Nonton Bareng Film G30SPKI Santri Hidayatullah dan Koramil Ngaglik


www.sdithidayatullah.net | Sabtu (30/09/2017) Ratusan santri Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta memadati masjid Masjid Markazul Islam Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta. Pada malam itu diadakan nonton bareng film G30SPKI. Hadir pada malam itu para Bapak-bapak TNI dari Koramil Kecamatan Ngaglik.

Ustadz Abu Abdurrahman, dalam sambutannya memberikan motivasi kepada ratusan santri Hidayatullah Yogyakarta untuk memahami sejarah, bahwa PKI itu ada dan sekarang pun masih ada. Beliau juga menyampaikan kepada Bapak-bapak TNI untuk bisa membimbing para santri dari segi fisik atau mental mereka sehingga kelak menjadi santri yang siap membela negara. Gema takbir membahana di ruang masjid menyambut seruan ini.

Sementara itu, salah satu anggota TNI Koramil Ngaglik, ketika menyampaikan sambutan siap bergandeng dengan rakyat untuk membasmi paham komunis ini. 

Kegiatan nonton bareng ini juga bersamaan dengan acara Silaturahmi Anggota Majelis Mudzakarah Ustadz Suharsono bersama DPW Hidayatullah DIY - Jawa Tengah Bagian Selatan yang berlangsung selama 2 hari, yaitu Sabtu dan Ahad ini.

Dalam acara ini juga diserahkan secara simbolis, dana bantuan untuk Muslim Rohingya yang digalang oleh santri-santri Pondok PEsantren Hidayatullah Yogyakarta sebesar lebih kurang Tujuh Puluh Juta Rupiah.

Rep. @EMTHORIF


Negeri yang Menua

Foto Ilustrasi : Murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta
Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Pertama kali ke Jepang tahun 2005, gambaran tentang pendidikan di Jepang adalah model yang sangat memperhatikan pembentukan adab pada diri anak. Kesantunan serta sikap hormat mereka sudah sangat masyhur, baik terhadap guru maupun orangtua. Jangankan yang belajar di Jepang sejak usia playgroup maupun SD hingga SMA, mereka yang kuliah di Jepang semenjak S-1 pun akan membekas pada dirinya dua sifat yang cenderung kuat: rendah hati dan menghormati senior, termasuk guru dan orangtua.

Zaman berganti masa bertukar. Ketika saya berkesempatan mengunjungi Jepang lagi,  kuat terasa anak-anak muda yang cenderung meniru habis gaya Amerika, bahkan boleh jadi melebihi yang ditiru. Ini terasa betul pada anak-anak muda. Beriringan dengan itu, kian banyak perempuan yang enggan menikah dan pasangan suami-istri yang malas punya anak. Mengapa? Membesarkan anak merupakan investasi yang besar dan berat, terlalu banyak biaya yang harus dikeluarkan, tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan di masa tua. Mereka pun lebih memilih memelihara anjing atau hewan piaraan lain daripada mengurusi anak.

Keengganan mengurusi anak membawa dampak serius bagi masa depan demografis Jepang. Gejala yang sebenarnya sudah lama berlangsung ini mulai membawa dampak serius. Yubari yang terletak di sub-prefecture Sorachi di prefecture Hokkaido, Jepang mengumumkan kebangkrutan pada tahun 2006. Padahal sebelumnya, Yubari yang terkenal sebagai penghasil melon terbaik ini dulunya merupakan municipal, kota swadana yang sangat diperhitungkan. Di Yubari terdapat tambang batubara.

Terakhir kali ada yang melahirkan di Yubari, menurut catatan, tahun 2007. Selama 10 tahun hingga sekarang ini tak ada lagi catatan kelahiran di kota tersebut. Jika tahun 1960 jumlah penduduk 120.000 jiwa, maka tahun 2014 tersisa 10% saja. Penduduk tinggal 12 ribu jiwa yang sebagian besar manula. Tahun 2016 atau hanya dalam waktu 2 tahun, penduduk Yubari berkurang secara alamiah sebesar 25% sehingga yang tersisa hanya 9 ribu orang. Penjualan popok untuk lansia pun meningkat, melebihi penjualan popok untuk anak.

