Ruang Cinta dan Cerita


 

Oleh: Hendra Nugroho,S.Pd.I.*

Sebagai profesi yang mulia, setidaknya ada tiga alasan mendasar yang bisa dikemukakan tentang guru. Pertama, yaitu proses transfer ilmu atau pengetahuan yang kita sebut sebagai kewajiban mengajar dengan tujuan mencerdaskan manusia. Kedua adalah mendidik, yaitu memberikan pengajaran tentang sikap jiwa dan budi luhur kepada anak didik supaya kelak menjadi manusia seutuhnya yang bermanfaat bagi setiap makhluk. Ketiga adalah keteladanan guru yang harus bisa menjadi contoh yang baik dan benar, baik lahir maupun batin, bagi anak didik.

Lalu, bagaimana guru bisa memunculkan keteladanan bagi peserta didik?

Jawabannya adalah keteladanan itu muncul dari hati yang penuh dengan ketulusan untuk membersamai peserta didik dalam belajar. Jika ketulusan hati dan keikhlasan itu hadir, maka akan tercipta bonding antara guru dan peserta didik.

Kok bisa bonding itu tercipta?

Karena guru mau membuka ruang yang luas untuk peserta didiknya, yaitu di antaranya terbukanya ruang cinta dan cerita.


***

Suatu kisah

Ada seorang guru bernama Abdullah. Ia mengajar di sekolah dasar Islam terpadu sudah belasan tahun lamanya. Pada suatu ketika, ia diamanahi oleh kepala sekolahnya untuk mengajar di kelas dua pada tahun kesembilan belas. Dari dua puluh lima murid yang ada di kelasnya, ada satu murid bernama Dimas. Dimas adalah murid laki-laki yang sama sekali tidak mau mengeluarkan suara satu huruf pun. Apakah Dimas memiliki gangguan pendengaran?
Ternyata pendengarannya normal-normal saja.

Hal ini menjadi aneh bagi Pak Abdullah sejak pertemuan awal kelas dua, saat sesi perkenalan antara murid dan wali kelasnya.

“Dimas Adi Brata, silakan maju memperkenalkan diri. Sebutkan nama, alamat rumah, dan cita-cita!” perintah Pak Abdullah.
Dimas pun maju ke depan, berdiri di depan papan tulis sebagaimana teman-teman sebelumnya yang memperkenalkan diri masing-masing. Namun setelah Dimas berdiri di depan kelas, ia mematung begitu saja tanpa ada suara yang keluar dari lisannya.
“Ayo, Dimas, silakan memperkenalkan diri kepada teman-teman!”
Pak Abdullah menunggu Dimas berbicara, namun suara itu tak kunjung keluar. Kemudian salah satu teman kelasnya berkata, “Ustaz, Dimas memang tidak mau berbicara sejak kelas satu semester dua.”
“Oh begitu, kenapa ya, Nak?”
“Tidak tahu, Ustaz.”
“Baiklah kalau begitu, silakan Dimas duduk kembali ke kursinya,” perintah Pak Abdullah.
Dimas pun duduk kembali ke kursinya dengan wajah serius, tanpa senyum dan tanpa kesedihan.

Bel pulang berbunyi di hari pertama masuk sekolah. Pak Abdullah sengaja menemui orang tua Dimas saat penjemputan sekolah. Tidak banyak yang disampaikan oleh Pak Abdullah kepada ibu Dimas, hanya beberapa kalimat saja mengingat waktu dan kondisi yang ramai.

“Bun, nomor WA-nya betul yang ini?” tanya Pak Abdullah sambil menunjukkan kontak di HP-nya.
“Betul, Ustaz.”
“Nanti sore atau malam sebelum istirahat, saya boleh minta waktunya untuk berbicara dengan Bunda via telepon, bisa?”
“Iya, Ustaz, insyaallah bisa. Nanti kabari saja, ya, Ustaz.”

Saat malam tiba, selepas Isya, Pak Abdullah menelepon ibu Dimas. Maksud dari komunikasi via telepon tersebut adalah untuk menggali informasi tentang Dimas, muridnya di kelas dua yang tidak mau berbicara sama sekali.

“Oh iya, Ustaz, di rumah Mas Dimas normal-normal saja. Ia berbicara dengan saya, ayahnya, dan adiknya,” jawab ibu Dimas.
“Oh begitu... oh iya, ini sampai terdengar suaranya sedang main sama adiknya, ya, Bun?”
“Iya, Ustaz, itu sedang main. Jadi memang, dari kelas satu kemarin, guru di kelas satu waktu itu menyampaikan ke saya, katanya Mas Dimas sekarang jadi diam, tidak mau mengeluarkan suara untuk bicara. Ujian praktik lisan pun tidak bisa kalau di sekolah, ia maunya via rekaman HP yang dikirim saat tiba di rumah.”
“Oh begitu, Bun. Sudah Bunda coba menanyakan kepada Mas Dimas, apa penyebabnya?”
“Sudah, Ustaz, namun dia masih belum mau menjawab. Saya pikir, ya sudahlah, mungkin suatu saat dia mau berbicara.”
“Terus, saat kelas satu, sama teman-temannya tidak ada masalah, kan, Bun?”
“Tidak ada, Ustaz. Ustazah Mahmudah pun waktu itu menyampaikan kalau mereka di kelas akur- akur saja. Dimas pun berbaur seperti biasa dengan semua teman-temannya. Hanya saja tidak mau mengeluarkan suara.”
“Oh, baik, Bun. Terima kasih banyak informasinya. Ini barangkali menjadi PR buat saya sebagai wali kelas Mas Dimas di kelas dua. Kita sama-sama memotivasi Mas Dimas agar mau berbicara kembali, ya, Bun.”
“Iya, Ustaz, saya juga akan terus menggali penyebab sebenarnya apa.”



***

Setelah mengetahui informasi dari orang tuanya tentang kondisi Dimas, Pak Abdullah pun setiap hari terus memberikan motivasi khusus kepada Dimas. Dimas tidak memiliki gangguan pendengaran, tidak sedang bersitegang dengan temannya, dan tidak pernah mogok sekolah. Suara itu hanya tidak dikeluarkan ketika di sekolah saja. Di rumah, ia ceria, bahagia, dan berbicara dengan keluarganya. Jadi, bagi orang tuanya pun hal itu tidak dianggap sebagai sesuatu yang bermasalah atau mengkhawatirkan. Persoalannya hanya muncul ketika di sekolah.

“Mas Dimas, sebenarnya Ustaz ingin tahu alasan Mas Dimas kenapa tidak mau berbicara sama sekali ketika sudah masuk sekolah. Tetapi barangkali Mas Dimas belum mau cerita sekarang, tidak apa-apa. Lain waktu kalau Mas Dimas sudah mau cerita sama Ustaz, Ustaz sangat terbuka dan mau mendengarkan Mas Dimas bercerita.”
Dimas hanya menjawab dengan anggukan.

