PERPANI Sleman Adakan Seleksi Panahan Menuju POPDA DIY 2019



www.sdithidayatullah.net | Ahad (12 Jumadil Awal 1440 H/17 Februari 2019 M) Bertempat di Lapangan Bunder Kecamatan Pakem, sekitar 80 atlet panahan Kabupaten Sleman mengikuti seleksi panahan menuju Pekan Olahraga Pelajar Daerah (POPDA) DIY Tahun 2019.

Acara yang digelar oleh PERPANI Kabupaten Sleman ini mempertandingkan kelas-kelas, mulai dari Pra Pemula Putra dan Putri, Pemula Putra dan Putri, Standar Bow Putra dan Putri 40 meter, Compon Putra dan Putri, dan recurve.

Ada 10 murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang mengikuti seleksi POPDA DIY 2019 Panahan PERPANI Kabupaten Sleman ini. Dari 10 peserta yang mengikuti, 4 berhasil meraih 5 besar. Ananda Salman dan Firas, peringkat 4 dan 5 pada Pra Pemula Putra, Ananda Salsabila, peringkat ke 2 para kategori Pra Pemula Putri, Ananda Alya Fatimah, peringkat ke 3 pada kategori Standar Bow Putri.

Selamat kepada para atlit. Semoga semakin baik.

Laporan : Thorif
Foto : Rosyid dan Abu Alifah Muhana

Info Murid Baru 2019/2020 : "Mengapa Memilih SDIT Hidayatullah?"


www.sdithidayatullah.net 


SDIT Hidayatullah Yogyakarta
The Real Education

Alamat : Jl. Palagan Tentara Pelajar Km. 14,5 Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, D. I. Yogyakarta 55581
Telp. (0274)2861541


Profil Sekolah
Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Hidayatullah Sleman Yogyakarta didirikan tahun 1998 oleh Yayasan As-Sakinah Yogyakarta. Sekolah ini berafiliasi dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Sleman dengan Ijin Operasional Nomor: 039/KPTS/108/2001 dan Ijin Pendirian Nomor : 054/KPTS/PEND.SLM/IV/2004. Pada tahun 2016 lulus akreditasi oleh Badan Akreditasi Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nilai A.

Visi
Menjadi sekolah bertauhid, unggul, dan berkarakter.

Misi 
Menjadikan lembaga pendidikan SDIT Hidayatullah sebagai sekolah yang unggul, mampu menanamkan nilai-nilai ketauhidan dan karakter islami kepada anak didiknya.

Tujuan
Membentuk murid yang :
1. Memiliki iman yang kokoh dan teruji.
2. Memiliki akhlak yang mulia.
3. Menegakkan syariat.
4. Memiliki jiwa kepemimpinan.
5. Memiliki kecerdasan dan ilmu pengetahuan yang luas.
6. Terlatih, terampil, sehat, dan trengginas.
7. Memiliki kemampuan sebagai pembelajar yang mandiri.

Mengapa Memilih SDIT Hidayatullah?

Tenaga Pendidik
Didukung oleh tenaga pendidik yang berdedikasi, muda, terampil, dan berlatar belakang pendidikan S1 dan S2, memungkinkan SDIT Hidayatullah mampu mewujudkan suasana belajar yang kreatif dan inovatif. 

Pembelajaran Berbasis Tauhid
Melalui program yang mengintegrasikan nilai-nilai tauhid pada kurikulum dan seluruh aktivitas belajar, SDIT Hidayatullah merupakan partner yang tepat bagi orangtua dalam menggali potensi anak secara optimal baik potensi fisik, akal, maupun jiwanya. Dengan pembelajaran seperti ini, diharapkan anak-anak kelak menjadi muslim-muslimah yang saleh dan bertanggungjawab.

Pendekatan Belajar Sesuai Tahap Perkembangan Anak
Memperhatikan kebutuhan anak merupakan sesuatu yang penting bagi sekolah. Hal ini agar anak tidak kehilangan saat-saat yang paling indah dan menyenangkan dalam hidupnya. Dengan pendekatan berbagai metode pembelajaran dan proses pembelajaran yang sesuai tahap perkembangan anak, diharapkan tumbuh dalam diri anak minat belajar yang tinggi serta anak mampu beradaptasi dengan lingkungannya. 

Kelas Karakter
Kelas karakter adalah kelas penanaman dasar-dasar perilaku anak yang diselenggarakan pada 3 bulan pertama pembelajaran.

Kelas Tahfizh
Mulai tahun ajaran 2018/2019 SDIT Hidayatullah membuka 2 kelas tahfizh putra dan putri. Target dari lulusan kelas tahfizh ini adalah hafal 10 juz dengan bacaan yang baik dan benar.

