@sdhidayatullah (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB

Tarhib Ramadhan di Kampus Madya Yayasan As-Sakinah Hidayatullah Yogyakarta

 

www.sdithidayatullah.net // Sleman (04/02/2023) Kampus Madya Yayasan As-Sakinah Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan “Tarhib Ramadhan 1444 H/2022 M” yang diikuti oleh seluruh pegawai Yayasan, yang meliputi Kelompok Bermain (KB) dan Taman Penitipan Anak (TPA) Permata Ummi, Taman Kanak-kanak (TK) Yaa Bunayya Yogyakarta, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Hidayatullah Yogyakarta, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Hidayatullah Yogyakarta, Madrasah Aliyah (MA) Hidayatullah Yogyakarta, Unit Ekonomi Produktif (UEP) As-Sakinah yang meliputi Sakinah Catering, Rumah Potong Ayam (RPA) Sakinah, dan Koperasi Sakinah.

Klik di sini : Informasi Penerimaan Murid Baru SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Bertempat di Gedung Lantai 3 SDIT Hidayatullah Yogyakarta, acara yang mengambil tema “Lebih Siap Meraih Keutamaan Ramadhan” ini menghadirkan pemateri Ustadz. K.H. Muhammad Syakir Syafi’i, Beliau adalah Kepala Departemen Kepesantrenan DPP Hidayatullah dan anggota dewan pembina di Yayasan As-Sakinah Yogyakarta.

“Sukses melakukan persiapan, menjadi kunci sukses meraih keutamaan Ramadhan.” Begitu yang disampaikan oleh Ustadz Syakir kepada ratusan pegawai di lingkungan Yayasan As-Sakinah Yogyakarta.

“Seseorang hendaknya melakukan persiapan dengan melakukan amal shalih di bulan Rajab, bersungguh-sungguh melakukan amal shalih di bulan Sya’ban, dan menunaikan dengan sempurna di segala aspek pada bulan Ramadhan.” Lanjut Beliau.

Materi yang disampaikan dengan santai, mengalir, dan mengajak audiens aktif ini membuat suasana terasa hangat.

“Bulan Rajab adalah bulan taubat (bertaubat), bulan Sya’ban adalah bulan mahabbah (cinta), dan bulan Ramadhan adalah bulan qurba (kedekatan).” Kata Ustadz Syakir mengutip salah satu pendapat ulama.

Acara yang berlansung kurang lebih 1,5 jam ini diakhiri dengan quiz dan diberikan doorprize bagi yang cepat dan tepat dalam menjawab pertanyaan dari Sang Moderator, Ustadz Alamsyah Arifin.

Rep. Thorif/Hanif, Foto Ida Nahdhah

Untuk Apa Sholat Dhuha?



Beberapa hari yang lalu saya mendapat amanah sebagai pendamping sholat dhuha di kelas 6. Seusai sholat Saya penasaran dan mengajukan pertanyaan terhadap mereka. 


"Boleh ustadzah bertanya?" 

"Mengapa kalian harus melaksanakan sholat Dhuha?" 

"Yaaa biar tambah pinter us." Jawaban salah satu dari mereka. 

"Lancar rezeqynya ussss." Masih berlanjut. 

"Kan disuruh ustadzah sholat ya udah sholat aja." 

"Anu us untuk menghapus dosa us."

"Pahalanya besar us."

"Belajarnya jadi mudah us." 

"Eh... Itu apa katanya nanti dibagunin surga us." 


MasyaAllah Tabarakallah. Adik-adik kita ini sudah terkonsep sebagaimana tujuan sekolah mentarbiyahkan murid-muridnya dengan mengutamakan ketauhidan. Bahwa segala urusan duniawi ini tidak ada apa-apanya tanpa sangkut paut Sang Maha Pencipta. Dan menjadi harapan besar umat Islam kedepannya supaya mereka benar-benar menjadi generasi penerus peradaban yang bertauhid. 


Tidak rugi waktu diawal pembelajaran dipotong hanya untuk mendirikan 2 rakaat. Maka inilah point besar yang harus dijaga sedini mungkin apa yang sudah tertanam. ❤️


Oleh: Ustadzah Ainul Laili Mufidah, Guru Al Quran SD IT Hidayatullah 



Seberapa Penting Peran Ayah dalam Mendidik?



 يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ

 أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ

Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)," (QS. Luqman [31]: 17).


Salah satu indikator pengasuhan yang baik adalah keterlibatan kedua orang tua atau ibu-ayah dalam mendidik anak. Islam mengajarkan bahwa tanggung jawab pengasuhan tidak hanya jatuh ke tangan ibu, melainkan juga ayah. 


Akan tetapi, pada dasarnya ayah juga berperan dalam mendidik dan mengasuh anak. Hal ini dicontohkan dalam kisah-kisah teladan dalam Al-Quran. Misalnya, kisah Luqman yang menasihati anaknya, Nabi Ibrahim yang mendidik Ismail agar menjadi anak saleh, Nabi Zakariya dan anaknya, Nabi Yahya, dan lain sebagainya.


Bagaimanapun juga, penelitian psikologi terkait parenting menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan berdampak pada perilaku anak sejak dini. Selain itu, ayah yang terlibat dalam mengasuh anak juga menjadi faktor risiko agar anak tidak mengembangkan perilaku antisosial atau tindakan bermasalah lainnya.


Peran penting ayah dalam keluarga ini tergambar dalam sabda Nabi Muhammad SAW: "Seorang ayah adalah bagian tengah dari gerbang surga. Jadi, tetaplah di gerbang itu atau lepaskan," (H.R. Tirmidzi).


Hadis di atas menggambarkan bahwa ayah merupakan kunci penting dalam membimbing dan mendidik anak dalam suatu keluarga. Wajar apabila Rasulullah SAW menyatakan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci dan fitrah. Kedua orang tuanya yang membentuk dan mempengaruhinya menjadi anak saleh/salihah atau tidak.


"Tiada seorang pun yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam fitrah [Islam]. Kedua orang tuanya yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi," (H.R. Bukhari dan Muslim).


Maka dari itu hendaknya seorang Ayah meneladani peran dan figur dari teladan terbaik yang sudah dicontohkan oleh Al Quran dan Hadits. 


Tulisan diambil dari berbagai sumber. 


Oleh: Ustadzah Ainul, Guru Al Quran SD IT Hidayatullah 


Sepotong Roti Sisa

Foto by google


Alkisah di kota Sana'a' di negara Yaman di sebuah sekolah SMA putri dilakukan razia atau pemeriksaan di tas- tas mereka. Dari satu kelas ke kelas yang lain dilakukan pemeriksaan. Mereka tidak menemukan apa pun yang mencurigakan. Lantas para tim pemeriksa berganti tempat. Di salah satu sudut kelas ada seorang siswi yang dikenal sebagai siswi yang sangat pemalu dan tidak mau bergaul dengan siapa pun padahal siswi tersebut termasuk siswi yang sangat pandai. 

Saat akan diperiksa siswi tersebut tidak mau menyerahkan tasnya untuk diperiksa. Hingga terjadi saling tarik menarik dan siswi tersebut menangis dan berteriak.

Akhirnya siswi tersebut di bawa ke kantor. Dan masih dengan tangisnya yang sangat keras. Kepala sekolah dengan penuh santun meminta para guru untuk meninggalkan ruangan dan hanya tersisa para tim pemeriksa.

"Apa yang engkau sembunyikan wahai, putriku?" Tanya kepala sekolah. 

Dengan memperhatikan sekitar, siswi tersebut membuka tasnya. Ternyata isinya adalah sisa-sisa roti.

Kepala sekolah dan tim pemeriksa pun terkejut. 

"Kenapa kamu mengumpulkan sisa-sisa roti, wahai putriku?" Tanya kepala sekolah.

"Sisa roti ini aku kumpulkan dari roti teman-teman yang mereka tidak habis. Kemudian aku gunakan untuk sarapan. Tidak hanya untuk diriku tapi juga untuk keluargaku. Kami orang fakir. Untuk makan kami sangat kesusahan. Jika aku tidak mengumpulkan sisa roti ini kami tidak bisa makan. Kenapa aku tidak ingin dibuka tasnya karna aku takut dipermalukan dihadapan teman-teman, dan aku takut aku tidak bisa lagi melanjutkan sekolah karna malu. Maafkan sikapku yang tidak sopan." Tutup siswi tersebut.

