Saatnya Bergerak

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim⁣
Waktu kalian sangat pendek. Hidup di dunia ini hanya sebentar. Tidak ada pilihan bagi kita kecuali berusaha menjadi mukmin yang kuat, sebab mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih Allah cintai. Kalau kemudian ada di antara kita yang tak mampu meraihnya, tetapi kita sudah berusaha dengan gigih tak kenal lelah, maka selagi iman masih di dada, sungguh masing-masing berada dalam kebaikan. Allah Jalla wa ‘Ala mencintai mukmin yang kuat maupun mukmin yang lemah.⁣
Mukmin. Maka jadilah kalian orang beriman. Jangan tinggalkan iman ini dalam keadaan apa pun dan mohonlah terus-menerus kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar dikarunai kekuatan iman. Tidak berbelok sesudah mendapatkan petunjuk.⁣
Rasulullah ﷺ bersabda:⁣
الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ⁣
“Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih Allah cintai daripada seorang mukmin yang lemah, dan masing-masing berada dalam kebaikan. Bersungguh-sungguhlah pada perkara-perkara yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu katakan: ‘Seandainya aku berbuat demikian, pastilah akan demikian dan demikian’ Akan tetapi katakanlah: ‘Qaddarullah wa maa syaa fa’ala (Allah telah mentakdirkan hal ini dan apa yang dikehendaki-Nya pasti terjadi)’. Sesungguhnya perkataan ‘Seandainya’ membuka pintu perbuatan setan.” (HR. Ahmad 9026, Muslim 6945, dan yang lainnya).⁣
Perhatikanlah jalan yang harus kita tempuh agar menjadi mukmin yang kuat. Sesungguhnya, tidaklah Rasulullah ﷺ berbicara kecuali senantiasa dalam bimbingan Allah ‘Azza wa Jalla. Maka perhatikanlah dengan sungguh-sungguh, kuatkan dalam dirimu:⁣
• Hirsh ‘Ala Manfa’ah – Kesungguhan, semangat menyala-nyala terhadap segala hal, sekali lagi segala hal, yang bermanfaat. Karena itulah di masa lalu kita mendapati orang-orang shalih yang sangat ahli dalam beragam bidang. Apa kuncinya? Mereka tidak menghabiskan umur untuk bertanya apa bakatku, tetapi mereka mengerahkan tenaga dan perhatian, bersungguh-sungguh terhadap segala yang bermanfaat bagi kehidupan dan akhiratnya.⁣
• Isti’anah. – Mintalah pertolongan hanya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Perhatikan, apa yang Rasulullah ﷺ perintahkan sesudah menyuruh kalian bersungguh-sungguh terhadap segala hal yang bermanfaat bagi kalian? وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ. Mintalah pertolongan hanya kepada Allah. Sombong orang yang merasa cukup dengan usahanya, lalu tidak mau berdo’a meminta pertolongan kepada Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
• Iradah ilal Khair – Kehendak yang kuat kepada kebaikan. Sungguh himmah yang tinggi, kehendak kuat kepada kebaikan dan kemuliaan yang sangat besar diiringi hawa nafsu yang khusyuk tunduk merupakan pintu segala akhlak mulia.⁣
• Tidak Merasa Lemah, Sial, Apes – Kata Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam: “وَلاَ تَعْجِزْ.” Sungguh, cara berjalan seseorang yang tidak sempurna, buta warna atau berbagai hal yang disebut manusia sebagai kekurangan, bukanlah sebab keburukan.⁣
• Imani dan Ridha Kepada Takdir. Bukan membiarkan diri kalian tenggelam kepada masa lalu dengan mengatakan “لَوْ”, sebab ini merupakan pembuka ‘amalan syathan.⁣
Jadi, apa pun yang terjadi, bergeraklah ke masa depan. Tataplah dengan tajam. Kerahkan upaya dengan sungguh-sungguh, sementara pada saat yang sama kalian meminta pertolongan sepenuh harapan kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.⁣
Inilah jalan untuk membangkitkan himmah –tekad kuat beriring semangat menyala untuk suatu tujuan yang jelas. Himmah yang tinggi (himmah ‘aliyah) dan niat yang shahih itulah yang akan mengantarkan kalian meraih cita-cita, sebagaimana nasehat Ibnu Qayyim Al-Jauziyah dalam Fawaidul Fawaid:⁣
المطلب الأعلى موقوف حصوله على همة عالية ونية صحيحة⁣
“Cita-cita yang tinggi tergantung kepada himmah 'aliyah (motivasi yang tinggi, luhur) dan niyyah shahihah (niat yang shahih)."⁣
Dan kalian tidak akan sampai kepada niat yang shahih kecuali dengan memperbaiki iman kalian dan berbuat kebajikan kepada kedua orangtua kalian karena ingin meraih ridha Allah ‘Azza wa Jalla. Sesungguhnya do’a yang tidak ada penghalang antara dirinya dengan Allah Ta’ala adalah do’a orangtua untuk anaknya.⁣
Maka jagalah ucapan kalian, perbaiki akhlak kalian kepada kedua orangtua dan berusahalah untuk senantiasa mentaati mereka selama tidak melanggar larangan Allah ‘Azza wa Jalla.⁣
Selanjutnya, jagalah himmah kalian dengan tidak memperbuat perusak-perusaknya. Apa perusaknya yang paling besar? Banyak bicara yang remeh-temeh, tidak bermanfaat dan tidak menambah kebaikan apa pun.⁣
Hindari pula menjadi musafsaf. Siapa itu? Salah satu golongan yang dibenci Allah. Seperti apa musafsaf itu? Ada dua macam. Pertama, orang yang setiap hari banyak menghabiskan umurnya untuk hal-hal yang remeh-temeh, receh-receh; senang membicarakan yang receh-receh; أتباعُ كلِّ ناعقٍ (mengikuti setiap yang teriak, setiap yang viral meskipun sangat tidak ada manfaatnya). Kedua, orang yang menampakkan diri seolah-olah hebat, mengesankan sangat kaya padahal tidak, mengesankan jadi orang terpandang, padahal tidak.⁣
Terakhir, kepada Ayah Bunda, sepenat apa pun, jagalah agar tidak pernah berucap serampangan terhadap anak-anak yang akan menggenggam negeri ini 20 – 30 tahun yang akan datang. Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:⁣
لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَوْلَادِكُمْ وَلَا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ لَا تُوَافِقُوا مِنْ اللهِ سَاعَةً يُسْأَلُ فِيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ⁣
“Jangan kalian mendo’akan keburukan atas diri kalian. Jangan kalian mendo’akan keburukan atas anak-anak kalian. Jangan kalian mendo’akan keburukan atas harta kalian. Jangan sampai kalian menepati suatu waktu yang pada waktu itu Allah subhanahu wa ta’ala diminta sesuatu lantas Dia kabulkan bagi kalian.” (HR. Muslim).⁣
Catatan:⁣
Pesan akhir tahun ajaran untuk murid-murid SDIT Hidayatullah Sleman, Yogyakarta pagi ini, in sya Allah.

