Ujian Akhir Semester Tahun 2017 di SDIT Hidayatullah Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | Senin (27/11/2017) Mulai hari ini, murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta akan menghadapi Ujian Akhir Semester Gasal Tahun Pelajaran 2017/2018. Ujian, yang dalam istilahnya Tes Kendali Mutu (TKM) ini akan berlangsung selama lebih kurang 10 hari.

Dalam kegiatan Apel Motivasi, Ustadz Muhammad Rifki Saputra, S.Pd.I. memberikan tausiyah berupa tips dalam menghadapi ujian kepada seluruh murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Ada tiga tips yang bisa dilakukan untuk sukses ujian menurut, Ustadz Rifki, sapaan Beliau sehari-hari di sekolah. 

Inilah tips menghadapi ujian :
Pertama : Konsentrasi

Kedua : Memahami soal yang diberikan atau yang ditanyakan, karena memahami soal itu sudah bisa menjawab 50%


Ketiga : Fokus dan teliti   

Kegiatan Ujian Akhir Semester SDIT Hidayatullah Yogyakarta ini berlangsung sejak dari hari Senin s.d. Jumat, 27 Juli s.d. 8 Desember 2017 dan selama ujian, seluruh murid kelas 1 sampai dengan kelas 6 pulang pukul 13.00 wib. Sedangkan untuk guru dan pegawai pulang tetap pukul 14.30 wib, untuk mengoreksi soal ujian.

Usai Ujian Akhir Semester, akan ada kegiatan camping untuk kelas 4, 5, dan kelas 6. Adapun tempat kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Bumi Perkemahan Garongan, Turi.

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI atau hubungi 087738219070
@emthorif

Selamat Hari Guru Nasional dari Puncak Gunung Merbabu

www.sdithidayatullah.net | Sabtu (25/11/2016) Beberapa Guru dan Pegawai SDIT Hidayatullah Yogyakarta memberikan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017 dari Puncak Tertinggi Gunung Merbabu di Jawa Tengah.

Dikomandani oleh Ustadz Untung Purnomo, S.Pd. rombongan guru tiba di kaki Gunung Merbabu sekitar pukul 16.30 wib. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, usai shalat maghrib rombongan mulai menaiki Gunung Merbabu. Diiringi hujan yang cukup deras perjalanan ini dimulai. Perjalanan malam diiringi hujan membuat hawa udara semakin dingin dan menusuk tulang.

Tim berhenti dan mendirikan tenda di Pos 3 Gunung Merbabu sekitar pukul 23.00 wib, dari Pos 3 ini jarak waktu menuju puncak masih sekitar 4 jam perjalanan dengan medan yang cukup terjal.

Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah di dalam tenda ditemani oleh udara dingin yang menusuk tulang, tim kembali meneruskan perjalanan menuju puncak Gunung Merbabu. Tidak ketinggalan, tim menyiapkan segala perlengkapan dan perbekalan menuju ke puncak ini.

Lebih kurang 4 jam perjalanan, tim akhirnya sampai di pucak Gunung Merbabu, dengan ketinggian 3.142 Mdpl. Perjalanan yang melelahkan ini terobati dengan sampainya di puncak Merbabu ini. Kabut yang menyelimuti gunung membuat pemandangan tidak bisa dinikmati dengan leluasa.

Setelah hampir 1 jam di atas puncak tertinggi Gunung Merbabu, tim melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Konon, kata para pendaki, perjalanan menuruni gunung ini bukan perjalanan ringan, justru perjalanan yang cukup berat. Alhamdulillah, tim berhasil mencapai camp pendakian di Selo Boyolali lebih kurang pukul 16.30 wib. 

Banyak sekali pengalaman berharga yang bisa didapatkan dari perjalanan menaiki. Di antaranya adalah solidaritas. Sesama pendaki gunung saat berhenti istirahat dalam perjalanan kadang bercerita tentang pengalamannya naik gunung. Bahkan saat bercerita mereka tidak mengenalkan namanya lebih dulu, namun diawali dari pertanyaan dari mana? Berapa temannya? Menjadi modal mereka untuk saling berkisah. 

Tentu masih banyak lagi pengalaman rohani yang dialami oleh setiap orang yang naik gunung.


Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI | Kontak Person Hubungi 087738219070
Laporan Mahmud Thorif

Lembut Itu Ada Takarannya



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada tiga hal penting dalam mendidik anak. Ketiganya merupakan sifat terpuji, bukan hanya dalam mendidik anak. Yang pertama adalah kelembutan atau rifq. Apa itu rifq? Sikap yang ramah, bersahabat, lembut, santun ketika melakukan muamalah dengan orang lain, termasuk ketika orangtua berhubungan dengan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Ar-Rifq (الرفق) itu diperlukan bukan hanya dalam suasana gembira atau menyampaikan nasehat. Bahkan saat memberikan hukuman maupun konsekuensi kepada anak pun, tetap diperlukan sikap rifq. Dengan itu anak merasakan bahwa orangtua menyayangi dia, bahkan di saat menghukum. Hilangnya rifq, meskipun dalam keadaan sedang memenuhi keinginan anak, menjadikan anak sulit merasakan cinta orangtua kepadanya. Ia tidak yakin orangtua peduli kepadanya. Padahal merasa dicintai merupakan awal tumbuhnya rasa hormat dalam diri anak kepada orangtua.

Sesungguhnya besarnya rasa hormat mendorong anak untuk taat, meskipun orangtua tidak sedang berada di hadapannya. Sangat berbeda ketaatan yang muncul karena anak tidak berdaya menghadapi orangtua dengan ketaatan yang tumbuh dari rasa hormat. Jika anak taat semata karena takut kepada orangtua, maka ketika kendali maupun pengawasan orangtua melemah, ketaatan anak pun akan melemah.

Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Ramah-Lembut (Rafiq). Dan Allah Ar-Rafiq mencintai kelembutan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah itu Rafiq (Maha Lembut) dan mencintai rifq (kelembutan, keramahan), Dia memberikan kepada lemah-lembut (rifq) apa-apa yang tidak diberikan pada sikap ‘anaf (kasar-keras), dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya.” (HR. Muslim).

Lemah lembut bukanlah penghalang untuk bersikap tegas. Justru sebaliknya, kelembutan itu diperlukan saat bersikap tegas agar anak merasakan bahwa aturan ditegakkan sebagai bentuk konsistensi orangtua. Semua itu untuk kebaikan anak. Bukan karena orangtua seenaknya sendiri atau pun karena orangtua tidak suka kepada anak.

Lembut dan tegas bukanlah dua hal yang bertentangan. Bahkan kelembutan itu bukan lawan dari sikap keras sejauh sikap keras itu tepat takarannya, benar alasannya. Kelembutan yang tidak disertai ketegasan adalah kelemahan. Ini yang menjadikan anak sulit belajar untuk bersikap konsisten. Sikap keras dalam hal prinsip yang ditegakkan dengan kelembutan memudahkan orangtua menempa mental anak.

Tengoklah tuas persneling sebagian mobil mewah. Sangat lembut di tangan, tetapi bukan tidak keras. Tuas persneling akan kehilangan fungsinya apabila tidak keras. Kita tidak dapat melakukan pergantian gigi dengan baik.

Kelembutan tidak dapat bertemu dengan sikap kasar. Sebagian orang menghimpun dua keburukan; ia kasar dan pada saat yang sama lemah. Kasar saat memberi, kasar pula saat menolak permintaan anak. Ia kasar saat memerintah, bertutur dengannya menggunakan fazhzhan (kasar kata, keras ucapan); kasar pula saat melarang. Bersuara kepada anak pun menggunakan seburuk-buruk suara –suara keledai—yakni ia berbicara serupa keledai yang melengking tiba-tiba dan tak enak didengar. Tetapi ketika anak bersikeras tidak menuruti, atau anak merengek merajuk, orangtua segera mengalah. Inilah bentuk sikap yang lemah itu.

