Prof. El-Awaisi: Ikat Hafalanmu Dengan Murojaah!


Pada Sabtu, 12 Maret 2022 SDIT Hidayatullah berkesempatan melakukan wawancara singkat kepada Prof. Dr. Abd Al-Fattah El-Awaisi, seorang penulis dan peneliti muslim dari Palestina yang turut menyaksikan beberapa saat pelaksanaan pra munaqosyah. Tanya jawab menggunakan bahasa Arab, adapun terjemahannya kurang lebih sebagai berikut:

1. Bagaimana pandangan Profesor terhadap proses pembelajaran al-Qur'an (pra munaqosyah) yang sedang berlangsung ini?

️ Pertama, kegiatan terlaksana dengan sangat tertib, para pengajar pun sangat istimewa, menguasai hal tersebut (memiliki kompetensi). Kedua, saya belum pernah melihat di tempat lain seperti kegiatan ini; ada upaya integrasi yang baik di antara para pengajar di mana masing-masing menguji materi yang berbeda. Ini bagus untuk murid dan juga bagus untuk guru.

2. Menurut profesor, bagaimana kualitas bacaan al-Qur'an murid?

️ Ma syaa Allah, tadi saya telah ikut menyimak halafan mereka, ketika dia (murid perempuan-red) membaca surat An Naba', dia hanya salah satu kali pada kelancaran/tartil, akan tetapi mengenai kualitas hafalannya dan makharijul huruf, seolah olah dia adalah orang Arab (karena kefasihan dalam membaca al Qur'an).

3. Mohon berikan nasihat untuk murid-murid kami, Profesor..

️ Nasihat untuk anak-anakku: Hafalkanlah al-Qur'an dan selalulah mengulang-ulangnya (murojaah), karena sesungguhnya hafalan al-Quran itu lebih cepat hilang daripada lepasnya unta dari ikatannya. Maka Hafalkanlah dan terus diulang-ulang sebab jika kalian tidak mengulangnya maka niscaya akan hilang surat-surat dan ayat-ayat yang sudah kalian hafalkan.

4. Terakhir, adakah saran dan harapan Profesor untuk murid-murid kami ke depannya?

️ Saya harap mereka terus bersemangat dalam menghafalkan kitabullah (al Qur'an), senantiasa memperbaiki tadwidnya dan memahami maknanya, namun tak cukup sampai situ saja, juga mentadaburi maknanya. Karena menghafal itu penting akan tetapi yang lebih penting di atas itu adalah memahami dan mentadabburi isi al-Qur'an al-Kariim. Baarakallahu fiikum.

Terima kasih sebesarnya kami haturkan atas kunjungan dan motivasinya, semoga Allah selalu menjaga engkau di mana pun berada, wahai Profesor. Jazaakumullaahu khairan wa baarakallahu fiik, Allaahumma aamiin.

Rep: Ida Nahdhah

Belajar Tentang Adab

Adab Pribadi Seorang Murid (1) Bersama Ustadz Sunarno 


Adab Pribadi Seorang Murid (2) Bersama Ustadz Mohammad Mukhtar Yahya, S.Sos. 


Adab Pribadi Seorang Murid (3) Bersama Ustadz Mohammad Haris, S.P.


 