Para kepala sekolah dan tim pemeriksa menangis setelah mendengar kisah siswi tersebut. 

Ternyata siswi tersebut tidak mau dibuka tasnya karna di dalam tasnya ada sisa-sisa roti yang ia kumpulkan untuk makan dirinya dan keluarganya. 

Dari kisah di atas dapat kita ambil pelajaran bahwa janganlah kita suka membuang makanan. Jika ada makanan yang tidak kita suka maka jangan mencela dan jangan mengambil terlalu banyak yang nanti berujung dibuang. Jangan bersikap mubadzir. Karna orang yang mubadzir adalah teman setan.

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ، فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فاَعِلِهِ.” أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

“Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka bagi dia pahala yang orang yang mengerjakan kebajikan tersebut.”

(HR Muslim)


Disampaikan oleh Ustadzah Hikmah saat shalat duha berjamaah di masjid Markazul Islam

SELAMAT HARI GURU, PELITA KEHIDUPAN


Ditulis oleh: Ustadzah Ainul Laili Mufidah

"Ingatlah bahwa banyak di antara orang-orang besar menjadi besar lantaran satu kata dari seorang guru yang melejitkan mereka dan memantik cita mereka hingga menggapai puncak." Sebuah pesan humanis yang saya temukan di lembar akhir sebuah buku.

Sebelumnya saya ucapakan Terima kasih yang tak terhingga kepada Bapak-Ibu Guru dan para Asatidz yang telah suka rela mengabdikan tenaga dan pikirannya untuk mencerdaskan anak-anak bangsa kita. Selamat hari Guru kepada seluruh Pendidik di seluruh Penjuru Negri. 

Mengingat tema tentang pendidikan ibarat mata air yang tak pernah surut. Bahasannya terus mengalir. Apalagi yang dibahas tentang selebrasi peringatan hari Guru pada tanggal 25 November . 

Masih ada PR besar yang harus kita pikirkan bersama selama ini. Sebagai Guru tugas kita tidak hanya menjadikan anak-anak cerdas dalam Akademik. Namun yang sering terlewat adalah. Tingginya ilmu Tata krama yang sudah mulai bergeser. 

Masih ingatkah kita dengan kasus murid perkarakan guru ke pihak berwajib karena menegur tingkahnya di sekolah? Atau guru perempuan yang sukses dijebloskan ke penjara oleh wali muridnya hanya karena masalah sepele. Atau sekarang sudah marak sekali murid yang tak beradab memviralkan Guru-gurunya. 

Jika melihat hal tadi, apakah memang selebrasi peringatan guru tadi betul-betul mencerminkan kecintaan para pelajar kepada pendidik mereka? Jawabnya menurut saya, belum tentu.

Dalam pandangan Islam, ilmu adalah sesuatu yang disimpan di tilam pualam. Dijunjung tinggi, dimuliakan dan dihargai begitu tinggi. Begitu banyak ulasan nash baik dalam kalamullah atau hadits yang mulia tentangnya. Dari mulai yang masyhur seperti dalam QS Al Imran ayat 18 sampai dengan hadits mulia “Para ulama adalah pewaris para Nabi“. Semuanya menunjukan bahwa dalam Islam, ilmu berarti berbobot kemuliaan. Selain ilmu itu sendiri, maka turunannya seperti para pemilik ilmu, majelis ilmu, sarana-sarana dalam mencari ilmu juga ikut dijunjung. Bagaimana kita melihat para ulama shalih banyak mengulas perihal sikap pelajar terhadap hal-hal tadi.

Inilah letak perbedaan paradigma pendidikan Islam dibandingkan sistem pendidikan selainnya. Betapa Islam sangat menekankan pengamalan adab dan akhlaq sebelum pelajar memulai menguasai ilmu lanjutan. Bahkan Adab dipandang sebagai titian pertama ilmu yang harus dikuasai oleh seorang pelajar.

Rasul SAW sebagai suri tauladan dan guru tersukses bagi umat ini pun mencontohkan bagaimana meletakan pembahasan adab dan akhlaq sebagai pembelajaran yang mendominasi para diri sahabat. Terdapat sabdanya yang agung yang menyatakan bahwa sesungguhnya beliau diutus untuk  menyempurnakan kemuliaan akhlaq. 

