Oleh: Ayun Afifah, S.Pd.
825514/mengenal-halaqah-sistem-pendidikan-zaman-rasulullah
Oleh: Ayun Afifah, S.Pd.
Sleman - Kamis, 11 Dzulhijjah 1447/ 28 Mei 2026 keluarga besar SD IT Hidayatullah Yogyakarta melaksanakan qurban di sekolah menyembelih 16 hewan qurban, terdiri dari 15 ekor kambing dan 1 ekor sapi. Penyembelihan di laksanakan di halaman sekolah dikerjakan oleh tenaga pendidik dan jagal dari luar.
Ketua panitia qurban, Ustadz Irul, menyampaikan rasa syukur dan ucapan terimakasih atas kerjasama dan dedikasi para panitia qurban selama acara.
"Semoga Allah Swt membalas segala amal baik panitia kurban dengan pahala yang berlipat ganda, segala kontribusi dan pengorbanan panitia demi terselenggaranya kurban yang istimewa ini" Ucap beliau.
Kepala SD IT Hidayatullah Yogyakarta, Ustadz Untung Purnomo, turut menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam kegiatan qurban di sekolah ini.
Kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap tahunnya. Saat proses penyembelihan beberapa shohibul turut menyaksikan, namun ada juga yang tidak bisa hadir.
Dengan adanya qurban di sekolah ini, SD IT Hidayatullah Yogyakarta berharap nilai-nilai keikhlasan, kepedulian, dan semangat untuk berbagi kepada sesama, menjadi pembelajaran nyata dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tentang makna berqurban.

Tonggak utama
disyariatkannya ibadah qurban berawal dari kisah Nabi Ibrahim a.s. dan
putranya, Nabi Ismail a.s. Bagaimana perjuangan Nabi Ibrahim a.s dalam menanti
keturunan, kemudian ketika Nabi Ismail a.s lahir, Allah memerintahkannya untuk
membawa istrinya, Siti Hajar dan Nabi Ismail a.s. yang masih bayi ke sebuah
lembah yang gersang dan tak berpenghuni.
Kemudian,
setelah Nabi Ismail a.s. beranjak remaja, Nabi Ibrahim a.s. mendapatkan
perintah melalui mimpi bahwa ia harus menyembelih putranya, Nabi Ismail a.s.
Dengan segala keteguhan hati dan ketaatannya kepada Allah Nabi Ibrahim
a.s. menyampaikan wahyu tersebut kepada Nabi Ismail a.s. Sungguh luar biasa,
Nabi Ismail a.s. dengan ikhlas dan penuh kesabaran menerima keputusan itu demi
menjalankan perintah Allah.
Ketika Nabi Ibrahim siap untuk menyembelih
putranya, Allah dengan sekejap mata menggantinya dengan seekor domba. Kisah
yang sangat luar biasa ini terabadikan dalam Al-Qur'an surat Ash-Shaffat
ayat 102.
فَلَمَّا
بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ
اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ
سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ ١٠٢
Ketika anak
itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata,
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah
apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang
diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk
orang-orang sabar.”
Kisah Nabi
Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s adalah teladan tentang ujian keimanan,
kesabaran, ketaatan kepada perintah Allah dan keikhlasan. Perjalanan hidup
mereka diwarnai dengan peristiwa bersejarah yang menjadi fondasi penting dalam
Islam yakni asal mula perintah berqurban dan pembangunan Ka'bah.
Ketaatan Nabi
Ibrahim a.s. dalam melaksanakan perintah Allah untuk menyembelih putra
satu-satunya dengan tangannya sendiri menunjukkan bahwa keikhlasan sangat
dibutuhkan untuk dapat melalui itu semua. Pun berqurban tak hanya sekedar mampu
membeli hewan qurban kemudian menyembelihnya, namun hakikat yang utama adalah
menyembelih ego dan melatih rasa ikhlas untuk setiap sesuatu yang kita miliki
dan cintai, baik harta, jabatan, atau hal lainnya demi mendapatkan ridha Allah
semata.