Saatnya Bergerak

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣
Waktu kalian sangat pendek. Hidup di dunia ini hanya sebentar. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali berusaha menjadi mukmin yang kuat, sebab mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih Allah cintai. Kalau kemudian ada di antara kita yang tak mampu meraihnya, tetapi kita sudah berusaha dengan gigih tak kenal lelah, maka selagi iman masih di dada, sungguh masing-masing berada dalam kebaikan. Allah Jalla wa ‘Ala mencintai mukmin yang kuat maupun mukmin yang lemah.⁣
Mukmin. Maka jadilah kalian orang beriman. Jangan tinggalkan iman ini dalam keadaan apa pun dan mohonlah terus-menerus kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar dikarunai kekuatan iman. Tidak berbelok sesudah mendapatkan petunjuk.⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ⁣
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qaddarullah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya).⁣
Perhatikanlah jalan yang harus kita tempuh agar menjadi mukmin yang kuat. Sesungguhnya, tidaklah Rasulullah ﷺ berbicara kecuali senantiasa dalam bimbingan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka perhatikanlah dengan sungguh-sungguh, kuatkan dalam dirimu:⁣
• Hirsh ‘Ala Manfa’ah – Kesungguhan, semangat menyala-nyala terhadap segala hal, sekali lagi segala hal, yang bermanfaat. Karena itulah di masa lalu kita mendapati orang-orang shalih yang sangat ahli dalam beragam bidang. Apa kuncinya? Mereka tidak menghabiskan umur untuk bertanya apa bakatku, tetapi mereka mengerahkan tenaga dan perhatian, bersungguh-sungguh terhadap segala yang bermanfaat bagi kehidupan dan akhiratnya.⁣
• Isti’anah. – Mintalah pertolongan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikan, apa yang Rasulullah ﷺ perintahkan sesudah menyuruh kalian bersungguh-sungguh terhadap segala hal yang bermanfaat bagi kalian? وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ. Mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Sombong orang yang merasa cukup dengan usahanya, lalu tidak mau berdo’a meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
• Iradah ilal Khair – Kehendak yang kuat kepada kebaikan. Sungguh himmah yang tinggi, kehendak kuat kepada kebaikan dan kemuliaan yang sangat besar diiringi hawa nafsu yang khusyuk tunduk merupakan pintu segala akhlak mulia.⁣
• Tidak Merasa Lemah, Sial, Apes – Kata Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam: “وَلاَ تَعْجِزْ.” Sungguh, cara berjalan seseorang yang tidak sempurna, buta warna atau berbagai hal yang disebut manusia sebagai kekurangan, bukanlah sebab keburukan.⁣
• Imani dan Ridha Kepada Takdir. Bukan membiarkan diri kalian tenggelam kepada masa lalu dengan mengatakan “لَوْ”, sebab ini merupakan pembuka ‘amalan syathan.⁣
Jadi, apa pun yang terjadi, bergeraklah ke masa depan. Tataplah dengan tajam. Kerahkan upaya dengan sungguh-sungguh, sementara pada saat yang sama kalian meminta pertolongan sepenuh harapan kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.⁣
Inilah jalan untuk membangkitkan himmah –tekad kuat beriring semangat menyala untuk suatu tujuan yang jelas. Himmah yang tinggi (himmah ‘aliyah) dan niat yang shahih itulah yang akan mengantarkan kalian meraih cita-cita, sebagaimana nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Fawaidul Fawaid:⁣
المطلب الأعلى موقوف حصوله على همة عالية ونية صحيحة⁣
“Cita-cita yang tinggi tergantung kepada himmah 'aliyah (motivasi yang tinggi, luhur) dan niyyah shahihah (niat yang shahih)."⁣
Dan kalian tidak akan sampai kepada niat yang shahih kecuali dengan memperbaiki iman kalian dan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua kalian karena ingin meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya do’a yang tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala adalah do’a orangtua untuk anaknya.⁣
Maka jagalah ucapan kalian, perbaiki akhlak kalian kepada kedua orangtua dan berusahalah untuk senantiasa mentaati mereka selama tidak melanggar larangan Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
Selanjutnya, jagalah himmah kalian dengan tidak memperbuat perusak-perusaknya. Apa perusaknya yang paling besar? Banyak bicara yang remeh-temeh, tidak bermanfaat dan tidak menambah kebaikan apa pun.⁣
Hindari pula menjadi musafsaf. Siapa itu? Salah satu golongan yang dibenci Allah. Seperti apa musafsaf itu? Ada dua macam. Pertama, orang yang setiap hari banyak menghabiskan umurnya untuk hal-hal yang remeh-temeh, receh-receh; senang membicarakan yang receh-receh; أتباعُ كلِّ ناعقٍ (mengikuti setiap yang teriak, setiap yang viral meskipun sangat tidak ada manfaatnya). Kedua, orang yang menampakkan diri seolah-olah hebat, mengesankan sangat kaya padahal tidak, mengesankan jadi orang terpandang, padahal tidak.⁣
Terakhir, kepada Ayah Bunda, sepenat apa pun, jagalah agar tidak pernah berucap serampangan terhadap anak-anak yang akan menggenggam negeri ini 20 – 30 tahun yang akan datang. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:⁣
لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ⁣
“Jangan kalian mendo’akan keburukan atas diri kalian. Jangan kalian mendo’akan keburukan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendo’akan keburukan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim).⁣
Catatan:⁣
Pesan akhir tahun ajaran untuk murid-murid SDIT Hidayatullah Sleman, Yogyakarta pagi ini, in sya Allah.

