» » » » Ketika Alam Ikut Berbicara

Ketika Alam Ikut Berbicara

Penulis By on Wednesday, February 13, 2019 | No comments


www.sdithidayatullah.net | Sebuah Cerita Pendek (cerpen) karya Najwa Amsal Hayah, Murid kelas 5C SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Karya fiksi ini meraih juara 2 dalam lomba menulis yang diadakan di sekolah.

***

 “Aisyah bangun! Ayo bangun!”, teriak kak Asiyah sambil memukuli Aisyah dengan guling. 

“Hoaaam... jam berapa ini Kak? Kok pagi banget banguninnya”, kata Aisyah yang malah menarik selimut birunya hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Pagi banget apanya? Sekarang sudah jam lima lebih! Kok masih belum mau bangun juga” 

“Ummi.... nih Aisyah gak mau bangun!” Teriak kak Asiyah dari dalam kamar. 

“Aisyah, ayo bangun, sudah siang!” sahut Ummi dari dapur. Aisyah pun segera turun dari tempat tidur, tidak lupa berdoa dan pergi mandi. Selesai mandi, Aisyah segera shalat dan bersiap-siap ke sekolah.


Kak Asiyah kelabakan karena PR super rumitnya yang belum selesai dikerjakan.  Aisyah tertawa kacil melihat kakaknya itu yang terlihat sangat kerepotan. Aisyah menyiapkan tasnya yang berwarna biru dan hijau. Aisyah memasukkan banyak keresek dan kertas HVS ke dalam tasnya yang bergambar tanaman. Tas itu dibelikan Abi saat ia masih kelas tiga.

“Yuk semua sarapan dulu sama Abi!”, kata Ummi yang ternyata sudah ada di pintu kamar. Gerakan Ummi memang sangat cepat dan kadang tidak disadari. Itulah kehebatan seorang Ummi. Wanita nomer wahid yang paling kita cintai. Wanita yang sudah bersusah payah melahirkan, merawat, dan mendidik kita. Tetapi tak pernah mengeluh dan terus ada di samping kita. Tak pernah datang terlambat untuk kita. Dialah UMMI kita.

Aisyah dan keluarganya sudah selesai sarapan. Aisyah dan kakaknya segera berangkat ke sekolah. “Assalamu’alaikum Ummi, kami berangkat dulu”, pamit Aisyah dan kak Asiyah sambil mencium tangan Abi dan Ummi. 


“Hati hati di jalan, belajar yang baik, jangan nakal, hormati gurumu, fii amaanillaah”, nasihat Ummi sambil mengelus kepala kedua putrinya. Apapun nasihat yang di ucapkan Ummi pasti di akhiri dengan kata fii amaanillaah yang artinya semoga selalu dalam penjagaan Allah. Ummi tak pernah lupa memberikan nasihat saat melepas keduanya berangkat sekolah. 

Aisyah sudah sampai di kelas tepat lima belas menit sebelum bel . Jalanan masih penuh dengan genangan air bekas hujan tadi malam. 

“Aisyah, nanti pas istirahat, kumpul di teras depan kelas ya” kata salah seorang sahabat Aisyah. Ia memakai kaca mata warna merah. Gadis cantik itu bernama Qintan. 

“Salam dulu donk kalau mau nyapa” kata Aisyah. 

“Hahaha... iya deh, Assalamualaikum isy” Kata Qintan mengulangi sapaannya yang tadi. 

“Wa’alaikumussalaam” jawab Aisyah singkat. “Eh, nanti kita main ke rumahmu ya”, kata Syifa yang sedari tadi ada di situ. Yups! Syifa adalah salah satu dari anggota KP3L.  Mungkin kalian belum tahu banyak tentang KP3L. Artinya KP3L itu Kelompok Pecinta, Pelindung, Penyelamat Lingkungan.

Awalnya Aisyah, Qintan dan Syifa hanya sahabat biasa, tapi Aisyah mengusulkan agar mereka tidak hanya bersahabat  tapi bisa bermanfaat bagi semua orang. Akhirnya terbentuklah KP3L.  Aisyah sebagai ketua bertugas untuk mengatur KP3L dan membuat kerajinan misalnya gelang, kalung, dan lain-lain bertema lingkungan bersama kedua sahabatnya, dan selanjutnya hasil kerajinan itu mereka jual kepada orang orang. Qintan bertugas sebagai bendaharanya, setelah uang terkumpul, uang akan di simpan oleh Qintan dan di belanjakan tempat sampah oleh Syifa. 

