Eureka!
Rahasia Sains Bandeng Presto
Afifah Zahidah Muslikh
“Fathiya, kamu sudah menyiapkan alat tulis untuk kerja kelompok belum?” tanya Ummi.
“Sudah kok, Mi,” jawab Fathiya sembari mengangguk. Cepat-cepat ia menyambar tasnya dan segera menyalami Umminya.
Hari ini Fathiya akan belajar kelompok di rumah Khalida. Mereka mendapat tugas tentang penerapan sains fisika dalam kehidupan sehari-hari yang harus dikaitkan dengan teknologi. Materinya saja sudah terasa asing untuk seorang anak kelas lima SD, tetapi Pak Anung, guru fisika mereka, masih menambahkan bahwa tugasnya harus berupa poster dan dipresentasikan. Tak heran kalau Fathiya terburu-buru mengendarai sepedanya.
Tok... tok... tok...
“Assalamu’alaikum, Khalida...” Fathiya mengucap salam sembari mengetuk pintu rumah bercat putih itu.
“Wa’alaikumussalam! Tunggu sebentar, ya,” terdengar jawaban seorang anak perempuan dari dalam rumah.
Kriet...
Pintu dibuka, tampak Khalida keluar dari rumah membawa setumpuk buku tebal.
“Ayo masuk. Lihat, aku sudah menemukan beberapa buku tentang fisika. Mungkin ada yang bisa dijadikan ide poster kita!” ujar Khalida semangat. Sejak tugas ini diberikan, sepertinya hanya anak ini saja yang semangatnya tidak padam.
“Haha... oke, oke. Aku juga sudah membawa aneka pewarna dan buku sains,” kata Fathiya sambil menunjuk tas hitam besar di punggungnya. Mereka pun melangkah ke dalam rumah.
“Oh ya, Fath, kita belajarnya di ruang perpustakaan saja, ya? Soalnya di sana ada banyak buku tentang fisika, jadi kita lebih mudah mencari idenya. Soalnya kamarku juga agak berantakan, hehe...”
“Khal, Khal... kebiasaanmu sejak TK itu enggak hilang-hilang. Enggak baik, loh. Padahal kebersihan itu sebagian dari iman,” ujar Fathiya serius. Wajahnya tampak lucu, antara serius dan bercanda.
“Eh, enggak, ya. Kamarku kan berantakan karena habis nyari buku sains di seluruh penjuru kamar hamba, Tuan Putri. Jadi maafkanlah kesalahan patik, Tuanku,” jawab Khalida bercanda sembari mengedipkan matanya sebelah.
Mereka lalu melewati ruang tamu, kemudian melintasi ruang tengah, dan sampai di sebuah ruangan bertuliskan Library Room.
“Yuk, masuk,” kata Khalida sambil melangkah ke dalam ruangan itu.
Di dalamnya ada banyak buku yang tersusun rapi di rak. Ada beberapa buku yang bertumpuk di meja kecil di sudut ruangan.
Mereka lalu mengambil sebuah buku di meja.
“Khalida, lihat, di buku ini ada proses mencairnya es krim. Bukannya itu termasuk fisika, ya?” tanya Fathiya sembari menunjuk salah satu halaman di bukunya. Mereka sudah berkutat hampir dua jam di depan tumpukan buku-buku. Bahkan Fathiya sudah berulang kali mengucek matanya saking pusing dan bingungnya.
“Benar juga. Tapi sepertinya proses mencairnya es krim sudah dibuat poster sama kelompoknya Ammah, deh. Kemarin aku enggak sengaja dengar pas dia ngobrol sama Rima,” jawab Khalida lesu.
“Hmm, oh begitu. Tapi kita membuat poster apa dong?” Fathiya juga tampak kecewa.
“Apa ya... aku sudah cari di dua buku ini, tidak ada yang cocok dibuat poster,” dahi Khalida mengerut.
Tok... tok... tok...
“Kalian sudah membuat posternya?” tanya seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Khalida.