Guru


Penulis : Salim Afillah

Seperti apakah kedudukan seorang guru di hatimu?

“Dia yang mengajariku seayat ilmu”, begitu dikatakan oleh Sayyidina ‘Ali ibn Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu, “Sungguh memiliki hak untuk memperbudakku.”

“Seseorang bertanya pada Iskandar Al Maqduni, murid Aristun”, demikian dikisahkan oleh Imam Ibn Rusyd, “Mengapa kau doakan gurumu dua kali sedangkan ayahmu hanya sekali?” Dia menjawab, “Karena Ayahku menjadi wasilah bagi kehidupanku di dunia. Sementara Guruku menjadi perantara bagi hidupku di akhirat nanti. Seandainya Ayahku sekaligus menjadi Guruku, pastilah akan kudoakan dia tiga kali.”
KLIK DI SINI >> INFORMASI MURID BARU 2020/2021 

Betapa mulia dia yang memegang saham keberhasilan kita, tanpa pernah mengambil bagi hasil di dunia. Dia yang meniupkan nafas cintanya, hingga kuncup-kuncup jiwa kita mekar menjadi bunga.

Siapakah sejatinya Guru?
Guru adalah insan yang tak henti belajar, bahkan pada yang jauh lebih muda dan tentang apa yang telah diketahuinya. “Kusimak tiap riwayat ilmu dengan sepenuh hormat”, ujar Imam Atha’ ibn Abi Rabah, “Meski sebenarnya aku telah menghafalnya, jauh sebelum penyampainya lahir ke dunia. Penghormatannya pada ilmu, menepikan segala rasa bangga.

Guru adalah yang paling bersemangat mendapatkan pemahaman seperti dikatakan Imam Asy Syafi’i, “Aku terhadap ilmu seperti seorang ibu yang mencari anak semata wayangnya yang tersayang dan hilang. Dan ketika menyimak ilmu, sungguh aku berharap bahwa seluruh tubuhku adalah telinga.”

Demikianlah sebab guru yang mandeg belajar adalah murid yang paling gagal. Berhenti memburu ilmu adalah cela bagi yang tua dan celaka bagi yang muda.

Tapi ilmu bagi Guru seakan penghias bagi sesuatu yang lebih tinggi nilainya: Adab. “Jadikan ilmu sebagai garamnya, dan Adab itulah tepungnya”, kata Imam Asy Syafi’i menggambarkan “roti” penopang kehidupan. “Hampir-hampir Adab itu senilai dua pertiga agama”, kata Imam Ibn Al Mubarak.

“Pada seorang Guru yang sebenarnya berilmu”, ujar Ibn ‘Athaillah As Sakandary,

“‘Akan kau reguk Adab yang tak disediakan oleh buku-buku.”