Memuji Tapi Tak Mendengarkan

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Bukan telinga kita yang hilang, bukan pula pendengaran. Dua telinga Allah Ta’ala berikan dan keduanya memiliki ketajaman menangkap suara dengan baik. Pendengaran berfungsi normal. Tidak jarang sedemikian tajam. HP yang sedang mode sunyi diletakkan di lantai, saat bergetar pun dengan sigap kita menangkapnya. Bukan karena merasakan getarnya, tetapi karena ada suara yang cepat tertangkap telinga.

Apakah yang terjadi pada diri kita? Suara motor berubah sedikit saja, segera gelisah hati kita karena khawatir ada masalah di sana. Begitu pula saat pintu mobil tak tertutup rapat saat kita mengemudi, telinga kita segera menangkap keanehan suara. Kita segera tahu karena begitu dekat dan penuh perhatian, sehingga merasa tidak mengkhususkan diri untuk mendengarkan pun, kita segera mengenalinya. Tetapi alangkah banyak anak yang tidak betah berbincang dengan kita sebab kita pun tak sabar mendengarkan penuturan mereka. Kita mendengar, tetapi bukan mendengarkan.
KLIK DI SINI : INFO MURID BARU 2020/2021

Bersebab tidak adanya kesabaran itulah maka kita tidak betah berlama-lama membiarkan mereka bertutur berbagi cerita. Baru saja ia mengungkapkan isi hati, buru-buru kita berpanjang-panjang menasehati. Baru saja anak bercerita, panjang lebar kita berkhotbah. Sementara ketika anak berbagi gagasan, bukan rasa antusiasme yang kita tunjukkan, tetapi hujan pujian yang kita berikan. Padahal saat anak membicarakan gagasan, bahkan sekedar cerita, yang ia perlukan adalah telinga yang mau bersungguh-sungguh mendengarkan. Bukan pujian. Apalagi pujian tergesa-gesa. Tidak tulus pula.


Malu rasanya mengingat akhlak Atha’ bin Abi Rabah, seorang ulama besar dari kalangan tabi’in. Ia seorang ahli tafsir, ahli fiqih dan perawi hadis. Tetapi tengoklah bagaimana akhlaknya saat mendengarkan penuturan orang muda. Atha' bin Abi Rabah rahimahuLlah berkata, “Ada seseorang laki-laki menceritakan kepadaku suatu cerita, maka aku diam untuk benar-benar mendengarkannya seolah-olah aku tidak pernah mendengar cerita itu. Padahal sungguh aku pernah mendengar cerita itu sebelum ia dilahirkan.”

Inilah nasehat Atha’ bin Abi Rabah rahimahuLlah kepada murid-muridnya dan kepada kita semua; nasehat yang ditunjukkan dengan memberi contoh. Betapa bersemangatnya kita apabila saat bertutur disambut dengan kegairahan mendengarkan, seakan-akan apa yang kita tuturkan merupakan sesuatu yang baru dan sangat berharga. Betapa besar hati anak-anak kita kalau orangtua mempunyai telinga yang sempurna; berfungsi pendengarannya, berfungsi pula hati orangtua untuk mendengarkan sepenuh semangat, sepenuh kesungguhan.

Jika anak-anak tidak mendapati orang yang mau mendengarkan dengan penuh perhatian dan semangat, maka kemanakah anak-anak itu harus pergi untuk menemukan orang yang mau menyambut cerita dan gagasannya? Padahal tatkala anak didengarkan dengan baik, saat itulah ia lebih mudah menerima nasehat. Dan sebaik-baik nasehat adalah yang ringkas, padat, penuh makna.

Seperti pil, nasehat untuk anak itu hendaknya tidak berpanjang-panjang sampai-sampai anak tak kuat mendengarnya. Padahal mendengar belum tentu mendengarkan. Perbanyak “airnya” agar anak mudah menelan dan mencernanya dengan baik.


Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting
Sumber Fans Page Mohammad Fauzil Adhim

Lembut tapi Tak Mendidik




Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ada dua hal yang seolah bertentangan, padahal sebenarnya seiring sejalan. Keduanya harus ada dalam mendidik anak, sehingga kehadirannya tidak dapat dipertentangkan satu sama lain. Satu hilang, runyamlah pendidikan. Yang satu menguatkan jiwa, yang satu menguatkan pegangan anak pada nilai dan sikap yang jelas. Dua hal itu adalah kelembutan dan ketegasan. Keduanya perlu kita miliki dalam mendidik. Tidak bisa salah satunya saja. Memenangkan kelembutan saja, apalagi jika karena alasan lebih sesuai dengan teori parenting mutakhir, akan dapat menggelincirkan pada sikap meremehkan sunnah berkait dengan ketegasan. Salah-salah bukan hanya meremehkan. Lebih dari itu bersikap nyinyir mencibir atau bahkan merendahkan tuntunan karena dianggap sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Menjadi orangtua adalah perjalanan untuk mengasah keduanya sekaligus dan kadangkala kita perlu melakukan keduanya secara bersamaan. Ini memerlukan usaha untuk melatih diri disertai ilmu. Tanpa mengilmu, maksud hati berlemah-lembut kepada anak, tetapi akibatnya justru tak mendidik. Seolah lembut, padahal yang tersisa hanyalah kelemahan. Hal yang sama juga berlaku untuk ketegasan. Betapa sering ingin menunjukkan sikap tegas, tetapi tanpa takaran yang tepat, terlebih jika tidak disertai ilmu, yang kita maksudkan sebagai ketegasan itu justru menjelma sebagai sikap keras lagi kasar.

Sungguh, sangat berbeda antara keras (apalagi kasar) dengan tegas. Banyak orang keras dan kasar, tetapi tak ada ketegasan pada dirinya. Mereka mudah marah, tetapi keputusannya dengan cepat berubah. Sikapnya beralih karena keadaan atau merasa sedikit terdesak. Saat anak meminta es krim, dengan kasar orangtua menolak. Ketika anak merengek, semakin kasar orangtua menampik permintaan anak. Tetapi begitu ada tamu datang, buru-buru permintaan anak dikabulkan, meskipun dengan cara yang tetap kasar. Uang disodorkan, padahal tadinya menyampaikan kepada anak kalau tak ada uang.

Ini merupakan contoh sederhana bagaimana keras dan kasar itu sama sekali berbeda dengan tegas. Pada kasus tersebut, orangtua bahkan bukan sekedar kasar. Orangtua juga menunjukkan kebohongan yang besar kepada anak. Padahal, ada tuntunan khusus komunikasi orangtua kepada anak di dalam AL-Qur’anul Kariim, yakni berbicara dengan qaulan sadiidan (perkataan yang benar).

Ketegasan itu sangat diperlukan oleh anak. Ia memerlukan keyakinan dan pijakan yang kokoh. Ketegasan mengajarkan kepadanya tentang betapa pentingnya bersikap konsisten terhadap aturan, keyakinan dan agama. Komitmen tidak bernilai tanpa konsistensi. Anak tak dapat belajar memiliki komitmen ketika melihat bagaimana perkataan mudah diciderai. Sebaliknya, anak sulit untuk belajar konsisten manakala yang tampak seolah tegas itu identik dengan keras dan kasar.

Keras itu adakalanya diperlukan sejauh takarannya pas. Orangtua memiliki ilmu yang memadai untuk menakar maslahat – madharatnya, pun waktu serta cakupan masalah yang perlu disikapi. Ini berarti, orangtua harus mengilmui agar sikap tersebut tidak rancu dengan kasar, tidak pula membuat anak lari dari dirinya, lebih-lebih dari agama. Cara mendidik inilah yang kita dapati pada diri Asaduddin Syirkuh, paman dari Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi. Menghadapi keponakannya yang cengeng, Asaduddin mendidiknya dengan keras beriring tulusnya kasih-sayang seraya menunjukkan besarnya tanggung-jawab yang kelak harus dipikul oleh Yusuf. Sikap keras itu menghilang seiring terbentuknya kepribadian Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi yang kian kokoh. Kelak kita mengenal Yusuf sebagai pembebas Masjid Al-Aqsha yang sangat dihormati, teguh pendirian, kuat tekadnya dan ia mendapat sebutan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Keras berbeda dengan kasar. Orangtua yang mendidik anaknya dengan keras tetap dapat menunjukkan kelembutan dan kasih-sayang. Sementara sikap kasar menandakan tercabutnya kelembutan dan itu berarti menjauh dari kebaikan. Sikap keras kerap dianggap sama dengan tegas, padahal sama sekali berbeda. Jika kita mendidik anak dengan keras tanpa mengilmui, yang terjadi adalah pola asuh yang keras dan bahkan kasar, tanpa ada ketegasan. Tanpa empati dan kasih-sayang.

Hal yang perlu diwaspadai oleh mereka yang cenderung keras adalah mengendalikan emosi. Cara mendidik yang cenderung keras hanya akan baik apabila dilakukan oleh mereka yang kendali emosinya sangat kuat. Bukan reaktif yang lebih dekat dengan gegabah dan ceroboh. Tanpa mengilmui dan kemampuan mengendalikan emosi, cara mendidik yang keras akan melahirkan permusuhan. Tak ada kepedulian antar saudara, tak ada empati kepada orang lain, termasuk kepada teman sebaya.

Lembut tapi Tak Mendidik

Kelembutan itu membaguskan segala sesuatu yang ia melekat kepadanya. Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, kecuali ia akan membaguskannya. Dan tidaklah ia tercabut dari sesuatu, kecuali akan membawa kepada keburukan. Maka pada sikap tegas, kelembutan itu harus ada. Ketika untuk menegakkan pendidikan kadang harus keras, kelembutan itu harus ada. Tanpa kelembutan, kerasnya sikap menjadi tindakan gegabah dan kasar.

Begitu pentingnya kelembutan sehingga kita perlu mengilmui agar tak keliru. Jangan sampai mengira sebagai kelembutan, padahal ia sesungguhnya telah menjatuhkan kita kepada sikap yang lemah. Jangan pula karena ingin bersikap lembut, anak justru tidak memiliki keyakinan kokoh dan sikap yang jelas sehingga ketika memasuki usia remaja, terombang-ambinglah dirinya. Ia mengalami krisis. Tanpa mengilmui, sikap lembut hamper-hampir tak ada bedanya dengan sikap tak peduli.