Kelas Tahfidz di SDIT Hidayatullah dilaksanakan dengan seleksi murid terlebih dahulu dalam bidang membaca Al-Quran, menghafal, dan aspek lainnya. Seleksi ini dilakukan di 3 bulan pertama masa pembelajaran. Murid-murid yang tersaring dalam kelas Tahfidz ini akan diajukan kepada orangtua/wali murid untuk mengikuti kelas tahfidz.

Sekolah Tanpa Rangking
Setiap anak memiliki potensi yang berbeda-beda. Mereka bisa menjadi juara di bidangnya masing-masing sehingga sekolah tidak menerapkan casta rangking, namun berupaya menggali dan mengembangkan potensi dari masing-masing peserta didik. 

Kelas dipisah Putra dan Putri
Anak laki-laki dan perempuan memiliki perkembangan fisik dan sosial emosional yang berbeda. Kelas yang homogen (dipisah putra dan putri) memudahkan guru melakukan pendekatan yang sesuai dengan mereka.

Tiada Hari Tanpa Al-Qur’an
Untuk menumbuhkan cinta al-Qur’an pada diri anak, pembelajaran al-Qur’an dilaksanakan setiap hari menggunakan Metode Ummi dengan guru-guru yang telah tersertifikat oleh Ummi Foundation

Lingkungan yang Kondusif
Sekolah berada di alam pedesaan yang nyaman dan jauh dari keramaian. Sekolah juga berada di lingkungan pesantren yang di dalamnya ditegakkan nilai-nilai Islam yang mulia.

Fullday School
Kegiatan pembalajaran di SDIT Hidayatullah mulai hari Senin s.d. Jumat. Dimulai pukul 07.15 s.d. 14.30 wib. Untuk kegiatan pengembangan diri dilaksanakan pukul 15.30 s.d. 16.45 wib dengan jadwal yang ditentukan pada setiap kelasnya.

Kegiatan Ekstrakurikuler
Ekstrakurikuler di SDIT Hidayatullah dilaksanakan setelah kegiatan belajar mengajar, untuk kelas 3 ke atas; dimulai pukul 15.30 s.d. 16.45 wib. Adapun ekstrakurikuler adalah sebagai berikut :

1. Pramuka Pandu Hidayatullah
2. Al-Quran (Hafalan dan Membaca)
3. Beladiri Karate
4. Berenang
5. Memanah

Syarat Murid Baru
1. Usia minimal 6 tahun
2. Mengisi formulir pendaftaran
3. Menyerahkan fotocopy akta kelahiran 1 lembar
4. Menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga 1 lembar
5. Menyerahkan pas photo ukuran 3x4 sebanyak 2 lembar 

Pendaftaran
SDIT Hidayatullah menggunakan sistem one day service (sehari selesai) dalam pelayanan penerimaan Peserta Didik Baru. Alur penerimaan peserta didik baru meliputi : Pelayanan Informasi/Konsultasi  Pendaftaran  Observasi Calon Peserta Didik dan Ortu/Wali  Pengumuman  Daftar Ulang. 

Pendaftaran secara online, formulir bisa diunduh di www.sdithidayatullah.net dan formulir yang telah diisi dikirim via email ke sdithidayatullahsleman@hidayatullah.or.id (konfirmasi ke nomor 087738219070).

Waktu Pendaftaran : 
Senin-Jumat, 07.30 s.d. 14.30 wib dan Sabtu 07.30 s.d. 12.00 wib
1. Gelombang I : November 2018 – Januari 2019
2. Gelombang II : Februari – April 2019
3. Gelombang III : Mei – Juni 2019
Pendaftaran ditutup jika kuota telah terpenuhi
Buku Panduan, Formulir, dan Biaya Masuk :

Info Murid Baru :
1. Thorif 0877-3821-9070, 0857-2955-5454
2. Rifki 0812-3459-9789
3. Romi 0813-6813-8747



Ketika Alam Ikut Berbicara


www.sdithidayatullah.net | Sebuah Cerita Pendek (cerpen) karya Najwa Amsal Hayah, Murid kelas 5C SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Karya fiksi ini meraih juara 2 dalam lomba menulis yang diadakan di sekolah.

***

 “Aisyah bangun! Ayo bangun!”, teriak kak Asiyah sambil memukuli Aisyah dengan guling. 

“Hoaaam... jam berapa ini Kak? Kok pagi banget banguninnya”, kata Aisyah yang malah menarik selimut birunya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Pagi banget apanya? Sekarang sudah jam lima lebih! Kok masih belum mau bangun juga” 

“Ummi.... nih Aisyah gak mau bangun!” Teriak kak Asiyah dari dalam kamar. 

