Pesantren Hidayatullah Yogyakarta Adakan Pelatihan Manajemen Mutu


www.sdithidayatullah.net | (Sabtu, 17 November 2018 | 9 Rabiul Awal 1440 H) Dalam kehidupan yang penuh kompetisi seperti ini, tuntutan masyarakat terhadap kualitas semakin tinggi, termasuk tuntutan terhadap kualitas sekolah. Hal tersebut dikarenakan masyarakat masih yakin sekolah mampu menjawab dan mengantisipasi berbagai tantangan masa depan. Dalam konteks inilah beberapa sekolah berupaya menerapkan sistem penjaminan mutu untuk memberikan kualitas layanan pendidikan terbaiknya untuk masyarakat. 

Memahami pentingnya penjaminan mutu tersebut, Pesantren Hidayatullah Yogyakarta melaksanakan Pelatihan Manajemen Mutu bekerjasama dengan UMMI Foundation dan PT. Riung Mitra Lestari, selama dua hari, yakni Sabtu dan Ahad, dari pukul 07.30 sampai 17.00. Sejumlah unsur pimpinan, kepala sekolah dan jajarannya juga para guru dari unit MTs MA Hidayatullah Putra, MTs Hidayatullah Putri Muntilan, MA Hidayatullah Putri Magelang, SDIT Hidayatullah, TK IT  dan KB TK Yaa Bunayya terlibat penuh dalam pelatihan yang dibimbing langsung oleh DR. Ahmad Bahrul Musyafa' Fathoni, M.Pd.I dan Bapak Muhammad Thohir ini. 

Pelatihan ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensip tentang pemahaman pengelola sekolah tentang sistem penjaminan mutu, yang meliputi pemahaman pengelola sekolah tentang mutu, sekolah yang bermutu, dan pentingnya sistem penjaminan mutu. Kedua, untuk mengungkapkan proses penetapan standar mutu yang meliputi standar mutu yang diterapkan di masing-masing sekolah, cara pengelola sekolah menetapkan standar mutu dan faktor-faktor yang menjadi dasar penetapan standar mutu. Ketiga, untuk memberikan gambaran strategi sekolah dalam mencapai standar mutu yang telah ditetapkan yang mencakup langkah-langkah sekolah untuk mencapai standar mutu, masalah-masalah yang dihadapi dalam mencapai standar mutu dan cara menyelesaikannya.


"Mutu dalam perspektif pengelola sekolah adalah wujud dari kebaikan sesuatu yang tercermin dalam ketercapaian standar atau indikator mutu melalui proses yang baik, sehingga memenuhi harapan pelanggan dan memberikan nilai manfaat bagi pelanggannya." Pungkas Doktor Musyafa' Fathoni dalam penyampaiannya. Lebih lanjut, putra pertama H. Fathoni Mahfudz ini menjelaskan,

"Berdasarkan konsep tersebut sekolah yang bermutu dalam perspektif pengelola adalah sekolah dengan ciri-ciri: memiliki standar mutu dan mampu mencapainya, memiliki program yang baik dan bermanfaat, pendidikan dijalankan dengan proses yang baik, serta mampu meluluskan siswa yang berkualitas secara intelektual, emosional, dan spiritual." 


Oleh karena itu untuk mewujudkan sekolah yang bermutu perlu adanya sistem penjaminan mutu, sebab dengan adanya sistem penjaminan mutu manajemen sekolah dan proses pendidikan telah dilaksanakan dengan baik, sekolah lebih fokus dan tidak mudah berubah haluan, karena target dan standar mutu telah ditetapkan, dan dukungan orang tua terhadap program-program sekolah semakin kuat.

Laporan & Foto: Ida Nahdhah



Komite TK Yaa Bunayya adakan Seminar Parenting "Mendidik Anak Menuju Mumayyiz"


www.sdithidayatullah.net | Hari Ahad tanggal 3 Rabiul Awal 1440 H atau bertepatan dengan 11 Nopember 2018 Komite TK Yaa Bunayya mengadakan Seminar Parenting bertemakan "Mendidik Anak Menuju Mumayyiz". Seminar ini menghadirkan Ustadz Mohammad Fauzil Adhim selaku pembicara.