Dalam kehidupan saat ini, 'Nabi Ismail' bisa kita asumsikan sebagai apa saja yang kita miliki dan paling sayangi, seperti harta, waktu, jabatan, dan keluarga. Berqurban melatih manusia untuk menanggalkan rasa kepemilikan dan sifat egois. Saat kita mampu menyisihkan sebagian rezeki yang kita miliki untuk membeli hewan qurban, pada saat itu pula kita mengalahkan ego kita.
dengan berqurban kita belajar ikhlas dan mengalahkan ego
Banyak orang memiliki harta yang cukup, namun
untuk berqurban secara rutin setahun sekali saja terasa berat. Padahal
sejatinya ibadah qurban yang dilakukan, kebaikannya sangat banyak dan akan
kembali pada yang melakukan, kelak akan menjadi tambahan pahala.
Hewan yang kita qurbankan Allah tidak membutuhkan
daging dan apa yang ada pada hewan tersebut. Tapi Allah menerima ketakwaan dan
keikhlasan dari yang berqurban. Qurban sekali lagi mengajarkan kita untuk
memberi tanpa mengharap apapun dari manusia selain pahala dan ridha
Allah. */yuliasfita
www.sdithidayatullah.net | (Senin, 23 Dzulkaidah 1447 H/ 11 Mei 2026 M) Alhamdulillah, telah diumumkan para pemenang lomba menulis inspiratif yang diselenggarakan oleh bagian perpustakaan SD IT Hidayatullah, setelah upacara bendera di halaman sekolah. Tema yang diangkat dalam lomba kali ini adalah “Sains dan Teknologi”.
Ustadz Rifqi mengumumkan 3 nama murid yang berhasil meraih juara, yaitu:
Pemenang I : Naufa Hashifaturrahmah (Kelas 5C)
Judul karya : "Belajar Sains di Dapur Ibu"
Karya cerpen dimuat di website sekolah, klik Belajar Sains di Dapur Ibu
Pemenang II : Rizqia Rahmadiani (Kelas 5C)
Judul karya : "Rumah Piramida Kehidupan"
Karya cerpen dimuat di website sekolah, klik Rumah Piramida Kehidupan
Pemenang III : Afifah Zahidah Muslikh (Kelas 5B)
Judul karya : "Eureka! Rahasia Sains Bandeng Presto"
Karya cerpen dimuat di website sekolah, klik Eureka! Rahasia Sains Bandeng Presto
Penghargaan diserahkan langsung oleh Ustadzah Anik Maindra, SIP. selaku Kepala Perpustakaan SD IT Hidayatullah, disaksikan oleh seluruh murid dan guru.
Bersamaan dengan hal tersebut, telah launching buku karya murid yang berjudul “Belajar Sains di Dapur Ibu”. Buku ini berisi kumpulan cerpen karya pemenang lomba dan peserta lomba yang terpilih.
Baarakallaahu fikum, Ananda semua. Teruslah berkarya dan jangan berhenti sampai disini. Semoga tulisan yang dibuat bermanfaat bagi penulis baik di dunia maupun akhirat kelak dan dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca dalam hal kebaikan. Aamiin Allahumma Aamiin.
Foto : Ikhsan
Rep : Anik

Afifah Zahidah Muslikh
“Fathiya, kamu sudah menyiapkan alat tulis untuk kerja kelompok belum?” tanya Ummi.
“Sudah kok, Mi,” jawab Fathiya sembari mengangguk. Cepat-cepat ia menyambar tasnya dan segera menyalami Umminya.
Hari ini Fathiya akan belajar kelompok di rumah Khalida. Mereka mendapat tugas tentang penerapan sains fisika dalam kehidupan sehari-hari yang harus dikaitkan dengan teknologi. Materinya saja sudah terasa asing untuk seorang anak kelas lima SD, tetapi Pak Anung, guru fisika mereka, masih menambahkan bahwa tugasnya harus berupa poster dan dipresentasikan. Tak heran kalau Fathiya terburu-buru mengendarai sepedanya.