Kegiatan belajar berjalan seperti biasa. Pak Abdullah tetap menganggap semua murid sama di hatinya, ia menaruh kasih sayang yang sama tanpa membeda-bedakan. Ia pun memfasilitasi belajar Dimas yang tidak mau mengeluarkan suara. Hampir setiap hari Pak Abdullah selalu memiliki waktu khusus untuk memberikan motivasi kepada Dimas, meskipun muridnya itu tidak mau menjawab dengan kata-kata. Pak Abdullah tak pernah lelah dan tak mau berhenti membuka ruang cintanya, semua demi muridnya yang satu ini. Namun, jawaban selalu sama—Dimas tidak mau berbicara sama sekali. Hal ini berlanjut sampai Dimas menyelesaikan kelas tiga. Bahkan orang tuanya pun sudah menganggap hal itu biasa, meskipun masih ada rasa penasaran di hati mereka.

Keajaiban datang bagi Pak Abdullah. Dua tahun setelah menjadi wali kelas Dimas di kelas dua, ia diamanahi oleh kepala sekolahnya untuk menjadi wali kelas satu. Sedangkan Dimas sudah duduk di kelas empat dengan wali kelas yang berbeda.
Tiba-tiba Dimas menemui Pak Abdullah di ruang kelas satu, saat Pak Abdullah selesai memulangkan muridnya. Ruang kelas itu telah kosong, menyisakan Pak Abdullah seorang diri.

“Eh, Mas Dimas... apa kabar? Silakan duduk! Ada apa, ada yang bisa Ustaz bantu?”
“Anu, Ustaz, saya mau berbicara sama Ustaz.”

Sontak Pak Abdullah terkejut luar biasa saat mendengar suara muridnya yang sekian tahun tidak terdengar. Ia bersyukur dalam hatinya, matanya mulai berkaca-kaca. Pak Abdullah duduk berhadapan dengan Dimas, tanda ia serius mendengarkan muridnya yang kini sudah kelas empat.

“Iya, Mas Dimas, silakan. Ustaz dengan senang hati akan mendengarkan Mas Dimas menyampaikan sesuatu yang sangat penting rupanya.”
“Saya mau mengucapkan terima kasih banyak sama Ustaz, sudah mau peduli dengan saya, mau memberikan motivasi kepada saya setiap hari agar selalu menjadi orang yang optimis. Sekarang saya sudah merasakan motivasi tentang optimis itu telah ada pada diri saya dari Ustaz.”
“Alhamdulillah...”
“Dulu, kenapa saya tidak mau membuka suara saat di sekolah, Ustaz, waktu kelas satu ada teman yang mengatakan kalau suara saya seperti suara perempuan. Sejak kalimat itu saya dengar, sejak itu pula saya pesimis, Ustaz. Sejak saat itu saya memutuskan untuk tidak mengeluarkan suara atau menahan diri untuk berbicara di lingkungan sekolah ini. Tapi kali ini saya mendobrak itu semua berkat nasihat dan motivasi dari Ustaz yang membangkitkan semangat saya. Saya tidak punya dendam kepada siapa pun, termasuk kepada teman saya yang mengomentari suara saya. Saya baik-baik saja dengan siapa pun. Hanya saja waktu itu, secara spontan, rasa optimis saya hilang hingga memutuskan untuk tidak berbicara.”
“Masyaallah, Mas Dimas, Ustaz senang sekali mendengar ini dari Mas Dimas. Mendengar kalimat positif yang keluar dari Mas Dimas. Dan juga Ustaz senang sekali sudah bisa mendengar suara merdu Mas Dimas yang kini sudah tumbuh menjadi anak yang dewasa.”

“Sekali lagi terima kasih, Ustaz, atas kesediaannya memberikan motivasi kepada saya setiap hari.”
“Sama-sama, Mas Dimas. Ustaz selalu mendoakan yang terbaik untuk Mas Dimas.”

Keduanya berpelukan, menangis bahagia. Kini Dimas tumbuh menjadi anak yang optimis, terlihat dari matanya. Dan suara itu kembali terdengar seperti sedia kala.





***

Dari sedikit kisah di atas, ternyata guru sangat memberikan dampak yang luar biasa bagi muridnya, selama guru itu mau membuka ruang cintanya dan ruang ceritanya untuk murid. Karena guru adalah ruang cinta dan cerita.

Selamat Hari Guru Nasional.
Semoga kita menjadi guru yang hebat untuk Indonesia yang kuat.

“Guru Hebat, Indonesia Kuat.”


*) Hendra Nugroho,S.Pd.I., Guru SD IT Hidayatullah Yogyakarta.

PERJALANAN PANJANG MENCINTAI PALESTINA


PERJALANAN PANJANG MENCINTAI PALESTINA

Oleh: Hendra Nugroho

        Isu Palestina akan terus mencuat dan muncul di muka bumi ini dengan waktu yang teramat panjang. Terkhusus di kalangan umat Islam, Palestina harus menjadi tema besar sampai akhir zaman. Sudah semestinya Palestina akan menjadi obrolan di ruang-ruang keluarga muslim, Palestina akan menjadi pembicaraan di ruang-ruang pendidikan muslim, Palestina akan menjadi bincang yang memiliki pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran masyarakat. Dan bahkan semestinya, Palestina menjadi pembahasan-pembahasan kerja penting sebuah negara yang peduli terhadap Palestina.

        Bagi kita kaum muslimin terutama yang tertancap pada jiwanya gelora keimanan yang sangat dahsyat, mencintai Palestina bukanlah sekedar momentum karena kita melihat berita terjadi pembantaian yang dilakukan zionis penjajah saat itu saja. Kemudian berlalu kecintaan kita saat berita itu sudah tidak kita dengar dan saksikan kembali. Padahal kecintaan sesungguhnya, dia akan memunculkan perhatian setiap hari bahkan setiap detiknya.

        Mencintai Palestina bukanlah dulu saja, bukanlah sekarang saja, atau bahkan bukan soal waktu mendatang saja. Tetapi mencintai Palestina adalah rangkaian dari dulu sampai akhir nanti yang tidak terpisahkan. Mencintai Palestina adalah perjalanan panjang.

Kenapa demikian?

    Minimal ada tiga alasan, yang membuat kecintaan kita terhadap Palestina adalah perjalanan panjang yang tidak boleh berhenti. Ketiganya itu adalah;


1. Palestina atau Baitul Maqdis adalah negeri yang diberkahi oleh Allah langsung.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam surat Al-Isra’ ayat 1:

سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ ۝١

“Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.”