Semua itu tergantung bakat mereka. Aisyah terampil membuat kerajinan, Qintan pintar berjualan, dan Syifa adalah yang rumahnya paling dekat dengan toko yang besar. Maklum, di kampung sederhana itu, hanya ada satu toko yang terbilang besar. Tempat sampah itu akan menjadi tempat sampah umum di kampung kecil itu .Oh ya, Aisyah dan kedua sahabatnya juga memunguti sampah yang tercecer setiap mereka jalan kaki. Aisyah memang sudah suka memunguti sampah sejak berumur enam tahun. Bermula saat pulang dari tempat potong rambut.

 “Oh ya... kreasi kamu diborong sama paman Zubair lho..!” kata Qintan. Paman Zubair adalah pamannya Qintan, dialah yang selama ini mengajarkan tentang keajaiban alam, dia sangat baik dan ramah. 

”Kita dapet uang 50.000 dari paman Zubair” kata Qintan. 

”Ah, pasti kamu yang nyuruh, buat apa laki-laki pakai gelang dan kalung” kata Syifa. 

“Eh, nanti kita main ke rumahmu ya...” Kata Syifa mengulangi kalimat yang tadi tidak dijawab oleh Aisyah. 

“Kalian kan emang setiap hari main ke rumahku” kata Aisyah. 

“Hahaha iya ya” Kata Syifa sambil tertawa. Tak terasa bel masuk sudah berdering. Dengan gontai Aisyah duduk di kursinya.


Setelah seharian mengikuti pelajaran, bel pulang yang dinanti-nanti pun berdering. Semua anak berhamburan keluar kelas. Aisyah dan kedua sahabatnya pulang bersama. Mereka terus mengobrol sepanjang jalan dan tentu saja sambil memunguti sampah yang mereka temukan. Akhirnya mereka sampai di perempatan dimana mereka akan berpisah. 

Aisyah melanjutkan perjalanan pulangnya bersama Kak Asiyah. Merekapun sampai di rumah dan Aisyah segera mandi sore lalu shalat Ashar. Aisyah membaringkan tubuhnya di kasur birunya. Tak lama kemudian terdengar suara ketukan. Dan pastinya yang datang adalah Qintan dan Syifa. Aisyah membukakan pintu rumah, dan seperti dugaan Aisyah, Qintan datang bersama kakaknya, kak Berlian si sulung. Kalau sama kak Mutiara pasti sejak belum berangkat juga sudah bertengkar. Kak Berlian sangat mendukung KP3L. Gadis berusia lima belas tahun yang akrab di panggil  Kak Berli jugalah yang mengusulkan nama KP3L.

Merekapun masuk ke rumah dan mulai berdiskusi. Saat berdiskusi terdengar suara keras yang membuat seluruh penududuk kampung gentar, gemetar, dan marah. Terutama para anggota KP3L. Suara yang mengawali petualangan baru bagi KP3L. Yang membuat kak Asiyah nyaris meninggal.

“Dor! Dor! Dor!!!” Suara itu terus terdengar di telinga Aisyah. Membuat telinganya panas. “Hey, suara berisik apa itu?” tanya Abi sambil keluar rumah. Aisyah dkk pun ikut menyusul. Ternyata warga kampung sudah banyak yang berkerumun di depan hutan. Ya, kampung kecil itu memang dikelilingi oleh hutan lebat. Isu-isu tak jelas mulai tersebar. 

“Mohon semuanya tenang!” Teriak Abi membantu para penjaga hutan yang kebingungan bagaimana cara menenangkan para warga yang sangat ribut. Hening, suasana menjadi hening. 

“Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Abi mewakili rasa penasaran para warga.

“Begini, tadi ada beberapa pemburu yang meminta izin untuk memburu di hutan ini, dan mereka sudah dapat izin dari pemerintah.” Kata salah satu penjaga hutan. Suasana kembali ribut. Hingga akhirnya penjaga hutan meminta mereka untuk pulang ke rumah masing masing. Awalnya semua berjalan normal, hingga keesokan harinya,semuanya mulai kacau.

