Seorang Guru adalah Pahlawan tanpa Tanda Jasa
Oleh: M. Zayan Sugnia*
Ada sebuah kitab yang cukup masyhur dikalangan pesantren-pesantren dan hampir semua pesantren mempelajari kitab tersebut. Namanya yaitu kitab Ta'lim Mutaallim karya Syekh Al Allaamah Az Zarnuji berisi tentang adab belajar dan mengajar, adab murid terhadap guru, adab kepada alat belajar dan banyak lagi yang lain nya.
Dan termasuk didalamnya ada bab yang memberikan kepada kita pencerahan bahwa dalam mencari ilmu itu memang butuh seorang guru yang membimbing kita ke jalan yang diridhoi oleh Allah karena ada maqolah yang mengatakan laulal murobbi maa aroftu Robbi "seandainya bukan karena guruku maka aku tidak akan mengenal Tuhanku" Makna dari maqolah ini sungguh dalam artinya ada kekuatan atau ikatan bathin antara guru dan murid sebagai wasilah mendekatkan diri kepada sang Kholiq yaitu Allah subhanahu wata'ala. Maka tidak heran jika ada orang (murid) yang sangat menggantungkan kehidupannya kepada sang guru artinya setiap keputusan yang dia ambil selalu meminta pendapat dan arahan dari sang guru agar mendapatkan keberkahan.
Termasuk Al faqir disini juga Alhamdulillah Allah taqdirkan masih bisa mengajar ilmu bahkan ilmu yang sangat mulia yaitu Al Qur'an karena guru juga selalu menganjurkan dimana saja kamu berada selalu belajar dan mengajar. Hausnya akan ilmu tidak akan didapat oleh orang yang tidak mau bersabar. Prinsipnya ketika mencari ilmu dan mengajarkan nya yaitu diperlukan kesabaran tidak merasa lebih alim dari yang lain karena pepatah mengatakan diatas langit masih ada langit,carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat.
Ilmu itu bagaikan warisan yang amat bernilai tinggi karena yang mewariskan nya adalah Nabi sendiri kepada para ulama turun temurun sampai umat akhir zaman. Hadits Rasul yang berbunyi ballighuu Anni walau aayat sampaikanlah dariku walau satu ayat, ini cukup bagi kita sebagai motivasi agar selalu menyebarkan ilmu.
Sebagai seorang guru adalah peluang yang cemerlang untuk melanjutkan kerja para Nabi dan Rasul dalam mendidik ummat kejalan yang lurus, itulah mengapa saya (penulis) memilih jalan ini semoga mendapatkankan keberkahannya.
Lika liku seorang guru tentu tidak mudah dan dipenuhi tantangan dan rintangan akan tetapi kalau niat kita kuat dari awal bahwa saya harus jadi guru maka seberat apapun badai menerjang akan tetapi dilalui, masalah pasti akan selalu datang entah dari diri pribadi atau dari orang lain disekitar kita yang terpenting adalah kita jangan sekali kali lari dari masalah tersebut.
Sedari awal lulus pondok pesantren saya meniatkan diri untuk melanjutkan perjuangan dengan mengajar alasannya sederhana karena di pondok kita diajari berbagai ilmu maka eman-eman jika tidak diajarkan kembali, tapi sebetulnya ada rasa-rasa pengen berbisnis atau bekerja selain mengajar tapi semua tidak terealisasi. Akhirnya Allah takdirkan untuk mengajar kembali. Awal mula lulus dari pondok aku sudah belajar mengajar. Waktu itu di Bandung ada sebuah pondok pesantren dan aku bergabung disitu untuk mengisi pelajaran diluar jam KBM, waktunya setelah isya.
Santri-santri yang sudah besar selalu menghampiriku dan meminta untuk diajari ilmu nahwu. Alhamdulillah sedikit² faham dan ketika di pondok nilainya cukup bagus. Meskipun statusku bukan pengajar waktu itu karena masih harus menyelesaikan hafalan Al Qur'an.
Seiring berjalan nya waktu akupun tertarik untuk menapaki jenjang kuliah karena waktu dipondok aku hanya lulus madrasah Aliyah (MA). Akhirnya aku ditawari untuk masuk kampus oleh kakekku dan beliau sebagai ketua yayasannya nama kampusnya STIT Sekolah Tinggi IImu Tarbiyah.
M. Zayan Sugnia, Guru SD IT Hidayatullah Yogyakarta