Apa yang dilakukan oleh Rasul dilanjutkan jauh oleh generasi orang-orang shalih sesudahnya. Terpisah rentang waktu yang jauh, Imam Malik menekankan dengan hal yang serupa, ia berkata “Pelajarilah adab sebelum memperlajari ilmu”. Imam Syafii’ ketika ditanya bagaimana gambaran dirinya terhadap pembelajaran adab, ia mengibaratkan hal tersebut sebagai seorang ibu. Yang ia cari-cari dan tangisi selayaknya anak yang mencari ibunya. Masyaallah, rahimallah ‘alayhim. Begini cara para salafush shalihiin menjalani tahapan pembelajaran. Tidak salah jika hasil thalabul ‘ilmi mereka mengukir sejarah emas dalam peradaban Islam.

Ah, bertambah-tambahlah kerinduan kita akan tegaknya kembali Islam. Yang menaungi segala ranah kehidupan termasuk pendidikan. Rindu jua dengan gambaran adab dan akhlaq terhadap guru seperti disebutkan sebelumnya.

Adab dan akhlaq yang nanti kelak menjadi kado indah tak berbungkus kado atau pita di hari guru kita. Sungguh akan sangat indah gambaran amal para pelajar dalam memuliakan para guru. 

Kita rindu. Namun kita pun sadar kerinduan tadi tak kan terwujud jika kita masih berada dalam tatanan kehidupan yang menjadikan Diinullah dipinggirkan hanya dalam kehidupan privat saja. Padahal Islam adalah aqidah yang mengatur tidak hanya perkara hubungan kita dengan Allah Swt tapi juga aspek bermasyarakat termasuk pendidikan. Namun bagi kita muslim(ah) yang yakin akan janji Allah Swt dan RasulNya, kita yakin Islam akan kembali tegak dalam bentuk yang sama seperti dicontohkan oleh Nubuwah RasulNya. Semoga kita termasuk yang meyakini dan memperjuangkannya. Allahu ‘alam. 

Dikutip dari berbagai Sumber 

Salah satunya dari Buku "Adab Murid" 



"Uang Jajan dan Tabunganku untuk Cianjur", Peduli Gempa di SD IT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | Kamis, 29 Rabiul Akhir 1444 H/24 November 2022 M

Sebagai bentuk rasa kepedulian pada sesama dan saling tolong menolong, hari ini ratusan murid SD IT Hidayatullah menyisihkan uang jajan dan tabungan mereka untuk membantu para korban Gempa Bumi di Cianjur. Aksi penggalangan dana ini merupakan sinergi SD IT Hidayatullah dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH) yang didukung penuh oleh Yayasan As-Sakinah Hidayatullah Yogyakarta juga Komite Sekolah.

Raut wajah penasaran dan tak sabar ditampakkan oleh para murid semenjak kaki-kaki kecil mereka menapak halaman sekolah. Ya, anak-anak terlihat tak sabar untuk segera menyerahkan bantuan terbaik mereka dari tabungan pribadi, uang jajan maupun amplop yang telah dititipkan oleh orangtua dari rumah. Berulang kali jemari mereka meraba kantong seragam dan mengintip isinya, sekadar untuk mengecek bahwa apa yang akan mereka infakkan tetap aman tersimpan disana, tidak terlupa di rumah ataupun terjatuh di jalan. Sungguh pemandangan yang sangat mengharukan yang tersaji di halaman gedung sekolah pagi ini.



Kegiatan diawali dengan murojaah hafalan surat-surat pendek yang dipandu oleh Ustadz Makruf, dilanjutkan sambutan dan arahan yang  disampaikan oleh kepala sekolah SD IT Hidayatullah, Ustadz Muhammad Rifki Saputra. Dalam arahannya Ustadz Rifki menyampaikan bahwa ketika seorang hamba Allah tertimpa musibah, maka perlu untuk mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, mengucap istirja sebab tidak ada yang abadi di dunia ini. 

"Ketika ada saudara kita yang tertimpa musibah maka tidak sekadar panggilan nurani yang menggerakkan, tetapi panggilan iman. Kita bantu dengan doa dan kita bantu dengan materi. Di sinilah peran ukhuwah islamiyah dibingkai dalam bentuk keimanan kepada Allah Ta'ala." Lanjut Ustadz Rifki.

