Mari Berbahagia Menyambut Ramadhan, Tema Forsitu Gabungan Tarhib Ramadhan SD IT Hidayatullah

Sleman, sdithidayatullah.net-  SD IT Hidayatullah menggelar forsitu gabungan sebelum Ramadhan pada hari Sabtu, 26 Sya’ban 1447/14 Februari 2026.  Acara ini dihadiri oleh semua wali murid dari kelas 1-6. 

Forsitu gabungan kali ini mengusung tema tarhib Ramadhan mengingat sebentar lagi kita akan menjalankan ibadah puasa Ramadhan.

Diawali dengan tilawah murid SD IT Hidayatullah, dilanjutkan dengan pidato Ananda Khalishah kelas 6 ( Juara 1 Pildacil tingkat kapanewon Ngaglik). Dengan judul “Indahnya Silaturrahim”, Ananda Khalishah mengajak kita untuk menjaga silaturrahim.



“Mari jaga silaturrahim, salah satu manfaat silaturrahim adalah memperpanjang umur dan memperbanyak rezeki.” Pesan Ananda Khalishah.


Dalam sambutannya, Ustadz Untung Purnomo selaku kepala sekolah SD IT Hidayatullah menegaskan bahwa libur Ramadhan di lakukan di 10 hari terakhir dimana sekolah sekolah lain belum libur, ini sebagai bentuk untuk memperbanyak ibadah dan harapannya bisa melaksanakan iktikaf dengan maksimal.



Adapun pemateri Forsitu Gabungan adalah Ustadz Maarif, dimana beliau adalah ketua Yayasan As Sakinah Yogyakarta. 

“Bergembira adalah perintah. Dan itu berpahala”. Ucap beliau membuka tarhib Ramadhan.

Dalam materinya beliau menyampaikan enam keistimewaan bulan Ramadhan. Pertama, Ramadhan sebagai naungan. Setiap manusia punya masalah bahkan bayi baru lahir punya masalah. Di bulan Ramadhan masalah-masalah diberi solusi. Bulan Ramadhan bulan rehat, mari kita bangkitkan rasa bahagia menyambut Ramadhan.

Kedua, bulan Ramadhan terdapat lailatul qadr. Dalam istilah Jawa ada yang namanya gas pol rem set artinya semangat di awal, diakhiri tidak semangat. Jangan sampai kita seperti ini agar kita mendapatkan malam seribu bulan tersebut.

Ketiga, dibulan Ramadhan secara tidak langsung kita dipaksa untuk puasa sebulan penuh. Namun puasa ini memuliakan kita. 

Keempat, beramal sunah di bulan Ramadhan pahalanya seperti amalan wajib dan beramal wajib pahalanya dilipatgandakan 70x.

Kelima, bulan Ramadhan bulan dilimpahkan rezeki. Mendapat rezeki melalui dua cara, yaitu: ikhtiar duniawiah dan ikhtiar ukhrawiah. Ikhtiar duniawiah bisa kita dapatkan dengan profesi kita di dunia ini, sedangkan ikhtiar ukhrawiah bisa dengan beristigfar, jaga shalat sunah, jaga wirid, jaga Qurannya. 

Keenam, siapa yang membeli ifthar di bulan Ramadhan, maka akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa. 

“Bagaimana kita mengekspresikan kebahagiaan kita menyambut Ramadhan? Rasul dengan berdoa.” Ujar beliau diakhir materi.

اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالإِيمَانِ  وَالسَّلامَةِ وَالإِسْلامِ  رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ

Allahumma ahillahu ‘alaina bil yumni wal imani was salamati wal islam. Rabbi wa rabbukallah.

Artinya, “Ya Allah jadikanlah hilal (bulan) ini bagi kami dengan membawa keberkahan, keimanan, keselamatan, dan keislaman. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.”

Rep: Fita
Foto: Ikhsan


Mesin Harga Milyaran Untuk Kelola Sampah; Ratusan Murid SD IT Hidayatullah Sleman Ikuti Kegiatan Outing Class Bertemakan Sampah

Selasa (27/ 1/ 2026). Alhamdulillah mengawali awal tahun dengan kegiatan yang penuh makna dan manfaat, sekolah SD IT Hidayatullah Sleman mengadakan kegiatan outing class bertemakan sampah. Kegiatan ini diikuti oleh 559 murid dari kelas Amanah hingga kelas 6.