Seminar parenting yang dilaksanakan di Ruang Aula Serbaguna Yayasan AsSakinah ini dihadiri sekitar 200 orang peserta. Tadinya acara ini ditujukan untuk para wali, namun ternyata mendapatkan antusias yang luar biasa, terbukti tidak hanya dari wali TK Yaa Bunayya yang hadir namun dari wali SDIT Hidayatullah, Himpaudi Ngaglik, dan juga peserta umum lainnya. 

Dalam sambutannya Ibu Pijar Pertiwi manyampaikan, Komite TK Yaa Bunayya mengapa memilih tema parenting ini diantaranya karena 3 hal, yaitu: 1. Kebutuhan orangtua usia KB/TK; 2. Urgensi menyikapi banyaknya perubahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi; 3. Reminder orangtua untuk selalu senantiasa bersikap sesuai tuntunan.

Pembicara yang merupakan pakar parenting yang telah menulis puluhan buku ini menyatakan sudah seharusnya kita kembali kepada agama kita dalam mendidik anak. Jika kita melihat psikologi barat, ternyata banyak sekali pakar-pakar psikologi Barat yang mempunyai banyak teori terkait pendidikan anak maupun tentang perkawinan malah gagal dalam kehidupan keluarga maupun perkawinannya.

Menurut beliau, dalam mendidik anak kita bisa belajar dari kisah Zaid bin Amr bin Tufhail yang dapat kita ambil teladan nya terkait dengan komitmen untuk bersungguh-sungguh mendidik anak dengan baik.

Mumayyiz adalah masa dimana seseorang memiliki tamyiz yaitu saat ia bisa membedakan baik dan buruk,  benar dan salah serta anak ingin menjadi baik.  Seorang anak sampai pada masa ini pada usia 6tahun selambat-lambatnya 7tahun. Mendidik anak hingga ia memiliki tamyiz bersasaran pada pencapaian mukallaf dimana anak memiliki tanggung jawab penuh dan melewati masa remajanya tanpa banyak mengalami krisis identitas. 

Masa sebelum mumayyiz ini anak belajar mengontrol diri,  amarah dan mengenali keinginan dirinya. Sehingga orangtua harus memahami mana kebutuhan anak dan mana keinginan anak, karena tidak semua apa yang diingini anak harus dipenuhi.  Dimasa ini peran orangtua penting untuk meletakkan fondasi iman,  keyakinan dan kemauan yang kuat sehingga setelah mumayyiz,  anak sangat kuat keinginannya untuk meluangkan waktu mengejar yang diimpikannya. 


Lalu bagaimana mendidik anak menuju mumayyiz yang baik? Kuncinya adalah ittaqillah,  yaitu dg takwa yg membawa anak dan keluarga jauh dari siksa neraka.  Caranya adalah dengan :  

1. Tumbuhkan rasa suka,  rasa bangga terhadap Islam dan ajaran-ajarannya. Sebelum mumayyiz anak belum diperintah untuk beribadah (sholat). Jangan memaksa ingin instan hasilnya karena akan berdampak yang kurang bagus dimasa mendatang. 

2. Beri anak bekal pokok yaitu dengan menghidupkan akal.  Perbanyak mendengarkan,  lalu pancing anak dengan pertanyaan dan beri tanggapan (bukan buru-buru memberi sanggahan apalagi menyalahkan).  Pertanyaan diadakan untuk menajamkan alasan atau pemahaman.  Targetnya bukan penjelasan anak tapi memancing anak untuk berpikir.  Ini dilakukan agak kelak menumbuhkan kesungguhan pada apa yang bermanfaat bukan sekedar menuruti passionnya saja.

Lebih lanjut di sesi akhir seminar ini, beliau mengingatkan ketika mendidik anak, jangan meremehkan istilah. Seperti misal dalam memberi istilah kepada anak yang mulai beranjak dewasa, dunia psikologi barat menyebut remaja , yang identik dengan kenakalan , keterombangambingan jiwa. Padahal Rasulullah memanggil dengan sebutan "Syabab" yang artinya pemuda. Jadi disini akan terasa bedanya. Jika anak-anak atau "diistilahi" "remaja" melakukan kesalahan akan dianggap wajar, akan dimaklumi, permakluman keliru yang dibiarkan terus menerus dan si anak ini kuga akan merasa nyaman dengan kekeliruannya. Padahal seharusnya kita mengarahkan ke dalam kebenaran.
Dasarnya 2:104. Jadi gantilah istilah dari "remaja", (mungkin bisa "abg" dengan istilah kata "syabab", "pemuda", mudah-mudahan akan lebih mudah mengarahkan dan tidak ada permakluman yang keliru.