Kelembutan itu menghiasi segala sesuatu. Artinya, sesuatu itu harus ada. Mengasuh mendidik anak harus disertai kelembutan. Ini berarti lembut saja tidak cukup. Jika orangtua melimpahi anak dengan kelembutan tanpa menegakkan tugasnya mengasuh, maka anak akan menuai masalah. Anak kecil belajar mencoba berbagai hal; kadang ia benar, kadang ia salah. Tugas kita membimbing dan memberi respon dengan baik disertai kelembutan sehingga ia dapat belajar dari berbagai kegiatannya. Hanya memberinya kelembutan, tanpa menunjukkan respon yang memadai, anak tak dapat belajar. Jangankan untuk hal-hal yang pelik, sekedar mengucap kata dan berbicara pun, anak perlu rangsang dan respon yang mencukupi, Bukan hanya sering mendengar suara orang berbicara. Rangsang itu antara lain berupa perkataan yang suaranya memang ditujukan kepadanya (shooting voice). Tanpa itu, riuh rendah suara orangtua berbicara maupun bercanda dengan orang lain akan menjadi sekedar kebisingan (noise).

Ada orangtua yang begitu cinta kepada anak. Ia ingin mengasuh dengan lembut. Tetapi yang terjadi, ia hanya menganugerahi anak dengan kelembutan yang tak habis-habis, sementara lisannya tertahan tak bicara. Tak pula sigap ketika anak melakukan sesuatu. Menggeleng dan memberi isyarat dengan jemari memang dapat memahamkan anak tentang maksud kita, tetapi tidak menawarkan pengalaman yang utuh kepada anak. Ia juga kesulitan untuk menirukan bahasa sehingga berdampak sulit memproduksi kata-kata.

Ini hanyalah sekedar contoh. Banyak sekali kasus anak bermasalah bukan karena orangtua kasar. Orangtuanya bahkan sangat lembut. Tetapi manakala tidak diletakkan pada sikap yang ngemong (nurturing) dan responsif, kelembutan itu justru menjadi kelemahan.

Ringkasnya, sikap apa pun perlu kita ilmui. Inilah PR besar sebagai orangtua. Saya pun masih harus terus belajar dan bahkan perlu lebih banyak lagi. Dalam hal ini, peran istri sangat besar untuk senantiasa mengingatkan dan berhenti belajar, termasuk belajar mengendalikan diri.

Catatan:
Tulisan ini sebelumnya saya posting dalam bentuk catatan, tetapi banyak yang lebih menyukai dalam bentuk status FB semacam ini karena dapat langsung dibaca. Lebih mudah. Atas sebab itu, tulisan ini saya posting ulang.

Setelah tulisan ini, insya Allah segera menyusul tulisan lain yang berkait dengan kelembutan. Tulisan berikutnya tentang kelembutan lebih menitikberatkan pada pembahasan mengenai ar-rifq. Sesudah itu, baru membahas tentang al-hilm di dalam tulisan yang berbeda. Semoga ini memudahkan kita dalam mengamalkan mendidik anak.

Sumber : Facebook Mohammad Fauzil Adhim
Foto Ilustrasi : google

Pelajaran tentang Kejeniusan Mozart


Oleh: Mohammad Fauzil Adhim


Pagi sudah mendekati siang, tetapi Wien atau Vienna (kita mengenalnya dengan Wina) masih diselimuti hembusan angin yang dingin. Suhu yang mencapai 10 derajat celcius, tidak mengurungkan niat orang untuk menelusuri jalanan Wina. Para kusir andong, laki-laki maupun perempuan tetap bersemangat menunggu penumpang di sekitar St. Stephen’s Cathedral. Gereja Katedral tertua di Wina yang lebih dikenal dengan sebutan Stephen’s Dom itu sekarang lebih banyak menjadi obyek wisata.

Tepat di samping Stephen’s Dom terdapat sebuah lorong kecil (gasse menurut istilah di Wina), Domgasse namanya, yang membawa kita ke sebuah bangunan bernama Mozart Haus. Ini memang tempat tinggal Wolfgang Amadeus Mozart setelah pindah dari kota kelahirannya di Salzburg, sebuah kota pegunungan yang indah di Austria. Mozart yang memiliki nama baptis Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart banyak dikaitkan oleh para trainer maupun pembicara seminar tentang parenting dengan kecerdasan luar biasa pada diri anak. 
Beredar banyak rumor bahwa memperdengarkan musik Mozart pada bayi sejak dalam kandungan maupun baru lahir, menjadikan anak jenius. Begitu banyak yang percaya sehingga sempat terjadi ledakan gairah di negeri kita untuk memperdengarkan musik Mozart kepada anak kecil, khususnya bayi. Mereka berharap anak-anaknya berkembang menjadi jenius besar. Bahkan tak sedikit yang yakin bahwa memperdengarkan musik Mozart menjadikan anak memiliki kecerdasan matematika yang luar biasa, sesuatu yang sebenarnya cukup ganjil. Bagaimana mungkin memperdengarkan musik dari orang yang bukan jago matematika dapat menyebabkan anak hebat matematikanya? Tetapi apa pun itu, banyak anggapan yang berkembang, lengkap dengan berbagai buku yang kerapkali juga tidak jelas basis risetnya.