Tok... tok... tok...
“Assalamu’alaikum, Khalida...” Fathiya mengucap salam sembari mengetuk pintu rumah bercat putih itu.
“Wa’alaikumussalam! Tunggu sebentar, ya,” terdengar jawaban seorang anak perempuan dari dalam rumah.
Kriet...
Pintu dibuka, tampak Khalida keluar dari rumah membawa setumpuk buku tebal.
“Ayo masuk. Lihat, aku sudah menemukan beberapa buku tentang fisika. Mungkin ada yang bisa dijadikan ide poster kita!” ujar Khalida semangat. Sejak tugas ini diberikan, sepertinya hanya anak ini saja yang semangatnya tidak padam.
“Haha... oke, oke. Aku juga sudah membawa aneka pewarna dan buku sains,” kata Fathiya sambil menunjuk tas hitam besar di punggungnya. Mereka pun melangkah ke dalam rumah.
“Oh ya, Fath, kita belajarnya di ruang perpustakaan saja, ya? Soalnya di sana ada banyak buku tentang fisika, jadi kita lebih mudah mencari idenya. Soalnya kamarku juga agak berantakan, hehe...”
“Khal, Khal... kebiasaanmu sejak TK itu enggak hilang-hilang. Enggak baik, loh. Padahal kebersihan itu sebagian dari iman,” ujar Fathiya serius. Wajahnya tampak lucu, antara serius dan bercanda.
“Eh, enggak, ya. Kamarku kan berantakan karena habis nyari buku sains di seluruh penjuru kamar hamba, Tuan Putri. Jadi maafkanlah kesalahan patik, Tuanku,” jawab Khalida bercanda sembari mengedipkan matanya sebelah.
Mereka lalu melewati ruang tamu, kemudian melintasi ruang tengah, dan sampai di sebuah ruangan bertuliskan Library Room.
“Yuk, masuk,” kata Khalida sambil melangkah ke dalam ruangan itu.
Di dalamnya ada banyak buku yang tersusun rapi di rak. Ada beberapa buku yang bertumpuk di meja kecil di sudut ruangan.
Mereka lalu mengambil sebuah buku di meja.
“Khalida, lihat, di buku ini ada proses mencairnya es krim. Bukannya itu termasuk fisika, ya?” tanya Fathiya sembari menunjuk salah satu halaman di bukunya. Mereka sudah berkutat hampir dua jam di depan tumpukan buku-buku. Bahkan Fathiya sudah berulang kali mengucek matanya saking pusing dan bingungnya.
“Benar juga. Tapi sepertinya proses mencairnya es krim sudah dibuat poster sama kelompoknya Ammah, deh. Kemarin aku enggak sengaja dengar pas dia ngobrol sama Rima,” jawab Khalida lesu.
“Hmm, oh begitu. Tapi kita membuat poster apa dong?” Fathiya juga tampak kecewa.
“Apa ya... aku sudah cari di dua buku ini, tidak ada yang cocok dibuat poster,” dahi Khalida mengerut.
Tok... tok... tok...
“Kalian sudah membuat posternya?” tanya seorang wanita yang tak lain adalah ibunya Khalida.
“Belum, Ammah. Kami sedang mencari idenya,” jawab Fathiya sopan. Segera ia beranjak dari duduknya dan menyalami ibu Khalida.
“Belum dapat idenya, tho?” Ibu Khalida tampak heran. “Kalau begitu, mending kalian ngemil siomay dulu, nih. Siapa tahu kalian jadi dapat ide untuk menyelesaikan tugas,” ucap Ibu Khalida sembari meletakkan nampan berisi siomay dengan saus kacang pedas dan minuman es teh jumbo di meja.
“Atau makannya di luar saja, siapa tahu mendapat inspirasi,” ujar Ibu Khalida sambil tersenyum. Mereka lalu melangkah keluar dan menikmati kelezatan siomay di meja makan.