“Aku lebih menyukai santri yang ahli khidmah”, demikian disimpulkan oleh salah seorang junjungan ummat, Sayyid Muhammad ‘Alawy Al Maliki Al Hasani, Ayahanda dari Abuya Sayyid Ahmad yang berkenan menyuapi kami di gambar ini, “Daripada yang sekedar pandai. Karena dengan khidmahnya dia belajar Adab. Adab itulah yang akan menjadikan ilmu memiliki makna.”

Walau telanjur kita dianggap berilmu, jangan malu untuk berkata “Aku tak tahu”, dengannya Allah-lah yang kan jadi Seagung Guru, membimbing kita selalu.

Salim Afillah, Penulis Buku
Foto Anik Maendra

Kisah Pemuda Shalih dan Seekor Merpati



www.sdithidayatullah.net || Alkisah, ada seorang guru yang sedang dalam majelis ilmu bersama para muridnya. Di akhir penyampaian materi, Sang Guru memberikan seekor Burung Merpati kepada setiap murid yang hadir.

"Sembelihlah Merpati itu untukku dan bawalah esok hari. Ingat, saat kalian menyembelihnya, jangan sampai ada yang melihat." Pesan Guru tersebut.

Keesokan harinya, semua murid berkumpul sembari membawa Merpati di tangan masing-masing. Merekapun mengembalikan Merpati kepada Sang Guru. Ada yang sudah mengolahnya menjadi masakan yang menggugah selera, ada pula yang hanya membawa seonggok bangkai Merpati yang sudah disembelih sesuai perintah Guru.

Di tengah hiruk pikuk penyerahan Bangkai Merpati, majulah seorang pemuda sederhana, sebut saja namanya Ahmad. Ia membawa kembali seekor Merpati, akan tetapi dalam keadaan masih hidup.
Murid yang lain merasa heran, bahkan menertawakannya dan tidak sedikit yang mencibirnya. Ia dianggap tidak patuh terhadap perintah Sang Guru. Sang Pemuda hanya tersenyum dan menyerahkan Merpati di tangannya kepada Sang Guru.

"Mengapa tidak kau lakukan perintahku ya Ahmad? Bukankah itu permintaan yang teramat mudah? Lihatlah sekelilingmu, semua telah melaksanakan tugas mereka dengan baik, bahkan ada yang sudah memasaknya." selidik Sang Guru.

Dengan tenang, Ahmad menjawab,
"Maafkan saya, Ustadz. Merpati ini belumlah saya sembelih karena saya tidak kunjung menemukan tempat dimanapun yang tidak ada sesiapa melihat.
Dari Timur ke Barat, dari Selatan ke Utara;  tidak jua saya temukan. Dan meski menyusuri setiap tempat di dunia ini, saya haqqul yakin, tidak akan menemukannya.

Mengapa seperti itu?
Karena saya merasa bahwa Allah 'azza wa jalla selalu melihat saya dimanapun saya berada. Allah selalu bersama saya di setiap aktifitas saya. 24 jam, tiap menitnya, tiap detiknya. Bahkan lebih dekat dari urat nadi saya sendiri..
Maka bagaimana saya bisa menyembelih Merpati ini, sedang Allah selalu bersama saya?"

Karena saya merasa Allah selalu mengawasi..

Sang Guru tersenyum, dan semua murid yang hadir terdiam. Sembari menepuk lembut pundak Pemuda tadi, Guru tersebut menuturkan,

"Kau benar, wahai Anakku. Pada kesempatan kali ini, Ustadz hanya ingin menyampaikan kepada kita semua bahwa dimanapun kita berada, Allah senantiasa mengawasi kita. Ingatlah, bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla berfirman dalam Surat Al Hadid ayat 4;

هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِى ٱلْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

"Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan."

Allah bisa melihat semut hitam yang berjalan di atas batu hitam di langit yang kelam. Tak ada selembar daun pun yang jatuh ke bumi tanpa Allah melihatnya. Tidak pula daun kering atau basah kecuali Allah melihatnya.