Kegiatan outing class kali ini diadakan serentak di hari yang sama yaitu di hari Selasa dan bertempat di tiga tempat yang berbeda. Fase A: Aku Anak Bersih Sayang Allah bertempat di Rumah Dinas Bupati Sleman, Fase B: Sampahku Tanggung Jawabku bertempat di Kebon Deso, Fase C: Dari Sampah Menuju Amal Lingkungan bertempat di Kampung Zero Waste. 

.       




Fase A, di awali dengan ice breaking selanjutnya pemaparan materi dari Dinas Lingkungan Hidup. anak- anak di ajak untuk memilah sampah, mengolah sisa sampah menjadi losida (Lodong Sisa Dapur), dan diajari untuk mengubah sampah menjadi sesuatu yang bisa dimanfaatkan, salah satunya adalah mengubah botol menjadi sapu. 

       


Fase B, kegiatan di awali dengan pembagian kelompok menjadi 3 kelompok kemudian menonton video pendek tumpukan sampah di Bantar Gebang yang penuh dengan sampah, di pos pertama, anak-anak praktik bagaimana memanfaatkan sampah dari tutup botol menjadi hiasan dan tempat pensil dari botol plastik bekas dan stik es krim. Selanjutnya di pos kedua, para murid diajak untuk bermain game memilah sampah. Dan di pos ketiga para murid diajak melihat langsung bagaimana proses pengelolaan sampah di TPS 3R

                 


"Harga mesin pengelolaan sampah ini mencapai milyaran. Banyak dari Mahasiswa yang berkunjung ke sini untuk melihat proses pengelolaan sampah. Bahkan ada yang dari luar negeri, dari China dan Jerman." kata Pak Mino salah satu pengelola sampah di TPS 3R Brama Muda.

"Dari pengelolaan sampah ini kami mampu mempekerjakan 15 orang dengan gaji UMR, mengelola sampah ini masalah hati, tidak semua bisa melakukannya." tambah beliau. 

Di TPS ini juga terdapat maggot yang dikembangbiakkan dan untuk pakan ikan. Hasil dari sampah setelah dipisah yang organik menjadi kompos atau pupuk kemudian yang plastik bekerjama dengan Jerman untuk dikelola di sana. 

Fase C, diawali dengan penyampaian materi tentang sampah dan pentingnya pilah sampah, anak-anak kemudian diajari bagaimana cara mengolah sampah organik menjadi kompos, dan diakhiri dengan menanam

         .         

Seperti biasa seluruh rangkaian kegiatan SD IT Hidayatullah Sleman selalu diawali dengan shalat duha terlebih dahulu dan diakhiri dengan shalat duhur berjamaah. Alhamdulillah seluruh kegiatan outing class berjalan dengan lancar. Semoga pengalaman yang sudah didapatkan para murid hari ini membawa banyak barokah dan manfaat. 



Rep: Fita

Foto: Tim PDD

Menjadi Generasi Qur’an di Era Teknologi

 


Sabtu (17/1/2026). “Redupkan Layar, Dekati Al Qur’an” menjadi judul pada kegiatan Motivasi Orang Tua Penghafal Al Quran kali dengan. Sebagai pembicara adalah Bapak Abdullah Gaus Nasution yang merupakan ayah dari peserta Hafiz Indonesia tahun 2018 Ananda Abdurrahman Nasution.

Dibuka dengan penampilan beberapa Ananda dari SD IT Hidayatullah Sleman yang membacakan hafalannya mulai dari juz 30 hingga juz 11. Alhamdulillah kegiatan diikuti oleh para wali dengan sangat antusias. Ini terlihat dari penuhnya masjid tempat acara dan banyaknya wali yang bertanya saat sesi tanya jawab.

Ayahanda Ananda Abdurrahman Nasution menyampaikan lima pesan yang harus kita perhatikan untuk anak-anak kita:

Pertama, mengingat bahwa pemberi hidayah adalah Allah.