Maka benarlah, kunci segala kebaikan itu terletak pada kelembutan. Saat menegakkan aturan dengan bersikap tegas atau pun tatkala memberi apa yang disukai anak, kita perlu bersikap lembut kepada mereka. Hilangnya kelembutan saat mendidik akan menghilangkan segenap kebaikan, meskipun ketika itu kita sedang mengajarkan agama.

Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang diharamkan baginya rifq, diharamkan baginya kebaikan seluruhya”. (HR. Muslim).

Semoga Allah Ta’ala karuniai kita kelembutan dan jauhkan kita dari sikap kasar lagi keji. Sesungguhnya tidaklah kelembutan

Dari beliau (‘Aisyah) radhiyallahu ‘anha juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap ‘anaf (keras dan kasar), sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”. (HR. Muslim).

Tenang, Tidak Reaktif

Hal penting lainnya dalam mendidik anak adalah sikap al-hilm (الحلم) dan al-‘anah (الأناة). Al-hilm adalah sikap tenang dan lembut berupa kemampuan yang bagus dalam mengendalikan diri. Ia menguasai dirinya bahkan ketika sedang marah, sehingga tidak tergesa-gesa bereaksi. Ketenangan itu menjadikannya mampu memilih tindakan yang terbaik dan paling membawa kemaslahatan. Ini sulit didapatkan ketika orangtua bersikap reaktif, bahkan impulsif, saat menghadapi kesalahan anak sehingga tindakannya cenderung tidak terukur.

Adakalanya anak datang mengadukan masalahnya, bukan untuk mencari jalan keluar, tetapi untuk meringankan beban emosinya karena ada tempat untuk berbagi. Ia bercerita untuk memperoleh dukungan emosi maupun sosial dari orangtua. Tetapi manakala orangtua kehilangan hilm, ia dapat kehilangan ketenangan. Di saat seharusnya masih mendengarkan anak dengan penuh perhatian, ia sudah tergesa-gesa memberi nasehat panjang. Bukan tak baik kita memberi nasehat, bahkan sangat baik, tetapi perlu sabar dan penuh kasih-sayang.

Adapun ‘anah adalah sikap berhati-hati, tidak tergesa-gesa menentukan sikap kecuali setelah sangat jelas duduk permasalahannya. Ia baru mengambil keputusan setelah memperoleh pengetahuan yang mencukupi dan memadai. Perlu tabayyun ketika belum jelas baginya suatu persoalan, dan kadang harus disertai dengan tatsabbut, yakni memastikan maksud dari suatu tindakan maupun ucapan.

Baik hilm maupun ‘anah, keduanya diperlukan untuk dapat menegakkan kelembutan (rifq) dalam mengasuh anak.

Kepada Allah Ta’ala saya memohon karunia rifq, hilm dan ‘anah bagi diri saya, istri saya dan keturunan saya serta kita semua. Semoga Allah Ta’ala baguskan keturunan kita dan memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang shalih lagi bersih.

Catatan:
Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul "Lembut tapi Tak Mendidik". Artikel yang dimuat di majalah Hidayatullah bulan ini, November 2017 lebih menitikberatkan pada pembahasan mengenai kelembutan yang terkandung dalam istilah ar-rifq. Insya Allah tulisan berikutnya mengenai al-hilm yang berdekatan juga maknanya dengan kelembutan akan menyusul. Setelah itu, kita akan berbincang tentang al-anah. Ketiganya penting untuk menegakkan sikap dengan tepat dalam mendidik anak. Semoga Allah Ta'ala karuniai sifat tersebut.

Tulisan ini saya posting untuk memenuhi harapan Saudara kita Helda Mustika dan banyak pembaca lainnya yang meminta saya menulis lanjutan pembahasan tentang kelembutan serta menampilkannya di media sosial. Juga kepada peserta kajian rutin tentang parenting tiap Selasa sore di Masjid Nurul Ashri, Yogyakarta. Semoga bermanfaat dan barakah.


Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting

Ujian Kenaikan Sabuk Perguruan Karate Kala Hitam Dojo SDIT Hidayatullah Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | Ahad (19/11/2017) Bertempat di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Yogyakarta, Ujian Kenaikan Sabuk Perguruan Karate Kala Hitam dari berbagai Dojo dilaksanakan. 

Ada puluhan peserta dari Dojo SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang mengikuti kegiatan ini. Ujian kenaikan sabuk yang dilaksanakan setiap semester ini biasanya dilaksanakan di tempat-tempat yang berbeda. 

Pengembangan Diri Karate Kala Hitam di SDIT Hidayatullah Yogyakarta adalah salah satu kegiatan pengembandan diri pilihan, dimulai dari Kelas 3 sampai dengan Kelas 6 boleh mengikuti kegiatan ini. 

Di Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah, yaitu SDIT Hidayatullah Yogyakarta ada bermacam kegiatan pengembangan diri, mulai dari Pandu Hidayatullah, Hafalan Al-Quran, Memanah, Berenang, dan Karate. 

Bela Diri Karate ini adalah pengembangan diri yang berjenjang yang diawali dengan sabuk putih, sabuk biru, sabuk kuning, sabuk coklat, dan sabuk hitam. Jenjang-jengan sabuk ini bisa dilalaui dengan ujian kenaikan sabuk.
Informasi Murid Baru HP 087738219070, atau KLIK DI SINI
Laporan @emthorif
Foto Bunda Dona

Lembut tapi Tak Mendidik




Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ada dua hal yang seolah bertentangan, padahal sebenarnya seiring sejalan. Keduanya harus ada dalam mendidik anak, sehingga kehadirannya tidak dapat dipertentangkan satu sama lain. Satu hilang, runyamlah pendidikan. Yang satu menguatkan jiwa, yang satu menguatkan pegangan anak pada nilai dan sikap yang jelas. Dua hal itu adalah kelembutan dan ketegasan. Keduanya perlu kita miliki dalam mendidik. Tidak bisa salah satunya saja. Memenangkan kelembutan saja, apalagi jika karena alasan lebih sesuai dengan teori parenting mutakhir, akan dapat menggelincirkan pada sikap meremehkan sunnah berkait dengan ketegasan. Salah-salah bukan hanya meremehkan. Lebih dari itu bersikap nyinyir mencibir atau bahkan merendahkan tuntunan karena dianggap sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Menjadi orangtua adalah perjalanan untuk mengasah keduanya sekaligus dan kadangkala kita perlu melakukan keduanya secara bersamaan. Ini memerlukan usaha untuk melatih diri disertai ilmu. Tanpa mengilmu, maksud hati berlemah-lembut kepada anak, tetapi akibatnya justru tak mendidik. Seolah lembut, padahal yang tersisa hanyalah kelemahan. Hal yang sama juga berlaku untuk ketegasan. Betapa sering ingin menunjukkan sikap tegas, tetapi tanpa takaran yang tepat, terlebih jika tidak disertai ilmu, yang kita maksudkan sebagai ketegasan itu justru menjelma sebagai sikap keras lagi kasar.

Sungguh, sangat berbeda antara keras (apalagi kasar) dengan tegas. Banyak orang keras dan kasar, tetapi tak ada ketegasan pada dirinya. Mereka mudah marah, tetapi keputusannya dengan cepat berubah. Sikapnya beralih karena keadaan atau merasa sedikit terdesak. Saat anak meminta es krim, dengan kasar orangtua menolak. Ketika anak merengek, semakin kasar orangtua menampik permintaan anak. Tetapi begitu ada tamu datang, buru-buru permintaan anak dikabulkan, meskipun dengan cara yang tetap kasar. Uang disodorkan, padahal tadinya menyampaikan kepada anak kalau tak ada uang.