Banyak wali murid merasa antusias dan  mendapatkan banyak ilmu dari acara seminar parenting ini, seperti yang disampaikan oleh Bu Zulfa selaku wali murid yang mempunyai 3  putera dan Puteri di SDIT Hidayatullah."Alhamdulillah acara ini sangat bagus, kalo bisa sering diadakan, karena jarang ada Parenting yang membahas parenting Islami yang dihubungkan dengan Al Qur'an. Dengan ini kita orangtua menjadi lebih bijak mendidik anak sesuai teladan Rasulullah." Tulis Bu Zulfa yang dihubungi reporter lewat media WhatsApp.

Rep: Ayun Afifah

Terapkan 6K untuk Kenyamanan Belajar di Sekolah

www.sdithidayatullah.net | (Senin, 5 Shafar 1440 H/12 Nopember 2018) Dipagi yang cerah kembali keluarga besar SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta melaksanakan Upacara Bendera hari Senin bertempat di halaman sekolah.

Dalam sesi amanat, pembina upacara kali ini Ustadz Suyatno nenyampaikan tentang 6K. Kita harus melaksanakan 6K ini yaitu di antaranya:

Keamanan
Menjaga keamanan di sekolah di antaranya dengan menjaga barang-barang kita agar nyaman dalam belajar.

Kebersihan
Kebersihan adalah sesuatu yang penting baik jasmani maupun rohani. Hati kita dan lingkungan kita.
Kebersihan jasmani di antaranya: mandi, dan menjaga badan kita harus bersih.

Hati kita juga bersih, di antaranya suka kepada kebaikan, berbuat baik kepada siapapun, seperti kita berbuat baik kepada diri kita sendiri.

Menjaga Kebersihan kelas, tidak hanya yang piket saja, tetapi tanggung jawab kita bersama.

Ketertiban
Ketertiban adalah hal yang penting dalam kehidupan manusia. Terutama dalam belajar kita harus tertib dalam waktu, menyiapkan alat belajar, tertib dalam proses belajar, dan lain-lain.

Keindahan
Keindahan adalah bagian dari iman kita. Tidak hanya terkait dengan lingkungan kita. Tetapi juga dengan pribadi kita. Kita harus membuat tertib dan indah kelas kita.

Keindahan di sekolah sekarang di antaranya kita jaga dengan adanya taman-taman di sekolah kita, agar sekolah tampak indah. Dengan adanya taman dan tanaman ini kita, kita akan mendapatkan banyak oksigen yang kita butuhkan untuk bernafas.

Kekeluargaan
Kekeluargaan sangat penting dalam hubungan lahir dan batin antara murid dan murid, urid dengan guru, guru dengan guru. Semua warga di sekolah seperti halnya satu keluarga. Guru adalah orang tua kedua bagi murid.

Kenyamanan
Setelah ke 6K tersebut dilaksanakan maka akan tercapai kenyamanan. Sebaiknya kita tertib di kelas agar belajar kita menjadi nyaman. Agar guru tidak sia-sia dalam menyampaikan ilmu kepada kita karena perilaku kita yang tidak tertib.

Semoga kita dapat melaksanakan 6K tersebut di sekolah dan kehidupan kita.