“Oh ya, bagaimana kalau Fathiya ikut makan siang bareng? Soalnya sudah jam 11.48. Nanti kita makan bareng setelah salat Zuhur,” tanya Ibu Khalida.
Piring siomay di depan mereka sudah ludes tak bersisa. Setelah makan siomay, Fathiya diajak berbincang santai oleh Khalida dan ibunya. Mereka bertanya kabar keluarga Fathiya dan keseharian Khalida di sekolah.
“Enggak usah, Ammah. Terima kasih, malah merepotkan nanti,” Fathiya menggeleng sopan.
“Ehh, ayolah, Fath! Jarang-jarang, lho, makan siang bareng di rumahku,” paksa Khalida. “Kita kan juga belum menyelesaikan tugasnya...”
“Iya, lho, Fathiya. Nanti Ammah WA Ummi-mu, mengabari kalau pulangnya nanti lebih lambat,” kata Ibu Khalida.
“Mmm, ya sudah, Ammah. Terima kasih, Khalida, Ammah.”
“Yeyyy! Yuk, habis ini kita langsung salat lalu makan, ya!” sorak Khalida.
“Oh ya, Fathiya tidak alergi ikan bandeng, kan? Soalnya hari ini Ammah memasak ikan bandeng goreng,” tanya Ibu Khalida sembari meletakkan piring berisi bandeng goreng presto, sambal bawang, dan sayur pokcoy rebus di meja.
“Enggak kok, Ammah,” jawab Fathiya sambil menyeret kursi untuk duduk. Sejak tadi dia sudah ngiler ingin segera mencicipi masakan itu.
“Alhamdulillah, untung saja. Semoga rasanya cocok, ya,” ujar Ibu Khalida sembari menuangkan nasi ke piring Fathiya.
Mereka pun makan siang dengan lahap. Masakan ibu Khalida terasa sangat lezat. Fathiya merasa, masakan ibu Khalida bisa mengalahkan masakan restoran.
“Oh ya, kenapa kalian tidak menulis tentang panci presto saja? Bandeng goreng ini Ibu presto pakai alat itu tadi,” tanya Ibu Khalida sembari meletakkan piring kotor di wastafel.
“Panci presto? Memangnya bisa, Bu?” Khalida tampak bingung. Ia mendekat ke arah ibunya untuk membantu mencuci piring. Fathiya mengikuti di belakangnya.
“Bisa, lho. Kan panci presto masuk prinsip tekanan. Penemu panci ini adalah Denis Papin, ilmuwan asal Prancis. Tapi panci yang dibuat Denis Papin ini dulu belum sempurna karena tekanannya terlalu tinggi sehingga berpotensi meledak. Kan ada unsur sainsnya dan perkembangan teknologinya juga ada, tuh,” jelas Ibu Khalida sembari mengambil handphone di saku gamisnya.
“Mmm, lalu apa prinsip fisikanya, Ammah?” tanya Fathiya penasaran.
“Begini, deh, Ammah jelaskan. Dalam konsep fisika ada yang namanya tekanan. Tekanan itu berarti besar kecilnya dorongan atau gaya pada suatu permukaan. Coba dipraktikkan, spons cuci piring itu kalian tekan pakai jari.”
“Eh, jadi ketekan ke dalam, Mi,” jawab Khalida sambil memainkan spons di tangannya.
“Jadi, dalam prinsip tekanan terdapat tiga jenis, yaitu tekanan zat padat, cair, dan gas. Nah, kalau panci presto itu menggunakan prinsip tekanan gas. Ada beberapa hukum tentang tekanan gas, salah satunya adalah Hukum Boyle. Yaitu, jika suhu (T) konstan, maka volume (V) gas berbanding terbalik dengan tekanannya (P). Sepertinya kalian akan belajar ini di kelas dua SMP, deh. Mas Farid pas tahun lalu kelas delapan, dia belajar ini,” jelas Ibu Khalida panjang lebar. Ia berusaha menjelaskan dengan bahasa yang mudah dipahami untuk anak kelas lima SD.
