Oleh: Ayun Afifah, S.Pd.
Mengenal Halaqah dalam Sistem Pendidikan Islam
Halaqah dalam sistem pendidikan Islam adalah istilah yang sudah tidak asing lagi. Secara etimologi, halaqah yang berasal dari bahasa Arab yaitu halaqo, yahluqo yang berarti lingkaran. Menurut istilah, halaqah merupakan perkumpulan 2 orang atau lebih, yang membahas urusan-urusan keilmuan, khususnya ilmu agama. Halaqah sudah menjadi metode pendidikan yang dilakukan sejak zaman Rasulullah, yang kemudian diteruskan di pesantren, madrasah, masjid-masjid, kampus, sekolah maupun lingkungan masyarakat pada umumnya sekarang ini. Rasulullah, yang bertempat di rumah-rumah para sahabat terutama rumah Al-Arqam bin Abil Arqam membimbing dan mendidik para sahabat dalam upaya dakwah untuk menanamkan akidah Islam serta pembebasan manusia dari segala bentuk penindasan.
Di lingkungan SD IT Hidayatullah Yogyakarta, metode pendidikan yang digunakan selain metode formal yang menggunakan kurikulum dari Dinas Pendidikan, juga menggunakan Kurikulum Integral Berbasis Tauhid. Kurikulum Integral Berbasis Tauhid (KIBT) SDIT Hidayatullah adalah sistem pendidikan yang memadukan kurikulum nasional dan nilai-nilai keislaman secara menyeluruh. Kurikulum ini menempatkan nilai keesaan Allah (Tauhid) sebagai pusatnya, guna membentuk kepribadian peserta didik yang cerdas secara akademik, berakhlak mulia, dan memiliki pemahaman agama yang kuat.
Beberapa pilar utama implementasi kurikulum ini meliputi:
• Integrasi Keilmuan: Menggabungkan sains dan pengetahuan umum dengan nilai-nilai agama dalam setiap mata pelajaran untuk membangun karakter.
• Pembentukan Karakter: Penanaman adab sebelum ilmu dan pembiasaan ibadah harian, seperti tahsin dan tahfidz Al-Qur'an.
• Keteladanan Guru: Guru berfungsi tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai teladan (role model) dalam menerapkan nilai Tauhid di lingkungan sekolah.
Penerapan kurikulum ini bertujuan menghasilkan generasi yang seimbang secara ruhiyah (spiritual), aqliyah (intelektual), dan jismiyah (fisik).
Salah satu metode yang digunakan dalam melaksankan KIBT ini adalah dengan metode halaqah. Dalam halaqah ini terdiri dari 2 unsur penting yaitu murabbi/ murabbiyah dan peserta halaqah. Murabbi/ murabbiyah adalah Ustadz/ah pengajar yang memberikan materi kepada peserta halaqah yaitu para murid di SD IT Hidayatullah. Sebagai seorang murabbi dan murabbiyah selain penguasaan materi juga perlu kemampuan skill komunikasi dan kedekatan kepada peserta halaqah agar materi dapat tersampaikan dengan baik. Untuk jadwal halaqah di SD IT Hidayatullah biasa diisi dengan materi: doa, hadis, sirah nabawiyah, asmaul husna, dan keputrian/ keputraan, dan materi lainnya sesuai kebutuhan. Untuk metode halaqah bisa bervariasi diantaranya bisa metode ceramah, diskusi, menulis, quiz, tebak-tebak-an dan lain sebagainya.
***
Hari rabu ini jadwalku mengisi halaqah setelah Ananda melaksanakan shalat dhuhur di kelas 2B dengan materi Sirah Nabawaiyah. Karena sedang suasana Ujian Akhir Sekolah, aku ingin membuat metode yang berbeda. Hari ini aku memberikan tugas kepada anak-anak untuk menuliskan tokoh idola dan cita-cita mereka pada selembar kertas. Hanya itu intruksi yang disampaikan, tanpa ada arahan, atau intervensi terhadap apa yang akan mereka tuliskan. Aku ingin mengetahui dan menggali siapakah tokoh idola mereka, dan mengapa mengidolaknnya juga cita-cita yang ingin mereka wujudkan di masa depan nanti dan kenapa mereka ingin bercita-cita seperti itu.
Setelah selesai mereka menuliskan, aku meminta mereka membacakannya satu per satu. Mendengarkan mereka membacakan tokoh idola mereka, rasanya aku harus banyak-banyak beristighfar ya. Ternyata, sebagian besar mereka menuliskan tokoh idola mereka adalah artis, youtuber, konten kreator, K-Pop, dan tokoh kartun. Namun, ada 2 anak yang cukup berbeda daripada anak-anak yang lain, yang menuliskan tokoh idola mereka adalah Nabi Muhammad SAW, juga ayah ibu, dan kakaknya.