Rep & Foto : Ayun Afifah

SDIT Hidayatullah Ikut MTQ Tingkat DIY


www.sdithidayatullah.net | (Sabtu, 3 November 2018) Alhamdulillah, tuntas sudah ikhtiar yang dilakukan oleh anak-anak kami. Murid-murid yang terpilih guna mengikuti lomba MTQ Tingkat Provinsi D.I. Yogyakarta, mewakili diri, sekolah dan pemerintah Kab. Sleman.
Mereka telah mengikuti seleksi mulai dari tingkat internal sekolah Sdit Hidayatullah Yogyakarta kemudian maju ke tingkat kecamatan, tingkat kabupaten.
Pencapain terbaik yang diperoleh adalah mewakili Pemerintah Kab. Sleman, amanah berat yang harus mereka emban dalam menuntaskan ikhtiar ini telah usai dilakukan. Apapun hasilnya, sesungguhnya mereka telah berusaha dengan sebaik-baiknya. Jikalaupun meraih juara, hanyalah bonus dari ikhtiar yang telah dilakukan.
Teruslah untuk mengukir prestasi, dimanapun serta kapanpun, teruslah untuk menebarkan kebaikan melalui lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang kalian baca. Jadilah penyejuk hati bagi mereka yang mendengarkan, serta semoga Allah memberikan rahmat-Nya bagi yang mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an.
Mewakili sekolah SDIT Hidayatullah Yogyakarta kami mengucapkan jazaakumullahu khayran katsiraa kepada segenap asatidzah, para orangtua, wali murid, Pemerintah Kabupaten Sleman, serta lainnya yang tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Semoga Allah berikan balasan yang terbaik.

Baarakallaahu fiikum... 








#metodeummi

GALERI FOTO
















Laporan dan Foto: Muhammad Rifki Saputra, S.Pd.I

Studi Banding SDIT Bakti Insani di SDIT Hidayatullah Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | (21 Shafar 1440 H/1 November 2018 M) Sebanyak 12 orang Guru Al-Quran SDIT Bakti Insani Sleman selama 2 hari berkunjung di SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Kunjungan ini dibagi menjadi 2 kelompok selama 2 hari, yaitu Selasa dan Kamis di pekan ini. Adapun fokus studi banding dari salah satu SDIT yang berada di tengah Kota Sleman ini adalah pembelajaran Al-Quran Metode Ummi.

"Banyak hal yang bisa kami dapatkan di sekolah ini," kata Ustadz Suryana, selaku Wakil Kepala Sekolah SDIT Bakti Insani yang menjadi pemimpin rombongan kunjungan ini dalam diskusi ringan. "Ternyata sekolah kami itu di kota tetapi ilmunya ndeso, tetapi SDIT Hidayatullah ini ndeso tapi ilmunya kutho." Begitu kelakar Ustadz Suryana yang ternyata juga pengusaha gethuk ini.

Diskusi Pembelajaran Metode Ummi
Selama 2 hari kunjungan, SDIT Bakti Insani Sleman ini fokus pada proses pembelajaran Al-Quran Metode Ummi. Adapun studi banding yang dilaksanakan yaitu dengan metode pengamatan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Al-Quran Metode Ummi dan diskusi.

Diskusi ringan berlangsung hangat, banyak hal yang disharingkan antara kedua SDIT yang sama-sama berkedudukan di Kabupaten Sleman ini. Mulai dari bagaimana mewujudkan dan mengelola kelas dengan baik.

"Menyamakan persepsi dari masing-masing guru bahwa mengajarkan Al-Quran adalah tugas yang mulia." Kata Ustadz Muhammad Haris, selaku Koordinator Al-Quran SDIT Hidayatullah Yogyakarta  dalam sebuah pengantar diskusi.

"Sehingga totalitas saat guru/ustadz mengajar itu bukan karena orientasi dunia akan tetapi karena menginginkan derajat terbaik di hadapan Allah." Lanjut Ustadz Haris.

Beliau lalu mengutip sebuah hadits, "Sebaik-baik kalian adalah yang belajar dan mengajarkan Al-Quran." Pungkasnya.

Pengamatan KBM Al-Quran Metode Ummi
Dihari kedua, diskusi pembelajaran Al-Quran dilaksanakan di ruang kantor gedung lantai 2 SDIT Hidayatullah Yogyakarta, dengan dipandu oleh Ustadzah Indah dan Ustadzah Ayun.





Laporan @emthorif
Foto @indah

Kajian Parenting Kelas 6: Mendidik Anak ala Nabi


www.sdithidayatullah.net| Ahad (19 Shaffar 1440 H/ 28 Oktober 2018) Kelas 6 paralel mengadakan kajian parenting yang bertempat di ruang lantai 3 SDIT Hidayatullah.