“Belum, Ammah. Kami sedang mencari idenya,” jawab Fathiya sopan. Segera ia beranjak dari duduknya dan menyalami ibu Khalida.
“Belum dapat idenya, tho?” Ibu Khalida tampak heran. “Kalau begitu, mending kalian ngemil siomay dulu, nih. Siapa tahu kalian jadi dapat ide untuk menyelesaikan tugas,” ucap Ibu Khalida sembari meletakkan nampan berisi siomay dengan saus kacang pedas dan minuman es teh jumbo di meja.
“Atau makannya di luar saja, siapa tahu mendapat inspirasi,” ujar Ibu Khalida sambil tersenyum. Mereka lalu melangkah keluar dan menikmati kelezatan siomay di meja makan.
“Oh ya, bagaimana kalau Fathiya ikut makan siang bareng? Soalnya sudah jam 11.48. Nanti kita makan bareng setelah salat Zuhur,” tanya Ibu Khalida.
Piring siomay di depan mereka sudah ludes tak bersisa. Setelah makan siomay, Fathiya diajak berbincang santai oleh Khalida dan ibunya. Mereka bertanya kabar keluarga Fathiya dan keseharian Khalida di sekolah.
“Enggak usah, Ammah. Terima kasih, malah merepotkan nanti,” Fathiya menggeleng sopan.
“Ehh, ayolah, Fath! Jarang-jarang, lho, makan siang bareng di rumahku,” paksa Khalida. “Kita kan juga belum menyelesaikan tugasnya...”
“Iya, lho, Fathiya. Nanti Ammah WA Ummi-mu, mengabari kalau pulangnya nanti lebih lambat,” kata Ibu Khalida.
“Mmm, ya sudah, Ammah. Terima kasih, Khalida, Ammah.”
“Yeyyy! Yuk, habis ini kita langsung salat lalu makan, ya!” sorak Khalida.
“Oh ya, Fathiya tidak alergi ikan bandeng, kan? Soalnya hari ini Ammah memasak ikan bandeng goreng,” tanya Ibu Khalida sembari meletakkan piring berisi bandeng goreng presto, sambal bawang, dan sayur pokcoy rebus di meja.
“Enggak kok, Ammah,” jawab Fathiya sambil menyeret kursi untuk duduk. Sejak tadi dia sudah ngiler ingin segera mencicipi masakan itu.
“Alhamdulillah, untung saja. Semoga rasanya cocok, ya,” ujar Ibu Khalida sembari menuangkan nasi ke piring Fathiya.
Mereka pun makan siang dengan lahap. Masakan ibu Khalida terasa sangat lezat. Fathiya merasa, masakan ibu Khalida bisa mengalahkan masakan restoran.
“Oh ya, kenapa kalian tidak menulis tentang panci presto saja? Bandeng goreng ini Ibu presto pakai alat itu tadi,” tanya Ibu Khalida sembari meletakkan piring kotor di wastafel.
“Panci presto? Memangnya bisa, Bu?” Khalida tampak bingung. Ia mendekat ke arah ibunya untuk membantu mencuci piring. Fathiya mengikuti di belakangnya.
“Bisa, lho. Kan panci presto masuk prinsip tekanan. Penemu panci ini adalah Denis Papin, ilmuwan asal Prancis. Tapi panci yang dibuat Denis Papin ini dulu belum sempurna karena tekanannya terlalu tinggi sehingga berpotensi meledak. Kan ada unsur sainsnya dan perkembangan teknologinya juga ada, tuh,” jelas Ibu Khalida sembari mengambil handphone di saku gamisnya.
“Mmm, lalu apa prinsip fisikanya, Ammah?” tanya Fathiya penasaran.
“Begini, deh, Ammah jelaskan. Dalam konsep fisika ada yang namanya tekanan. Tekanan itu berarti besar kecilnya dorongan atau gaya pada suatu permukaan. Coba dipraktikkan, spons cuci piring itu kalian tekan pakai jari.”