Kedua, banyak berdoa.

Ketiga, anak adalah investasi akhirat. Hafalan Al Fatihah jangan sampai diberikan kepada orang lain. Sebisa mungkin kita yang mengajarkannya.

Keempat, teman dan lingkungan yang mendukung.

Kelima, mendapatkan amal jariah.

“Rihlah dan rekreasi ini juga penting. Tidak semua tempat bisa kita datangi. Rihlah bisa ke rumah sakit atau panti asuhan, agar senantiasa bersyukur.” Tambah beliau. 

Di akhir pemaparan materi beliau menyampaikan senantiasa doakan anak-anak kita, jika kita seorang guru doakan murid-murid kita. 

Foto kegiatan:







Rep: Fita
Dok: Muthi


MPLS Anti Bullying: 559 Murid SD IT Hidayatullah Sleman Belajar Anti-Bullying

 



Rabu (7/1/2026). Alhamdulillah hari terakhir MPLS kegiatan berjalan dengan lancar. MPLS kali ini para murid dibersamai kakak- kakak dari Volunteers 1M Youths Stop Bullying belajar Anti Bullying.

Bertempat di masjid kegiatan ini diikuti 559 murid. Baik dari kelas Amanah, kelas putra dan putri semua mengikuti kegiatan dengan antusias. 

Kegiatan ini dikemas dengan cara yang sangat menarik, lewar exercise “Belajar Mendenga” dengan menggunakan huruf dari nama masing- masing, murid diminta untuk membuat gambar pahlawan versi mereka. Terinspirasi dari karya Ashish Goel (Nueva School).

Aktivitas ini mengajak para murid untuk: 
1. Mengenal diri
2. Berani bercerita 
3. Belajar mengenal teman 
4. Menumbuhkan empati sejak dini

Mencegah bullying bisa dimulai dari hal sederhana: didengar, dihargai, dan saling berterima kasih.  

Foto kegiatan:














Rep: Fita 
Dok: Raafi




MPLS Tertib Lalu Lintas: Belajar Etika Berlalu Lintas Bersama Polsek Ngaglik

 

Selasa, (06/01/2026). Hari kedua MPLS di SD IT Hidayatullah diisi dengan keseruan materi Etika Berlalu Lintas bersama Tim Polsek Ngaglik.
Diikuti oleh 559 murid kegiatan hari kedua ini berjalan dengan lancar dan penuh keceriaan.
 


Diawali dengan shalat duha di kelas masing- masing selanjutnya pemaparan materi oleh Tim Polsek Ngaglik di halaman sekolah. 

“Saat berkendara menggunakan helm, pastikan sampai berbunyi klik”

Pesan Bu Yuli salah satu Tim Polsek Ngaglik. 

Setelah pemaparan materi dilanjutkan game bersama para murid. Meski di tengah halaman di bawah matahari yang mulai terik semangat para murid tetap membara.



Mari berkendara dengan tertib dan bijak. Semoga Allah senantiasa melindungi kita disetiap perjalanan. 

Rep: Fita
Foto: Raafi


MPLS Tanggap Bencana : Belajar Mitigasi Bencana Bersama BPBD Sleman

Senin (05/01/2026). Alhamdulillah setelah libur panjang semester gasal, murid-murid SD IT Hidayatullah Sleman kembali ke sekolah dengan semangat baru. 

Mengawali semester baru dan tahun baru dengan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) yang penuh ilmu dan pengalaman baru. 

Hari pertama MPLS di isi dengan materi yang sangat bermanfaat. Bersama BPBD Sleman para murid belajar apa itu mitigasi bencana dan mempraktikkan langsung apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana atau gempa bumi. Kegiatan ini diikuti seluruh murid dari kelas 1-6 hingga Amanah. Pun para Ustadz Ustadzah juga mengikuti kegiatan dengan baik. 