Diperkirakan ada 896 kota (towns and cities) yang akan menyusul nasib Yubari. Sekali lagi, bukan karena peperangan, tetapi karena tidak ada proses regenerasi yang memadai. Angka kecukupan minimal untuk bertahannya sebuah peradaban adalah pertumbuhan penduduk minimal 2.1 di tiap keluarga.

Pemerintah Jepang agaknya sangat menyadari hal ini. Ada perhatian cukup besar terhadap keluarga yang mau mempunyai anak. Bukan warga negara Jepang pun mendapatkan santunan jika melahirkan di Jepang. Tetapi pada saat yang sama, ada kebijakan yang agaknya membuat para orangtua semakin enggan punya anak dan mengurusinya. Alih-alih menguatkan posisi orangtua, Jepang justru mengeluarkan kebijakan hankouki yang sekarang bahkan ke tingkat SD. Apa itu hankouki? Hak melawan orangtua. Jika sebelumnya hankouki diberikan kepada anak yang sudah memasuki usia matang, 18 tahun, sekarang bahkan sudah diberikan kepada anak SD di kelas akhir. Maka apalagi alasan yang dapat menguatkan alasan mereka untuk mempunyai anak jika orangtua semakin tak punya kewenangan terhadap anaknya sendiri? Maksudnya menguatkan generasi penerus, agaknya justru bisa berakibat generasi penerusnya itu sendiri yang kian sedikit.

Mudah ditebak, melemahnya kewenangan orangtua dapat berakibat melemahnya sikap-sikap utama yang proses penanamannya memerlukan usaha yang keras. Jika beriring dengan orientasi bersenang-senang yang bertambah besar, besar kemungkinan anak-anak muda akan segera kehilangan etos kerja. Mereka enggan bekerja keras, terlebih di sektor "kasar", meskipun mereka lahir dan tumbuh di lingkungan yang menghargai kerja keras.

Melemahnya adab, keengganan mempunyai anak karena nilai ekonominya rendah, dan terputusnya generasi adalah sebagian dari tanda-tanda negeri yang sedang memasuki usia senja. Selama saya berada di Nagoya, rasanya lansia semakin banyak. Tetapi mungkin saja saya salah karena hanya melihat sepintas. Meskipun demikian, kombini (convenient store) yang banyak dilayani oleh pramuniaga "berumur" agaknya sedang mengabarkan sesuatu.

Boleh jadi proyeksi demografis yang memperkirakan tahun 2050 Jepang akan memiliki angka ketergantungan (dependent ratio) sebesar 96% benar adanya. Artinya, di tahun itu jumlah penduduk lansia yang memerlukan bantuan serta anak di bawah umur mencapai angka 96%.

Satu hal, melihat berbagai fenomena yang ada semakin meyakinkan bahwa sejauh apa pun kita berpikir jika terlepas dari wahyu, pada saatnya akan membinasakan meskipun tampak benar.

Wallahu a'lam bish-shawab.

GA 881 Narita - Denpasar, 26 September 2017


Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi. Penulis Buku-buku Parenting

Ustadz Zainal Arifin : 2 Wasiat untuk Penuntut Ilmu


Petugas Upacara Bendera akan mengibarkan Merah Putih
www.sdithidayatullah.net | Senin (25/09/2017) Dalam Upacara Hari Senin, yang dilaksanakan oleh SDIT Hidayatullah Yogyakarta setiap hari Senin ini, Ustadz Zainal Arifin, S.Pd,I. yang hari ini menjadi pembina upacara memberikan nasehat kepada ratusan murid dan puluhan guru tentang 2 wasiat menuntut ilmu agar ilmu bisa masuk ke dalam diri kita, yaitu:

Pertama Tidak Boleh Sombong, "Hendaklah tidak berlaku sombong. Sombong kepada guru, kepada teman-temannya. Jika sombong ini ada pada diri kita, maka otak kita akan ditutup, sehingga ilmu tidak akan bisa masuk." Kata Ustadz Zainal. "Ibarat kran, kalau kran ini tertutup rapat, maka airnya tidak akan bisa mengalir," begitu Ustadz Zainal berfilosofi.
Suasana Upacara Bendera di SDIT Hidayatullah Yogyakarta
Kedua, Mengikuti Petunjuk Guru. "Karena pada hakekatnya guru itu lebih memahami daripada murid," kata Beliau. "Pengalaman seorang guru lebih banyak dibanding dengan murid-murid, sehingga guru tentu lebih mengerti apa yang harus dia berikan kepada para muridnya."