“Aisyah, ayo bangun, sudah siang!” sahut Ummi dari dapur. Aisyah pun segera turun dari tempat tidur, tidak lupa berdoa dan pergi mandi. Selesai mandi, Aisyah segera shalat dan bersiap-siap ke sekolah.


Kak Asiyah kelabakan karena PR super rumitnya yang belum selesai dikerjakan.  Aisyah tertawa kacil melihat kakaknya itu yang terlihat sangat kerepotan. Aisyah menyiapkan tasnya yang berwarna biru dan hijau. Aisyah memasukkan banyak keresek dan kertas HVS ke dalam tasnya yang bergambar tanaman. Tas itu dibelikan Abi saat ia masih kelas tiga.

“Yuk semua sarapan dulu sama Abi!”, kata Ummi yang ternyata sudah ada di pintu kamar. Gerakan Ummi memang sangat cepat dan kadang tidak disadari. Itulah kehebatan seorang Ummi. Wanita nomer wahid yang paling kita cintai. Wanita yang sudah bersusah payah melahirkan, merawat, dan mendidik kita. Tetapi tak pernah mengeluh dan terus ada di samping kita. Tak pernah datang terlambat untuk kita. Dialah UMMI kita.

Aisyah dan keluarganya sudah selesai sarapan. Aisyah dan kakaknya segera berangkat ke sekolah. “Assalamu’alaikum Ummi, kami berangkat dulu”, pamit Aisyah dan kak Asiyah sambil mencium tangan Abi dan Ummi. 


“Hati hati di jalan, belajar yang baik, jangan nakal, hormati gurumu, fii amaanillaah”, nasihat Ummi sambil mengelus kepala kedua putrinya. Apapun nasihat yang di ucapkan Ummi pasti di akhiri dengan kata fii amaanillaah yang artinya semoga selalu dalam penjagaan Allah. Ummi tak pernah lupa memberikan nasihat saat melepas keduanya berangkat sekolah. 

Aisyah sudah sampai di kelas tepat lima belas menit sebelum bel . Jalanan masih penuh dengan genangan air bekas hujan tadi malam. 

“Aisyah, nanti pas istirahat, kumpul di teras depan kelas ya” kata salah seorang sahabat Aisyah. Ia memakai kaca mata warna merah. Gadis cantik itu bernama Qintan. 

“Salam dulu donk kalau mau nyapa” kata Aisyah. 

“Hahaha... iya deh, Assalamualaikum isy” Kata Qintan mengulangi sapaannya yang tadi. 

“Wa’alaikumussalaam” jawab Aisyah singkat. “Eh, nanti kita main ke rumahmu ya”, kata Syifa yang sedari tadi ada di situ. Yups! Syifa adalah salah satu dari anggota KP3L.  Mungkin kalian belum tahu banyak tentang KP3L. Artinya KP3L itu Kelompok Pecinta, Pelindung, Penyelamat Lingkungan.

Awalnya Aisyah, Qintan dan Syifa hanya sahabat biasa, tapi Aisyah mengusulkan agar mereka tidak hanya bersahabat  tapi bisa bermanfaat bagi semua orang. Akhirnya terbentuklah KP3L.  Aisyah sebagai ketua bertugas untuk mengatur KP3L dan membuat kerajinan misalnya gelang, kalung, dan lain-lain bertema lingkungan bersama kedua sahabatnya, dan selanjutnya hasil kerajinan itu mereka jual kepada orang orang. Qintan bertugas sebagai bendaharanya, setelah uang terkumpul, uang akan di simpan oleh Qintan dan di belanjakan tempat sampah oleh Syifa. 

Semua itu tergantung bakat mereka. Aisyah terampil membuat kerajinan, Qintan pintar berjualan, dan Syifa adalah yang rumahnya paling dekat dengan toko yang besar. Maklum, di kampung sederhana itu, hanya ada satu toko yang terbilang besar. Tempat sampah itu akan menjadi tempat sampah umum di kampung kecil itu .Oh ya, Aisyah dan kedua sahabatnya juga memunguti sampah yang tercecer setiap mereka jalan kaki. Aisyah memang sudah suka memunguti sampah sejak berumur enam tahun. Bermula saat pulang dari tempat potong rambut.

 “Oh ya... kreasi kamu diborong sama paman Zubair lho..!” kata Qintan. Paman Zubair adalah pamannya Qintan, dialah yang selama ini mengajarkan tentang keajaiban alam, dia sangat baik dan ramah. 

”Kita dapet uang 50.000 dari paman Zubair” kata Qintan. 