Karena itu, ketika menginjakkan kaki di Wina, yang pertama kali saya tanyakan adalah apakah praktek semacam itu –yakni memperdengarkan musik Mozart kepada bayi—dikenal sebagai metode melejitkan kemampuan anak dan banyak dilakukan oleh orang-orang Austria? Mestinya jika itu benar, tentulah orang sebangsanya, paling tidak para tetangga Mozart Haus, banyak melakukannya. Tetapi sebagaimana saya pelajari dalam berbagai literatur, mereka tidak menjadikan musik Mozart sebagai metode melejitkan potensi anak, tidak pulah memilihnya sebagai teknik untuk menimbulkan ketenangan pada diri anak. Mereka menghargai Mozart sebagai composer, tetapi bukan menjadikan sebagai metode mendidik anak sebagaimana diyakini oleh sejumlah orangtua di negeri kita. Seorang perawat asal Indonesia yang sudah lebih dari 20 tahun tinggal di Austria menuturkan, bahwa di negeri asal Hitler itu sama sekali tidak ada seruan, kampanye maupun gerakan untuk memperdengarkan musik klasik bagi anak-anak. Seandainya bagus dan didukung bukti riset, tentulah Austria sudah melaksanakan lebih dulu.


Mozart memang seorang komposer cemerlang. Tak sedikit yang takjub dengan aransemen gubahannya. Apalagi Mozart sering berpura-pura mendapatkan ide aransemen musik secara tiba-tiba dan langsung menghasilkan komposisi sempurna hanya dalam waktu beberapa saat saja. Sekali dapat ide, langsung jadi komposisi yang hebat. Di kemudian hari, setelah Mozart meninggal, barulah diketahui dari ruang kerjanya bahwa “komposisi tiba-tiba yang jenius” itu merupakan hasil dari proses panjang yang memerlukan serangkaian revisi, uji coba, latihan dan penyusunan ulang. Mozart berpura-pura menampakkan diri sebagai sosok brilian demi menyenangkan Sang Ayah, Leopold Mozart, seorang pemusik dan guru piano. Sebagaimana ditulis oleh Andrew Robinson dalam buku Sudden Genius?: The Gradual Path to Creative Breakthrough (Oxford University Press, 2013), Mozart memperoleh pendidikan yang sangat keras dan selama dua puluh tahun harus berlatih musik secara ketat, disiplin tinggi dengan durasi panjang, langsung di bawah tempaan ayahnya: Leopold Mozart. Ia mendapat tuntutan kemampuan bermusik sangat tinggi dari orangtuanya.

“Aku hanya memiliki satu permintaan,” tulis Mozart dengan nada sedih pada akhir tahun 1777, saat usianya mendekati 22 tahun, “yaitu, janganlah terlalu berprasangka buruk tentang diriku.” Ini merupakan tulisan Mozart tentang bapaknya. Sebuah tulisan yang menyedihkan.

Geoff Colvin menulis dalam bukunya yang bertajuk Talent is Overrated: What Really Separates World-Class Performers from Everybody Else (Portfolio, 2008) bahwa berdasarkan berbagai data, Mozart mencapai kemampuan luar biasa dalam menghasilkan komposisi musik bukanlah terutama karena soal bakat, tetapi latihan yang keras secara terus menerus dalam waktu sangat panjang. Dalam kasus Mozart bahkan ia digembleng sejak kecil hingga usianya sekitar 20 tahun melalui proses latihan tak kenal lelah dan cenderung menegangkan. Maka, sangat mengherankan jika ingin menjadi jenius dalam bidang musik, menjadi hebat sebagaimana diperagakan oleh Mozart yang kerap mempertontonkan keajaiban berupa ide mendadak yang langsung menjadi gubahan memukau dalam waktu beberapa menit saja, hanya dengan mendengarkan musiknya Mozart. Padahal “keajaiban” yang diperlihatkan Mozart itu bahkan ada yang memerlukan waktu lebih dari 1 tahun proses penggubahannya hingga menjadi komposisi akhir. Keanehan itu lebih sulit lagi kita pahami manakala orang memperdengarkan musik Mozart agar anaknya jenius dalam bidang selain musik.
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap kehebatannya menghasilkan komposisi musik, kritikus New Yorker, Alex Ross menyimpulkan dari berbagai riset tentang Mozart, “Ambitious parents who are currently playing the “Baby Mozart” video for their toddlers may be disappointed to learn that Mozart became Mozart by working furiously hard. Para orangtua ambisius yang sekarang sedang memperdengarkan video “Baby Mozart” bagi anak-anak kecilnya mungkin akan segera kecewa ketika mempelajari bahwa Mozart menjadi seorang Mozart melalui kerja yang luar biasa keras.”


Kerja keras. Disiplin. Inilah yang mengantarkan Mozart menjadi seorang Mozart. Ini pula keterangan yang saya dapatkan tentang bagaimana anak-anak Austria, negerinya Mozart, dididik. Banyak tempat menarik di Austria, tetapi hanya Mozart Haus (Rumah Mozart) yang saya mengharuskan diri mengunjunginya. Rumah di sebuah gang sempit lingkungan Stephen’s Dom perlu saya datangi langsung untuk memperoleh gambaran secara langsung, selain meminta informasi dan menggali kajian tentang Mozart dari sejumlah orang.
Nah, masihkah kita mengharapkan keajaiban dengan bersibuk memperdengarkan komposisi Mozart seolah mampu melejitkan potensi anak dan menghadirkan ketenangan pada diri anak? Sudah banyak buku yang ditulis berdasarkan untuk menunjukkan bahwa semua cerita tentang keajaiban yang tiba-tiba dari memperdengarkan Mozart adalah mitos semata, sebagaimana anggapan bahwa Mozart menjadi hebat dengan sekali menggubah juga merupakan mitos.

Tidakkah cukup bagi kita untuk menempa anak-anak kita agar bersungguh-sungguh terhadap hal-hal yang bermanfaat baginya? Inilah yang dapat mengantarkan anak pada kebaikan. 

Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلا تَعْجِزَنَّ , وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلا تَقُلْ : لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَذَا لَكَانَ كَذَا وَ كَذَا , وَلَكِنْ قُلْ : قَدَرُ اللهِ وَ مَا شَاءَ فَعَلَ , فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

“Bersungguh-sungguhlah dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu dan mohonlah pertolongan kepada Allah (dalam segala urusan), serta janganlah sekali-kali kamu bersikap lemah. Jika kamu tertimpa sesuatu (kegagalan), maka janganlah kamu mengatakan, ‘seandainya aku berbuat demikian, pastilah tidak akan begini atau begitu’. Tetapi katakanlah, ‘ini telah ditakdirkan oleh Allah dan Allah berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki’. Karena sesungguhnya perkataan seandainya akan membuka (pintu) perbuatan setan.” (HR. Muslim).

Nah.

Sumber : Facebook Mohammad Fauzil Adhim

Mozart dan Rumor Kecerdasan



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
 
www.sdithidayatullah.net | Yang pertama kali saya tanyakan begitu tiba di Vienna adalah tentang Mozart, komposer masyhur yang di Indonesia menjadi legenda bagi para orangtua. 

Konon memperdengarkan musik Mozart kepada anak menjadikannya jenius. Lalu apakah hal yang sama juga berlaku di negerinya? 

Sekedar menghidupkan ingatan, Mozart atau lengkapnya Johannes Chrysostomus Wolfgangus Theophilus Mozart lahir di Salzburg, Austria dan kemudian sempat tinggal di Vienna. Maka jika benar musik Mozart mencerdaskan, mestinya di tanah kelahirannya menjadi bagian pendidikan serta pengasuhan yang betul-betul diterapkan. 

Tetapi rupanya, sebagaimana rumor yang lain tentang otak tengah misalnya, tak ada gerakan maupun sekedar anjuran untuk memperdengarkan musik Mozart kepada bayi dalam kandungan maupun bayi yang baru lahir.

Memperdengarkan musik Mozart bukan cara untuk menjadikan anak jenius. Yang diperlukan untuk cemerlang adalah kegigihan, semangat menyala dan daya juang tinggi dalam belajar.

Demikian sebuah catatan perjalanan dari Mohammad Fauzil Adhim
Foto: google

Bersinarlah Matahariku, Gapai Cita-Citamu!


Oleh: Tanti Kusrini DS

Hari demi hari berlalu
Di antara angan dan asaku 
Di antara mimpi dan nyataku
Ingin kembali ku goreskan pena
Untuk berbagi cerita

Perasaanku saat ini
Sedih, terharu, bahagia bercampur menjadi satu.
Kupandangi sosok tubuh remaja jangkung
Dengan baju koko dan peci yg menempel di kepalanya
berjalan menuju ke arahku

Benarkah dia Anandaku?
Yaa..dia menyapaku

Maa syaa Allah...
Kau sudah banyak berubah, Nak...

Cara kau sapa orang tuamu...
Cara kau berbicara...
Cara kau bersikap...
Sedikit kau tunjukkan bertambah kedewasaanmu.

Suka duka kau rasakan disini.
Kau pun punya saudara-saudara baru.
Juga harus beradaptasi dengan sekitarmu.

Jatuh bangun kau hadapi...
Tanpa ayah dan ibu
Disampingmu...

Namun dari mata dan senyummu...
Telah menguatkan hati ibumu.
Dari sikapmu telah meyakinkan ibu...
Bahwa kau mampu.

Berjuanglah, Nak...
Doa ibu juga orang orang yg menyayangimu akan selalu menyertaimu...

Ya Allah...Ya Rabb...
Bimbing dia pada jalanMu
Untuk meraih RidhaMu

Didedikasikan tuk para Bunda yang anaknya sedang mondok
😉

Penulis : Ibunda Shalahuddin Al Hasyir (Alumni SDIT Hidayatullah 2015).
Editor: Ayun Afifah
Foto: google

Ajaklah Anak Berdialog

Sebagian ulama mengatakan, "Al-hurmat khairum minath tha'ah." Respek itu lebih baik daripada taat, sebab dari respek akan lahir ketaatan yang tulus.

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

“Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai”

Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya.

Hanya sepintas melihat raut muka anak atau sikap yang ditunjukkan tidak serta merta menjadikan kita mengerti apa yang sungguh-sungguh dirasakan dan dipikirkan oleh anak. Kita bisa langsung berbicara kepada mereka, tetapi kita tidak mampu luas dan dalamnya apa yang dirasakan, dipikirkan dan diinginkan oleh anak. Kenapa? Ibarat sungai, kita belum menyeberangi. Kalau ingin mengetahui luas dan dalamnya, kita perlu menyeberanginya.

Kata Pappaseng to Ogie (Petuah Bugis), “Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai. Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya.”
Lalu bagaimana cara kita menyeberangi perasaan dan pikiran anak kita? Berdialog. Kita ajak berbicara dari hati ke hati, pikiran terbuka dan perasaan lapang. Kita dengarkan pembicaraan anak, memberikan umpan balik kepadanya, dan bila diperlukan kita pun dapat menyampaikan apa yang kita pikirkan tentang dia. Melalui dialog itu kita lebih mengetahui perasaan anak sesungguhnya dan pada saat yang sama anak merasa lebih diterima.

Inilah yang patut dilakukan jika menginginkan anak memiliki sikap hormat (respek) kepada orangtua. Merasa didengarkan dan dihargai justru menjadikan anak lebih tumbuh dorongan untuk respek dan dekat hatinya dengan orang tua.

Sebaliknya, cara-cara yang menjatuhkan harga diri justru membuat anak kehilangan rasa hormat kepada orangtua. Bahkan dapat terjadi, anak mengembangkan pemberontakan dalam berbagai bentuknya. Boleh jadi ia menunjukkan ketaatan di depan orang tua, tetapi memberontak meledak-ledak di luar rumah. Ini ketika anak takut kepada orang tua. Dan sangat berbeda antara takut dan respek. Yang kedua ini mendorong anak tetap melakukan hal yang baik, meskipun orang tua tidak melihatnya.