“Aduh, materinya agak berat, ya. Pak Anung memberi materinya sudah seperti SMP saja,” keluh Khalida.
“Eh, bukannya malah bagus. Berarti Pak Anung ingin kita lebih banyak literasi lagi, siap-siap buat TKA tahun depan,” sanggah Fathiya.
“Iya, benar sekali itu, Khal. Oh! Ibu dapat ide bagus, nih. Sangat cocok untuk kalian. Sini, jadi nanti...” ujar Ibu Khalida sembari membisikkan sesuatu ke kedua anak itu.
“Jadi begini, teman-teman. Saat panci dipanaskan, airnya akan menguap. Nah, karena pancinya tertutup, uapnya akan terperangkap dalam panci. Selama panci dipanaskan, uap air akan terus bertambah, jadinya tekanannya juga meningkat dan membuat makanan yang kita presto jadi empuk, lembut, dan lezat!” jelas Khalida bersemangat.
“Oh ya, teman-teman. Ternyata jauh sebelum Hukum Boyle ditemukan, Allah sudah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-An’am ayat 125:
‘Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit...’
Nah, seperti yang sudah saya jelaskan tadi, dalam prinsip fisika tekanan udara dikatakan kalau semakin tinggi ketinggian tempat, tekanan udaranya bakal semakin menurun. Berarti, fakta ini membuktikan kebenaran dari ayat tersebut,” sahut Fathiya tak kalah berapi-api.
“Sekian presentasi dari kami. Kurang lebihnya mohon maaf. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Terima kasih!” tutup Fathiya dan Khalida.
Hari ini keduanya berhasil menyelesaikan presentasi dengan lancar. Tampak wajah Pak Anung sangat puas terhadap poster dan hasil presentasi Fathiya dan Khalida.
“Wow! Tidak Bapak sangka, ternyata kalian berhasil membuat poster dan presentasi dengan sangat baik serta mudah dipahami. Mari, anak-anak, kita berikan applause, tepuk tangan untuk Fathiya dan Khalida!”
Prok... prok... prok...
Perjuangan mereka membuahkan hasil yang sangat baik. Sepertinya nilai A+ sudah di depan mata. Mereka berdua sangat bersyukur mendapatkan ide bagus dari Ibu Khalida.
Kring... kring...
Terdengar bunyi bel sekolah menandakan waktu istirahat makan siang telah tiba. Anak-anak berhamburan keluar kelas untuk menikmati makan siang. Tak terkecuali Fathiya dan Khalida yang bergegas mencari tempat duduk sembari membawa kotak MBS alias Makan Bergizi Sekolah ke bangku panjang di taman.
“Hummm, kira-kira menunya apa, ya, Fath?” tanya Khalida.
“Dari bau yang kuterka-terka ini, pasti gorengan. Udang krispi kayaknya!” tebak Fathiya sembari meletakkan dua kotak makan tersebut di atas meja.
“Kalau gitu ayo kita buka. Tadaaa!”
Kejutan! Ternyata menunya bandeng presto goreng spesial dengan cah kangkung pedas yang terlihat sangat menggoda selera.
“Eureka! Masya Allah, bandeng presto ini ternyata punya rahasia sains, ya! Haha, alhamdulillah!” sorak Khalida senang.

Rizqia Rahmadiani
“Harus cepat sampai ke sekolah nih, sudah hampir jam tujuh!” seru Rizki sambil melirik ke arah jam tangan yang ia kenakan. Rizki pun berlari sekencang mungkin menuju sekolah. Hari ini jadwal upacara bendera pertama setelah liburan semester satu. Jika Rizki terlambat, ia bisa kena hukuman oleh Bu Guru.
“Hosh! Hosh! Akhirnya sampai juga,” gumam Rizki lega, bertepatan dengan suara bel sekolah. Rizki pun segera menaruh tas di kelas dan berbaris di halaman sekolah.