”Ah, pasti kamu yang nyuruh, buat apa laki-laki pakai gelang dan kalung” kata Syifa. 

“Eh, nanti kita main ke rumahmu ya...” Kata Syifa mengulangi kalimat yang tadi tidak dijawab oleh Aisyah. 

“Kalian kan emang setiap hari main ke rumahku” kata Aisyah. 

“Hahaha iya ya” Kata Syifa sambil tertawa. Tak terasa bel masuk sudah berdering. Dengan gontai Aisyah duduk di kursinya.


Setelah seharian mengikuti pelajaran, bel pulang yang dinanti-nanti pun berdering. Semua anak berhamburan keluar kelas. Aisyah dan kedua sahabatnya pulang bersama. Mereka terus mengobrol sepanjang jalan dan tentu saja sambil memunguti sampah yang mereka temukan. Akhirnya mereka sampai di perempatan dimana mereka akan berpisah. 

Aisyah melanjutkan perjalanan pulangnya bersama Kak Asiyah. Merekapun sampai di rumah dan Aisyah segera mandi sore lalu shalat Ashar. Aisyah membaringkan tubuhnya di kasur birunya. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan. Dan pastinya yang datang adalah Qintan dan Syifa. Aisyah membukakan pintu rumah, dan seperti dugaan Aisyah, Qintan datang bersama kakaknya, kak Berlian si sulung. Kalau sama kak Mutiara pasti sejak belum berangkat juga sudah bertengkar. Kak Berlian sangat mendukung KP3L. Gadis berusia lima belas tahun yang akrab di panggil  Kak Berli jugalah yang mengusulkan nama KP3L.

Merekapun masuk ke rumah dan mulai berdiskusi. Saat berdiskusi terdengar suara keras yang membuat seluruh penududuk kampung gentar, gemetar, dan marah. Terutama para anggota KP3L. Suara yang mengawali petualangan baru bagi KP3L. Yang membuat kak Asiyah nyaris meninggal.

“Dor! Dor! Dor!!!” Suara itu terus terdengar di telinga Aisyah. Membuat telinganya panas. “Hey, suara berisik apa itu?” tanya Abi sambil keluar rumah. Aisyah dkk pun ikut menyusul. Ternyata warga kampung sudah banyak yang berkerumun di depan hutan. Ya, kampung kecil itu memang dikelilingi oleh hutan lebat. Isu-isu tak jelas mulai tersebar. 

“Mohon semuanya tenang!” Teriak Abi membantu para penjaga hutan yang kebingungan bagaimana cara menenangkan para warga yang sangat ribut. Hening, suasana menjadi hening. 

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Abi mewakili rasa penasaran para warga.

“Begini, tadi ada beberapa pemburu yang meminta izin untuk memburu di hutan ini, dan mereka sudah dapat izin dari pemerintah.” Kata salah satu penjaga hutan. Suasana kembali ribut. Hingga akhirnya penjaga hutan meminta mereka untuk pulang ke rumah masing masing. Awalnya semua berjalan normal, hingga keesokan harinya,semuanya mulai kacau.

“Hewan hewan langka kita di buru... bersama dengan para burung, dan yang lebih parah, mereka menebangi pohon pohon secara liar, mereka juga mengotori hutan dan mencemari air sungai.” Itulah laporan dari kak Salim. Salah satu warga yang aktif bekerja di hutan.

“Huh sudah ku duga, kerjaannya pemburu pasti selalu begini.” Kata Syifa geram. Saat itu mereka sedang berkumpul di rumah Aisyah. Dan spontan, Syifa berlari ke luar rumah menuju tempat berburunya para pemburu. 

“Dik, maaf, anak kecil tidak boleh masuk.” Kata penjaga hutan mencegah langkah Syifa. 

“Gak bisa, mereka sudah merusak hutan kita, mengambil alam kita.” Kata Syifa sambil menangis. 

“Tidak...! Heiiii, kembali kesini..!!” Itu yang dikatakan penjaga setelah akhirnya Syifa bisa lolos. Aisyah dan Qintan akhirnya bisa ikut menyusul Syifa setelah berdebat dengan penjaga hutan. 

“Syifa, tunggu, cepet ba...” Kata Qintan. Ucapan Qintan terhenti karena melihat Syifa sedang berdebat dengan pemburu. 

“Lho? Bukannya anak kecil gak boleh masuk.?” Tanya salah satu pemburu. 

“Kenapa bapak bunuh hewan langka itu?” Tanya Syifa sambil menangis melihat hewan langka itu sudah terpisah antara kulit, daging, dan tulang. 

“Syifa, sudah yuk, kita pulang.” Bujuk Qintan yang mulai ketakutan. 