“Eh, jadi ketekan ke dalam, Mi,” jawab Khalida sambil memainkan spons di tangannya.
“Jadi, dalam prinsip tekanan terdapat tiga jenis, yaitu tekanan zat padat, cair, dan gas. Nah, kalau panci presto itu menggunakan prinsip tekanan gas. Ada beberapa hukum tentang tekanan gas, salah satunya adalah Hukum Boyle. Yaitu, jika suhu (T) konstan, maka volume (V) gas berbanding terbalik dengan tekanannya (P). Sepertinya kalian akan belajar ini di kelas dua SMP, deh. Mas Farid pas tahun lalu kelas delapan, dia belajar ini,” jelas Ibu Khalida panjang lebar. Ia berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami untuk anak kelas lima SD.
“Aduh, materinya agak berat, ya. Pak Anung memberi materinya sudah seperti SMP saja,” keluh Khalida.
“Eh, bukannya malah bagus. Berarti Pak Anung ingin kita lebih banyak literasi lagi, siap-siap buat TKA tahun depan,” sanggah Fathiya.
“Iya, benar sekali itu, Khal. Oh! Ibu dapat ide bagus, nih. Sangat cocok untuk kalian. Sini, jadi nanti...” ujar Ibu Khalida sembari membisikkan sesuatu ke kedua anak itu.
“Jadi begini, teman-teman. Saat panci dipanaskan, airnya akan menguap. Nah, karena pancinya tertutup, uapnya akan terperangkap dalam panci. Selama panci dipanaskan, uap air akan terus bertambah, jadinya tekanannya juga meningkat dan membuat makanan yang kita presto jadi empuk, lembut, dan lezat!” jelas Khalida bersemangat.
“Oh ya, teman-teman. Ternyata jauh sebelum Hukum Boyle ditemukan, Allah sudah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 125:
‘Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit...’
Nah, seperti yang sudah saya jelaskan tadi, dalam prinsip fisika tekanan udara dikatakan kalau semakin tinggi ketinggian tempat, tekanan udaranya bakal semakin menurun. Berarti, fakta ini membuktikan kebenaran dari ayat tersebut,” sahut Fathiya tak kalah berapi-api.
“Sekian presentasi dari kami. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih!” tutup Fathiya dan Khalida.
Hari ini keduanya berhasil menyelesaikan presentasi dengan lancar. Tampak wajah Pak Anung sangat puas terhadap poster dan hasil presentasi Fathiya dan Khalida.
“Wow! Tidak Bapak sangka, ternyata kalian berhasil membuat poster dan presentasi dengan sangat baik serta mudah dipahami. Mari, anak-anak, kita berikan applause, tepuk tangan untuk Fathiya dan Khalida!”
Prok... prok... prok...
Perjuangan mereka membuahkan hasil yang sangat baik. Sepertinya nilai A+ sudah di depan mata. Mereka berdua sangat bersyukur mendapatkan ide bagus dari Ibu Khalida.
Kring... kring...
Terdengar bunyi bel sekolah menandakan waktu istirahat makan siang telah tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas untuk menikmati makan siang. Tak terkecuali Fathiya dan Khalida yang bergegas mencari tempat duduk sembari membawa kotak MBS alias Makan Bergizi Sekolah ke bangku panjang di taman.
“Hummm, kira-kira menunya apa, ya, Fath?” tanya Khalida.
“Dari bau yang kuterka-terka ini, pasti gorengan. Udang krispi kayaknya!” tebak Fathiya sembari meletakkan dua kotak makan tersebut di atas meja.
“Kalau gitu ayo kita buka. Tadaaa!”
Kejutan! Ternyata menunya bandeng presto goreng spesial dengan cah kangkung pedas yang terlihat sangat menggoda selera.
“Eureka! Masya Allah, bandeng presto ini ternyata punya rahasia sains, ya! Haha, alhamdulillah!” sorak Khalida senang.