Upacara bendera setiap hari Senin ini dalam rangka menanamkan kepada setiap murid untuk cinta tanah air dan bangsa. Adapun petugas upacara diserahkan kepada kelas 5 secara bergantian dengan pembimbing guru olahraga. Upacara ini diikuti oleh seluruh murid, guru, dan pegawai SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Laporan dan Foto @emthorif

Study Banding Lembaga Pendidikan Binaan Laziz PLN Pusat Jakarta di Hidayatullah Yogyakarta



www.sdithidayatullah.net | Sabtu (16/07/2017) Sebanyak 25 orang pengurus yayasan dan sekolah binaan LAZIS PLN Pusat Jakarta mengadakan kunjungan belajar di Yayasan As-Sakinah Yogyakarta yang membawahi sekolah Hidayatullah mulai dari TKIT Yaa Bunayya, SDIT Hidayatullah, MTs dan MA Hidayatullah. Kunjungan tersebut dalam rangka study banding sekolah-sekolah yang dibawah naungan LAZIS PLN Pusat Jakarta.

Ustadz Syamsul Maarif, S.Ag. selaku pengurus Yayasan As-Sakinah Yogyakarta beserta pimpinan sekolah mulai dari TK, SD, MTs, dan MA menyambut dalam sebuah acara seremonial di Aula Sekolah Menengah Intergral (SMI) Hidayatullah.

Selesai acara seremonial, seluruh peserta menyebar ke unit-unit kerja untuk sharing tentang pendidikan di Hidayatullah ini.

Laporan @emthorif

Sekolah Integral Hidayatullah Yogyakarta Sumbang Rohingya


www.sdithidayatullah.net | Jumat (15/08/2017) Sekolah Integral Hidayatullah Yogyakarta hari ini menyalurkan sumbangan kemanusiaan untuk Rohingnya melalui Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Cabang Yogykarta

"Penggalangan dana ini dimaksudkan agar anak-anak kita peduli dengan krisis kemanusiaan yang dilakukan oleh rezim myanmar kepada etnis Rohingya." Kata Ustadz Subhan Birori, S.Ag. selaku kepala sekolah.

Pagi itu, disaksikan ratusan murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta, Ustadz Subhan menyerahkan hasil hasil penggalangan dana dari orangtua/wali murid kepada Ustadz Rohman, selaku Direktur BMH Cabang Yogyakarta. Hadir dalam serah terima tersebut Bapak Nur Udin, S.Pd. selaku Pengawas Pendidikan TK SD/MI Kecmatan Ngaglik.
Baca : Penggalangan Dana Peduli Rohingnya di Sekolah Hidayatullah
"Dengan kegiatan ini, Kami mengajak kepada para siswa untuk belajar tentang kepedulian, kepedulian atas apa yang terjadi kepada saudara muslim di Rohingya. Acara ini sudah kami infokan kepada para siswa seminggu yang lalu agar siswa bisa menyisihkan sebagian dari uang sakunya untuk saudaranya di Rohingya," kata Kepala SDIT Hidayatullah Ust. Subhan Birori, S.Ag . 

Ust Subhan menjelaskan sekolah menjalin kerjasama dengan Laznas Baitul Maal Hidayatullah Yogyakarta untuk menyalurkan dana yang terkumpul. "Terimakasih atas kepercayaan Sekolah Integral Hidayatullah Yogyakarta atas amanahnya. InsyaAllah akan kami teruskan kepada saudara-saudara kita di Rohingya," imbuhya, sebagaimana dikutip oleh laman www.krjogja.com.

Penyerahan dana peduli Rohingya ini juga dilakukan oleh para murid TKIT Yaa Bunayya Yogyakarta kepada BMH Yogyakarta yang juga menggalang dana dari orangtua/wali murid TKIT Yaa Bunayya Yogyakarta.

Pada hari yang sama juga dilaksanakan penggalangan dana di Perempatan Tugu Yogyakarta dan Perempatan Monumen Yogya Kembali yang dibantu oleh Tim Pandu Hidayatullah Yogyakarta dan Garda Jogja. Terlihat beberapa stasiun televisi meliput kegiatan tersebut.

Penggalangan dana peduli Rohingya ini kerjasama antara BMH Cabang Yogyakarta, Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Sleman, DPD Hidayatullah Kota Yogyakarta, DPD Hidayatullah Bantul dan Kulonprogo, dan Garda Jogja dengan Sekolah Integral Hidayatullah yang terdiri dari jenjang TK, SD, MTs, dan MA Hidayatullah Yogyakarta. 

Rep. dan Foto @emthorif

Penggalangan Dana Peduli Rohingnya di Sekolah Hidayatullah

 www.sdithidayatullah.net | Kamis (07/09/2017) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Hidayatullah Sleman, menyampaikan surat kepada orang tua/wali murid KB Permata Ummi, TK IT Yaa Bunayya, dan SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang berisi himbauan untuk berinfak untuk Rohingya.

Dalam surat yang diedarkan, DPD Hidayatullah Sleman akan menyalurkan dana yang terkumpul melalu lembaga amil zakat nasional, LAZIS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Cabang Yogyakarta.

"Dalam pantaun kami, penggalangan dana yang terkumpul saat ini dari murid-murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta sebesar Rp 8.591.500,- sementara dari KB Permata Ummi dan TKIT Yaa Bunayya belum bisa kami laporkan." Begitu yang disampaikan oleh Ustadz Mansur, S.Sos.I. selaku Ketua DPD Hidayatullah Sleman.

"Bagi yang ingin berjihad dengan harta untuk Muslim Rohingnya, silahkan bisa menyalurkan melalui DPD Hidayatullah Sleman atau BMH Cabang Yogyakarta." Lanjut Ustadz Mansur. "InsyaAllah untuk murid-murid di sekolah Hidayatullah dari Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Sekolah Dasar, dan Sekolah Menengah Hidayatullah ini penggalangan dana hingga Rabu, 13 September 2017." Kata Ustadz Mansur.

Donasi Rohingya DPD Hidayatullah Sleman - BMH Yogyakarta, hubungi Ustadz Mansur HP 085227731825
Mari kita bantu muslimin Rohingya dengan harta dan doa-doa kita.

Rep. @emthorif
Foto Aksi Peduli Rohingya di Magelang Jawa Tengah (08/09/2017)

SDIT Hidayatullah Ikuti MTQ Tingkat SD Kecamatan Ngaglik

Kafilah MTQ SDIT Hidayatullah Yogyakarta 2017
 www.sdithidayatullah.net | Sabtu (09/09/2017) Sejumlah 16 murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta mengikuti kegiatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Sekolah Dasar Kecamatan Ngaglik. Ada beberapa macam cabang MTQ yang diikuti oleh murid-murid sekolah ini, di antaranya hafalan Alquran (MHQ), membaca Alquran dengan lagu (MTQ), mambaca Alquran secara tartil (MTtQ), lukis, adzan, dan CCA. 

Ustadz Jajang dan Para Juara MTQ SDIT Hidayatullah Yogyakarta
Ustadz Jajang, S.Pd.I. selaku guru Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah ini ditunjuk sebagai pimpinan khafilah SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Terlihat kesibukan para murid dengan guru pendampingnya beberapa hari yang lalu untuk persiapan menghadapi lomba ini. 

Baca : SDIT Hidayatullah Juara Umum MTQ SD Tahun 2016

Ustadz Muhammad Haris, salah satu pendamping MTQ melaporkan peroleh juara dari kafilah SDIT Hidayatullah Yogyakarta, yatiu Juara 3 MTQ Putra dan Putri atas nama Ananda Abbad dan Najwa, Juara 1 MTtQ Putri atas nama Ananda Salma, Juara 3 MTtQ Putra atas nama Ananda Hamzah, Juara 3 MHQ Putri atas nama Ananda Azka, dan Juar 3 Melukis Islami Putra dan Putri atas nama Ananda Farras dan Zelda.