“Gak boleh!” teriak Syifa sambil membanting senapan yang ada di sampingnya. Tapi untungnya, senapan itu tidak rusak. 

“Kalau kalian memburu terus harimau ini, maka populasi babi hutan akan meningkat dan memakan / merusak ladang kami sehingga kami kesusahan untuk mencari makan. Dan jika kalian mencemari sungai, maka ekosistem sungai akan terganggu. Ikan ikan akan mati sehingga burung pemakan ikanpun bisa  mati.” Jelas Syifa panjang lebar. Tetapi para pemburu itu malah tertawa lebar. 

“Yang dikatakan temanku itu benar! Kalian tidak bisa begitu saja merusak hutan kami.” Teriak Aisyah. 

“Kalau kalian mau memburu, ya sebutuhnya saja, dan jangan yang langka.” Teriak Qintan yang akhirnya memberanikan diri. “Dan juga jangan merusak kebersihan lingkungan.” Teriak Syifa. Tidak... kali ini tidak tertawa, mereka justru mendengarkan. 

“Ya, tapi anak kecil... kita sudah mendapat izin.” Kata salah satu dari mereka.

“Kalian mendapat izin untuk mengambil seperlunya saja, bukan merusak hutan” Kata seorang lelaki... dan ya... dialah paman Zubair. “Anak anak, ayo pulang, Ummi kalian menunggu.” Bisik paman Zubair. 

“Tapi...” Syifa masih enggan bergeming.

“Orang orang ini biar paman yang tangani.” Kata paman Zubair pada Syifa. “Ingat satu hal anak anak, alam itu seperti kita, mereka punya perasaan, jika di ganggu, maka mereka sendiri yang akan membalasnya, paman janji, alam pasti akan membalas perbuatan mereka.” Nasihat paman saat mengantar mereka pulang. Tapi rasa marah masih menghantui pikiran anggota KP3L. Dan esoknya, strategi mulai di rancang. Perlawanan akan di lakukan besok lusa.

Ah, tak terasa hari ini adalah hari perlawanan yang pertama. Mereka di malam hari mengintai di dekat tempat perkemahan para pemburu. Sebenarnya tadi malam mereka sudah mulai mengintai tapi belum melawan. Penjagaannya tidak terlalu ketat. Mereka berusaha untuk membuat jalanan di hutan menjadi berbeda atau mengarah ke arah yang salah agar para pemburu tersesat. Mereka juga merusak sebagian tenda sehingga saat bangun tendanya akan rusak. Mereka melakukan semua itu dengan sangat hati hati. Berusaha tidak meninggalkan jejak sama sekali. Tetapi tidak... itu hanya berpengaruh sedikit esoknya. Suara tembakan masih terus terdengar. 

Dua minggu berlalu. Semua cara sudah di lakukan, tinggal melakukan yang puncaknya... MEMBAKAR SELURUH PERKEMAHAN ITU. Dan entah apakah mereka memikirkan resikonya atau tidak. Dan hari itupun mereka jalani dengan ke tegangan di malam buta.


“Isy, minyaknya sudah kamu bawa kan?” Tanya Syifa. 

“Iya, nanti kamu bagian nyebarin ya” Kata Aisyah saat mereka sudah sampai di lokasi. 

“Aisyah, Syifa, kalian yakin?” Tanya Qintan menangis sambil memeluk kedua sahabatnya. 

“Yakin, aku yakin banget, ini yang bisa kita lakukan agar para pemburu itu segera meninggalkan hutan." Jawab Aisyah dengan tegas. 

Merekapun saling berpelukan dan mengucapkan yel yel. 
“KP3L” Kata Aisyah. 
“Kelompok” Ujar Syifa. 
“Pe...pe ci... nta” Kata Qintan tersendat. 
“Pelindung” Kata Aisyah. 
“Penyelamat” Kata Syifa. 
“Lingkungan..!” Kata mereka bersamaan.  

Akhirnya Syifa mulai menyebarkan minyak di atas dan sekitar tenda.  Mereka tak henti hentinya memanjatkan doa pada Allah. Sambil menelan ludah, Aisyah mulai menyalakan korek api. Dan dalam hitungan seper sekian detik tenda itu sudah penuh dengan api.  Hijab Aisyah sedikit terbakar. 

“LARIIIIII..!!” Teriak Syifa. 