Ibarat pemimpin, orangtua dituntut untuk “Nasiri’i alena, nasiri toi padanna rupatau. Menjaga harkat dan martabat dirinya, serta menghormati harkat martabat orang lain.”

Jadi, agar harkat dan martabat orangtua terjaga, anak menghargainya, maka kita sebagai orang tua harus menjaga harkat martabat anak. Tidak menjatuhkan di depan teman-temannya.

Kata siri’ sebenarnya memiliki makna malu. Sedangkan kata nasiri’i bermakna membuat diri sendiri malu memperbuat sesuatu yang jelek, hina, tercela. Dari makna dasar ini dapat diambil pengertian bahwa orangtua seharusnya nasiri (menjaga martabat) anaknya dengan tidak mempermalukannya dan menjatuhkan harga dirinya. Jika anak sampai merasa dipermalukan atau jatuh harga dirinya, ia bisa kehilangan orientasi hidup yang baik. Bukankah siri’ na pesse? Malu itu luka.

Lawrence E. Tyson, Ph.D., dari University of Alabama at Birmingham menunjukkan 4 sebab kenakalan anak di kelas. Salah satunya adalah dendam. Ia terluka karena merasa dipermalukan oleh orangtua atau karena merasa orangtua tidak adil. Ketika anak mendendam kepada orangtua sehingga tidak peduli lagi dengan prestasi. Ia hanya berpikir dan berusaha untuk membayar lunas dendamnya.

Boleh jadi ketika kita selaku orangtua menjatuhkan harga diri anak, ia tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan perasaannya kepada kita. Atau ia sebenarnya cukup terbuka untuk mengungkapkan gagasannya. Tetapi ketika orang tua menanggapinya dengan mengedepankan kuasa, anak tidak punya pilihan selain taat. Dan ini bukanlah ketaatan yang baik. Di saat kecil merunduk kepada orang tua karena takut, tetapi ketika mulai beranjak besar anak mulai unjuk keberanian. Tak ada lagi perkataan orangtua yang ditaati.

Sebagian ulama mengatakan, “Al-hurmat khairum minath tha’ah.” Respect is much more better than obedience. Respek itu lebih baik daripada taat, sebab dari respek akan lahir ketaatan yang tulus. Saya lebih suka memaknai al-hurmat dengan respek daripada hormat karena kata-kata yang diserap dari hurmat ini sudah banyak mengalami pendangkalan makna. Di luar itu, kita juga mengenal istilah takzim (mengagungkan, memuliakan, menghormati) dan takrim (memuliakan, menghormati) yang biasa dipakai dalam konteks sikap kepada tamu maupun tetangga. Nah, sikap hurmat melahirkan keduanya.

Nah, bagaimana agar memiliki sikap kepada kita? Berusahalah memahami perasaan dan pikiran anak, mendengarkannya dan memberikan umpan balik kepada anak. Kita tidak akan tahu dalam dan luasnya sungai kecuali apabila kita telah menyeberanginya. Cara untuk menyeberangi itu adalah berdialog. Bukan menjadi orangtua yang sok tahu.*

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Guru Motivasi Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Sumber: www.hidayatullah.com 

Selamat Berjuang Ujian Nasional, Nak!



Oleh: Tanti Kusrini DS

Rasa khawatir dan cemas tentunya ada di hati seorang Bunda yang anaknya akan menghadapi Ujian Nasional. Namun mengapa kekhawatiran dan kecemasan itu mesti ada? Mengapa tidak kita tanam dalam hati kita bahwa Ananda "Pasti Bisa!".

Ku pandang wajah anakku di tengah malam, dalam lelapnya tidur. Aku baca raut kelelahan di antara semangat yang berusaha Ia tunjukkan. Haruskah aku cemas dengan apa yg telah Ia usahakan?

"Tidak!" aku tak boleh tunjukkan kecemasanku. Perlahan aku usap wajah Anandaku, ku bangunkan dia dari alam mimpinya. "Naak, ayo bangun kita Sholat Tahajjud..."


Dengan wajah yang masih terbalut kantuk Ia pun mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat malam. Aku pun bersimpuh menghadapMu Ya Rabb... Tak terasa titik air menetes dari mataku."

"Aku serahkan semuanya padamu Ya Allah, yang terbaik untuk anak ku, beri Ia kemudahan. Beri Ia pemahaman ilmu, kemantapan iman dan Islam."

Ku pandang lagi wajah Ananda yang berseri karena hari ini ada acara refreshing dan mancing. Tak ada beban ku lihat. Dengan semangat yang luar biasa, momen kebersamaan dengan teman teman tak akan dia lewatkan.

Semangat Nak....

Besi, 14 Mei 2016

Penulis: Tanti Kusrini DS , Wali Murid Kelas 6A SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
Editor: Ayun Afifah
Admin: Mahmud Thorif

Parenting : Jangan Sepelekan Janji pada Anak


~Teladan adalah guru terbaik. Begitu pula dalam mengajarkan sikap amanah~

Disadari atau tidak banyak orangtua kelepasan janji kepada anak-anaknya. Saat anak rewel atau merengek minta sesuatu, mengucapkan janji dirasa menjadi cara instan untuk menenangkan anak. Beberapa orangtua yang diwawancarai Karima juga mengakui mereka kerap menggunakan ‘senjata’ ini untuk membujuk anak melakukan sesuatu.

Ola, bunda berusia 34 tahun mengaku bahwa hampir tiap pagi, ia ‘jualan’ janji kepada dua anaknya yang berumur empat tahun dan dua setengah tahun supaya mereka semangat bersekelolah. “Saya sering janji nanti ayahnya akan memberikan hadiah di akhir minggu kalau mereka rajin ke sekolah dan tidak rewel di sekolah,” tuturnya.