“Baik, anak-anak. Silakan kembali ke kelas masing-masing dengan tertib!” kata Pak Guru setelah upacara bendera selesai dilaksanakan.
“Rizki, kok kayaknya kamu lebih kurus daripada sebelum liburan, ya? Tidak seperti biasanya,” tanya Ziyan, teman sebangku Rizki.
“Iya nih, soalnya dari kemarin kalau makan harus dihemat-hemat. Ayahku sedang tidak ada uang karena selama liburan ini ayah dan ibuku gagal panen. Kan selama bulan Desember ini hujan terus, jadi tidak bisa panen garam,” jawab Rizki lesu.
“Garam? Memangnya pekerjaan ayah dan ibumu apa?” tanya Ziyan penasaran.
“Ayah dan ibuku kerja sebagai petani garam,” jawab Rizki singkat.
“Ya sudah, begini saja. Nanti saat istirahat aku traktir kamu makan di kantin, deh, biar kamu tidak kelaparan lagi,” ajak Ziyan.
“Ah, tidak usah deh. Aku takut merepotkan kamu. Kamu kan sudah sering traktir aku,” jawab Rizki tidak enak.
“Sudah, tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok traktir kamu terus-terusan. Terima ya? Please,” pinta Ziyan.
“Mm... ya sudah deh. Terima kasih banyak, ya,” jawab Rizki ragu-ragu. Ziyan pun membalas dengan senyum sambil mengangguk.
Tanpa mereka sadari, mereka mengobrol di saat jam pelajaran dengan suara yang cukup terdengar seisi kelas. Mereka pun langsung diserbu puluhan tatapan dari seluruh teman-teman mereka, termasuk Bu Guru.
“Rizki! Ziyan!” tegur Bu Eti sambil berkacak pinggang.
Rizki dan Ziyan terperanjat, lalu segera kembali memperhatikan pelajaran Bu Eti.
“Ting! Tong!” Bel tanda istirahat berbunyi. Ziyan pun langsung berdiri dari tempat duduk dan berlari sambil menarik lengan Rizki menuju kantin.
“Silakan, pilih saja makanan yang kamu suka,” kata Ziyan setibanya di kantin.
“Beneran nih, tidak apa-apa?” tanya Rizki ragu.
“Iya, tidak apa-apa kok. Pilih saja. Kalau kamu juga ingin minuman, bilang saja. Aku senang kok,” jawab Ziyan berusaha meyakinkan Rizki.
Rizki pun akhirnya menunjuk salah satu makanan yang tertera dalam menu.
“Oh, kamu mau bakso? Oke, aku pesan dulu, ya,” kata Ziyan. Rizki mengangguk.
Rizki pun duduk sambil menunggu Ziyan. Cuaca hari ini agak mendung, sudah hampir bisa dipastikan akan hujan. Sepertinya mereka akan hujan-hujanan untuk kembali ke kelas.
Lima belas menit kemudian, dua mangkuk bakso pun datang.
“Ini ya, Dik, pesanannya,” kata pegawai kantin.
Rizki pun langsung menyambar bakso yang ada di depannya, dan satu detik kemudian Rizki langsung memakan bakso tersebut dengan lahap, sama halnya dengan Ziyan.
Dugaan Rizki benar. Ketika hendak kembali ke kelas, hujan turun dengan derasnya. Ziyan pun mengambil payung lipat yang ada di sakunya dan membukanya. Mereka pun kembali ke kelas dengan tenang.
“Ting! Tong!” Bel tanda pulang berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas menuju jemputan masing-masing.
“Rizki, kamu dijemput ayah atau ibumu?” tanya Ziyan.
“Oh, tidak. Aku jalan kaki kok,” jawab Rizki singkat.
“Hah? Jalan kaki? Hujan deras begini, loh?” tanya Ziyan.
“Iya, tidak apa-apa. Aku sudah biasa kok,” jawab Rizki.
“Aku antar kamu pulang saja, ya. Kebetulan aku sudah dijemput sopirku,” kata Ziyan.
