Signifikansi Diri

[Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah Jogja? KLIK DI SINI]

Oleh : Imam Nawawi
Kepintaran yang menjadikan bangsa Quraisy tidak selamat dari kategori jahiliyah pada masa pra kenabian adalah ketidakmampuannya hidup dengan akhlak.
Sebagian kita memahami akhlak masih cukup tradisional (boleh ya disebut begitu hehe) yakni sebatas pada tata krama kala berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Padahal, akhlak tidak semata itu. Akhlak adalah manivestasi kesucian jiwa, kejernihan pikir dan kebenaran orientasi hidup.
Orang banyak bicara karakter. Dalam buku Primary Greatness, Stephen R. Covey mengatakan bahwa tidak ada yang lebih berharga dari karakter. Dan, akhlak lebih dalam dan luas dari sekadar karakter.
Ungkapan ini terkonfirmasi jauh sebelum penulis 7 Habit itu bicara karakter. Yakni dimana sejak belia, Muhammad memang sudah mendapatkan lisensi publik sebagai manusia super jujur (al-amin).
Sayangnya, sebagian besar dari umat Islam sendiri tidak memahami fakta ‘emas’ ini sebagai bagian penting dalam membentuk mindset. Akibatnya waktu bergulir tanpa ada signifikansi diri yang bisa diraih. Sebagian malah rela melepas waktu dengan cara yang sia-sia.
Saya pernah bertemu seorang anak muda, lulusan SMA atau sederajat. Anak ini dari satu pekerjaan pindah ke pekerjaan lain. Pertimbangannya pun sederhana, mencari honor yang lebih tinggi.
Mungkin yang bersangkutan memang memiliki kebutuhan yang mendesak dipenuhi. Tetapi, hidup ini tidak bisa melawan dua hukum, yakni hukum proses dan hukum pertumbuhan. Ketika seseorang bulan ini bekerja di sana dan bulan besok bekerja di sini, maka selanjutnya ia akan dikenal sebagai anak yang tidak memiliki komitmen tinggi dalam bekerja.
Jika, dalam setahun hal itu dilakukan sebanyak 12 kali, maka sebanyak 12 tempat bekerja akan mengenal dia secara sama. Kemudian, ketika ada orang memiliki peluang yang hendak diberikan, maka seketika akan mengurungkannya dengan melihat pada apa yang dilakukan selama 12 bulan terakhir.
Tidakkah kita lihat, bagaimana Nabi Muhammad menggembala kambing dari usia belia, kemudian ikut berdagang pada usia 12 tahun hingga menjadi pedagang sukses di usia 25 tahun. Mengapa kita yang baru bekerja sebulan berharap sesuatu yang semestinya dibayar dengan dedikasi bertahun-tahun?
Perhatikanlah, bahwa mereka yang dahulu menjadi karyawan, lalu tumbuh menjadi pengusaha sukses juga tidak sebulan dua bulan menempa diri. Semua butuh waktu semua perlu proses.
Oleh karena itu, jika ada waktu, kesempatan jangan digunakan untuk memanjakan badan semata. Lakukanlah apa yang orang besar dahulu mencicil masa depannya dengan gemilang.
Kalau berkaca pada Nabi Muhammad maka kejujuran senjatanya, kemudian skill menggembala dan berdagang menjadi prioritas hidupnya untuk terus ditingkatkan signifikansinya.
Lantas, bagaimana dengan kita sendiri? Padahal, pepatah lama berkata, “Belakang parang pun kalau diasah akan tajam juga.” Artinya, milikilah signifikansi diri. Wallahu a’lam.
Imam Nawawi, Pemimpin Redaksi Majalah Mulia | twitter @abuilmia
Foto Ismail Rizki Hasan Santri Sekolah Pemimpin Hidayatullah Depok dengan Karya Seni Bambunya yang berhasil menyabet juara 1 dalam Bamboo Art Competition di Depok

0 Response to "Signifikansi Diri"

Post a Comment