Ia merasa cara ini lumayan tokcer untuk memancing semangat anak-anaknya datang ke PAUD. Walaupun kadang diakuinya, upaya ini tak membuahkan hasil. Biasanya iapun tidak menjelaskan secara detail bentuk hadiah yang dijanjikannya kepada anak-anak. Ia takut kalau menyebutkan secara spesifik malah tidak bisa memenuhinya.

“Anak-anak sudah senang ketika disebutkan akan diberikan hadiah. Di akhir minggu biasanya mereka lupa menagih. Tapi saya tetap berusaha memenuhi minimal dengan ajak mereka jalan keliling kompleks bersama suami,” terangnya.

Ria, bunda berusiah 30 tahun , juga memiliki pengalaman serupa. Putra sulungnya yang kini berusia lima tahun, diakui Ria, kerap diiming-imingi sesuatu supaya mau disuruh. “Anakku moddy banget. Kalau lagi mau, disuruh langsung jalan tapi kalau lagi tidak mau, harus penuh dengan iming-iming dulu,”ujarnya.

Ia pun mencontohkan sebuah kejadian di suatu pagi. Lantaran bapaknya tidak bisa mengantar ke sekolah karena sedang di luar kota, Ikhlas, putranya, harus diantar oleh orang lain. Awalnya, tutur Ria, si anak menolak dan harus dibujuk pelan-pelan. “Sambil dijanjikan, ‘Nanti pas Mas pulang sekolah sudah ada es krim di rumah’, barulah dia mau,” ujar Ria.

Seperti Ola, Ria juga mengakui bahwa cara seperti ini memang cukup ampuh. Namun disusu lain, Ria khawatir kebiasaan membujuk anak lewat janji akan menimbulkan efek yang tidak baik ke depannya. “Apa jadi kayak mengajari anak biasa disogok ya?” ujarnya sambil tertawa.

Memelihara Janji
Janji memang ringan diucapkan, tapi menunaikannya tidak selalu mudah. Kadang janji dianggap hal sepele apalagi kalau yang dihadapinya merupakan anak kecil. Kalau anak lupa, dianggap sudah gugur janji-janji yang pernah terucap. Namun tidak begitu aturannya di dalam Islam.

Dalam Islam, sikap mengingkari janji terhadap siapapun tidak dibenarkan. Kendati terhadap anak kecil. Al-Imam Abu Daud Rahimahullah telah meriwayatkan hadits dari shahabat Abdullah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Pada uatu hari ketika Rasulullah Shalallahu ‘alahi wasallam duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dengan mengatakan, ‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada ibuku : ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Kurma,’ lalu Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu, maka ditulis bagimu kedustaan.’” (Riwayat Abu Daud).

Di dalam hadits ini ada faedah bahwa apa yang biasa diucapkan seseorang kepada anak-anak kecil ketika mereka menangis, seperti kalimat janji yang tidak ditepati atau menakut-nakuti dengan sesuatu yang tidak ada adalah diharamkan. (‘Aunul Ma’bud, 13/22).

Kartika, seorang ibu tiga anak mengatakan bahwa menepati janji kepada anak memang hal penting. Menurut dia, mengingkari janji kepada anak sama seperti menanamkan kejelelakan dalam diri meraka. Dengan menepati janji, tuturnya, orangtua secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk juga amanah terhadap janjinya ketika suatu saat giliran mereka yang berjanji kepada ayah ibunya. Kartika sendiri mengakui bahwa kedua anaknya yang besar sudah mengenal istilah “sistem negoisasi” sehingga mereka kerap saling berjanji.

“Kalau aku janji sama mereka itu ada dua jenis. Pertama, janji yang memang aku inginkan. Kedua, janji yang aku ucapkan ketika mereka sedang rewel. Selai itu, aku juga sering mereka berjanji. Misalnya, tidak makan permen, rajin sikat gigi, mau tidur cepat, matikan televisi. Kalau kita sering ingkar janji, mereka akan belajar kalau janji itu bisa dilanggar dan bukan sesuatu yang harus selalu ditepati,” papar dia. Makanya, Kartika melanjutkan, sekarang ia menjadi sering menginstrospeksi diri perihal janji ini.

Jangan Ketinggian
Salah satu cara mudah menepati janji kepada anak adalah dengan menjanjikan sesuatu yang terukur oleh kamampuan. Jangan mengumbar janji yang terlalu tinggi. Kartika, misalnya, karena merasa memiliki kemampuan dalam hal memasak, ia kerap ‘menjual’ keterampilannya ini ketika sedang berjanji kepada anak-anak. “Paling sering membuatkan makanan tertentu,” timpalnya.

Kadang juga, orangtua tidak menepati janji karena alasan lupa. Karena itu tak ada salahnya ketika sedang berjanji sekalian minta anak agar nanti membantu mengingatkan kita. jangan sungkan juga meminta maaf kepada anak ketika terlupa atau tidak bisa memenuhi janji.

Bisa juga, ketika sedang berjanji, kita katakan kondisi-kondisi yang membuat janji tersebut tak bisa terpenuhi. Harapannya agar anak mau mengerti. Seperti yang dilakukan Ola. Ketika berjanji membelikan anak-anak mainan, misalnya, ia juga menjelaskan bahwa waktunya harus menunggu setelah Ayah mereka mendapat gaji.”


|Meutia Rahmi, Nina Nurlena, Nuria Bonita, Majalah Karima Edisi 04/2015|
Admin: Mahmud Thorif
Foto https://akuanaksholehah.files.wordpress.com/2015/02/anak-perempuan-berjilbab-kerudung.jpg