Pembicara kajian parenting adalah ustadz Fatan Fantastik dan beliau memang sudah biasa menjadi pembicara dalam beberapa acara di SDIT Hidayatullah. Termasuk juga mengisi motivasi kelas 6.

Kajian parenting kelas 6 ini diadakan dengan tujuan untuk menyamakan visi antara anak-anak dan orangtua dalam menghadapi ujian nasional. Beberapa waktu sebelumnya juga diadakan motivasi untuk anak-anak kelas 6.

Acara yang diikuti oleh semua wali murid kelas 6 ini alhamdulillah berjalan lancar. Tema kajian parenting kali ini adalah Mendidik anak ala Nabi.

Ada beberapa hal yang ustadz Fatan sampaikan mendidik anak ala Nabi.
1. Tanggung jawab mendidik
2. Tujuan (niat) menikah
3. Memberi nafkah yang halal
4. Pengaruh keshalihan oangtua
5. Doa bagi anak keturunan
6. Konsep fitrah

"Tanggung jawab mendidik yang utama adalah tugas bapak, bukan ibu" kata beliau

"Jadi tugas ibu apa?  Tugasnya adalah mengasuh. Terutama 7 tahun ke bawah." lanjut beliau

Beliau juga berpesan kepada para orangtua untuk banyak mendoakan anak-anak mereka, memberikan nama yang baik, memberikan suri tauladan yang baik ,memberikan hak mereka, tidak suka marah, tidak mencela, bersikap adil, dan menanamkan kecintaan pada Islam.

Orangtua begitu antusias dan banyak yang mengajukan pertanyaan saat sesi tanya jawab.

Semoga sukses dan dimudahkan segala urusan untuk murid-murid kelas 6 SDIT Hidayatullah. Barakallah fikum.

Yuliasfita

Lebih Dekat Dengan Alam; Outbound For Kids SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | (Rabu, 24/10/2018) SDIT Hidayatullah Yogyakarta mengadakan kegiatan Outbound For Kids Kelas Bawah di Shaba Outbound, Karanggeneng Purwobinangun Pakem Sleman.

Kepala Sekolah Muhammad Rifki Saputra, S.Pd.I., menyampaikan bahwa kegiatan Outbound tahunan ini diselenggarakan dalam rangka memperkenalkan dunia alam terbuka sebagai bentuk pengenalan terhadap Zat Pencipta, Allah Sang Rabbul Izzati kepada murid. Selain itu juga bertujuan merefresh murid dan guru setelah beberapa bulan belajar di dalam kelas, sehingga perlu pengkondisian belajar di luar kelas/outdoor

Fokus, fokus, fokus! 
Kegiatan tahunan di SDIT Hidayatullah Yogyakarta ini dibagi menjadi dua gelombang, yakni kelas atas dan kelas bawah. Waktu pelaksanaannya berbeda, adapun lokasi outbound menyesuaikan, sesuai kebutuhan dan kondisi yang ada.

"Tahun ini kegiatan terlaksana di lokasi Shaba Outbound, selain fasilitas yang memadai, juga dikarenakan lokasi yang dekat dengan sekolah sehingga transportasi orangtua/wali murid dalam antar dan jemput menjadi mudah." Pungkas Ustadz Sunarno, S.Si., selaku Ketua Panitia disela kesibukannya mengecek perlengkapan Outbound.

Keberangkatan murid ke lokasi outbound diantar langsung oleh orangtua masing-masing. Kegiatan ini berlangsung pukul 07.30 hingga 13.30 siang. Sekitar kurang lebih 300 an murid kelas 1, 2 dan 3 yang mengikuti kegiatan ini, ditambah 26 personel guru yang mendampingi.
Susur sungai

Adik Muhana menyeberangi jembatan kayu dengan berani

Kegiatan Outbound ini memiliki beberapa tujuan diantaranya untuk menumbuhkan kemandirian, kerjasama yang baik dan keberanian anak dalam mengikuti berbagai tantangan yang seru, dan menyenangkan, contohnya seperti permainan memanjat tali/jaring laba-laba.

“Permainan ini bertujuan untuk memotivasi murid dalam hal keberanian, kerjasama, kepemimpinan dan kebersamaan”. Terang Ustadz Romi Padli, S.E.I, M.E., selaku Kabag Kemuridan.