“Hewan hewan langka kita di buru... bersama dengan para burung, dan yang lebih parah, mereka menebangi pohon pohon secara liar, mereka juga mengotori hutan dan mencemari air sungai.” Itulah laporan dari kak Salim. Salah satu warga yang aktif bekerja di hutan.

“Huh sudah ku duga, kerjaannya pemburu pasti selalu begini.” Kata Syifa geram. Saat itu mereka sedang berkumpul di rumah Aisyah. Dan spontan, Syifa berlari ke luar rumah menuju tempat berburunya para pemburu. 

“Dik, maaf, anak kecil tidak boleh masuk.” Kata penjaga hutan mencegah langkah Syifa. 

“Gak bisa, mereka sudah merusak hutan kita, mengambil alam kita.” Kata Syifa sambil menangis. 

“Tidak...! Heiiii, kembali kesini..!!” Itu yang dikatakan penjaga setelah akhirnya Syifa bisa lolos. Aisyah dan Qintan akhirnya bisa ikut menyusul Syifa setelah berdebat dengan penjaga hutan. 

“Syifa, tunggu, cepet ba...” Kata Qintan. Ucapan Qintan terhenti karena melihat Syifa sedang berdebat dengan pemburu. 

“Lho? Bukannya anak kecil gak boleh masuk.?” Tanya salah satu pemburu. 

“Kenapa bapak bunuh hewan langka itu?” Tanya Syifa sambil menangis melihat hewan langka itu sudah terpisah antara kulit, daging, dan tulang. 

“Syifa, sudah yuk, kita pulang.” Bujuk Qintan yang mulai ketakutan. 

“Gak boleh!” teriak Syifa sambil membanting senapan yang ada di sampingnya. Tapi untungnya, senapan itu tidak rusak. 

“Kalau kalian memburu terus harimau ini, maka populasi babi hutan akan meningkat dan memakan / merusak ladang kami sehingga kami kesusahan untuk mencari makan. Dan jika kalian mencemari sungai, maka ekosistem sungai akan terganggu. Ikan ikan akan mati sehingga burung pemakan ikanpun bisa  mati.” Jelas Syifa panjang lebar. Tetapi para pemburu itu malah tertawa lebar. 

“Yang dikatakan temanku itu benar! Kalian tidak bisa begitu saja merusak hutan kami.” Teriak Aisyah. 

“Kalau kalian mau memburu, ya sebutuhnya saja, dan jangan yang langka.” Teriak Qintan yang akhirnya memberanikan diri. “Dan juga jangan merusak kebersihan lingkungan.” Teriak Syifa. Tidak... kali ini tidak tertawa, mereka justru mendengarkan. 

“Ya, tapi anak kecil... kita sudah mendapat izin.” Kata salah satu dari mereka.

“Kalian mendapat izin untuk mengambil seperlunya saja, bukan merusak hutan” Kata seorang lelaki... dan ya... dialah paman Zubair. “Anak anak, ayo pulang, Ummi kalian menunggu.” Bisik paman Zubair. 

“Tapi...” Syifa masih enggan bergeming.

“Orang orang ini biar paman yang tangani.” Kata paman Zubair pada Syifa. “Ingat satu hal anak anak, alam itu seperti kita, mereka punya perasaan, jika di ganggu, maka mereka sendiri yang akan membalasnya, paman janji, alam pasti akan membalas perbuatan mereka.” Nasihat paman saat mengantar mereka pulang. Tapi rasa marah masih menghantui pikiran anggota KP3L. Dan esoknya, strategi mulai di rancang. Perlawanan akan di lakukan besok lusa.

Ah, tak terasa hari ini adalah hari perlawanan yang pertama. Mereka di malam hari mengintai di dekat tempat perkemahan para pemburu. Sebenarnya tadi malam mereka sudah mulai mengintai tapi belum melawan. Penjagaannya tidak terlalu ketat. Mereka berusaha untuk membuat jalanan di hutan menjadi berbeda atau mengarah ke arah yang salah agar para pemburu tersesat. Mereka juga merusak sebagian tenda sehingga saat bangun tendanya akan rusak. Mereka melakukan semua itu dengan sangat hati hati. Berusaha tidak meninggalkan jejak sama sekali. Tetapi tidak... itu hanya berpengaruh sedikit esoknya. Suara tembakan masih terus terdengar. 

