dan tak lupa saling bersalaman kepada guru dan teman. Alhamdulillah acara berjalan lancar dan semua peserta pulang dengan kesan yang mendalam, insya Allah.

Lomba Pioneering

Ajang Kreativitas (Nasyid, Puitisasi, dan Drama) diterangi oleh api unggun

Meminta maaf dan memberi maaf agar hati lapang
Kegiatan kemah kali ini selain sebagai bentuk rihlah jasadiyah (fisik) juga rihlah ruhiyah (jiwa). Selama 3 hari peserta Kemah Ceria dilatih untuk mandiri, disiplin dan juga bertanggung jawab terhadap amanah yang diberikan baik pribadi maupun perkelompok. Selain kegiatan-kegiatan alam yang menguatkan fisik, mereka juga dibekali dengan penguatan-penguatan ruhiyah seperti shalat lail, shalat fardhu berjamaah, tilawah Al Qur'an, Zikir Pagi-Petang, dan tausiyah-tausiyah agama yang disampaikan oleh para guru di setiap selesai waktu shalat. Besar harapan agar kelak mereka menjadi pemuda pemudi yang tangguh menghadapi bermacam cobaan dan rintangan di zaman ini, menjadi generasi penerus yang shalih dan shalihah, kuat jasmani dan rohani. Allaahumma aamiin.

Galeri foto yang lebih lengkap klik -> FP Facebook SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Rep & Foto: Ida Nahdhah


Tasmi' Outdoor Kelas Tahfidz




www.sdithidayatullah.net || Kamis, (4 Shafar 1441 H / 3 Oktober 2019 M) Bertempat di Museum Gunung Merapi (MGM) telah dilaksanakan kegiatan Tasmi'ul Quran Juz 30, 29 dan 28 oleh Ananda kelas Tahfidz, yaitu kelas 2C dan 2D. Kegiatan tersebut merupakan kegiatan tasmi' pertama yang dilakukan di luar lingkungan sekolah. Sebelum ini, telah dilaksakan tasmi' juga, namun hanya di area Sekolah saja. Hal ini menjadi inovasi baru agar ananda tidak merasa jenuh dan tetap enjoy dalam proses hafalan maupun muroja'ah. 



Rangkaian kegiatan tasmi' ini berlangsung selama kurang lebih 5 jam. Diawali dengan keberangkatan dari sekolah ke Lokasi tasmi' kemudian sesampainya di lokasi MGM, ananda mengelilingi musem guna menambah wawasan terkait gunung merapi. Setelah puas berkeliling selama kurang lebih 45 menit, ananda kemudian berjalan menuju lokasi tasmi' yang sudah disediakan. 


Lokasi ini berada di bagian Taman belakang dari Museum Gunung Merapi. Suasana yang sejuk membuat tasmi' menjadi semakin kondusif dan ananda pun menjadi lebih berkonsentrasi dalam melafadzkan kalam-kalam Allah Ta'ala. Tasmi' dimulai secara resmi pada pukul 09.30 WIB yang dipandu oleh ustadzah Atin. Dalam pembukaan tersebut, beliau menyampaikan kandungan jargon yang ada pada poster, "ketika kita sudah menghafalkan Al Quran, Murojaah adalah pekerjaan seumur hidup seorang Hafidz/ah. Begitupun dengan Akhlaqnya, harus senantiasa berusaha menjaga Akhlaq agar tetap sesuai dengan Al Quran. jadi, tidak hanya kita menghafal, namu juga kita berusaha semaksimal mungkin untuk mengamalkan apa yang sudah kita pelajari dan hafalkan", tutur beliau. 

Setelah dibuka, Kegiatan tasmi' dimulai dari surat An-Naas sampai An Naba' (juz 30) dan disusul dengan juz 29 serta juz 28. Ananda secara bergantian mentasmi' apa yang sudah dihafalkan. 1 anak mentasi' 1-2 surat. Secara keseluruhan, ananda telah mampu memuroja'ah dengan baik apa yang selama ini telah dihafalkan. Sembari menunggu giliran maju, ananda memnyimak sambil sesekali memuroja'ah surat yang mungkin sedikit terlupa. Sungguh, pemandangan yang sangat indah pada siang hari itu. 




Setelah selesai kegiatan, ananda kembali memasuki museum untuk melihat-lihat sebentar lalu pulang dengan menggunakan odong-odong lucu yang menambah keseruan pada hari itu. Dalam perjalan pulang, semangat ananda untuk muroja'ah tidaklah luntur. Pasalnya, mereka tetap melantukan Ayat-ayat Allah selama dalam perjalanan pulang. MaasyaAllah. Semga menjadi Syi'ar yang baik dan diridhai oleh Allah Subhanahuwata'alaa... aamiin




Reporter : Priha 
Foto : Ida Nahdhah