Tapi terlambat. Rupanya para pemburu itu sudah mengejar mereka. Suara tembakan bersahutan membuat bulu kuduk merinding. Hujan tiba tiba mengguyur hutan itu. Membuat suasana menjadi semakin tegang. Bayangan bayangan menyeramkan mulai berdatangan. Bayangan peluru yang menembus dari punggung hingga ke perut. Bayangan betapa tersiksanya para tawanan. Dan akhirnya Qintan ambruk. Tak kuat berjalan lagi. Kakinya sudah berdarah darah akibat kena duri dan sempat kena api. Hujan yang deras mengakibatkan jalan puang tak lagi terlihat. Sementara para pemburu semakin mendekat. Suara senapan makin jelas terdengar. Dan saat tak ada kemampuan untuk berlari lagi... saat hanya bisa pasrah kepada sang pencipta...akhirnya pertolongan tak terduga itu datang, Ya Allah, akhirnya janjimu datang.

Kak Asiyah, dia datang dan langsung menggendong Qintan yang sudah pingsan. Menunjukkan jalan pintas, tapi tiba tiba satu peluru menggores tangan Kak Asiyah. 

“A.........RGHHH” Teriak kak Asiyah. Tapi beruntung, mereka masih bisa sampai di rumah Aisyah. Hari itu adalah hari terbesar bagi anggota KP3L. Kak Asiyah dan Qintan dibawa ke rumah sakit. Detik per detiknya takkan ada yang pernah terlupakan. Dan, saat Aisyah sang ketua mulai menyerah, merasa tak ada yang mendukungnya, merasa hujan yang tadi malam adalah pertanda akhir perjuangan KP3L, ternyata salah total! Hujan itu malah pertanda jika alam mulai berbicara, mulai protes, atas apa yang dilakukan manusia padanya.


Dan, paman Zubair benar. Paman Zubair tak pernah berbohong. Alam itu berbicara sendiri, Alam itu membalas sendiri. Keesokan paginya, angin kencang terus menderu, dan tanah yang kemarin di gunakan untuk perkemahan para pemburu sekarang sudah menjadi gundukan tanah subur bekas di terjang badai besar tadi malam. Dan hujan itu adalah awalnya.. Bahkan, saking besarnya badai itu, hingga membuat mayat para pemburu tidak ditemukan. Hanya dengan sekali hembusan nafas, dengan izin Allah para pemburu itu sudah terkubur didalam tanah...

Paman Zubair benar, alam itu seperti kita. Jika di ganggu, maka mereka sendiri yang akan membalasnya. Alam pasti membalas perbuatan mereka dengan izin Allah.

Alam akan berbicara sendiri.


Masyaa Allah.

Komitmen Cerdas ber-Media di SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | (Selasa, 5 Februari 2019 M | 30 Jumadil Akhir 1440 H) Sebagai bentuk dukungan dan tindak lanjut dari Deklarasi Gerakan Keluarga Cerdas ber-Media (KCM) yang telah dilaksanakan pada tanggal 20 Januari lalu, hari ini ratusan murid SDIT berkumpul di halaman Sekolah untuk bersama mengikrarkan dan berkomitmen untuk menggunakan media pada waktunya dengan penggunaan yang sebenar-benarnya.

Baca: http://www.sdithidayatullah.net/2019/01/pesantren-hidayatullah-jogja-adakan-seminar-dan-deklarasi-keluarga-cerdas-bermedia.html
Kegiatan yang diikuti oleh seluruh murid SDIT ini dibuka oleh Kepala Sekolah, Ustadz Muhammad Rifki Saputra, S.Pd.I. Dalam sambutannya, Ustadz Rifki menjelaskan tentang nilai positif dan negatif dari penggunaan gadget dan media bagi anak-anak. 


"Ada banyak hal bermanfaat yang bisa kita lakukan untuk mengisi waktu ketimbang bermain gadget dan menonton TV. Bisa dengan membaca buku, bermain dengan ayah, ibu, kakak dan adik dan belajar. Apalagi jika waktu luang kita gunakan untuk menghafal al Qur'an, tilawah dan murojaah hafalan. Insya Allah berpahala dan bernilai disisi Allah." Nasihat Ustadz Rifki kepada seluruh murid.

Acara selanjutnya adalah pembacaan ikrar dipimpin langsung oleh Ustadz Muhammad Haris, S.P., yang diikuti oleh seluruh murid. Adapun isi ikrar adalah sebagai berikut:

"Bismillaahirrahmaanirrahiim..

Kami murid SDIT Hidayatulllah Yogyakarta berikrar bahwa kami sebagai murid ataupun anak akan cerdas menggunakan media baik itu handphone, televisi, laptop dan komputer pada tempat dan waktunya. 

Kami tidak akan main game, dan tidak akan menggunakannya untuk hal-hal yang buruk. Kami hanya akan menggunakannya jika sudah tiba waktunya dengan sebaik-baiknya dan sepenuh kesungguhan, taat kepada perintah Allah Ta'ala. 