Dalam salah satu tafsir dijelaskan, yaitu Tafsir Al Muyassar/Kementrian Agama Arab Saudi bahwa;

Allah memuliakan kedudukan diriNYa dan mengagungkan urusanNya karena kuasaNya untuk melakukan hal-hal yang tidak dapat diperbuat oleh siapapun selainNya; tiada tuhan yang berhak disembah selainNya, dan tidak ada tuhan (penguasa alam) selainNya. Dialah yang menjalankan hambaNYa, Muhammad di malam hari pada sebagian malamnya dengan jasad dan ruhnya dalam keadaan terjaga, bukan tidur, dari masjidil haram di makkah menuju masjidil aqsha di baitul maqdis yang Allah memberkahi sekelilingnya dari segi tanam-tanamannya, buah-buahannya dan lain sebagianya, dan Dia menjadikannya sebagai tempat hidup banyak nabi agar ia dapat menyaksikan keajaiban-keajaibab kuasa Allah dan petunjuk-petunjuk keesaanNYa. Sesungguhnya Allah , Dia mahamendengar semua ucapan para hambaNya lagi mahamelihat semua perbuatan mereka. Maka DIa akan memberikah hak setiap orang di dunia dan di akhirat.” 

        Point penting yang semestinya menjadikan paradigma atau kerangka berpikir kita adalah bahwa Baitul Maqdis atas kekuasaan dan kebesaran Allah Subhanahu Wata’alaa, menjadi negeri yang Allah Subhanahu Wata’alaa berkahi dengan kesuburan dan kemakmuran dari tanaman, buah-buahan, dan segala hal yang menambah kedekatan kepada Allah Subhanahu Wata’alaa. Juga atas kuasa dan kebesaran Allah Subhanahu Wata’alaa, Baitul Maqdis atau Palestina adalah menjadi tempat kebanyakan para nabi hidup dan diutus di sana. Hal ini tentu tidak lain adalah karena Allah Subhanahu Wata’alaa mengistimewakan Baitul Maqdis.

        Maka jika Allah Subhanahu Wata’alaa sudah mengistimewakan dan memberkahi sebuah tempat atau negeri, sudah seharusnya bagi orang yang beriman untuk tidak ragu lagi kita mengistimewakan dan mencintainya juga. Karena ini sudah masuk ranah keimanan kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

2. Palestina adalah Nubuwah Rasul kita Muhammad Shalallahu “Alaihi Wasallam

        Syaikh Musthafa As Siba’i dalam bukunya “Sirah Nabawiyah” menjelaskan bahwa di akhir hidupnya Rasulullah Shalllahu ‘Alaihi Wasallam menyampaikan amanat dan pesan khusus kepada kaum muslimin untuk membebaskan daerah Balqa’ dan Darum Palestina dimana Usamah bin Zaid yang ditunjuk oleh Nabi langsung sebagai panglima. 

        Kesombongan dan keangkuhan Romawi saat itu yang membuatnya enggan mengakui hak hidup bangsa lain, bahkan mendorongnya untuk membunuh para pengikutnya yang berani masuk Islam sebagai mana yang mereka lakukan terhadap Farwah bin Amr al Judzami, seorang penguasa atas daerah Ma’an yang masih berada di bawah kekuasaan Romawi. Sehingga membuat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam perlu untuk mengutus pasukan ke sana, agar Romawi merasa takut dengan kedatangan pasukan kaum muslimin.

       Meskipun sempat tertunda pasukan yang berada di bawah panglima Usmah bin Zaid karena kondisi Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam sakit sampai beliau wafat. Maka nubuwah itu dilanjutkan di masa kekhilfahan Umar bin Khattab, bahkan sampai Shalahudin Al Ayubi. Mereka semua adalah menjalankan nubuwah Nabi dengan penuh keikhlasan dan kecintaannya.

        Pada saat ini dan selamanya nubuwah itu tetap ada dan wajib kita jalankan sebagai bentuk keimanan kita kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam. Kondisi yang sangat memprihatinkan saat ini ketika zionis penjajah menduduki tempat yang bukan haknya dan bukan miliknya, dengan segala bentuk kebiadaban yang dilakukan terhadap saudara kita di Palestina yaitu mengusir, membunuh secara keji, meluluhlantahkan segala yang ada di sana, meperlakukan manusia sebagai makhluk yang lebih hina dari pada binatang, dan menyatakan bahwa setiap bayi yang baru lahir dari rahim ibu di Palsetina adalah musuh bagi mereka. Maka semua itu harus menjadikan ghirah perjuangan kita muncul dengan dahsyat dalam pembelaan kepada Palestiana dan melawan penjajah zionis dengan segala upaya yang bisa kita lakukan.

        Terkhusus amanat UUD 1945 negara kita Indonesia, dengan jelas menolak dan harus menghapus penjajahan di atas dunia. Jika kita melawan zionis Israel, berarti kita melaksanakan amanat undang-undang negara kita. Sebaliknya, jika kita mendukung zionis Israel, berarti kita sudah mengkhianati amanat undang-undang negara kita sendiri.

3. Palestina adalah Masa Depan Umat

        Santi W Soekanto, dkk. Menyebutkan dalam bukunya yang berjudul “Buku Kecil Baitul Maqdis” bahwa, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan pesan kepada kita semua tentang peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang di tempat yang Allah Subhanahu Wata’alaa berkahi bernama Palestina. 

        Pertama, Baitul Maqdis menjadi salah satu tempat selain Mekah dan Madinah yang tidak akan dimasuki Dajjal.

       Kedua, Nabi ‘Isa ‘Alaihi Sallam akan turun dari langit dengan berpegangan dua sayap malaikat, kemudian shalat di Masjidil Aqsha, selanjutnya beliau akan mengejar Dajjal dan membunuhnya di Ludd, Palestina.

        Ketiga, Baitul Maqdis itu akan menjadi Padang Mahsyar, tempat berkumpulnya seluruh manusia. Kemudian manusia akan digiring menuju pengadilan Allah Subhanahu Wata’ala. 

        Dari tiga alasan di atas, maka sudah cukup bagi kita bahwa mencintai Palestina adalah rentan waktu yang sangat panjang. Jangan sampai ada kelelahan dan kebosanan untuk menunjukkan kecintaan kita terhadap Palestina. Kecintaan kita terhadap Palestina yang didasari keimanan yang kuat adalah lebih dari sebuah perasaan melihat saudar
a kita yang dibantai habis-habisan olah zionis, meskipun rasa kasihan menunjukkan kepedulian kita terhadap sesama. Tetapi jangan sampai kepedulian itu hilang saat mereka terbebas dari pembantaian. Tetapi kalau kecintaan dan keimanan yang berjalan di hati dan pikiran kita itu akan merangkum semua perasaan dan terus berjalan tiada henti sampai akhir nanti.


Wallahu Ta’alaa A’lam...