“Tidak usah! Aku tidak apa-apa kok,” tolak Rizki.
“Sudah, ayo ikut saja. Besok kan seragamnya masih dipakai. Masa kamu pakai baju dan sepatu basah besok?” kata Ziyan.
“Iya juga, sih...” gumam Rizki.
Rizki pun akhirnya menerima ajakan Ziyan. Ziyan lalu dengan senang mengarahkan Rizki menuju mobilnya. Rizki terperangah dengan mobil yang dinaiki Ziyan—berwarna hitam berkilau, bersih, dan wangi, serta tempat duduknya sangat empuk.
“Ziyan, ini mobil kamu?” tanya Rizki kagum.
“Iya, ayo masuk,” jawab Ziyan mempersilakan.
“Sudah siap, Dik?” tanya Pak Dayan, sopir Ziyan, disertai dengan anggukan Ziyan.
“Brm! Brm!” Mesin mobil dinyalakan. Beberapa menit kemudian mobil pun melaju meninggalkan halaman sekolah.
“Rumah kamu di mana?” tanya Ziyan kepada Rizki. Rizki pun menyebutkan alamat rumahnya kepada Ziyan, lalu Ziyan memberitahu Pak Dayan. Pak Dayan melajukan mobilnya sesuai dengan alamat Rizki.
“Sudah hampir sampai ya, Dik,” kata Pak Dayan memberi tahu. Rizki pun bersiap-siap untuk turun. Sebelumnya, Rizki berterima kasih kepada Ziyan dan Pak Dayan karena sudah mau mengantarkannya pulang.
Kebetulan saat sampai di rumah Rizki, hujan sudah reda, jadi Rizki tidak perlu susah payah untuk turun dari mobil.
“Eh, Rizki, orang tuamu kan pekerjaannya petani garam. Aku mau lihat dong proses pembuatan garam, jadi ingin lihat, he-he,” kata Ziyan penasaran.
“Oh, kalau gitu aku tanya ayah dan ibuku dulu, ya!” jawab Rizki.
“Oke!” kata Ziyan bersemangat sambil mengacungkan jempol.
“Assalamu’alaikum! Rizki pulang!” kata Rizki.
“Wa’alaikumussalam! Eh, Rizki, kok tumben pulang cepat?” tanya ayah Rizki.
“Iya, Yah. Tadi waktu pulang hujan deras. Kan besok seragamnya masih dipakai, jadi terpaksa hujan-hujanan. Tapi tadi Ziyan mempersilakan Rizki buat ikut naik mobilnya,” jawab Rizki menjelaskan.
“Wah, baik sekali! Terima kasih ya, Nak Ziyan,” kata ayah Rizki senang.
“Sama-sama, Om,” jawab Ziyan tersenyum.
“Oh iya, Ayah, boleh tidak Ziyan melihat proses pembuatan garam Ayah?” tanya Rizki.
“Wah, ya boleh dong!” jawab ayah Rizki sambil tersenyum menatap Ziyan.
Wajah Ziyan seketika berbinar mendengarnya. Ia pun langsung meminta izin kepada Pak Dayan. Setelah diperbolehkan, Ziyan langsung sigap turun dari mobil dan membuntuti ayah Rizki menuju tambak garam. Rizki yang melihatnya pun terkekeh dengan tingkah laku Ziyan. Mereka pun pergi menuju tambak garam tempat ayah Rizki bekerja. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai juga. Di sana terdapat puluhan petani garam yang sedang bekerja. Mereka semua juga satu desa dengan Rizki.

Naufa Hashifaturrahmah
Liburan sekolah telah tiba. Liburan sekolah kali ini aku habiskan di rumah saja karena aku punya adik kecil yang belum bisa bepergian jauh. Jadi, aku menghabiskan liburan di rumah bersama keluargaku. Walaupun tidak bepergian jauh, aku tetap merasa senang karena bisa punya banyak waktu bersama keluargaku dan bermain dengan adik kecilku. Setiap pagi aku tetap bangun pagi seperti biasa.