Dua minggu berlalu. Semua cara sudah di lakukan, tinggal melakukan yang puncaknya... MEMBAKAR SELURUH PERKEMAHAN ITU. Dan entah apakah mereka memikirkan resikonya atau tidak. Dan hari itupun mereka jalani dengan ke tegangan di malam buta.


“Isy, minyaknya sudah kamu bawa kan?” Tanya Syifa. 

“Iya, nanti kamu bagian nyebarin ya” Kata Aisyah saat mereka sudah sampai di lokasi. 

“Aisyah, Syifa, kalian yakin?” Tanya Qintan menangis sambil memeluk kedua sahabatnya. 

“Yakin, aku yakin banget, ini yang bisa kita lakukan agar para pemburu itu segera meninggalkan hutan." Jawab Aisyah dengan tegas. 

Merekapun saling berpelukan dan mengucapkan yel yel. 
“KP3L” Kata Aisyah. 
“Kelompok” Ujar Syifa. 
“Pe...pe ci... nta” Kata Qintan tersendat. 
“Pelindung” Kata Aisyah. 
“Penyelamat” Kata Syifa. 
“Lingkungan..!” Kata mereka bersamaan.  

Akhirnya Syifa mulai menyebarkan minyak di atas dan sekitar tenda.  Mereka tak henti hentinya memanjatkan doa pada Allah. Sambil menelan ludah, Aisyah mulai menyalakan korek api. Dan dalam hitungan seper sekian detik tenda itu sudah penuh dengan api.  Hijab Aisyah sedikit terbakar. 

“LARIIIIII..!!” Teriak Syifa. 

Tapi terlambat. Rupanya para pemburu itu sudah mengejar mereka. Suara tembakan bersahutan membuat bulu kuduk merinding. Hujan tiba tiba mengguyur hutan itu. Membuat suasana menjadi semakin tegang. Bayangan bayangan menyeramkan mulai berdatangan. Bayangan peluru yang menembus dari punggung hingga ke perut. Bayangan betapa tersiksanya para tawanan. Dan akhirnya Qintan ambruk. Tak kuat berjalan lagi. Kakinya sudah berdarah darah akibat kena duri dan sempat kena api. Hujan yang deras mengakibatkan jalan puang tak lagi terlihat. Sementara para pemburu semakin mendekat. Suara senapan makin jelas terdengar. Dan saat tak ada kemampuan untuk berlari lagi... saat hanya bisa pasrah kepada sang pencipta...akhirnya pertolongan tak terduga itu datang, Ya Allah, akhirnya janjimu datang.

Kak Asiyah, dia datang dan langsung menggendong Qintan yang sudah pingsan. Menunjukkan jalan pintas, tapi tiba tiba satu peluru menggores tangan Kak Asiyah. 

“A.........RGHHH” Teriak kak Asiyah. Tapi beruntung, mereka masih bisa sampai di rumah Aisyah. Hari itu adalah hari terbesar bagi anggota KP3L. Kak Asiyah dan Qintan dibawa ke rumah sakit. Detik per detiknya takkan ada yang pernah terlupakan. Dan, saat Aisyah sang ketua mulai menyerah, merasa tak ada yang mendukungnya, merasa hujan yang tadi malam adalah pertanda akhir perjuangan KP3L, ternyata salah total! Hujan itu malah pertanda jika alam mulai berbicara, mulai protes, atas apa yang dilakukan manusia padanya.


Dan, paman Zubair benar. Paman Zubair tak pernah berbohong. Alam itu berbicara sendiri, Alam itu membalas sendiri. Keesokan paginya, angin kencang terus menderu, dan tanah yang kemarin di gunakan untuk perkemahan para pemburu sekarang sudah menjadi gundukan tanah subur bekas di terjang badai besar tadi malam. Dan hujan itu adalah awalnya.. Bahkan, saking besarnya badai itu, hingga membuat mayat para pemburu tidak ditemukan. Hanya dengan sekali hembusan nafas, dengan izin Allah para pemburu itu sudah terkubur didalam tanah...

Paman Zubair benar, alam itu seperti kita. Jika di ganggu, maka mereka sendiri yang akan membalasnya. Alam pasti membalas perbuatan mereka dengan izin Allah.

Alam akan berbicara sendiri.


Masyaa Allah.

Baca Juga Artikel Terkait Lainnya