Saat terjadi gempa bumi ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu:

1. Bersembunyi di bawah meja atau benda lain yang bisa untuk melindungi tubuh kita.

2. Setelah gempa selesai, segera keluar kelas atau ruangan. Membawa benda yang bisa untuk melindungi kepala.

3. Segera menuju titik kumpul dengan posisi duduk merunduk sembari melindungi kepala.


Ucap pak Ismardiyanto memaparkan materi MPLS hari ini. 

Setelah memberikan materi kemudian dilanjutkan praktik saat terjadi gempa bumi. Para murid dan guru mengikuti dengan sangat antusias. 

Tidak hanya belajar saat terjadi gempa bumi. BPDB Sleman juga menyampaikan materi bagaimana menangani jika ada korban saat gempa. 

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk upaya penanggulangan jika suatu saat nanti qodarullah Allah memberikan ujian berupa bencana gempa bumi. 

Semoga Allah senantiasa melindungi kita dan menjadikan umur kita bermanfaat. Aamiin. 


Rep: Fita

Foto: Raafi


Ruang Cinta dan Cerita


 

Oleh: Hendra Nugroho,S.Pd.I.*

Sebagai profesi yang mulia, setidaknya ada tiga alasan mendasar yang bisa dikemukakan tentang guru. Pertama, yaitu proses transfer ilmu atau pengetahuan yang kita sebut sebagai kewajiban mengajar dengan tujuan mencerdaskan manusia. Kedua adalah mendidik, yaitu memberikan pengajaran tentang sikap jiwa dan budi luhur kepada anak didik supaya kelak menjadi manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi setiap makhluk. Ketiga adalah keteladanan guru yang harus bisa menjadi contoh yang baik dan benar, baik lahir maupun batin, bagi anak didik.

Lalu, bagaimana guru bisa memunculkan keteladanan bagi peserta didik?

Jawabannya adalah keteladanan itu muncul dari hati yang penuh dengan ketulusan untuk membersamai peserta didik dalam belajar. Jika ketulusan hati dan keikhlasan itu hadir, maka akan tercipta bonding antara guru dan peserta didik.

Kok bisa bonding itu tercipta?

Karena guru mau membuka ruang yang luas untuk peserta didiknya, yaitu di antaranya terbukanya ruang cinta dan cerita.


***

Suatu kisah

Ada seorang guru bernama Abdullah. Ia mengajar di sekolah dasar Islam terpadu sudah belasan tahun lamanya. Pada suatu ketika, ia diamanahi oleh kepala sekolahnya untuk mengajar di kelas dua pada tahun kesembilan belas. Dari dua puluh lima murid yang ada di kelasnya, ada satu murid bernama Dimas. Dimas adalah murid laki-laki yang sama sekali tidak mau mengeluarkan suara satu huruf pun. Apakah Dimas memiliki gangguan pendengaran?
Ternyata pendengarannya normal-normal saja.

Hal ini menjadi aneh bagi Pak Abdullah sejak pertemuan awal kelas dua, saat sesi perkenalan antara murid dan wali kelasnya.

“Dimas Adi Brata, silakan maju memperkenalkan diri. Sebutkan nama, alamat rumah, dan cita-cita!” perintah Pak Abdullah.
Dimas pun maju ke depan, berdiri di depan papan tulis sebagaimana teman-teman sebelumnya yang memperkenalkan diri masing-masing. Namun setelah Dimas berdiri di depan kelas, ia mematung begitu saja tanpa ada suara yang keluar dari lisannya.
“Ayo, Dimas, silakan memperkenalkan diri kepada teman-teman!”
Pak Abdullah menunggu Dimas berbicara, namun suara itu tak kunjung keluar. Kemudian salah satu teman kelasnya berkata, “Ustaz, Dimas memang tidak mau berbicara sejak kelas satu semester dua.”
“Oh begitu, kenapa ya, Nak?”
“Tidak tahu, Ustaz.”
“Baiklah kalau begitu, silakan Dimas duduk kembali ke kursinya,” perintah Pak Abdullah.
Dimas pun duduk kembali ke kursinya dengan wajah serius, tanpa senyum dan tanpa kesedihan.