Arahan oleh Kepala Sekolah

Seluruh murid sangat antusias dengan adanya aksi penggalangan dana ini. Ustadz dan Ustadzah pun turut memberikan infak terbaiknya. Jumlah perolehan Infak sementara SD IT Hidayatullah Yogyakarta Peduli Cianjur pada hari ini sebesar Rp. 20.000.000,-.

"Insyaallah masih ada lagi murid yang akan menyisihkan sebagian uang jajannya untuk saudara kita di Cianjur. Infak masih akan terus diterima bagi yang hari ini belum berkesempatan menyiapkan infaknya atau berhalangan hadir." Ungkap Ustadz Haris selaku Waka Kemuridan.

Doa bersama

Terima kasih sebesarnya kepada segenap guru, murid, wali murid, yayasan, komite sekolah, BMH Yogyakarta dan semua pihak yang telah bersama menyukseskan aksi ini. Terima kasih semuanya. Terima kasih atas donasi terbaiknya dari Jogja untuk Cianjur.

Yuk salurkan donasi terbaik kita:

🏧Peduli Bencana Gempa Cianjur:

BSI: 774.774.9777
Rekening An. Baitul Maal Hidayatullah

Konfirmasi: 0857 9993 9991

Rep: Ida Nahdhah




SD IT Hidayatullah Adakan Dodolan; Entrepreneurship for Students 2022

 


www.sdithidayatullah.net | Rabu, 28 Rabiul Akhir 1444 H/ 23 November 2022 M. 

Alhamdulillah kegiatan Entrepreneurship for Students atau yang biasa disebut sebagai dodolan dapat diadakan kembali di halaman SD IT Hidayatullah pasca pandemi. 

Kegiatan dibuka oleh kepala sekolah SD IT Hidayatullah. Ustadz Muhammad Rifki Saputra. Dalam pembukaannya beliau menceritakan kisah pedagang sukses yakni Rasulullah Saw. Di mana ketika Rasul berdagang selalu laku dan untung yang besar. 

Beliau juga mengingatkan agar berdagang dengan jujur dan amanah. Pun saat menjadi pembeli. 

Setelah pembukaan kegiatan dilanjutkan dengan menyiapkan meja untuk berdagang dan mensetting lapak masing-masing sedemikian rupa. Dalam dodolan ini akan ada dewan juri yang berkeliling untuk menilai setiap kelompok dan hasil dodolan setiap kelompok juga akan dicicipi oleh para dewan juri dan dinilai, hingga nanti akan diambil para juaranya. 

Alhamdulillah para murid terlihat sangat antusias. Antusias berdagang dan membeli. Hingga di detik-detik terakhir waktu dodolan masih ada yang berdagang dan mengantri untuk membeli.

Barakallahu fikum. Semoga jika kalian menjadi pedagang. Jadilah pedagang yang jujur dan amanah ya, Nak, agar barokah. 

Rep: Yuliasfita
Foto: Afnan


Lihat juga video Enterpreneurship for Students di channel youtube SD IT Hidayatullah 

LOWONGAN GURU AL QUR'AN SD IT HIDAYATULLAH YOGYAKARTA


👳 LOWONGAN GURU AL QUR'AN SD IT HIDAYATULLAH YOGYAKARTA 🧕

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Dibutuhkan segera:
↙️ Guru Al Qur’an (Laki-laki)

Syarat Guru Al Qur’an sebagai berikut:

Laki-laki Muslim
↘ Bisa membaca Al Qur'an dengan baik
↘ Pendidikan Minimal SMA Sederajat
↘ Mencintai dunia pendidikan/anak
↘ Mampu bekerja dalam Tim
↘ Diutamakan mempunyai sertifikat Metode Ummi (bagi yang sudah memiliki)
↘ Diutamakan yang memiliki hafalan Al Qur'an, Minimal 2 Juz (Juz 30, 29)

Lamaran dapat disampaikan melalui link di bawah ini :

Batas akhir lamaran sampai akhir November 2022.
Bagi yang lolos seleksi administrasi akan dihubungi lebih lanjut untuk mengikuti tes seleksi.