Ini merupakan contoh sederhana bagaimana keras dan kasar itu sama sekali berbeda dengan tegas. Pada kasus tersebut, orangtua bahkan bukan sekedar kasar. Orangtua juga menunjukkan kebohongan yang besar kepada anak. Padahal, ada tuntunan khusus komunikasi orangtua kepada anak di dalam AL-Qur’anul Kariim, yakni berbicara dengan qaulan sadiidan (perkataan yang benar).

Ketegasan itu sangat diperlukan oleh anak. Ia memerlukan keyakinan dan pijakan yang kokoh. Ketegasan mengajarkan kepadanya tentang betapa pentingnya bersikap konsisten terhadap aturan, keyakinan dan agama. Komitmen tidak bernilai tanpa konsistensi. Anak tak dapat belajar memiliki komitmen ketika melihat bagaimana perkataan mudah diciderai. Sebaliknya, anak sulit untuk belajar konsisten manakala yang tampak seolah tegas itu identik dengan keras dan kasar.

Keras itu adakalanya diperlukan sejauh takarannya pas. Orangtua memiliki ilmu yang memadai untuk menakar maslahat – madharatnya, pun waktu serta cakupan masalah yang perlu disikapi. Ini berarti, orangtua harus mengilmui agar sikap tersebut tidak rancu dengan kasar, tidak pula membuat anak lari dari dirinya, lebih-lebih dari agama. Cara mendidik inilah yang kita dapati pada diri Asaduddin Syirkuh, paman dari Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi. Menghadapi keponakannya yang cengeng, Asaduddin mendidiknya dengan keras beriring tulusnya kasih-sayang seraya menunjukkan besarnya tanggung-jawab yang kelak harus dipikul oleh Yusuf. Sikap keras itu menghilang seiring terbentuknya kepribadian Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi yang kian kokoh. Kelak kita mengenal Yusuf sebagai pembebas Masjid Al-Aqsha yang sangat dihormati, teguh pendirian, kuat tekadnya dan ia mendapat sebutan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Keras berbeda dengan kasar. Orangtua yang mendidik anaknya dengan keras tetap dapat menunjukkan kelembutan dan kasih-sayang. Sementara sikap kasar menandakan tercabutnya kelembutan dan itu berarti menjauh dari kebaikan. Sikap keras kerap dianggap sama dengan tegas, padahal sama sekali berbeda. Jika kita mendidik anak dengan keras tanpa mengilmui, yang terjadi adalah pola asuh yang keras dan bahkan kasar, tanpa ada ketegasan. Tanpa empati dan kasih-sayang.

Hal yang perlu diwaspadai oleh mereka yang cenderung keras adalah mengendalikan emosi. Cara mendidik yang cenderung keras hanya akan baik apabila dilakukan oleh mereka yang kendali emosinya sangat kuat. Bukan reaktif yang lebih dekat dengan gegabah dan ceroboh. Tanpa mengilmui dan kemampuan mengendalikan emosi, cara mendidik yang keras akan melahirkan permusuhan. Tak ada kepedulian antar saudara, tak ada empati kepada orang lain, termasuk kepada teman sebaya.

Lembut tapi Tak Mendidik

Kelembutan itu membaguskan segala sesuatu yang ia melekat kepadanya. Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, kecuali ia akan membaguskannya. Dan tidaklah ia tercabut dari sesuatu, kecuali akan membawa kepada keburukan. Maka pada sikap tegas, kelembutan itu harus ada. Ketika untuk menegakkan pendidikan kadang harus keras, kelembutan itu harus ada. Tanpa kelembutan, kerasnya sikap menjadi tindakan gegabah dan kasar.

Begitu pentingnya kelembutan sehingga kita perlu mengilmui agar tak keliru. Jangan sampai mengira sebagai kelembutan, padahal ia sesungguhnya telah menjatuhkan kita kepada sikap yang lemah. Jangan pula karena ingin bersikap lembut, anak justru tidak memiliki keyakinan kokoh dan sikap yang jelas sehingga ketika memasuki usia remaja, terombang-ambinglah dirinya. Ia mengalami krisis. Tanpa mengilmui, sikap lembut hamper-hampir tak ada bedanya dengan sikap tak peduli.