Titip Rinduku Tuk Palestina Tercinta




TITIP RINDUKU TUK PALESTINA TERCINTA

Oleh : Eka Ima Mirawati, S.Pd

        Seberkas cahaya hadir di belahan dunia dimana kiblat pertama umat islam didirikan, yang tepatnya di Asia Barat yang berada diantara laut tengah dan sungai Yordan. Cahaya yang akan terus bersinar sebagai salah satu bagian dari cahaya kehidupan untuk warga Palestina dan dunia. Negeri yang dulunya makmur terampas oleh Yahudi yang mengklaim itu tanah mereka. Bukan sebuah hal yang mudah hidup di tengah genjatan senjata yang datang terus menerus. Tapi bagi warga Palestina terus berpegang teguh pada Allah sebagai sebuah kekuatan yang luar biasa untuk mempertahankan tanah itu jangan sampai terampas oleh Israel. Tak pernah ada kamus Israel sebagai sebuah negara dalam hidup ku, yang ada negara Palestina adalah negeriku dan israel  penjajah yang keji dan tidak tahu terimakasih. Israel hanya tamu yang berusaha mengambil terus menerus wilayah palestina serta mengambil sejengkal demi sejengkal tanah kami Palestina. 

        Cahaya merah dari barat dimana genjatan senjata terus dilayangkan oleh Israel membuat rakyat Palestina harus terpisah dengan keluarganya, kehilangan keluarganya, kehilangan tempat tinggal semua dirampas oleh tentara Israel. Tidak mudah hidup ditengah agresi militer israel yang bertubi-tubi. Sebuah kepercayaan dari warga Palestina suatu saat nanti Cahaya kemenangan itu akan ada dan bersinar di negeri Palestina seperti yang telah dijanjikan oleh Allah dalam surat Al Isra ayat 5, Allah berfirman 

فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ اُوْلٰىهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَّنَآ اُولِيْ بَأْسٍ شَدِيْدٍ فَجَاسُوْا خِلٰلَ الدِّيَارِۗ وَكَانَ وَعْدًا مَّفْعُوْلًا - 

Artinya: "Apabila datang saat (kerusakan) yang pertama dari keduanya, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Itulah janji yang pasti terlaksana." 

        Dari ayat tersebut sebuah cahaya kemenangan pasti akan datang, tanpa kita ketahui. Pertolongan Allah itu nyata adanya, dimana suatu saat nanti Allah akan datangkan cahaya kemenangan dari hamba-hamba Allah yang gagah perkasa untuk merebut kembali Palestina dari Israel. Doa yang terus dipanjatkan serta support tenaga maupun barang terus mengalir untuk negari Palestina tercinta, negeri yang Indah dengan kemegahan masjidil Aqsa di dalamnya tak akan pernah kami biarkan sejengkal dari tanah Palestina direbut oleh Yahudi dimana mereka merampasnya dari waktu ke waktu. Wahai para pejuang syuhada dan bidadari syurga di negeri Palestina kalian tak pernah sendiri, ada kami dibelahan bumi lain yang terus mendoakan kejayaan negeri Palestina. Keyakinan kami begitu besar jika suatu saat nanti Palestina akan merdeka dengan pertolongan Allah SWT. 

        Berdiri ku menepi, berjalan ku menjauh dari kebisingan luar dan hiruk pikuk pekerjaan yang menumpuk hanya ingin ku bersimpuh kepada sang maha Agung dan bercerita. Ya Rabbku, batinku teriris, nafas ini serasa sesak, dan air mata ini tak sanggup terbendung melihat penederitaan warga Palestina, mereka diusir dari tanah kelahirannya, dirampas semua haknya oleh Yahudi laknatullah. Melihat anak-anak terpisah dari orang tuanya, melihat anak-anak terluka. Semua itu sangat menyakitkan dan mengiris hati. Dibalik rudal perang yang terus memborbadir negeri Palestina sungguh Engkau anugrahkan anak-anak yang luar biasa dinegeri Palestina tercinta, anak-anak yang MasyaAllah hebatnya ditengah gempuran senjata dan agrasi senjata oleh Israel anak-anak masih tetap tersenyum ketika ada tim Relawan yang bisa menembus masuk ke Palestina. 

       Perbatasan demi perbatasan dijaga dan ditutup rapat oleh para tentara Israel yang keji, tapi ingatlah kami negara lain tak akan tinggal diam akan kekejaman yang Israel lakukan kepada saudara kami di Palestina. Cahaya kemenangan dan cahaya kehidupan tuk Palestina akan segera hadir tentunya dengan ijin Allah.

      Masjid kebanggaan kami umat muslim yakni masjidil aqsa menyimpan sejarah bagi umat islam. selain sebagai kiblat pertama umat muslim sebelum dipindahkan ke mekkah. Masjid Al Aqsa yang berada dikompleks temple mount atau haram al syarif di kota Yerusalem, dimana area ini juga dikenal dengan sebutan kompleks masjid Al Aqsa itu kerap menjadi pusaran konflik antara Israel dan Palestina.              Banyak saudara kita umat muslim dilarang, diinjak ketika melasanakan solat di sana. Tak pernah gentar sedikitpun warga Palestina menghadapi berbagai serangan dari tentara Israel, mereka meyakini bahwa ini adalah tanah mereka yang harus mereka jaga dari berbagai serangan Yahudi laknatullah. Penjajah itu harus keluar dari tanah Palestina walau nyawa taruhannya. Mati syahid tuk para pejuang Palestina, keyakinan kami cahaya kemenangan akan bersinar tuk negeriku Palestina tercinta. Kutitipkan rasa rinduku tuk saudaraku yang ada di Palestina, kalian tak pernah sendiri ada kami dari belahan negeri yang lain yang tak pernah putus berdoa tuk kemenangan Palestina, ada kami yang siap membantu semampu kami. Peluk jauh dari kami tuk para pejuang di Palestina. AllahuAkbar.....

Apa yang Dapat Kita Lakukan untuk Palestina?

 Apa yang Dapat Kita Lakukan untuk Palestina?

Oleh: Ayun Afifah, S.Pd


        Palestina adalah negara saudara muslim kita yang tanahnya penuh keberkahan pun didalamnya terdapat Baitul Maqdis yang merupakan tempat dan suci juga kiblat pertama ummat Islam, sudah seharusnya kita bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam dan mengaku beriman kepada Allah dan hari akhir lebih memperhatikan dan turut berjuang untuk kembali “membebaskannya” dari penjajahan Zionis Israel. Dalam sejarah bangsa Indonesia, Palestina mempunyai hubungan yang sangat penting. Karena Palestina menjadi negara pertama yang kemudian mengakui Kemerdekaan dan Kedaulatan Republik Indonesia yang diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945. Dan sesuai dengan yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945, Bangsa Indonesia turut serta dalam mewujudkan perdamaian dunia maka kita pun sangat tidak setuju dengan adanya penjajahan Zionis Israel di Palestina dengan berbagai kekejaman dan kejahatan kemanusiaan yang dilakukannya. Termasuk genosida yang telah membunuh ribuan warga sipil yang tak berdosa di tanah suci Palestina.

