Negeri yang Menua

Foto Ilustrasi : Murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak. Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua.

Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi,  kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di masa tua. Mereka pun lebih memilih memelihara anjing atau hewan piaraan lain daripada mengurusi anak.

Keengganan mengurusi anak membawa dampak serius bagi masa depan demografis Jepang. Gejala yang sebenarnya sudah lama berlangsung ini mulai membawa dampak serius. Yubari yang terletak di sub-prefecture Sorachi di prefecture Hokkaido, Jepang mengumumkan kebangkrutan pada tahun 2006. Padahal sebelumnya, Yubari yang terkenal sebagai penghasil melon terbaik ini dulunya merupakan municipal, kota swadana yang sangat diperhitungkan. Di Yubari terdapat tambang batubara.

Terakhir kali ada yang melahirkan di Yubari, menurut catatan, tahun 2007. Selama 10 tahun hingga sekarang ini tak ada lagi catatan kelahiran di kota tersebut. Jika tahun 1960 jumlah penduduk 120.000 jiwa, maka tahun 2014 tersisa 10% saja. Penduduk tinggal 12 ribu jiwa yang sebagian besar manula. Tahun 2016 atau hanya dalam waktu 2 tahun, penduduk Yubari berkurang secara alamiah sebesar 25% sehingga yang tersisa hanya 9 ribu orang. Penjualan popok untuk lansia pun meningkat, melebihi penjualan popok untuk anak.

Diperkirakan ada 896 kota (towns and cities) yang akan menyusul nasib Yubari. Sekali lagi, bukan karena peperangan, tetapi karena tidak ada proses regenerasi yang memadai. Angka kecukupan minimal untuk bertahannya sebuah peradaban adalah pertumbuhan penduduk minimal 2.1 di tiap keluarga.

Pemerintah Jepang agaknya sangat menyadari hal ini. Ada perhatian cukup besar terhadap keluarga yang mau mempunyai anak. Bukan warga negara Jepang pun mendapatkan santunan jika melahirkan di Jepang. Tetapi pada saat yang sama, ada kebijakan yang agaknya membuat para orangtua semakin enggan punya anak dan mengurusinya. Alih-alih menguatkan posisi orangtua, Jepang justru mengeluarkan kebijakan hankouki yang sekarang bahkan ke tingkat SD. Apa itu hankouki? Hak melawan orangtua. Jika sebelumnya hankouki diberikan kepada anak yang sudah memasuki usia matang, 18 tahun, sekarang bahkan sudah diberikan kepada anak SD di kelas akhir. Maka apalagi alasan yang dapat menguatkan alasan mereka untuk mempunyai anak jika orangtua semakin tak punya kewenangan terhadap anaknya sendiri? Maksudnya menguatkan generasi penerus, agaknya justru bisa berakibat generasi penerusnya itu sendiri yang kian sedikit.

Mudah ditebak, melemahnya kewenangan orangtua dapat berakibat melemahnya sikap-sikap utama yang proses penanamannya memerlukan usaha yang keras. Jika beriring dengan orientasi bersenang-senang yang bertambah besar, besar kemungkinan anak-anak muda akan segera kehilangan etos kerja. Mereka enggan bekerja keras, terlebih di sektor "kasar", meskipun mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras.

Melemahnya adab, keengganan mempunyai anak karena nilai ekonominya rendah, dan terputusnya generasi adalah sebagian dari tanda-tanda negeri yang sedang memasuki usia senja. Selama saya berada di Nagoya, rasanya lansia semakin banyak. Tetapi mungkin saja saya salah karena hanya melihat sepintas. Meskipun demikian, kombini (convenient store) yang banyak dilayani oleh pramuniaga "berumur" agaknya sedang mengabarkan sesuatu.

Boleh jadi proyeksi demografis yang memperkirakan tahun 2050 Jepang akan memiliki angka ketergantungan (dependent ratio) sebesar 96% benar adanya. Artinya, di tahun itu jumlah penduduk lansia yang memerlukan bantuan serta anak di bawah umur mencapai angka 96%.

Satu hal, melihat berbagai fenomena yang ada semakin meyakinkan bahwa sejauh apa pun kita berpikir jika terlepas dari wahyu, pada saatnya akan membinasakan meskipun tampak benar.

Wallahu a'lam bish-shawab.

GA 881 Narita - Denpasar, 26 September 2017


Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi. Penulis Buku-buku Parenting

0 Response to "Negeri yang Menua"

Post a Comment