Kelembutan itu menghiasi segala sesuatu. Artinya, sesuatu itu harus ada. Mengasuh mendidik anak harus disertai kelembutan. Ini berarti lembut saja tidak cukup. Jika orangtua melimpahi anak dengan kelembutan tanpa menegakkan tugasnya mengasuh, maka anak akan menuai masalah. Anak kecil belajar mencoba berbagai hal; kadang ia benar, kadang ia salah. Tugas kita membimbing dan memberi respon dengan baik disertai kelembutan sehingga ia dapat belajar dari berbagai kegiatannya. Hanya memberinya kelembutan, tanpa menunjukkan respon yang memadai, anak tak dapat belajar. Jangankan untuk hal-hal yang pelik, sekedar mengucap kata dan berbicara pun, anak perlu rangsang dan respon yang mencukupi, Bukan hanya sering mendengar suara orang berbicara. Rangsang itu antara lain berupa perkataan yang suaranya memang ditujukan kepadanya (shooting voice). Tanpa itu, riuh rendah suara orangtua berbicara maupun bercanda dengan orang lain akan menjadi sekedar kebisingan (noise).

Ada orangtua yang begitu cinta kepada anak. Ia ingin mengasuh dengan lembut. Tetapi yang terjadi, ia hanya menganugerahi anak dengan kelembutan yang tak habis-habis, sementara lisannya tertahan tak bicara. Tak pula sigap ketika anak melakukan sesuatu. Menggeleng dan memberi isyarat dengan jemari memang dapat memahamkan anak tentang maksud kita, tetapi tidak menawarkan pengalaman yang utuh kepada anak. Ia juga kesulitan untuk menirukan bahasa sehingga berdampak sulit memproduksi kata-kata.

Ini hanyalah sekedar contoh. Banyak sekali kasus anak bermasalah bukan karena orangtua kasar. Orangtuanya bahkan sangat lembut. Tetapi manakala tidak diletakkan pada sikap yang ngemong (nurturing) dan responsif, kelembutan itu justru menjadi kelemahan.

Ringkasnya, sikap apa pun perlu kita ilmui. Inilah PR besar sebagai orangtua. Saya pun masih harus terus belajar dan bahkan perlu lebih banyak lagi. Dalam hal ini, peran istri sangat besar untuk senantiasa mengingatkan dan berhenti belajar, termasuk belajar mengendalikan diri.

Catatan:
Tulisan ini sebelumnya saya posting dalam bentuk catatan, tetapi banyak yang lebih menyukai dalam bentuk status FB semacam ini karena dapat langsung dibaca. Lebih mudah. Atas sebab itu, tulisan ini saya posting ulang.

Setelah tulisan ini, insya Allah segera menyusul tulisan lain yang berkait dengan kelembutan. Tulisan berikutnya tentang kelembutan lebih menitikberatkan pada pembahasan mengenai ar-rifq. Sesudah itu, baru membahas tentang al-hilm di dalam tulisan yang berbeda. Semoga ini memudahkan kita dalam mengamalkan mendidik anak.

Sumber : Facebook Mohammad Fauzil Adhim
Foto Ilustrasi : google

Seminar Parenting : Gadget bagi Anak, Apakah Boleh?

www.sdithidayatullah.net | Sabtu (11/11/2017) SDIT Hidayatullah Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Untung dan Ruginya Gadget bagi Anak. Seminar yang diikuti oleh ratusan orang tua/wali murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta ini menghadirkan Ibu Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom. yang juga dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII).