Membaca tulisan mereka, alasan mereka menuliskan tokoh idola mereka adalah artis adalah karena mereka lucu, seru, atau asyik, dan bikin ketawa. Ya, tentu saja apa yang mereka lihat dan tonton atau lewat setiap hari di layar gawai mereka, akan menjadi kesukaan atau tokoh yang mereka sukai atau idolakan. Walau setiap pekan di sekolah terdapat materi shirah nabawiyah untuk mengenalkan pribadi, keluarga, dan kehidupan Rasulullah ternyata belum sepadan dengan tontonan yang mereka lihat setiap hari.
Sebenarnya anak-anak juga tak dapat disalahkan sepenuhnya. Namanya anak-anak, mereka masih sangat perlu bimbingan dari kita para orangtua dan guru-guru di sekolah. Jadi disitulah, kesempatan bagi kita untuk memberikan pengarahan dan penguatan kepada mereka siapakah tokoh idola yang harus kita contoh dan teladani perilakunya. Saya menyampaikan bahwa manusia terbaik yang sebaiknya kita jadikan tokoh idola adalah nabi kita, Nabi Muhammad SAW. Nabi Muhammad adalah kekasih Allah, dalam pribadi dan kehidupan beliau memberikan teladan yang harus kita ikuti. Karena itulah maka kita perlu mengenal beliau lebih mendalam salah satunya dengan belajar sirah nabawiyah ini. Dengan meneladani beliau, maka kita pun akan mendapatkan pahala karena mengikuti sunnahnya, dan in sya Allah akan menjadi tabungan pahala kita agar dapat masuk surga.
Jadi, tentunya tak cukup materi atau pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah saja. Bersinergi dengan orangtua untuk memantau dan memilihkan tontonan yang “aman” bagi anak-anak tentunya sangatlah diperlukan. Memberi batasan dan jadwal dengan gadget juga perlu dilakukan agar anak-anak tidak kecanduan gadget, mengalami brain root dan menjadi malas belajar yang membuat prestasi mereka di sekolah menjadi menurun. Agar ananda dapat mengenal kehidupan Rasulullah dan meniru perilaku serta sunnahnya, maka memberikan tontonan dengan kehidupan Rasulullah, membacakan buku tentang shirah nabawiyah dan yang pasti berusaha meneladani kehidupan beliau dapat kita lakukan. Dengan hal-hal tersebut, kita berharap anak-anak kita lebih mengenal kehidupan Rasullullah dan memilih Rasulullah menjadi tokoh idola yang ingin sekali ditiru perbuatannya.
Tulisan salah satu anak yang cukup membuatku bahagia dan merasa yakin masih banyak harapan yang bisa kita tanamkan pada anak-anak kita yaitu tulisan dari Mba Shanum. Mba Shanum menuliskan dalam kertasnya:
Idolaku adalah Nabi Muhammad, alasannya adalah:
“Karena Nabi Muhammad sabar,penyayang, dan selalu menepati janji. Terus juga baik, jujur, pokoknya itulah aku suka Nabi Muhammad.”
Cita-cita: Dokter dan dosen
Alasannya karena dokter menolong yang sakit. Kalau dosen karena aku jadi dosen di UGM kayak ayahku dan aku pengen sukses dan masuk surga.
Maa sya Allah semoga Allah kabulkan ya Mba ...
***
Poin selanjutnya yang ingin kuketahui dari muridku adalah apa cita-cita mereka. Jawaban mereka ternyata sangat bervariasi sekali dari mulai ingin menjadi guru, polisi wanita, tentara, pengusaha, hingga menjadi youtuber dan konten kreator. Tak dapat dipungkiri, anak-anak sekarang ini memang sangat familiar dengan gawai dan menjadikan apa yang lewat dalam tontonan mereka menjadi panutan. Maka cita-cita mereka pun bisa jadi sesuai dengan keseharian yang mereka lihat setiap hari.
Maka terkait cita-cita ini aku hanya berpesan pada mereka, ingin menjadi apapun mereka di masa yang akan datang, maka pilihlah yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga,bangsa dan negara. Jangan lupa melakukan sesuatu dengan mempertimbangkan manfaat dan mudharat, perbuatan itu akan mendapat pahala ataukah dosa, karena kita harus ingat semua yang kita lakukan akan dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT.
Memasukkan nilai-nilai tauhid dalam waktu yang sempit saat sesi halaqah adalah jalan dakwah yang kulakukan kepada anak-anak murid-muridku di sekolah. Aku berharap hal tersebut dapat menjadi bekal dalam kehidupan mereka. Semoga menjadi amal shalih shalihah yang Allah ridhai dan mendapatkan pahala balasan yang terbaik dari Allah SWT. Aku senantiasa berdoa, semoga anak-anak menjadi generasi Islami yang mempunyai prinsip kuat, tetap menjadikan Nabinya sebagai idola dan cita-citanya berjuang untuk kehidupan umat yang lebih baik. Aamiin.
Sumber Referensi Tulisan:
1. https://www.detik.com/hikmah/dakwah/d-6
825514/mengenal-halaqah-sistem-pendidikan-zaman-rasulullah
825514/mengenal-halaqah-sistem-pendidikan-zaman-rasulullah
2. https://hidayatullah.or.id/kurikulum-integral-berbasis-tauhid-mampu-mewujudkan-tujuan-pendidikan/