Bel pulang berbunyi di hari pertama masuk sekolah. Pak Abdullah sengaja menemui orang tua Dimas saat penjemputan sekolah. Tidak banyak yang disampaikan oleh Pak Abdullah kepada ibu Dimas, hanya beberapa kalimat saja mengingat waktu dan kondisi yang ramai.

“Bun, nomor WA-nya betul yang ini?” tanya Pak Abdullah sambil menunjukkan kontak di HP-nya.
“Betul, Ustaz.”
“Nanti sore atau malam sebelum istirahat, saya boleh minta waktunya untuk berbicara dengan Bunda via telepon, bisa?”
“Iya, Ustaz, insyaallah bisa. Nanti kabari saja, ya, Ustaz.”

Saat malam tiba, selepas Isya, Pak Abdullah menelepon ibu Dimas. Maksud dari komunikasi via telepon tersebut adalah untuk menggali informasi tentang Dimas, muridnya di kelas dua yang tidak mau berbicara sama sekali.

“Oh iya, Ustaz, di rumah Mas Dimas normal-normal saja. Ia berbicara dengan saya, ayahnya, dan adiknya,” jawab ibu Dimas.
“Oh begitu... oh iya, ini sampai terdengar suaranya sedang main sama adiknya, ya, Bun?”
“Iya, Ustaz, itu sedang main. Jadi memang, dari kelas satu kemarin, guru di kelas satu waktu itu menyampaikan ke saya, katanya Mas Dimas sekarang jadi diam, tidak mau mengeluarkan suara untuk bicara. Ujian praktik lisan pun tidak bisa kalau di sekolah, ia maunya via rekaman HP yang dikirim saat tiba di rumah.”
“Oh begitu, Bun. Sudah Bunda coba menanyakan kepada Mas Dimas, apa penyebabnya?”
“Sudah, Ustaz, namun dia masih belum mau menjawab. Saya pikir, ya sudahlah, mungkin suatu saat dia mau berbicara.”
“Terus, saat kelas satu, sama teman-temannya tidak ada masalah, kan, Bun?”
“Tidak ada, Ustaz. Ustazah Mahmudah pun waktu itu menyampaikan kalau mereka di kelas akur- akur saja. Dimas pun berbaur seperti biasa dengan semua teman-temannya. Hanya saja tidak mau mengeluarkan suara.”
“Oh, baik, Bun. Terima kasih banyak informasinya. Ini barangkali menjadi PR buat saya sebagai wali kelas Mas Dimas di kelas dua. Kita sama-sama memotivasi Mas Dimas agar mau berbicara kembali, ya, Bun.”
“Iya, Ustaz, saya juga akan terus menggali penyebab sebenarnya apa.”



***

Setelah mengetahui informasi dari orang tuanya tentang kondisi Dimas, Pak Abdullah pun setiap hari terus memberikan motivasi khusus kepada Dimas. Dimas tidak memiliki gangguan pendengaran, tidak sedang bersitegang dengan temannya, dan tidak pernah mogok sekolah. Suara itu hanya tidak dikeluarkan ketika di sekolah saja. Di rumah, ia ceria, bahagia, dan berbicara dengan keluarganya. Jadi, bagi orang tuanya pun hal itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang bermasalah atau mengkhawatirkan. Persoalannya hanya muncul ketika di sekolah.

“Mas Dimas, sebenarnya Ustaz ingin tahu alasan Mas Dimas kenapa tidak mau berbicara sama sekali ketika sudah masuk sekolah. Tetapi barangkali Mas Dimas belum mau cerita sekarang, tidak apa-apa. Lain waktu kalau Mas Dimas sudah mau cerita sama Ustaz, Ustaz sangat terbuka dan mau mendengarkan Mas Dimas bercerita.”
Dimas hanya menjawab dengan anggukan.