Jika sudah tiba waktu boleh menggunakannya, kami hanya akan menggunakannya untuk kebaikan dan hal-hal yang bermanfaat. Kami tidak akan menya untuk maksiat dan hal-hal yang dilarang oleh Allah."

Yogyakarta, 5/2/2019.


Pada penghujung kegiatan seluruh murid membubuhkan cap tangan di atas puluhan meter kain putih yang telah disediakan oleh sekolah, satu untuk kelas putri dan satu untuk kelas putra. Pembubuhan tanda tangan ini sebagai bentuk penegasan komitmen bersama atas ikrar yang telah diucapkan.

🌆 Galeri Kegiatan:














Untuk foto lebih lengkap silahkan kunjungi laman facebook kami: Galeri SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Laporan: Ida Nahdhah
Foto: Ida & Atin


Kak Bimo Berkisah di SDIT Hidayatullah



www.sdithidayatullah.net || Selasa (30 Jumadil Ula 1440 H/5 Februari 2019 M). Alhamdulillah, atas izin Allah Taala telah terlaksana serangkaian acara Qishoh Islam Bersama Kak Bimo di SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Kegiatan Qishoh Islam ini bertempat di Gedung Serbaguna Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta sekitar pukul 10.30 WIB hingga pukul 12.00 WIB yang diikuti oleh para murid SDIT Hidayatullah dan juga TK Yaa Bunayya Yogyakarta dengan jumlah kurang lebih 600 murid. Mereka menyaksikan serta mendengarkan kisah yang disampaikan oleh Kak Bimo dengan saksama dan menyenangkan. 


Kegiatan Qishoh Islam disampaikan oleh kak bimo dengan tema Kisah Sahabat Rasulullah yaitu Abd Bin Bisyir. Dia adalah seorang sahabat yang sangat disayangi Rasulullah karena memiliki kemampuan membaca Al Qur’an dengan sangat merdu bahkan oleh Rasulullah beliau dijadikan pembawa Al Qur’an dan membacakannya. Selain itu Abd Bin Bisyir juga diutus Rasulullah bersama dengan Mus’ab Bin Umair untuk mendakwahkan Islam di kota Madinah. 


Kisah ini menceritakan keteguhan kedua sahabat ini dalam berjuang mendakwahkan Islam di Madinah, bahkan saat Abd Bin Bisyir terkena panah musuh saat melakukan shalat malam di sela-sela jaga malam di kota Madinah. 3 anak panah musuh menancap di dada Abd Bin Bisyir, namun Beliau tetap melanjutkan shalat dengan tenang sambil mencabut panah yang menancap di dadanya satu per satu. 

Qishoh ini menjadi pelajaran yang menyenangkan dan mampu diterima oleh murid dengan mudah dan menyenangkan karena disampaikan dengan cara yang unik dan mengasyikkan. 

Ibrah yang dapat diambil adalah bahwa kita tidak boleh berlemah-lemah dalam mendakwahkan Islam dan harus teguh berpegang pada Islam serta tidak takut dengan musuh-musuh Islam selama ada Allah di hati kita.

Di sela-sela ceritanya, Kak Bimo juga membagikan hadiah bagi murid yang mendengarkan cerita dengan saksama. Anak-anak merasa senang mendengarkan cerita dari Kak Bimo.

INFO MURID BARU SDIT HIDAYATULLAH KLIK DI SINI
Laporan & Foto : Atin

Kunjungan Ummi Foundation di SDIT Hidayatullah Yogyakarta




www.sdithidayatullah.net || Sabtu (27 Jumadil Ula 1440 H/2 Februari 2019) Selama 2 hari, (Jumat dan Sabtu, 1-2 Februari 2019) SDIT Hidayatullah Yogyakarta mendapat kunjungan dari Ummi Foundation Pusat Surabaya. Hadir dalam kunjungan tersebut adalah Ustadz Muhammad Mustaqim, M,Pd.I. didampingi Ustadz Iqbal Muhammad Ghazali, S.IP. dari Ummi Daerah Yogyakarta.

Selama kunjungan dua hari ini, yang dilakukan di hari pertama adalah full pengamatan kelas yang dilakukan oleh Tim dari Ummi Pusat.

"Supervisi kali ini adalah fokus ke kelas anak-anak untuk persiapan munaqosah yang insyaAllah akan dilaksanakan di bulan April 2019." Kata Ustadz Muhammad Haris, selaku koordinator Al-Quran SDIT Hidayatullah Yogyakarta ini. "Saat ini yang terdaftar untuk mengikuti kegiatan munaqosah sebanyak 115 murid." Lanjut Beliau.