📝 Catatan:
Jam kerja di SD IT Hidayatullah:
🗓 Senin s.d. Jumat: Pukul 06.45 (maksimal 07.00) s.d. 14.45 wib
🗓 Sabtu: Pukul 07.15 s.d. 12.00 wib

Alamat Sekolah:
SD IT Hidayatullah Yogyakarta
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM 14,5 , Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY, 55581.

Google Map:
http://bit.ly/googlemapsdithidayatullah

Info Lebih Lanjut Hubungi: 
📞 Ida 
HP 082123155233

www.sdithidayatullah.net

Sebuah Cerita dari Lampu Merah

 

Foto by Google
Foto by Google

Sejenak motor berhenti untuk beberapa menit lamanya di perbatasan jalan "Lampu Merah". Terik panas menyeruak membakar kulit. Kepulan panas terik dijalanan menjadikan banyak orang sering menyeka keringat di pelipisnya. 

Lampu merah tak sembarang lampu merah. Banyak kehidupan di sana, bukan hanya tentang STOP dan menunggu warna hijau untuk sekedar berebut jalanan kemudian bergantian untuk menyeberanginya. 

Lampu merah adalah ironi sebuah perjalanan hidup. Banyak orang bergantung padanya. Tidak hanya orang-orang berdasi yang nangkring di kuda-kuda besi dengan amat angkuh menyeringai dari balik kaca spion. 

Di sudut jembatan di bawah persimpangan lampu merah ada anak kecil yang rela tidur di pinggir jalanan didekap ibunda. Bapaknya memakai kostum badut menghibur banyak orang yang mungkin tak sedikit dari mereka yang memperhatikan guyonan lucunya. Sebuah kaleng usang ia tengadahkan dari motor satu kesatu lainnya. Rupiah demi rupiah ia dapatkan meski tak seberapa cukup untuk menghidupi keluarganya. Di sisi lain ada anak kecil menjajakan loper koran dengan amat semangat meski kehidupan sudah amat canggih, dan orang-orang tak banyak lagi membutuhkan lembaran koran tersebut. 

Banyak sekali berseliweran orang-orang yang menawarkan minuman dingin, kipas tangan, kerupuk, dan mainan menggemaskan. Banyak lagu menggema dengan petikan gitar yang amat merdu.  Tapi tak sedikit banyak mereka dilirik kecuali hanya orang-orang yang sebenarnya tak butuh kecuali iba. 

Dan banyak sekali cerita tentang lampu merah dan kehidupannya. Orang-orang pejuang lampu merah ini sangat luar biasa. Paling tidak mereka tak berhenti bergantung meski sering tergantung. Pejuang nafkah bagi keluarga atau bahkan untuk dirinya sendiri. Sebuah ironi tentang kehidupan di jalanan. Amat keras. Jahat dan membahayakan. Berbahagialah kalian yang masih bisa hangat dengan sanak familinya. Bersyukurlah dengan apa yang kita miliki saat ini. 


Oleh: Ainul Laili Mufidah, Guru Al- Qur'an di SD IT Hidayatullah

Mengantri vs Matematika

 

 


Pernahkah Anda merasa jengkel karena antrian Anda diserobot oleh orang lain? Kenapa di suatu perempatan yang sudah ada lampu pengatur lalu lintasnya masih sering terjadi kemacetan dan kesemrawutan? Padahal dulu sebelum ada lampu itu kita sudah terbiasa menggunakan jalan dengan tradisi saling mempersilakan.


Sekarang coba bayangkan bagaimana rasanya berada di suatu tempat dimana orang-orang sangat tertib mengantri tanpa perlu diperintah atau ditakut-takuti oleh aparat berseragam. Bahkan dalam kondisi sangat ingin buang air pun mereka tidak pernah mau mengetuk pintu toilet yang ada di hadapannya. Tentu budaya-budaya seperti itu tidak terbentuk begitu saja dalam satu malam.


Seorang guru di Australia pernah berkata, “Kami tidak terlalu khawatir anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika”. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Kenapa begitu? Karena kita hanya perlu melatih anak 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran di balik proses mengantri, katanya.


Lama proses belajar di sekolah dasar memakan waktu enam tahun. Sangat sayang jika waktu selama itu dilalui anak tanpa perhatian khusus untuk melatih keterampilan mengantri.


