» » » » » Sudah Siapkah Kita Menjadi Guru Al Qur'an?

Sudah Siapkah Kita Menjadi Guru Al Qur'an?

Penulis By on Wednesday, November 20, 2019 | No comments



www.sdithidayatullah.net | Oleh Akhid Nur Setiawan

Bagi para calon guru Al Quran, uji kesesuaian bacaan Al Quran sebagaimana jalur riwayat bacaan yang akan ia gunakan untuk mengajar sangatlah mutlak diperlukan. Mengikuti tashih merupakan sebentuk tanggung jawab calon guru Al Quran untuk memastikan bahwa bacaan Al Quran yang akan ia ajarkan sudah semirip mungkin dengan bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai jalur riwayat yang ia ambil. Keterangan lulus ujian tashih menjadi salah satu pengesahan bahwa bacaan Al Quran seseorang jalur riwayatnya bersambung sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Informasi Pendaftaran Murid Baru: https://www.sdithidayatullah.net/2019/10/informasi-murid-baru-sdit-hidayatullah.html

Para pentashih memiliki tugas yang amat berat untuk menyimak, memperhatikan, mengecek, menguji, mengoreksi, dan menjamin kesesuaian bacaan Al Quran antara murid dengan guru yang berada dalam satu jalur periwayatan. Proses tashih berusaha memastikan bahwa periwayatan bacaan Al Quran dilakukan secara tatap muka dan sudah benar-benar sesuai antara bacaan murid dengan gurunya. Para pentashih juga memiliki tugas memberi rekomendasi para calon guru alquran, dari mana harus memulai perbaikan bacaan Al Qurannya.

Lulus tashih bukan hanya kewajiban para calon guru Al Quran karena bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar semaksimal mungkin ialah kewajiban semua muslim. Standar baik dan benar dalam membaca Al Quran itu seperti apa? Lulus tashih. Maka dari itu, setiap muslim utamanya yang telah belajar melafalkan ayat-ayat Al Quran bersama seorang guru juga perlu menyesuaikan bacaannya dengan bacaan gurunya atau jalur di atasnya, gurunya guru dan seterusnya melalui ujian tashih.



Setelah sekian lama belajar dengan saling bertatap muka, seorang guru harus merelakan muridnya diuji oleh pentashih. Bagi sang guru situasinya mungkin seperti seorang wanita saat menghadirkan calon suami pada orang tuanya. Dia sudah mantap dengan pria itu tapi orang tuanya masih perlu mempertimbangkan dan menguji calon menantunya. Dari hasil pertemuan itu orang tuanya bisa langsung setuju namun bisa juga tidak.

Menjalani ujian tashih ibarat seorang pria menunggu jawaban wali nikah atas khitbahnya pada seorang wanita. Sekalipun antara pria dan wanita sudah saling merasa cocok dan mantap, wali nikah jua yang memutuskan. Proses ujian tashih begitu mendebarkan hati keduanya. Perasaan sang murid diliputi campur aduk antara khawatir ditolak dengan sangat berharap diterima, begitu juga sang guru.

Calon guru Al Quran bisa lulus tashih pastinya semata atas pertolongan Allah, lalu berkat bimbingan dari para guru, serta doa-doa dari banyak orang. Saat sang murid dinyatakan lulus oleh pentashih, perasaan murid dan guru pastilah lega luar biasa, bagaikan lolos dari lubang jarum. Sebagaimana bahwa akad nikah bukanlah akhir perjalanan, lolos dari lubang jarum juga baru titik awal untuk melanjutkan perjuangan.


Agar bisa mengajarkan Al Quran pada orang lain, mereka yang telah lulus tashih dan ingin menjadi guru Al Quran berhak diajari metodologi pengajaran Al Quran yang digunakan oleh guru-guru mereka. Setelah semua proses dijalani kelak mereka baru bisa secara resmi diizinkan untuk mengajarkan Al Quran. Para guru Al Quran harus senantiasa menjaga bacaan Al Quran mereka. Mereka harus siap jika sewaktu-waktu atau secara periodik diuji tashih ulang. Hal itu demi menjaga kesahihan bacaan sepanjang waktu.

Foto: Dokumen SDIT Hidayatullah & Google.com

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya