Guru Adalah Gudang Solusi

 


"Guru pahlawan tanpa tanda jasa"

Kalimat ini sudah tak asing di telinga kita. Dalam bahasa Jawa pun juga ada, guru, digugu lan ditiru, artinya, didengarkan dan dicontoh. Sosok guru menjadi begitu luar biasa di mata anak-anak terutama mereka yang masih berusia 7-9 tahun, bahkan terkadang ucapan guru jauh lebih didengarkan daripada orangtuanya.

Seorang guru juga seharusnya bisa memberikan teladan yang baik untuk para muridnya. Karena setiap gerak gerik mereka akan selalu dilihat dan diperhatikan oleh para murid.

Satu contoh, ada seorang guru yang ketika upacara bendera di depan para murid guru tersebut berbicara dengan guru lainnya. Kemudian ketika di kelas, saat guru tersebut memberikan nasehat untuk selalu tenang dan memperhatikan ketika upacara lantas ada seorang anak yang mengatakan: "Tadi bu guru juga mengobrol, kan kita harus mencontoh bu guru, jadi besok kita boleh ngobrol". 
Contoh lain, saat seorang guru masuk kelas dan mengisi pelajaran, di tengah-tengah pelajaran seorang murid tiba-tiba bertanya, "Bu, kita ga boleh ngomongin orang kan?", "Iya, nak, tidak boleh". Jawab bu guru.
"Tapi tadi bu guru A ngomongin kelas kita".
Deggg, si ibu guru diam sesaat, memikirkan jawaban apa yang tepat untuk anak muridnya itu.

Itu beberapa contoh saja, yang lain tentu masih banyak. Dari sini bisa dilihat bahwa anak benar-benar memperhatikan gurunya dengan seksama.

Selain sebagai teladan para murid, guru juga bisa berubah menjadi gudang solusi. Bagaimana bisa? Iya, terutama wali kelas yang hampir  setiap jam pelajaran berada di kelas. Anak-anak yang percaya atau mulai memiliki kepercayaan dengan gurunya pasti akan bercerita tentang masalah mereka. Atau menceritakan hal-hal yang terjadi di kelas dan meminta pendapat atau solusi dari gurunya.

Tidak hanya itu, meski pun anak tidak meminta solusi sekali pun guru harus bisa menjadi problem solver untuk mereka. Tak selamanya dengan teman sekelas mereka akan akur, di sini tugas guru harus bisa mencari solusi untuk mendamaikan mereka, tidak hanya hubungan dengan antar teman, tentang pelajaran pun juga. Daya tangkap anak tak semua sama, ada yang bagus dan ada yang kurang bagus. Guru lagi-lagi harus bisa menemukan cara untuk bisa membuat anak mengerti dan paham pelajaran tersebut.

Menjadi problem solver untuk para murid bisa menjadi salah satu langkah dari berbagai langkah yang ada untuk guru mendekati muridnya dan meraih simpatinya. Jika anak sudah percaya dan simpati dengan guru maka anak insyaAllah akan mudah diarahkan dan dikendalikan, karna ia sudah percaya dengan sang guru.

Memang tidak semua guru memiliki kemampuan menjadi problem solver yang baik, namun itu bukan alasan lantas seorang guru lepas tangan begitu saja terhadap muridnya atau bahkan tak peduli. Sebagai guru yang amanah dan baik, ini merupakan ladang pahala dan kebaikan,  maka harus memberikan yang terbaik untuk para muridnya ketika murid membutuhkan 'kita', para guru.


Oleh: Yulias Fita, Guru SD IT Hidayatullah 
Powered by Blogger.
close