       Lantas, menghadapi konflik Palestina dan Israel ini bagaimana kita harus bersikap? Merangkum tausiyah yang disampaikan oleh Ustadz Janto Abu Abdurrahman dalam acara Sosialisasi dan Pembinaan Guru Karyawan Yayasan As-Sakinah Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, Sabtu 3 Mei 2025, bahwa terhadap saudara-saudara kita di Palestina, diantaranya adalah:

1. Mendoakan. Kita harus menggunakan senjata kaum muslimin yaitu mendoakan. Itu adalah upaya utama. Bukan upaya terakhir. Dari tempat terbaik, dari waktu-waktu terbaik, jangan pernah lupa kita senantiasa mendoakan yang terbaik untuk Baitul Maqdis.

Waktu terbaik yaitu di sepertiga malam yang biasa kita gunakan untuk shalat tahajud. Tempat-tempat terbaik di Mekkah, Madinah, Palestina, dan masjid-masjid Allah lainnya. Tak lupa kita juga senantiasa bagaimana selalu memantau arahan para ulama dan mujahid yang memang menghadiri langsung di garis depan, Hidayatullah selalu on the track, selalu tersambung di garis depan.



2. Mendidik dan mentarbiyah anak-anak kita agar senantiasa terpaut dengan Baitul Maqdis.

Kita merindukan generasi Muslim yang tertarbiyah, terpaut dengan Baitul Maqdis. Kita mulai dengan mentarbiyah anak-anak kita dari jenjang pre-school dan seterusnya. Kita mengingat Syekh Ahmad Yasin yang menghadirkan seperti Abu Ubaidah, serdadu Al-Qasam. Para serdadu al-Qasam dapat memperlakukan tawanan Israel dengan baik. Seperti seorang ayah yang “ngrumati” anak-anaknya. Karena itu adalah hasil dari jiwa yang tertarbiyah dengan baik. Dan testimoni itu disampaikan sendiri oleh pihak musuh.

3. Boikot terhadap perusahaan yang mendukung dan berafiliasi dengan Zionis Israel.

Cari informasi, lakukan sedikit demi sedikit tentunya dari keluarga kita. Dan terus gencarkan dan informasikan kepada orang lain. Istiqamahkan sebagai komitmen dan dukungan kepada kepada Palestina. Sehingga dampaknya dengan aksi boikot kita dapat mempengaruhi opini publik dan mendorong perusahaan atau pemerintah untuk mengubah kebijakan atau praktik mereka.

4. Bagaimana mengupayakan diri istiqamah dalam berpartisipasi mengupayakan hadir dalam jihad dalam segala aspek kehidupan dengan jiwa raga kita. Hal tersebut menuntut konsekuensi yang luar biasa, kemuliaan jihad di sisi Allah melebihi kemuliaan orang-orang yang memberi minum jamaah haji. Kita niatkan Berpartisipasi untuk berinfak misal 1000 rupiah setiap hari kita niatkan untuk Baitul Maqdis.

5 dan 6. Menguatkan kawan sembari melemahkan musuh.

Harus segera mengetahui, pihak-pihak siapa yang memberikan loyalitas perusahaan-perusahaan yang membantu Israel, maka kita harus boikot perusahaan-perusahaan yang mendukung Israel tersebut sebagai wala bara’ kita.

Jangan sampai kita menjadi orang yang “gembosi” terhadap usaha-usaha yang memperjuangkan Palestina. Seperti terhadap “Aksi-Aksi” yang kita lakukan untuk mendukung Palestina.

Dengan analogi Saat kita melihat ada rumah kebakaran, maka kita bisa bersegara untuk mengambil ember berisi air, tidak perlu saling menyalahkan “siapa ini yang membuat kebakaran”. Maka jangan sampai kita sibuk melihat kita dari golongan mana, atau teman kita dari golongan mana, tapi kita perlu bersatu untuk membantu Palestina.


Wallahu a’lam bishowab


Sumber: Tausiyah Ustadz Janto Abu Abdurrahman dalam Sosialiasasi Yayasan As-Sakinah Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta, Sabtu 3 Mei 2025.

Teman Sejati

Oleh: Ayun Afifah, S.Pd.


Haloo... Perkenalkan namaku adalah Nadia Shafia Cantika. Tahun Ajaran ini aku memasuki kelas 5 SD. Oya aku lahir di Jakarta dan hingga kelas 4 pun tinggal di Jakarta. Karena Papahku dipindah tugaskan ke Jogja, akhirnya aku sekeluarga pindah ke Jogja mengikuti Papah. Aku pun dimasukkan ke Sekolah Islam Terpadu yang dipilihkan oleh Papah Mamahku. Hemm tinggal di Jogja ini, aku sebenarnya merasa kurang senang. Karena aku harus berpisah dengan teman-teman sekolahku yang asyik dan heboh. Di sekolahku yang lama, aku termasuk anak yang cukup populer dan mempunyai banyak teman. Aku mempunyai teman-teman yang se-frekuensi, yang suka main ke mall dan nonton drama Korea alias Drakor. Aku membayangkan kalo sekolah di Jogja apalagi sekolah di SD IT pasti anak-anaknya nggak asyik deh. Namun, aku nggak bisa berbuat apa-apa, karena aku harus mengikuti kemanapun keluargaku pergi.

Hari pertama aku masuk di SD IT ini, aku diajak berkeliling untuk melihat-lihat bagian-bagian sekolah ini oleh bagian Tata Usaha. Hemm lumayan juga sekolah ini, bangunannya cukup bagus bertingkat 3 pula, walau berada di tengah-tengah persawahan. Rupanya disekolah ini muridnya dipisah antara laki-laki dan perempuan sejak kelas 1 SD. Aku masuk di kelas 5B, yang katanya Kelas Reguler. Jadi di sekolah ini juga terdapat 2 program yaitu Kelas Reguler dan Kelas Tahfizh. Untuk Kelas Tahfizh target hafalan ideal adalah 10 juz, dan dalam sehari jam al-Qurannya bisa sampai 3 sesi. “Busyetttt dahh apa tidak membosankan ngaji sampai 3 jam dalam sehari?” kataku dalam hati. Nah kalo dikelas Reguler belajar al-Qurannya Cuma 1x dalam sehari, dan target hafalannya 1-2 juz saja. Tapiii ya masih tiap hari juga ngajinya, padahal di sekolahku yang lama belajar ngaji hanya 2x seminggu. Sekali belajar PAI, dan sekali belajar baca tulis al-Quran (BTAQ).