Pada suatu pagi yang cerah, Ibu terlihat sibuk memasak di dapur. Lalu aku berinisiatif membantu Ibu memasak.
Aku bertanya, “Ibu mau masak apa hari ini? Aku bantu, ya, Bu.”
Kemudian Ibu menjawab, “Wah, senangnya kalau kamu mau membantu Ibu. Ayo kita memasak makanan untuk sarapan nanti. Rencananya pagi ini Ibu akan memasak sayur sawi dan lauknya tempe goreng. Kamu bisa, kan, bantu Ibu menggoreng tempe?”
“Dengan senang hati, Bu,” kataku.
Lalu aku memotong tempe, membalurinya dengan bumbu, kemudian memanaskan minyak untuk menggoreng tempe. Saat minyak sudah panas, aku memasukkan tempe, lalu membolak-baliknya supaya tidak gosong.
Beberapa menit kemudian aku bertanya, “Bu, apakah tempe ini sudah matang?”
Ibu menjawab, “Oh, itu sudah matang. Matikan saja kompornya.”
Mendengar jawaban Ibu, aku segera mematikan kompor tersebut. Tetapi aku tidak langsung meniriskan tempe itu. Aku melihat minyak di wajan masih mengeluarkan gelembung-gelembung, sama seperti saat api belum aku matikan.
Melihat hal tersebut, Ibu berkata, “Mbak, kalau tempenya tidak diangkat bisa gosong, loh.”
Aku menjawab, “Kok bisa gosong, kan kompornya sudah aku matikan?”
Lalu Ibu tersenyum dan menjawab, “Karena minyaknya masih panas, Mbak.”
Setelah selesai menggoreng tempe, Ibu memintaku merebus air untuk mandi adik kecilku. Aku mengisi panci dengan air sampai penuh, kemudian meletakkannya di atas kompor dan menyalakannya. Tak lama kemudian air mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung. Saat air sudah mendidih, aku mematikan kompor.
Aneh sekali, kok gelembung-gelembung airnya langsung berhenti, tidak seperti minyak tadi. Kemudian aku bertanya kepada Ibu, “Bu, kok gelembung-gelembung airnya langsung berhenti, tidak seperti minyak tadi?”
Ibu menjawab, “Itu karena titik didih air dan minyak berbeda.”
Ibu menjelaskan bahwa titik didih minyak lebih tinggi daripada titik didih air. Titik didih air adalah 100°C, sedangkan titik didih minyak goreng jauh lebih tinggi, berkisar antara 177°C hingga 240°C atau lebih, tergantung jenis minyaknya. Minyak goreng masih bisa digunakan untuk menggoreng setelah api dimatikan karena panas sisa dari minyak dan wajan dapat mempertahankan suhu cukup tinggi untuk menggoreng sebentar meskipun sumber panas utama sudah hilang, terutama karena minyak memiliki titik didih yang tinggi.
Aku mendengarkan penjelasan Ibu dengan sungguh-sungguh. Aku jadi tahu bahwa peristiwa saat memasak di dapur bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Ternyata aku bisa belajar sains di dapur Ibu.
Saat memasak di dapur, aku mendapatkan banyak pelajaran dari Ibu. Ibu selalu mengingatkanku untuk berhati-hati saat berada di dapur. Aku tidak boleh bermain-main dengan api, minyak panas, dan air panas karena jika tidak berhati-hati akan berbahaya. Misalnya, kulit kita bisa melepuh jika terkena.
Memasak di dapur bersama Ibu membuatku senang karena aku bisa mendapatkan banyak pelajaran yang berguna. Aku belajar membantu Ibu, belajar bertanggung jawab, belajar memasak, dan belajar tentang sains dengan cara yang sederhana. Aku bangga karena masakanku dipuji oleh keluargaku. Sejak saat itu aku jadi semangat membantu Ibu di dapur dan tidak takut bertanya jika belum paham. Ternyata dapur Ibu merupakan tempat belajar yang menyenangkan untukku.