Belajar Sains Di Dapur Ibu

 

Sebuah Cerita Pendek (cerpen) karya Naufa Hashifaturrahmah, Murid kelas 5C SD IT Hidayatullah Yogyakarta. Karya ini meraih juara 1 dalam lomba menulis yang diadakan di sekolah tahun 2026.

Belajar Sains Di Dapur Ibu

Naufa Hashifaturrahmah

Liburan sekolah telah tiba. Liburan sekolah kali ini aku habiskan di rumah saja karena aku punya adik kecil yang belum bisa bepergian jauh. Jadi, aku menghabiskan liburan di rumah bersama keluargaku. Walaupun tidak bepergian jauh, aku tetap merasa senang karena bisa punya banyak waktu bersama keluargaku dan bermain dengan adik kecilku. Setiap pagi aku tetap bangun pagi seperti biasa.

Pada suatu pagi yang cerah, Ibu terlihat sibuk memasak di dapur. Lalu aku berinisiatif membantu Ibu memasak.

Aku bertanya, “Ibu mau masak apa hari ini? Aku bantu, ya, Bu.”

Kemudian Ibu menjawab, “Wah, senangnya kalau kamu mau membantu Ibu. Ayo kita memasak makanan untuk sarapan nanti. Rencananya pagi ini Ibu akan memasak sayur sawi dan lauknya tempe goreng. Kamu bisa, kan, bantu Ibu menggoreng tempe?”

“Dengan senang hati, Bu,” kataku.

Lalu aku memotong tempe, membalurinya dengan bumbu, kemudian memanaskan minyak untuk menggoreng tempe. Saat minyak sudah panas, aku memasukkan tempe, lalu membolak-baliknya supaya tidak gosong.

Beberapa menit kemudian aku bertanya, “Bu, apakah tempe ini sudah matang?”

Ibu menjawab, “Oh, itu sudah matang. Matikan saja kompornya.”

Mendengar jawaban Ibu, aku segera mematikan kompor tersebut. Tetapi aku tidak langsung meniriskan tempe itu. Aku melihat minyak di wajan masih mengeluarkan gelembung-gelembung, sama seperti saat api belum aku matikan.

Melihat hal tersebut, Ibu berkata, “Mbak, kalau tempenya tidak diangkat bisa gosong, loh.”

Aku menjawab, “Kok bisa gosong, kan kompornya sudah aku matikan?”

Lalu Ibu tersenyum dan menjawab, “Karena minyaknya masih panas, Mbak.”

Setelah selesai menggoreng tempe, Ibu memintaku merebus air untuk mandi adik kecilku. Aku mengisi panci dengan air sampai penuh, kemudian meletakkannya di atas kompor dan menyalakannya. Tak lama kemudian air mendidih dan mengeluarkan gelembung-gelembung. Saat air sudah mendidih, aku mematikan kompor.

Aneh sekali, kok gelembung-gelembung airnya langsung berhenti, tidak seperti minyak tadi. Kemudian aku bertanya kepada Ibu, “Bu, kok gelembung-gelembung airnya langsung berhenti, tidak seperti minyak tadi?”

Ibu menjawab, “Itu karena titik didih air dan minyak berbeda.”

Ibu menjelaskan bahwa titik didih minyak lebih tinggi daripada titik didih air. Titik didih air adalah 100°C, sedangkan titik didih minyak goreng jauh lebih tinggi, berkisar antara 177°C hingga 240°C atau lebih, tergantung jenis minyaknya. Minyak goreng masih bisa digunakan untuk menggoreng setelah api dimatikan karena panas sisa dari minyak dan wajan dapat mempertahankan suhu cukup tinggi untuk menggoreng sebentar meskipun sumber panas utama sudah hilang, terutama karena minyak memiliki titik didih yang tinggi.

Aku mendengarkan penjelasan Ibu dengan sungguh-sungguh. Aku jadi tahu bahwa peristiwa saat memasak di dapur bisa dijelaskan dengan ilmu pengetahuan. Ternyata aku bisa belajar sains di dapur Ibu.

Saat memasak di dapur, aku mendapatkan banyak pelajaran dari Ibu. Ibu selalu mengingatkanku untuk berhati-hati saat berada di dapur. Aku tidak boleh bermain-main dengan api, minyak panas, dan air panas karena jika tidak berhati-hati akan berbahaya. Misalnya, kulit kita bisa melepuh jika terkena.

Memasak di dapur bersama Ibu membuatku senang karena aku bisa mendapatkan banyak pelajaran yang berguna. Aku belajar membantu Ibu, belajar bertanggung jawab, belajar memasak, dan belajar tentang sains dengan cara yang sederhana. Aku bangga karena masakanku dipuji oleh keluargaku. Sejak saat itu aku jadi semangat membantu Ibu di dapur dan tidak takut bertanya jika belum paham. Ternyata dapur Ibu merupakan tempat belajar yang menyenangkan untukku.

Previous Post
Next Post