Kemudian aku dikenalkan oleh Wali Kelasku dihadapan murid-murid kelas 5B, Ustadzah Nova namanya. “Anak-anak.. hari ini kita kedatangan teman baru dari Jakarta lho, namanya Nadia.” Ustadzah Nova mengenalkan aku kepada teman-teman baruku. “Silahkan Mba Nadia memperkenalkan diri dulu agar lebih akrab ya” sambung Ustadzah Nova. Ustadzah Nova ini jilbabnya besar dan lebar, dan ku perhatikan sepertinya semua guru disini berpenampilan seperti itu. “Wah wahhh kayak di pesantren saja sih” gumamku dalam hati. Ustadzahku mengenalkan aku sebagai murid baru dengan bahasa yang sangat lembut dan halus. Aku arahkan pandangan ke sekeliling kelas, karena ini Sekolah Islam muridnya yang perempuan wajib mengenakan jilbab. Mereka tersenyum ramah kepadaku, dan menanyakan beberapa pertanyaan mengenaiku. Aku berdoa semoga aku betah disini, bersama orang-orang Kampung ini gumamku.

Aku duduk di sebelah murid, Hafshah namanya. Jilbab juga besar, berkacamata, senyumnya manis dan setelah ku perhatikan dia selalu mengenakkan dekker/ manset tangan tiap hari. Dengan lembut dia menyapaku, “Assalamualaikum Nadia... namaku Hafshah, silahkan duduk disini” sambil mengulurkan tangannya. “Oya namaku Nadia, terima kasih ya Hafshah” jawabku singkat. Aku pun duduk di sebelahnya. Saat guru Wali Kelasku menjelaskan, semua menyimak pelajaran dengan tertib. Weleh weleh... ini muridnya pada tertib-tertib sekali ya rupanya. Tidak ada yang gojek atau bermain sendiri rupanya. Padahal biasanya kalo disekolahku yang lama, saat guru menjelaskan hanya beberapa orang saja yang menyimak, yang lain ada yang asyik mengobrol sendiri, membaca komik, menggambar, atau berbuat hal onar lainnya.

Setelah jam istirahat, aku pun belajar al-Quran. Disini memakai Metode Ummi, yang katanya “Menyenangkan dan Menyentuh Hati”. Baiklah mari kita lihat seperti apa belajarnya. Dalam 1 jam pelajaran al-Quran, aku belajar hafalan dan tahsin al-Quran. Karena aku murid baru aku dimasukkan di Jilid 3 sesuai hasil placement tes kata Ustadzahku. Di sekolahku yang lama, aku sebenarnya sudah menghafal beberapa surat pendek dan sudah sampai bacaan al-Quran. Namun karena Metode yang berbeda, dan tajwidku yang belum standar aku pun turun jilid. Yaahh walaupun aku agak kesal, tapi ya sudah lah aku ikuti saja belajar al-Quran disini. Ternyata cukup mengasyikkan juga dan tidak membosankan. Ustadzah memberikan contoh, baik itu hafalan maupun bacaan jilid yang akan aku baca. Teman-teman baruku juga membantu jika aku mengalami kesulitan. Wahh rupanya mereka sangat baik ya.

Dan hari demi hari, bulan demi bulan pun ku lalui di sekolah ini. Tadinya aku fikir aku bakal tidak betah di sekolah ini dan minta pindah saja ke sekolah di kota yang lebih modern dan tidak banyak ngajinya. Namun ternyata aku salah, aku begitu menikmati dan jatuh hati dengan suasana di sekolah ini. Lingkungannya adem, ayem, dan asri. Guru-gurunya baik sekali selalu mengingatkan dalam kebaikan walau memang di awal-awal masuk sekolah ini rasanya bosan sekali diberikan nasihat setiap hari he he... Namun Ustadzahku tidak bosan dan lelah memberikan nasihat kepada kami. Teman-teman baruku juga lumayan asyik, walau mereka tinggal di desa namun ada dari mereka yang juga suka nonton Drama Korea seperti hobiku saat di sekolah yang lama. Namun, karena 1 teman baruku aku mulai meninggalkan hobi lamaku dan mempunyai hobi baru. Apakah itu? Lanjut ya kita baca ceritanya...

Masih ingat kan dengan Hafshah teman baruku yang duduk sebangku denganku. Dia anak yang cantik dan manis. Sangat sopan dan suaranya lembut sekali. Dia memakai pakaian yang sangat syari. Jilbabnya lebar, dan selalu memakai dekker atau manset. Saat ku tanyakan kenapa dia selalu memakai dekker setiap hari? Padahal kan sekarang ini kita sering kegerahan apakah kamu tidak merasa kepanasan? Katanya “Pergelangan tangan kita adalah aurat juga lho Nadia, jadi kita harus menutupinya” jawab Hafshah. Oya setiap kali jam istirahat, aku perhatikan Hafshah jarang sekali jajan ke kantin. Dia cukup makan snack yang disediakan dari sekolah, setelah itu ia akan mengambil al-Qurannya terus membacanya untuk mengulang-ulang hafalannya. Maa sya Allah anak ini rajin sekali fikirku. Ternyata saat ku tanya sekarang hafalan dia sudah mencapai 2 juz katanya. Walau dia di Kelas Reguler yang sebenarnya program hafalannya tidak terlalu banyak, dia menghafal secara mandiri di waktu-waktu istirahat, menunggu jemputan dan saat dirumahnya bersama Bunda nya. 

Karena melihat pemandangan seperti itu setiap ha
ri, aku merasa penasaran kepada Hafshah, kenapa dia sangat rajin sekali menghafal al-Quran. Saat ku tanyakan itu kepadanya, dia menjawab, “Nadia... Aku ingin menjadi penghafal al-Quran agar aku bisa masuk surga dan mengajak keluargaku juga masuk surga” jawabnya dengan mantap walau agak tersipu malu. “Aku belum bisa membalas kebaikan-kebaikan dari orangtuaku, jadi ini adalah sebagai baktiku kepada kedua orang tua ku Nadia” sambungnya. Mendengar jawabannya, aku langsung teringat kepada Papah dan Mamahku, setiap hari mereka bekerja keras untuk mencukupi segala kebutuhanku. Namun aku sering sekali membantah apa yang mereka perintahkan. Bahkan untuk melaksanakan shalat 5 waktu saja aku masih bolong-bolong. Hikss rasanya kok malu sekali ya. 