Ada banyak permainan yang menarik bisa dilakukan misalnya lompat militer, menyusuri sungai, melewati jembatan air, dan masih banyak lagi permainan lainnya. Kegiatan ini juga dianggap efektif membangun karakter anak. Oleh karena itu, kegiatan Outbound menjadi salah satu pilihan untuk mengatasi kejenuhan anak dalam mengikuti pembelajaran yang dilakukan di ruang kelas.

Spiderman pun kalah ya!

Mengisi air ke wadah membutuhkan kesabaran dan kerjasama yang baik

Melatih kemandirian anak dengan Outbound mampu menstimulasi anak menjadi generasi yang mandiri, tangguh, pemberani. Sebab, kegiatan Outbound bukan hanya sekedar bermain saja. Namun terdapat beberapa manfaat yang didapat anak yaitu untuk melatih kemandirian, melatih kemampuan sosial, melatih motorik anak, melatih keberanian, dan meningkatkan kecerdasan pada anak.

Dengan diadakan kegiatan ini anak-anak menjadi mandiri, lebih peduli dengan lingkungan, dan lebih kompak dalam hal kebersamaan seperti yang dikatakan oleh salah satu orang tua siswa yang datang ke lokasi Outbound.
Antrian rapi menanti giliran, duh, sudah tak sabar untuk mencoba.
“Sangat bagus dengan diadakan kegiatan ini, sehingga anak-anak bisa menjadi mandiri, berani dan lebih terampil lagi”. Tukas Charistin Aulin, salah seorang Wali Murid SDIT Hidayatullah.
Shalat berjamaah zuhur, setelah bersih-bersih diri dan makan siang
Selepas melaksanakan shalat dhuhur secara berjamaah, trainer outbound dari Shaba menyampaikan pemaknaan sekaligus kesan dan pesan, "Saya bangga kepada kalian semua karena telah berani mencoba. Karena sesuatu yang tidak pernah dicoba maka tidak akan pernah bisa."  Pesan Kakak trainer di hadapan ratusan murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta. 

"Saya atas nama Shaba Outbound juga menyampaikan terimakasih kepada SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang telah mempercayakan kepada kami mengelola outbound tahun ini, semoga di tahun-tahun mendatang terus bisa bekerjasama." Lanjut Beliau di sesi akhir kegiatan ini.

Sesi Pemaknaan oleh Tim Trainer Shaba Outbound
Foto-foto selengkapnya bisa lihat di laman facebook kami:  SDIT Hidayatullah Yogyakarta






Learn From The Expert: Kesehatan Reproduksi


www.sdithidayatullah.net| Senin, (22/10/2018) murid kelas 5 dan 6 putri mengikuti kegiatan Learn From The Expert yang diadakan sebagai salah satu program kelas.

Learn From The Expert ini merupakan kegiatan yang diadakan setiap semester sekali.  Dan pembicara atau pemateri yang mengisi adalah dari salah satu wali murid.

Kali ini, kelas paralel 5 dan 6 putri bekerja sama untuk mengadakan kegiatan ini dengan satu pembicara yang sama, yaitu dr. Ika Fidianingsih, M. Sc. , ibunda dari mbak Zakiyyah Saepakerti kelas 5C.


Bertemakan tentang Kesehatan Reproduksi, para murid begitu antusias mengikuti kegiatan. Banyak ilmu dan pengetahuan baru yang mereka dapatkan. Terutama untuk mereka yang sudah menstruasi.

Ada beberapa pertanyaan yang mengundang tawa karna kepolosan dan keingintahuan mereka. Salah satu contohnya adalah bagaimana bisa keguguran. Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain yang mereka ajukan.

Semoga dengan kegiatan ini para murid kelas 5 dan 6 khususnya lebih paham bagaimana menjaga kesehatan reproduksi dan apa yang harus dilakukan saat menstruasi datang.