Kegiatan belajar berjalan seperti biasa. Pak Abdullah tetap menganggap semua murid sama di hatinya, ia menaruh kasih sayang yang sama tanpa membeda-bedakan. Ia pun memfasilitasi belajar Dimas yang tidak mau mengeluarkan suara. Hampir setiap hari Pak Abdullah selalu memiliki waktu khusus untuk memberikan motivasi kepada Dimas, meskipun muridnya itu tidak mau menjawab dengan kata-kata. Pak Abdullah tak pernah lelah dan tak mau berhenti membuka ruang cintanya, semua demi muridnya yang satu ini. Namun, jawaban selalu sama—Dimas tidak mau berbicara sama sekali. Hal ini berlanjut sampai Dimas menyelesaikan kelas tiga. Bahkan orang tuanya pun sudah menganggap hal itu biasa, meskipun masih ada rasa penasaran di hati mereka.

Keajaiban datang bagi Pak Abdullah. Dua tahun setelah menjadi wali kelas Dimas di kelas dua, ia diamanahi oleh kepala sekolahnya untuk menjadi wali kelas satu. Sedangkan Dimas sudah duduk di kelas empat dengan wali kelas yang berbeda.
Tiba-tiba Dimas menemui Pak Abdullah di ruang kelas satu, saat Pak Abdullah selesai memulangkan muridnya. Ruang kelas itu telah kosong, menyisakan Pak Abdullah seorang diri.

“Eh, Mas Dimas... apa kabar? Silakan duduk! Ada apa, ada yang bisa Ustaz bantu?”
“Anu, Ustaz, saya mau berbicara sama Ustaz.”

Sontak Pak Abdullah terkejut luar biasa saat mendengar suara muridnya yang sekian tahun tidak terdengar. Ia bersyukur dalam hatinya, matanya mulai berkaca-kaca. Pak Abdullah duduk berhadapan dengan Dimas, tanda ia serius mendengarkan muridnya yang kini sudah kelas empat.

“Iya, Mas Dimas, silakan. Ustaz dengan senang hati akan mendengarkan Mas Dimas menyampaikan sesuatu yang sangat penting rupanya.”
“Saya mau mengucapkan terima kasih banyak sama Ustaz, sudah mau peduli dengan saya, mau memberikan motivasi kepada saya setiap hari agar selalu menjadi orang yang optimis. Sekarang saya sudah merasakan motivasi tentang optimis itu telah ada pada diri saya dari Ustaz.”
“Alhamdulillah...”
“Dulu, kenapa saya tidak mau membuka suara saat di sekolah, Ustaz, waktu kelas satu ada teman yang mengatakan kalau suara saya seperti suara perempuan. Sejak kalimat itu saya dengar, sejak itu pula saya pesimis, Ustaz. Sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak mengeluarkan suara atau menahan diri untuk berbicara di lingkungan sekolah ini. Tapi kali ini saya mendobrak itu semua berkat nasihat dan motivasi dari Ustaz yang membangkitkan semangat saya. Saya tidak punya dendam kepada siapa pun, termasuk kepada teman saya yang mengomentari suara saya. Saya baik-baik saja dengan siapa pun. Hanya saja waktu itu, secara spontan, rasa optimis saya hilang hingga memutuskan untuk tidak berbicara.”
“Masyaallah, Mas Dimas, Ustaz senang sekali mendengar ini dari Mas Dimas. Mendengar kalimat positif yang keluar dari Mas Dimas. Dan juga Ustaz senang sekali sudah bisa mendengar suara merdu Mas Dimas yang kini sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa.”

“Sekali lagi terima kasih, Ustaz, atas kesediaannya memberikan motivasi kepada saya setiap hari.”
“Sama-sama, Mas Dimas. Ustaz selalu mendoakan yang terbaik untuk Mas Dimas.”

Keduanya berpelukan, menangis bahagia. Kini Dimas tumbuh menjadi anak yang optimis, terlihat dari matanya. Dan suara itu kembali terdengar seperti sedia kala.





***

Dari sedikit kisah di atas, ternyata guru sangat memberikan dampak yang luar biasa bagi muridnya, selama guru itu mau membuka ruang cintanya dan ruang ceritanya untuk murid. Karena guru adalah ruang cinta dan cerita.

Selamat Hari Guru Nasional.
Semoga kita menjadi guru yang hebat untuk Indonesia yang kuat.

“Guru Hebat, Indonesia Kuat.”


*) Hendra Nugroho,S.Pd.I., Guru SD IT Hidayatullah Yogyakarta.