Setelah mendengar perkataan Hafshah hari itu, aku terus melamun membayangkan betapa banyak kesalahan dan dosa yang kulakukan kepada Papah mamahku dan tentu saja kepada Allah. Sesampainya dirumah, aku langsung menemui Mamahku dan mencium tangan mamahku sambil berucap, “Mamah... maafkan anakmu ini ya... yang sering bandel dan menyusahkan Mamah” kataku sambil terisak mengeluarkan air mata. Mamah yang sedang didapur, tentu saja menjadi bingung dengan perlakuanku, namun juga ikut merasa terharu, “Maa sya Allah iyaa Nadia sayangnya Mamah, kenapa ini? Tentu Mamah memaafkan kamu dan selalu mendoakan yang terbaik untukmu.” Kata Mamah dengan lirih juga. “Aku sayang Mamah dan Papah, aku ingin berubah menjadi anak baik dan penghafal al-Quran agar kita sekeluarga masuk surga ya Mah” kembali ucapku kepada Mamah. Mamah yang mendengar perkataanku langsung mengaminkan dan merestui apa yang menjadi keinginanku.

Alhamdulillah itulah sedikit cerita dariku ya teman... awal aku sangat bersemangat ingin menjadi Penghafal al-Quran karena sahabatku Hafshah. Jadi pesanku kepada kalian semua, pandai-pandailah memilih teman ya. Pilihlah teman yang baik, yang mengingatkanmu selalu dalam hal kebaikan, walau mungkin dia tidak gaul atau asyik namun percayalah teman sejati adalah teman yang selalu mengingatkanmu untuk senantiasa ingat dan dekat kepada Allah. 

Oya setelah menamatkan SD di SD IT ini aku melanjutkan di Pesantren Tahfizh. Alhamdulillah saat aku kelas 9 SMP aku menyelesaikan hafalan sebanyak 15 juz. Dan menginjak kelas XI SMA aku bisa menyelesaikan hafalan 30 Juz. Aku berdoa semoga aku bisa menjaga hafalanku dengan baik. Dan mengajak Papah Mamahku masuk ke surga. Aamiin.

*Sebuah cerita pendek fiksi inspiratif

Oleh: Ayun Afifah, S.Pd., Guru Al-Qur'an SDIT Hidayatullah


Mendampingi Anak agar Suka Membaca



Bermula dari dalam kandungan

Betapa pengaruh ibu terhadap anaknya begitu besarnya. Bahkan hal itu dimulai sejak sang buah hati dalam kandungan. Jika sang Bunda suka membaca, nyaman ketika membaca, maka sang jabang bayi pun akan merasakan hal yang sama. Frekuensi yang dibangun sang Bunda sejak dalam kandungan terhadap Ananda itulah yang akan membuat rasa nyaman dari sang buah hati dengan aktivitas membaca.



Bayi pun suka diajak membaca

Bagi seorang introvert, atau pertama kali menjadi seorang ibu yang sebelumnya mungkin belum terbiasa momong anak-anak maka “mengudang” bayi atau mengajak bermain bayi adalah hal yang sangat sulit dilakukan. Karena sang bayi sebagai lawan bicara kita, mungkin tidak tahu kita bicara apa, bahkan kita juga tidak tahu dia bicara apa? Karena seorang bayi baru bisa berekpresi dengan tangisan, rengekan, senyuman dan tertawanya yang renyah.

Nah aktivitas membacakan buku dengan keras (read aloud), akan membantu ibu dan juga sang anak. Ibu mempunyai bahan untuk bercerita, dan sang anak pun akan tumbuh rasa percaya diri yang tinggi karena ada seseorang yang senantiasa memperhatikan dan mengajak bicara kepadanya. Aktivitas membaca dengan keras ini juga akan semakin menambah bonding dengan sang ibu atau anggota keluarga lain yang melakukannya, dan tak lupa membacakan buku akan semakin menambah perbendaharaan kosa kata yang terekam dalam memorinya. Walaupun mungkin menurut kita sang bayi belum bisa apa-apa.


Membaca membuat kecanduan

Jika sang bayi sudah suka dengan aktivitas
membaca, maka dia akan sangat suka dengan buku dan selalu ingin dibacakan buku. Maka bersiaplah para orang tua yang akan kewalahan menghadapi keinginan sang buah hati yang ingin terus dibacakan buku. 

Terus menjaga minat membaca sang buah hati sangatlah penting, karena jika minat membacanya sudah tinggi, maka ketika dia menginjak usia balita, semangat belajar untuk membaca buku dengan sendirinya akan muncul tanpa kita paksa. Karena tentunya saat dia sudah bisa membaca buku secara mandiri, maka akan semakin banyak buku yang akan dia baca.

Teladan itu Nyata

Berikan contoh dan teladan dirumah kita, bahwa kita dan anggota keluarga yang ada di rumah pun suka membaca. Maka anak pun akan melihat itu sebagai sebuah contoh, dan budaya yang ada dirumahnya. Dia akan meniru apa yang terlihat didepan matanya dengan baik, jika contoh itu diberikan dengan konsisten, terus menerus dan tentunya dalam suasana yang menyenangkan.


Beri Fasilitas untuk Membaca

Segala sesuatu memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan. Jika kita menginginkan sang buah hati mencintai buku dan suka membaca, maka kita pun perlu menganggarkan budget tersendiri untuk membeli buku. Mempunyai perpustakaan keluarga bisa kita proyeksikan dan kita mulai dengan bertahap, agar dimana mata memandang di rumah kita terdapat buku di rak buku yang menarik dan membuat anak ingin selalu membaca. 

Meminjam buku di perpustakaan secara rutin bisa juga dilakukan untuk terus menambah perbendaharaan buku yang dibaca.  Sesekali boleh juga mengajak Ananda ke toko buku untuk berbelanja atau sekedar melihat-lihat koleksi buku yang ada. Sebagai alternatif bisa juga kita membeli buku bekas yang masih bagus dan layak baca sebagai koleksi perpustakaan rumah kita, karena tentunya harganya lebih terjangkau.

Tetap Semangat dan Istiqamah Membaca

Di tengah gempuran media sosial yang mewabah di kalangan anak muda kita, semoga budaya membaca buku ini dapat terus kita pertahankan. Karena saat kita membaca semua aktivitas otak kita bekerja. Tentunya kita menjadi lebih pintar, fokus, dan tidak cepat terkena kepikunan (alzheimer). Dan benarlah saat perintah pertama yang Allah turunkan kepada umat manusa adalah “membaca”, karena banyak sekali manfaat dan hikmah yang akan kita dapatkan saat kita melakukan aktivitas membaca ini.

Wallahu ‘alam bishowab




Oleh: Ayun Afifah, S. Pd.

(Guru al-Qur'an SD IT Hidayatullah Yogyakarta)

Pengaruh Ubudiyah Seorang Guru terhadap Adab Murid

 

بسم الله الرحمن الرحيم

    Disebutkan bahwa, pendidikan merupakan kunci utama kemajuan bangsa dan negara. Lalu kemudian muncul pertanyaan, “Dari mana kita mulai mendidik?. Ada sebuah istilah yang mengatakan “Non Scholae Sed Vitae Discimus” yaitu manusia belajar bukan mengejar nilai tetapi mempersiapkan hidup yang lebih baik. 