Rep @emthorif
Foto Muhammad Haris

Qurban Berkah di SDIT Hidayatullah Yogyakarta



www.sdithidayatullah.net | Senin (04/09/2017) Bertempat di halaman gedung SDIT Hidayatullah Yogyakarta, murid kelas 4 sampai dengan kelas 6 melaksanakan kegiatan Qurban di Sekolah. Pada tahun ini, SDIT Hidayatullah Yogyakarta menggalang para shahibul qurban dari Orangtua/Wali Murid dan para Orangtua/Wali Alumni di sekolah ini.

"Alhamdulillah, terkumpul sebanyak 15 orang untuk shahibul qurban sapi, dengan 14 orang untuk 2 ekor sapi disembelih di sekolah, dan 1 orang untuk diikutkan pada kelompok Gugus Donoharjo, di mana sekolah ini berada." Begitu kata Ustadz Untung Purnomo, selaku ketua panitia qurban. "Juga terkumpul sebanyak 15 ekor kambing dari para orangtua/wali murid di tahun ini." Lanjut Beliau.

Ustadz Subhan Birori, Kepala Sekolah SDIT Hidayatullah Yogyakarta menyampaikan kebahagiaan dan ucapan terimakasih kepada para shahibul qurban yang tahun ini berkurban di sekolah. Beliau menyampaikan apresiasi kepada anak-anak yang berqurban dari hasil tabungannya sendiri. "Mari anak-anak menabung untuk berqurban untuk tahun yang akan datang, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Ananda Muhammad Navies Ramadhan, kelas 6A SDIT Hidayatullah." Kata Ustadz Subhan. "Alhamdulillah, saya merasa bahagian tahun ini murid kelas 4 s.d. kelas 6 bisa pulang membawa daging qurban," katanya dalam sebuah obrolan bersama para guru.

Memang ada yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, di mana anak-anak yang hadir kali ini membawa daging qurban untuk dimasak dirumah di samping anak-anak juga merasakan daging yang sudah matang sebagai lauk di sekolah.

Qurban tahun ini Baitul Maal Hidayatullah Cabang Yogyakarta juga menyebarkan hewan qurban di wilayah binaan Hidayatullah. Di Wilayah Sleman utara sendiri BMH Yogyakarta menyalurkan 30 ekor kambing dan 3 ekor sapi untuk disebar di dusun-dusun sekitar pesantren Hidayatullah. Di antaranya di Dusun Turgo dan dusun-dusun di sekitar Pondok Pesantren Hidayatullah Yogyakarta.


Rep. @emthorif
Foto Muharja

Mengasah Jiwa Wirausaha Sejak Dini di SDIT Hidayatullah Yogyakarta



www.sdithidayatullah.net | Rabu (30/08/2017) Ratusan murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta melakukan praktik jual beli di halaman sekolah mereka. Hadir pula para orangtua/wali murid yang ikut memberi dukungan dalam kegiatan tersebut. Kegiatan tahunan ini diberi nama "Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah Yogyakarta".

 "Entrepreneurship for students ini adalah ajang untuk melatih jiwa wirasusaha sejak dini," begitu kata Ustadz Subhan Birori, selaku kepala sekolah SDIT Hidayatullah Yogyakarta ketika memberi sambutan pada pembukaan kegiatan ini. "Kegiatan ini juga bisa melatih murid dalam hal kejujuran dalam jual beli." Lanjut Beliau.

Tahun ini terbagi menjadi 36 kelompok putra dan putri, disetiap kelompok ada guru pembimbing dengan menu yang berbeda-beda, yang terdiri dari makanan dan minuman.
Demo memasak chef Romi
Dalam kegiatan ini juga ada demo memasak dari chef internasional, yaitu Ustadz Romi Padli, Beliau ini juga guru di SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang diberi amanah untuk mengelola katering sekolah. Pengalalaman Beliau sebagai chef sudah malang melintang di dalam dan luar negeri.

Rep @emthorif
Foto Dokumen Sekolah