Sebuah Cerita Pendek (cerpen) karya Rizqia Rahmadiani, Murid kelas 5C SD IT Hidayatullah Yogyakarta. Karya ini meraih juara 2 dalam lomba menulis yang diadakan di sekolah tahun 2026.
Rumah Piramida Kehidupan
Rizqia Rahmadiani
“Harus cepat sampai ke sekolah nih, sudah hampir jam tujuh!” seru Rizki sambil melirik ke arah jam tangan yang ia kenakan. Rizki pun berlari sekencang mungkin menuju sekolah. Hari ini jadwal upacara bendera pertama setelah liburan semester satu. Jika Rizki terlambat, ia bisa kena hukuman oleh Bu Guru.
“Hosh! Hosh! Akhirnya sampai juga,” gumam Rizki lega, bertepatan dengan suara bel sekolah. Rizki pun segera menaruh tas di kelas dan berbaris di halaman sekolah.
“Baik, anak-anak. Silakan kembali ke kelas masing-masing dengan tertib!” kata Pak Guru setelah upacara bendera selesai dilaksanakan.
“Rizki, kok kayaknya kamu lebih kurus daripada sebelum liburan, ya? Tidak seperti biasanya,” tanya Ziyan, teman sebangku Rizki.
“Iya nih, soalnya dari kemarin kalau makan harus dihemat-hemat. Ayahku sedang tidak ada uang karena selama liburan ini ayah dan ibuku gagal panen. Kan selama bulan Desember ini hujan terus, jadi tidak bisa panen garam,” jawab Rizki lesu.
“Garam? Memangnya pekerjaan ayah dan ibumu apa?” tanya Ziyan penasaran.
“Ayah dan ibuku kerja sebagai petani garam,” jawab Rizki singkat.
“Ya sudah, begini saja. Nanti saat istirahat aku traktir kamu makan di kantin, deh, biar kamu tidak kelaparan lagi,” ajak Ziyan.
“Ah, tidak usah deh. Aku takut merepotkan kamu. Kamu kan sudah sering traktir aku,” jawab Rizki tidak enak.
“Sudah, tidak apa-apa. Aku tidak keberatan kok traktir kamu terus-terusan. Terima ya? Please,” pinta Ziyan.
“Mm... ya sudah deh. Terima kasih banyak, ya,” jawab Rizki ragu-ragu. Ziyan pun membalas dengan senyum sambil mengangguk.
Tanpa mereka sadari, mereka mengobrol di saat jam pelajaran dengan suara yang cukup terdengar seisi kelas. Mereka pun langsung diserbu puluhan tatapan dari seluruh teman-teman mereka, termasuk Bu Guru.
“Rizki! Ziyan!” tegur Bu Eti sambil berkacak pinggang.
Rizki dan Ziyan terperanjat, lalu segera kembali memperhatikan pelajaran Bu Eti.
“Ting! Tong!” Bel tanda istirahat berbunyi. Ziyan pun langsung berdiri dari tempat duduk dan berlari sambil menarik lengan Rizki menuju kantin.
“Silakan, pilih saja makanan yang kamu suka,” kata Ziyan setibanya di kantin.
“Beneran nih, tidak apa-apa?” tanya Rizki ragu.
“Iya, tidak apa-apa kok. Pilih saja. Kalau kamu juga ingin minuman, bilang saja. Aku senang kok,” jawab Ziyan berusaha meyakinkan Rizki.
Rizki pun akhirnya menunjuk salah satu makanan yang tertera dalam menu.
“Oh, kamu mau bakso? Oke, aku pesan dulu, ya,” kata Ziyan. Rizki mengangguk.
Rizki pun duduk sambil menunggu Ziyan. Cuaca hari ini agak mendung, sudah hampir bisa dipastikan akan hujan. Sepertinya mereka akan hujan-hujanan untuk kembali ke kelas.
Lima belas menit kemudian, dua mangkuk bakso pun datang.
“Ini ya, Dik, pesanannya,” kata pegawai kantin.
Rizki pun langsung menyambar bakso yang ada di depannya, dan satu detik kemudian Rizki langsung memakan bakso tersebut dengan lahap, sama halnya dengan Ziyan.