Allah bisa melihat meski itu hanya sebesar dzarrah. Pandangan Allah meliputi bumi hingga langit ke 7.

Allah Maha Melihat, Anakku!
Allah bukan cuma bisa melihat yang zahir. Tapi juga bisa melihat yang ghaib. Melihat isi hati manusia. Allah Ta’ala berfirman:

“Katakanlah – wahai Muhammad, sekalipun engkau semua sembunyikan apa-apa yang ada di dalam hatimu ataupun engkau sekalian tampakkan, pasti diketahui juga oleh Allah.” (Ali-Imran ayat 29)

Karena itu jika kita ingin berbuat dosa seperti bermaksiat, mencuri, menyontek dan sebagainya, ingatlah: meski tidak ada orang yang tahu, tapi Allah melihat perbuatan kita. Allah melihat kita setiap saat. Allah melihat kita di setiap waktu!

Begitu pula malaikat Roqib dan ‘Atid yang ada di sisi kanan dan kiri kita mencatat perbuatan kita. Kelak perbuatan kita akan dibalas oleh Allah SWT. Inna Robbaka labil mirshod.. Sesungguhnya Tuhan mu benar-benar mengawasi.

"Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi" (Al Fajr 89: 14)

Allah Maha Melihat, Anakku!
Maka lakukanlah perbuatan yang dicintai Allah, perbuatan yang disenangi Allah, dan yang mendatangkan keridhoan-Nya kepada kita.

Sesungguhnya denyut hati yang tersirat atau bisikan di tengah kegelapan malam, semuanya selalu dalam pengawasan-Nya..

*Disadur dari Tausiyah oleh Ustadz Muhammad Haris, pada Apel Senin pagi.
Tausiyah Oleh Ustadz Muhammad Haris, S.P

Bertakwalah Dimana Saja, dan Teruslah Berbuat Kebaikan..!



www.sdithidayatullah.net || (Senin/15/1/2018). Segala puji bagi Allah Sang Penggenggam segala sesuatu, pagi ini Upacara Bendera di SDIT Hidayatullah berlangsung dengan lancar dan khidmat, dinaungi bias redup cahaya matahari yang tertahan oleh awan, syahdu.

Bertugas sebagai Pembina Upacara pagi ini, Ustadz Arief Firmansyah dalam tausiyahnya menyampaikan sebuah hadits dari Abu Dzar Al Ghifari radhiallaahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallaahu 'alaihi wa sallam bersabda,

اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ..*

"Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik."


Lebih lanjut Ustadz Arief menjelaskan kandungan hadist di atas kepada seluruh Peserta Upacara;

1. Takwa kepada Allah merupakan kewajiban setiap muslim dan ia merupakan syarat diterimanya amal shaleh.
2. Marilah bersegera melakukan ketaatan setelah kita melakukan keburukan, iringi segera dengan perbuatan baik, karena kebaikan akan dapat menghapus keburukan.
3. Bersungguh-sungguh menghias diri dengan akhlak mulia.
4. Menjaga pergaulan yang baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan dan ketenangan di dunia dan akhirat. Hal tersebut dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.


Ustadz Arief juga mengiringi penjelasannya dengan beberapa kisah salafus shalih terkait ketakwaan mereka kepada Allah, juga kebaikan akhlak mereka. Anak didik terlihat antusias dan semangat menyimak kisah-kisah tersebut, sebab disampaikan dengan bahasa yang lugas dan komunikatif.
Semoga kita semua bisa mengambil ilmu dan ibrah dari apa yang sudah disampaikan oleh Ustadz Arief. Allaahumma aamiin.

*Penjelasan hadits: Diriwayatkan oleh Imam Ahmad/21354, Imam At-Tirmidzi/1987, dan Ia berkata: ‘Hadits ini Hasan Shahih’.

Laporan & Foto: Ida Nahdhah