@sdhidayatullah (@) https://4.bp.blogspot.com/-ie52Oh_wT-s/WHHi75UACjI/AAAAAAAAEYE/PnOATooq-Y4v_HVhR_AakM0G2d699uWIwCLcB/s1600/ignielcom.png https://cards-dev.twitter.com/validator 144 x 144 px4096 x 4096 px5MB
» » » » Wahai Bunda, Berikan Waktumu Ketika Si Kecil Membutuhkan

Wahai Bunda, Berikan Waktumu Ketika Si Kecil Membutuhkan

Penulis By on Thursday, July 29, 2021 | No comments



Ditulis oleh Ustadzah Norhikmah, guru SDIT Hidayatullah Yogyakarta, sekolah Islam di Sleman yang mendidik generasi bertauhid, unggul, dan berkarakter.


Bunda ini apa namanya ?

Bunda lihat gambaranku....bagus ngga?

Bunda bagaimana ini caranya ?...aku belum bisa...

Bunda bisa buatkan yang seperti ini ngga ?

Bunda mengapa sih kita harus wudhu sebelum sholat?

Bunda mengapa sih kita harus sholat terus ?

Bunda mengapa sih orang banyak sakit ?

Allah ngga sayang kita ya Bunda?

Bunda...buku yang kemaren mana?

Dan banyak lagi lainnya kita alami dalam kehidupan sehari-hari selama membersamai mereka. Banyak sekali yang mereka tanyakan, inginkan, harapkan dari kita sebagai orang tuanya. Setiap saat, setiap menit, setiap jam bahkan setiap hari. Mereka belum bisa memahami kondisi kita. Apakah kita sibuk bekerja, sedang istirahat setelah lelah seharian bekerja, ada masalah, sedih, bahkan ketika kita sedang sholat, tidak luput dari berondongan pertanyaan-pertanyaan atau hanya sekedar minta sedikit perhatian dari kita. Yang mereka tahu bahwa ada seseorang yang selalu bisa membantu memecahkan permasalahan yang mereka hadapi dan bisa menjadi pendengar yang baik untuk cerita dan keluh kesah mereka.

Terkadang terhadap semua celotehan atau keinginan-keinginan anak tersebut, kita sebagai orang tuanya hanya menyikapi dengan sikap biasa-biasa saja, merespon dengan seadanya, dan lebih menyedihkan lagi ada yang tidak merespon bahkan memarahinya karena dirasa mengganggu aktifitas orang tua. Padahal kita tidak selamanya dibutuhkan mereka. Kita hanya sebentar membersamai hidup mereka. Ada waktunya mereka tidak membutuhkan kita lagi untuk tempat bertanya, tempat berbagi kebahagiaan dan kesedihan, dan sebagai teman bermain. 

Bunda....kalau kita ingat-ingat, hal-hal tersebut  seringnya terjadi di masa kecil anak seusia usia 2-7 tahun, di mana usia tersebut kita kenal dengan golden age (usia keemasan). Di mana di usia tersebut anak-anak sering bertanya dan minta perhatian yang lebih dari kita. Melakukan hal-hal yang yang menurut kita nggak masuk akal/tidak penting hanya untuk mengalihkan perhatian kita kepada mereka. Apa yang bisa kita lakukan agar pendampingan anak bisa optimal di masa perkembangannya? 

Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu bahwa di masa perkembangan anak menuju remaja dan dewasa, ada masa keemasan tumbuh kembang  anak   (golden age). Masa itu sekitar umur 0 – 7 tahun. Masa ini merupakan :

Masa keemasan tumbuh kembang anak

Masa penting penanaman mahabbatullah

Masa dimulai pengajaran agama dan adab yang baik

Masa butuh perhatian dan kasih sayang

Masa diberi kesempatan dan diajak bersama

Di masa ini anak banyak memberdayakan penglihatan dan pendengaran mereka dalam beradaptasi dengan lingkungan sekitar (pembelajaran kehidupan). Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT yang terdapat di QS. An Nahl (16) : 78

       وَاللّٰهُ اَخْرَجَكُمْ مِّنْۢ بُطُوْنِ اُمَّهٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ شَيْـًٔاۙ وَّجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun, dan  Dia memberimu pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, agar kamu bersyukur”.

Memahami karakter anak di usia keemasan. Berbagai karakter tersebut adalah sebagai berikut :

Banyak bergerak dan tak bisa diam

Imitater (peniru) ulung 

Keras kepala dan menentang

Tak bisa membedakan mana benar dan salah

Banyak bertanya

Ingatan yang tajam

Suka diapresiasi dan disemangati

Suka main dan bergembira

Suka berlomba

Berpikir dan berimajinasi

Cenderung untuk eksplor keterampilan

Perkembangan bahasanya cepat

Cenderung untuk bongkar pasang sesuatu

Berpotensialnya perasaan takut, marah, dan cemburu. 

Mendampingi masa perkembangan anak dengan memberikan waktu yang cukup untuk anak ketika kita dibutuhkan oleh mereka. Ketika anak bertanya sesuatu, ketika itulah saat yang paling tepat untuk pembelajaran hidup, menanamkan nilai-nilai tauhid, adab dan nilai-nilai kehidupan positif lainnya. Kenapa ? Karena saat itu rasa ingin tahu anak sangat tinggi, otaknya siap menerima informasi dari kita dan dalam kondisi senang. Maka jangan pernah melewatkan moment-moment penting itu dalam kehidupan sehari-hari. Meski kadang moment-moment tersebut hadir di waktu yang tidak tepat. Misal kita sedang sibuk bekerja mengejar deadline, anak datang dengan rentetan pertanyaan yang membuat kita emosi dan marah. Dalam kondisi seperti ini kita bisa memberikan jawaban sementara dan menjadwal ulang diskusinya. Tetapi ketika kita tidak melakukan hal yang penting, hanya sekedar melaksanakan hobi maka berikanlah waktu yang cukup untuk kebutuhan anak-anak kita.


Maasya Allah...Bunda....

Ketika masa keemasan anak tersebut tidak kita isi dengan pendampingan optimal, maka pastilah terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan pada diri anak kita. Mereka keluar dari jalur fitrahnya yang sejak dilahirkan sudah Allah karuniakan kepadanya. Misal ketika kita selalu tak acuh pada apa yang dilakukan anak, pertanyaan-pertanyaan mereka jarang kita respon, dan cerita-cerita mereka jarang kita dengarkan bahkan kita jarang berkomunikasi dengan mereka maka tunggulah kedatangan  saat dimana sesuatu atau seseorang akan menggantikan peran kita sebagai orang tua. Ketika dunia luar sudah memberikan kebahagiaan, ketika dunia luar lebih menarik dari apa yang kita persembahkan, ketika itu pula peran kita tergantikan, baru terasa sedih dan pilu menyapa hati kita. 

Bunda, sebelum semuanya terlambat, sebelum berakhir masa keemasan anak kita, pastikan bahwa kita sudah mendampingi mereka, memberikan perhatian dan penghargaan yang cukup untuk mereka serta sudah menanamkan nilai-nilai tauhid dan adab kepada mereka supaya mereka mempunyai bekal yang cukup untuk terjun ke dunia luar yang sarat dengan fitnah. Terakhir pastikan anak kita bisa menjawab, memahami, dan mengamalkan pertanyaan ini dengan baik dan benar.

Maa ta’budu mimba’di (apa yang kamu sembah sepeninggalku ?)


Wallahu ‘alam





Baca Juga Artikel Terkait Lainnya