Dugaan Rizki benar. Ketika hendak kembali ke kelas, hujan turun dengan derasnya. Ziyan pun mengambil payung lipat yang ada di sakunya dan membukanya. Mereka pun kembali ke kelas dengan tenang.
“Ting! Tong!” Bel tanda pulang berbunyi. Anak-anak berhamburan keluar kelas menuju jemputan masing-masing.
“Rizki, kamu dijemput ayah atau ibumu?” tanya Ziyan.
“Oh, tidak. Aku jalan kaki kok,” jawab Rizki singkat.
“Hah? Jalan kaki? Hujan deras begini, loh?” tanya Ziyan.
“Iya, tidak apa-apa. Aku sudah biasa kok,” jawab Rizki.
“Aku antar kamu pulang saja, ya. Kebetulan aku sudah dijemput sopirku,” kata Ziyan.
“Tidak usah! Aku tidak apa-apa kok,” tolak Rizki.
“Sudah, ayo ikut saja. Besok kan seragamnya masih dipakai. Masa kamu pakai baju dan sepatu basah besok?” kata Ziyan.
“Iya juga, sih...” gumam Rizki.
Rizki pun akhirnya menerima ajakan Ziyan. Ziyan lalu dengan senang mengarahkan Rizki menuju mobilnya. Rizki terperangah dengan mobil yang dinaiki Ziyan—berwarna hitam berkilau, bersih, dan wangi, serta tempat duduknya sangat empuk.
“Ziyan, ini mobil kamu?” tanya Rizki kagum.
“Iya, ayo masuk,” jawab Ziyan mempersilakan.
“Sudah siap, Dik?” tanya Pak Dayan, sopir Ziyan, disertai dengan anggukan Ziyan.
“Brm! Brm!” Mesin mobil dinyalakan. Beberapa menit kemudian mobil pun melaju meninggalkan halaman sekolah.
“Rumah kamu di mana?” tanya Ziyan kepada Rizki. Rizki pun menyebutkan alamat rumahnya kepada Ziyan, lalu Ziyan memberitahu Pak Dayan. Pak Dayan melajukan mobilnya sesuai dengan alamat Rizki.
“Sudah hampir sampai ya, Dik,” kata Pak Dayan memberi tahu. Rizki pun bersiap-siap untuk turun. Sebelumnya, Rizki berterima kasih kepada Ziyan dan Pak Dayan karena sudah mau mengantarkannya pulang.
Kebetulan saat sampai di rumah Rizki, hujan sudah reda, jadi Rizki tidak perlu susah payah untuk turun dari mobil.
“Eh, Rizki, orang tuamu kan pekerjaannya petani garam. Aku mau lihat dong proses pembuatan garam, jadi ingin lihat, he-he,” kata Ziyan penasaran.
“Oh, kalau gitu aku tanya ayah dan ibuku dulu, ya!” jawab Rizki.
“Oke!” kata Ziyan bersemangat sambil mengacungkan jempol.
“Assalamu’alaikum! Rizki pulang!” kata Rizki.
“Wa’alaikumussalam! Eh, Rizki, kok tumben pulang cepat?” tanya ayah Rizki.
“Iya, Yah. Tadi waktu pulang hujan deras. Kan besok seragamnya masih dipakai, jadi terpaksa hujan-hujanan. Tapi tadi Ziyan mempersilakan Rizki buat ikut naik mobilnya,” jawab Rizki menjelaskan.
“Wah, baik sekali! Terima kasih ya, Nak Ziyan,” kata ayah Rizki senang.
“Sama-sama, Om,” jawab Ziyan tersenyum.
“Oh iya, Ayah, boleh tidak Ziyan melihat proses pembuatan garam Ayah?” tanya Rizki.
“Wah, ya boleh dong!” jawab ayah Rizki sambil tersenyum menatap Ziyan.
Wajah Ziyan seketika berbinar mendengarnya. Ia pun langsung meminta izin kepada Pak Dayan. Setelah diperbolehkan, Ziyan langsung sigap turun dari mobil dan membuntuti ayah Rizki menuju tambak garam. Rizki yang melihatnya pun terkekeh dengan tingkah laku Ziyan. Mereka pun pergi menuju tambak garam tempat ayah Rizki bekerja. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya mereka sampai juga. Di sana terdapat puluhan petani garam yang sedang bekerja. Mereka semua juga satu desa dengan Rizki.