"Kalau ingin mencari sekolah dasar yang mau mengajari anak mengantri sekaligus tak kalah tekun mengajarkan Matematika, apakah ada, Mas?"

"InsyaAllah ada."

"Di Sleman?"

"Iya."

"Biaya masuknya mahal tidak?"

"Coba dicek langsung saja di daftar.sdithidayatullah.net."

"Sebentar… Oh, SD IT Hidayatullah Sleman ya?"

"Iya."

"Di sini ditulis kalau biayanya ada potongan dua juta selama Gelombang Indent sampai akhir bulan November 2022. Sepertinya menarik ini!"

"Iya. Datang langsung saja ke Jalan Palagan Tentara Pelajar km 14,5 di Balong Donoharjo Ngaglik Sleman. Sekolahnya di dalam Pondok Pesantren Hidayatullah. Lingkungan sekitarnya masih sawah-sawah, sejuk."

"Wah, cocok ini, gas!"


Oleh: Akhid Nur Setiawan, Guru Al Qur'an SD IT Hidayatullah Yogyakarta 

Belajar Tabayyun Bersama Anak

 


Interaksi antara anak yang belum baligh tidak jarang tanpa konflik. Biasanya jika muncul konflik diantara mereka tersebab masalah yang kita anggap sepele. Namun, apabila tidak kita bantu untuk selesaikan, bisa menjadi masalah yang besar.


Beberapa waktu lalu ketika sedang mengisi sebuah kelas, ada dua anak yang hampir berkelahi, bahkan salah satunya hampir menangis. Lantas, keduanya saya panggil.


G: Shalih, ada apa? Kenapa kalian berkelahi, Nak?

A1: Ustadzah, dia menekan dadaku, sakit (keluh anak pertama)

A2: Dia mengambil peciku ustadzah


Kedua anak mulai mengadukan alasan masing-masing. Keduanya merasa butuh dibela dan dibenarkan atas tindakan yang dilakukan. Maka, sebagai guru pun tidak lantas bisa menghukumi sebelum mendengar jelas akar masalah sebenarnya.


G: Nak, kenapa kamu mengambil peci temanmu?

A1: Dia memaksa meminjam buku ku Ustadzah, aku sedang belajar.

G: Betul begitu, Nak? (Saya arahkan pandangan ke anak kedua)

A2: Iya Ustadzah. Dia pelit, tidak mau meminjami. 

G: Karena bukunya diambil, kamu terus bergantian mengambil peci dia, Nak? (tanya saya ke anak pertama)

A1: Iya Ustadzah.


Dari dialog yang saya lakukan bersama keduanya, tampak jelaslah masalah awal yang menyebabkan mereka hampir berkelahi.  Lantas, setelah proses klarifikasi atau di dalam Islam disebut tabayyun inilah pemecahan masalah bisa dilaksanakan. Kedua anak kemudian saya nasehati. Dimulai dari anak kedua yang memang meminjan buku dengan memaksa maka, diingatkan kembali terkait izin yang seharusnya diajukan kepada seorang muslim atas barang yang hendak dipinjam sekaligus mengingatkan dia untuk membawa kelengkapan belajarnya secara mandiri. Tersebab, dia meminjam bukan karena tidak punya tetapi barang-barangnya tertinggal di rumah.


Teruntuk anak pertama, jika memang ada haknya yang terambil maka ambil kembali dengan cara yang baik. Jika tidak terselesaikan, maka anak pertama perlu meminta bantuan kepada pihak ketiga yaitu guru untuk membantu menyelesaikan. Nasehat terakhir adalah terkait perilaku yang tidak boleh saling menyakiti dengan sesama yang mengarah pada pembullyan fisik.


Setelah jelas masalah dan nasehat yang penulis berikan, maka keduanyapun rela untuk saling meminta maaf, pembelajaran yang sempat terjeda kembali bisa berjalan dengan baik.


Dari kejadian ini, dapat saya renungkan bahwa banyak masalah dikalangan orang baligh karena minimnya aktivitas tabayyun. Masing-masing saling merasa benar dalam posisinya dan enggan melakukan klarifikasi. Berbeda dengan anak-anak yang masih begitu polos dan sederhana konflik yang dimiliki, terkadang ego mereka masih bisa ditundukkan untuk mencari kebenaran atas masalah yang menimpa mereka. Maka, marilah kita jaga bersama ukhuwah di tengah kita dengan belajar mengedepankan tabayyun sebelum menyimpulkan sebuah kejadian ataupun perilaku saudara kita. Semoga Allah merahmati kita dengan terjaganya ukhuwah Islamiyah di tengah-tengah kita.