Yuliasfita

3 Murid SDIT Hidayatullah Ikuti Pembinaan MTQ Tingkat DIY


www.sdithidayatullah.net | Senin, (15/10/2018) Kafilah MTQ SDIT Hidayatullah mengikuti pembinaan untuk menuju lomba tingkat propinsi. Ada 3 murid yang mengikuti pembinaan ini, di antaranya:

1. Musabaqah Tilawah Qur'an (MTQ) diwakili oleh Ananda Salma Mujahidah Arrosyidah
2. Musabaqah Hifdzil Qur' an (MHQ) diwakili oleh Ananda Haikal Rabbany dan Hanifah Ihda Al Husnayain

Kegiatan pembinaan dilaksanakan selama 6 hari, terhitung mulai hari Senin-Rabu, Jum'at, Senin dan Selasa, 15-17, 19, 22-23 Oktober 2018, bertempat di Masjid Agung Dr. Wahidin Sleman.

Pelaksanaan lombanya sendiri akan diadakan pada hari Sabtu, 03 November 2018, di SMK N 1 Bantul.

MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an ) ini rutin diadakan setiap setahun sekali yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY bekerjasama dengan Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY.

MTQ pelajar merupakan wahana kompetisi dalam mengaktualisasikan dan menumbuhkembangkan minat bakat peserta didik dari jenjang SD sampai SMA/SMK.

Ada 8 (delapan)  jenis yang dilombakan:
1. Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ)
2. Lomba Pidato PAI (LPP )
3. Musabaqah Hifdzil Qur'an (MHQ )
4. Lomba Cerdas Cermat PAI (LCP)
5. Lomba Kaligrafi Islam (LKI)
6. Lomba Seni Nasyid (LSN)
7. Lomba Debat PAI (LDP)
8. Lomba Kreasi Busana (LKB)

Semangat untuk kafilah MTQ SDIT Hidayatullah, barakallah fikum.  Semoga diberikan hasil yang terbaik.

yuliasfita

Galeri Foto Kegiatan 









Motivasi Pagi: Syukur dan Ilmu


www.sdithidayatullah.net | Senin (15/10/2018) bertempat di halaman sekolah, seperti biasanya SDIT Hidayatullah Sleman melakukan Upacara Bendera. Murid-murid beserta Ustadz Ustadzah melaksanakan dengan khidmat upacara hari ini dalam suasana pagi hari yang cerah.

Dalam sesi amanat yang disampaikan oleh Ustadz Jajang S.Pd. I, beliau memberikan banyak nasihat dan motivasi. Beliau menyampaikan bahwa kita harus bersyukur
atas segala nikmat yang Allah berikan, baik yang kita minta atau yang tidak kita minta.

Ada 3 cara bersyukur kita kepada hal yaitu dilakukan dengan:

1. Diucapkan alhamdulillah
2. Diyakini itu dari Allah
3. Melakukan kebaikan dan beribadah sebaik-baiknya sebagai tanda bersyukur


Sebagai contoh anak-anak telah diberikan kenikmatan berupa kesempatan untuk belajar dengan nyaman dengan segala fasilitasnya, karena banyak di luar sana yang belum berkesempatan untuk belajar. Maka kita harus bersyukur dengan mengucapkan hamdalah, meyakini itu dari Allah dan belajar dengan sebaik-baiknya sebagai wujud ibadah kita dan tanda kita bersyukur kepada Allah.

Menurut Ustadz Jajang, ada 3 ciri orang beribadah:

1. Ibadahnya seperti budak. Orang ini beribadah karena takut. Takut dimarahi, takut kepada guru atau orang tua, dll.
2. Ibadahnya seorang pedagang. Ibadahnya orang ini karena  mengharapkan imbalan/ timbal balik dari ibadahnya. Misal mengharapkan hadiah, dll.
3. Ibadahnya orang yang bersyukur karena Allah. Dan inilah yang terbaik.


Mengutip sebuah hadits Ustadz Jajang menyampaikan, "Barang siapa yang menginginkan dunia maka carilah dengan ilmu, jika ingin mendapatkan akhirat maka dengan  gapailah ilmu, jika ingin mendapatkan keduanya maka dengan gapailah ilmu."

Ustadz Jajang menutup sesi amanat dengan memberikan pesan bahwa "Belajar yang kita lakukan harus kita ikat dengan  niat karena Allah agar kita mendapatkan dunia dan akhirat."

Foto: Dokumen Sekolah