Di hari kedua, Tim Ummi Foundation melakukan pertemuan dengan guru-guru Al-Quran SDIT tertua di Kabupaten Sleman ini. 

"Di hari kedua Tim Ummi Foundation fokus ke evaluasi dan penemuan kelas, serta pembinaan kepada guru-guru Al-Quran di sekolah ini." Lanjut Ustadz Haris.

"Dengan pembinaan dari Ummi Foundation Pusat ini kita lebih bisa mengetahui kesalahan-kesalahan yang perlu diperbaiki ketika mengajar dan termotivasi diri untuk menjadi lebih baik." Kata Ustadz Yahya, salah satu guru Al-Quran.

INFO MURID BARU SDIT HIDAYATULLAH KLIK DI SINI
Laporan : Thorif dan Haris
Foto : Haris

DPW Hidayatullah DIY - Jatengbagsel Adakan Pelatihan Guru Baru





Sabtu, (13 Jumadil Awal 1440 H/19 Januari 2019 M). Bertempat di Kampus Madya Yayasan Al Kahfi Surakarta, gedung SD IT Luqman Al Hakim telah diadakan pelatihan guru baru selama dua hari dimulai dari hari Sabtu-Ahad, 19-20 Januari 2019. Peserta dari kegiatan ini berasal dari berbagai wilayah seperti Yogyakarta, Kebumen, Karanganyar, dan Surakarta.



Kegiatan  dimulai pada hari Sabtu dibuka dengan sambutan yang disampaikan oleh Ustadz Rathun Sulaiman Radi (Ketua Yayasan Al Kahfi Hidayatullah Surakarta), Beliau menyampaikan “Bahwa pendidikan berbasis tauhid sangat dibutuhkan saat ini dan harapannya dengan adanya pelatihan ini guru mampu memahami arah pendidikan lembaga.”



Sambutan kedua disampaikan oleh Ustadz Fuad Fahrudin (Kadep Pendidiakan DPW Hidayatullah DIY-Jawa Tengah Bagian Selatan) : “Dengan adanya kegiatan ini mampu mengasah kemampuan guru dalam mengajar”.



Sesi pertama penyampaian materi oleh Ustadz Muhammad Rifki Saputra S.Pd.I (Kepala Sekolah SD IT Hidayatullah Yogyakarta) tentang Pendidikan Integral Berbasis Tauhid (PIBT). Beliau menyampaikan : “PIBT merupakan sebuah upaya sadar, terstruktur dan sistematis yang dijiwai manhaj sistem wahyu untuk membentuk manusia sesuai dengan visi dan misi penciptanya sebagai hamba Allah dan KhalifahNya”. PIBT sendiri merupakan solusi dari permasalahan pendidikan saat ini yang mengadopsi paham sekulerisme.



Kegiatan dilanjutkan dengan konsep dan praktek pembelajaran PIBT disampaikan oleh Ustadz Fuad Fahrudin. Sesi kedua ini peserta membentuk kelompok dan mempraktekan pembelajaran sistem PIBT. Pada prakteknya metode ini tidak memisahkan antara ilmu agama dengan ilmu pengetahuan. Hal ini terbukti dengan adanya RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) yang menyertakan ayat Al Qur’an.



Hari kedua, Ahad, 20 Januari 2019. Kegiatan diawali dengan penyampain materi oleh Ustadz Fatkhurrohman (Anggota Pembina Yayasan Al Kahfi Hidayatullah dan Mudir Nurul Iman Karanganyar) beliau meyampaikan profil guru Hidayatullah : “Guru Mujahid harus beraqidah lurus,berkompeten dan taat kepada penciptaNya”.



Sesi berikutnya dilanjutkan dengan materi pandu hidayatullah yang disampaikan oleh Ustadz Mujiharyono (Sekretaris Pandu Wilayah) : “Gerakan pandu hidayatullah adalah suatu aktivitas pengkaderan santri hidayatullah yang bertujuan mendidik anggotanya supaya menjadi generasi yang siap menjadi pelanjut perjuangan islam”. Sesi terakhir diisi dengan praktek belajar, peserta diminta untuk memainkan drama yang berhubungan dengan proses belajar sesuai PIBT.



Penutupan menjadi akhir dari kegiatan pelatihan guru baru. Ahad, 20 Januari 2019 pukul 11.30 kegiatan ini resmi berakhir. Harapannya setelah mengikuti pelatihan guru mampu mempunyai profil yang diharapkan dan memahami arah gerak lembaga ini.


Info Murid Baru SDIT HidayatullahKLIK DI SINI SAJA, atau hubungi Thorif 087738219070, 0857-2955-5454
Penulis : Syafiqa Qurota A’yun

Foto : Dokumentasi Panitia