Oleh: Kontributor 

Pelita ku

 


 

Hadir mu laksana mentari dikala pagi

Member kehangatan dan keindahan

Hadir mu laksana cahaya rembulan

Menerangi malam gelap gulita

 

Kau ajari aku dengan ilmu mu

Kau kasihi aku dengan kelmbutan mu

Kau bombing aku dengan kesabaran mu

Meski banyak salah dan khilaf ku

 

Setiap nasihat yang engkau berikan

Merasuk jauh dalam hati ku

Setiap ilmu yang engkau ajarkan padaku

Terpatri kuat dalam subariku

 

Tak hiraukan teriknya mentari

Engkau gantungkan sejuta harap pada ku

Biarpun hujan membasahai bumi

Engkau bangun impian demi kebahagian ku

 

Jika saja masih ada waktu

Ingin ku balas semua jasa mu

 

Ku sadari

Ku tak kan pernah mampu

Namun

Jasa mu akan selalu ku kenang

Di dalam kalbu

Aku akan melakukan yang terbaik untuk mu


Oleh : Siti Nuraini, Guru Al- Qur'an SD IT Hidayatullah 

SD IT Hidayatullah Yogyakarta Raih 6 Piala di Ajang MTQ 2022

 

Rabu, 2 Rabiul Awal 1444 H/28 September 2022 || Alhamdulillahi Rabbil 'Aalamiin, tahun ajaran ini SD IT Hidayatullah kembali berpartisipasi pada Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) sebagai Delegasi dari Kecamatan Ngaglik pada 17 September dan Kabupaten Sleman pada 28 September. 

SD IT Hidayatullah berhasil membawa pulang 6 Piala dari 5 cabang lomba yang masing-masing diwakili putra dan putri, yaitu:

1. Juara 1 Adzan Tingkat Kapanewon Ngaglik atas nama Hudzaifah Al Qori Kelas 6D
2. Juara 2 MTQ Putra Tingkat Kapanewon Ngaglik: Ahmad Syafiq Mu’afa Khairul Azzam Kelas 5D
3. Juara 2 MHQ Putri Tingkat Kapanewon Ngaglik: Mujaahidah Kelas 3C
4. Juara 3 MTtQ Putra Tingkat Kapanewon Ngaklik: Faiz Abdul Aziz Kelas 6D
5. Juara 3 MTQ Putri Tingkat Kapanewon Ngaglik: Khonsa Dzakiyatun Nasifah (Ocha) Kelas 5B
Penyerahan Piala dan Uang Pembinaan dari Sekolah

6. Juara 1 Adzan Tingkat Kabupaten Sleman atas nama Hudzaifah Al Qori Kelas 6D

Adapun 4 Ananda yang terlah berpartisipasi dan memberikan yang terbaik pada MTQ Kapanewon Ngaglik dan tentunya menjadi juara di hati seluruh warga sekolah yaitu:

1. Ananda Alfaina Rizqi Nurwirastari Kelas 5C di Cabang MTtQ Putri
2. Khasy Nadhifatul Abbad Kelas 4B, cabang Pildacil Putri
3. Ammar Yasir 5D, Cabang Pildacil Putra, dan
4. Muhammad Kelas 6A, Cabang MHQ Putra

Semoga apa yang telah diraih pada perhelatan MTQ tahun ini bisa menjadi pemantik semangat bagi seluruh warga sekolah, dan tahun depan berusaha untuk memberikan yang lebih baik lagi, Allaahumm aamiin.

Kami ucapkan baarakallahu fiikum kepada seluruh murid yang telah mewakili sekolah juga kepasa seluruh Guru yang telah meluangkan waktunya untuk melatih, dan segenap jajaran pimpinan, guru, pegawai, wali murid dan semua pihak yang telah memberikan doa dan dukungan luar biasa demi kepesertaan ini. Jazaakumullaahu khairan.

Sampai ketemu lagi pada MTQ tahun depan, insyaa Allah! 

Rep: Ida Nahdhah