  Pemikiran yang sama disampaikan oleh Theodore Meyer Greene yang mengatakan bahwa, ”pendidikan merupakan upaya menyiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) untuk meraih kehidupan yang bermakna”. Dalam konteks kemajuan Indonesia dan menghadapi tantangan masa depan, manusia harus dipandang sebagai human capital yang dipersiapkan dengan sistem pendidikan yang baik untuk membangun karakter dan transfer knowledge.

   Sementara itu data lain mengatakan bahwa, sistem pendidikan Indonesia berada di peringkat 54 dari total 76 negara. Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN, posisi Indonesia masih di bawah Singapura, Malaysia, dan Thailand (djkn.kemenkeu.go.id).




    Kemudian fokus yang sama, terlebih kita sebagai seorang muslim memiliki pandangan bahwa tarbiyah atau pendidikan mengarah pada tujuan mencetak generasi rabbani, yaitu generasi yang mengenali Tuhannya yaitu Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Oleh karena itu, pengelolaan sistem dan operasional sekolah tidak luput pada tujuan-tujan ketuhanan atau mengandung nilai-nilai ketauhidan kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa.

    Jika kita meninjau pada sisi kasus kekinian sebagai salah satu bentuk bagian dari evaluasi pendidikan kita, maka kita akan menemukan temuan-temuan yang tidak selaras dengan tujuan pendidikan itu sendiri, yaitu salah satunya adalah merosotnya atau terjadinya kemunduruan akhlak dan adab peserta didik disebabkan banyak aspek yang mempengaruhinya. Maka tugas utama guru saat ini lebih banyak pada mendidik dari pada mengajarkan sesuatu yang bersifat pengetahuan.

        “Lantas knowledge (pengetahuan) bagaimana?”

    Mengajarkan suatu pengetahuan atau pelajaran tertentu penting, tetapi memperbaiki dan membangun akhlak peserta didik saat ini jauh lebih penting. Dengan perkembangan zaman yang serba instan saat ini, murid justru bisa dengan mudah mengakses ilmu pengetahuan kapan dan di mana saja. Artinya belajar mencari tahu sesuatu yang belum tahu itu tentu sangat mudah, tetapi memperbaiki akhlak dan adab perlu kerja keras dan tauladan dari semua guru.



    Sosok guru yang menjadi role model di lingkungan sekolah dan masyarakat, harapannya adalah bisa menjadi sosok tauladan yang baik agar bisa memberikan pengaruh pada peningkatan akhlak dan adab murid. Maka disebutkan bahwa guru adalah digugu lan ditiru, artinya guru itu dipercaya dan dicontoh segala ucapan dan perbuatannya. Tidak mudah memang jadi guru, tantangan dan pertanggungjawabannya berat. Baik di dunia maupun di akhirat.

    Bukankah kita pernah mendengar kisah Imam Syafi’i rohimahullahu ta’ala dalam mengajari muridnya bernama Ar-Rabi’ bin Sulaiman yang dikisahkan beliau termasuk murid yang “slow learner” diantara kawan-kawannya?.

    Setidaknya kita bisa mengambil dua topik utama dari kisah Imam Syafi’i bersama muridnya Ar-Rabi’ bin Sulaiman;



1. Imam Syafi’i mengajarkan muridnya dengan keiikhlasan dan kesabaran.

    Dalam kisahnya dikatakan, Imam Syafi’i penuh kesabaran mengajari Ar-Rabi’ bin Sulaiman karena tidak dalam sekali Imam Syafi’i menjelaskan, lalu Ar-Rabi’ langsung paham. Bahkan sampai Ar-Rabi’ diajak ke rumah beliau untuk diajarkan secara privat dan itu pun sama, Ar-Rabi’ masih belum juga paham. Bagaiamana pun kondisi muridnya, namun Imam Syafi’i tidak memvonis muridnya dan tidak pula menunjukkan kekesalah terhadap Ar Rabi’ yang “slow learner” tersebut.

    Kita sangat jauh levelnya dengan Imam Syafi’i, maka kita bisa mencontoh beliau bagaimana mengajarkan murid dengan penuh keikhlasan dan kesabaran. Terlebih apa yang kita ajarkan, apa yang sedang kita perbaiki adalah masalah akhlak dan adab murid, maka jauh lebih membutuhkan keikhlasan dan kesebaran.

2. Imam Syafi’i memerintahkan Ar-Rabi’ untuk berdo’a kepada Allah sebagai bentuk ubudiyah.

    Di akhir kisahnya, Imam Syafi’i memerintahkan Ar-Rabi’untuk berdo’a kepada Allah, agar Allah mencurahkan ilmu kepadanya, karena Allah yang memiliki ilmu dan Allah lah yang berkuasa untuk memberikan pemahaman ilmu kepada hambaNya. Dan terbukti Ar Rabi’ menjadi ulama besar setelah beliau menjalankan nasihat gurunya Imam Syafi’i.




      Penulis meyakini, jika Imam Syafi’i tidak hanya memerintahkan Ar-Rabi’ untuk berdo’a, namun beliau pun pasti mendo’akan murid-muridnya. Ketika kita merasa berat medidik murid, merasa lelah dan capek, maka perlu kiranya kita memperbaiki hubungan kita dengan Allah. Karena sejatinya, Allah lah yang membolak-balikan hati seorang hamba, Allah lah yang berkuasa atas hidayah seorang hamba. Maka memperbaiki kualitas ibadah kita termasuk di dalamnya seorang guru terus menerus mendo’akan muridnya, agar mereka menjadi generasi rabbani yang memiliki akhlak dan adab yang baik adalah menjadi prioritas utama.

    Suatu kisah, seorang guru selalu menjalankan aktifitas wudhu dan sholat sunnah dhuha sebelum masuk kelas. Ketika ditanyakan kepadanya, “Kenapa Anda melakukan itu tiap hari?”. Maka jawaban beliau adalah, “hari ini jadwal ngajar penuh, artinya bertemu dan berinterasi dengan murid akan sering, maka saya minta kepada Allah, agar Allah melapangkan dada saya, dan Allah berikan pemahaman kepada murid-murid saya.” Maa Syaa Allah...

    Begitulah guru, sebagaimana beban dan tanggung jawabnya yang sangat berat, maka selayaknya guru harus terus menerus mendekat kepada Allah, dan selalu melibatkan Allah dalam menagajar dan mendidik murid. Semoga dengan dekatnya guru kepada Allah, akan mempengaruhi baiknya akhlak dan adab murid. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin...

Wallahu Ta’aalaa A’lam...


Oleh: Hendra Nugroho, S.Pd.I

(Guru al-Qur'an SD IT Hidayatullah Yogyakarta)