Dalam sambutannya, Ustadz Untung Purnomo, S.Pd. sebagai wakil dari kepala sekolah ini menyampaikan permohonan maaf, dikarenakan Bapak kepala sekolah tidak bisa hadir dikarenakan sedang keluar kota dalam rangka study banding. Ustadz Untung Purnomo, menyampaikan pentingnya sekolah dan rumah menjadi mitra dalam pendidikan. Sehingga antara yang diajarkan di rumah dan di sekolah bisa selaras.
Ibu Puji Hariyanti, menyampaikan bahwa, "Kalau dilarang sama sekali gadget kepada anak-anak maka itu hal yang mustahil, karena anak-anak kita sekarang hidup di jaman yang serba digital." Kata Beliau. "Lalu yang bisa dilakukan oleh orangtua apa? Yaitu membatasi." Lanjut Ibu Dosen yang juga sebagai orangtua/wali murid kelas 2D SDIT Hidayatullah Yogyakarta ini. 
"Harus ada dialog antara orangtua dengan anak. Kapan waktu mereka boleh memegang gadget dan kapan mereka tidak boleh memegangnya." Kata Ibu Puji. "Misalnya sehari dibatasi 30 menit, maka selebihnya orangtua harus istikomah tidak memberikan gadget setelah anak memakai waktu 30 menit itu." Lanjut Beliau.
Baca : Seminar Apa Untung dan Ruginya Gadget bagi Anak-anak di SDIT Hidayatullah
 Ibu Puji menyampaikan beberapa bahaya gadget, di antaranya : 
  • Susah tidur
  • Gangguan kesehatan mata
  • Konsentrasi pendek/ pelupa
  • Kurang sosialisasi
  • Kecanduan
  • Terkena radiasi sehingga kekebalan tubuh berkurang
  • Pornografi
  • Menurunnya prestasi belajar
  • Perkembangan fisik, sosial, otak
Hal-hal di atas harus diwaspadai oleh orangtua.

"Jika hal-hal di atas sudah dirasa membahayakan bagi anak-anak, maka kewajiban bagi orangtua adalah memutus ketergantungan gadget ini." Kata Beliau.

Selepas seminar ini, orangtua/wali murid langsung menuju ke kelas masing-masing untuk mengikuti agenda berikutnya, yaitu bertemu dengan guru kelas dalam rangka persiapan Ujian Akhir Semester Gasal yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini.

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI, atau hubungi admin dengan nomor HP/WA 087738219070.

Laporan dan Foto : @emthorif

Merajut Cinta dalam Keluarga, Cooking With Love bersama Chef Romi

 
Chef Romi dalam Live Performace Cooking With Love

www.sdithidayatullah.net | Sabtu (11/11/2017) Yayasan As-Sakinah Yogyakarta menyelenggarakan Acara yang bertema "Merajut Cinta dalam Keluarga" dengan menghadirkan Ustadz Mahroji Khudori, Pengasuh Pesantren Masyarakat Jogjakarta (PMJ) yang merupakan dai di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan gayanya yang khas, Ustadz Mahroji Khudori banyak menyampaikan tentang parenting kepada para Pengurus Forum Silaturahim Orangtua/Wali Murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Misalnya jangan membully anak-anak kita dengan verbal (kata-kata), fisik, dan non verbal (misalnya mimik wajah, gerakan, dan sebagainya). Terlihat para hadirin menikmati materi yang disampaikan oleh Ustadz yang kocak ini.
Ustadz Mahroji Khudori Memberi Taushiyah tentang Parenting

Dalam acara ini juga ada kegiatan Live Performance Cooking With Love bersama Chef Romi dengan memasak menu-menu yang aromanya sudah menggoda selera. 

Giliran acara mencicipi, langsung para hadirin, yang didominasi ibu-ibu ini menyerbu Chef Romi untuk menikmati hasil masakannya serta sedikit menjelaskan tentang masakannya ini.

InsyaAllah menu masakan sehat dan nikmat akan hadir bersama Sakinah Catering membersamai hari-hari dan menambah nutrisi murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta pada tahun ajaran yang akan datang. 

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI, atau hubungi admin dengan nomor HP/WA 087738219070.

Laporan dan Foto @emthorif


Seminar Apa Untung dan Ruginya Gadget bagi Anak-anak di SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | Jumat (10/11/2017) SDIT Hidayatullah Yogyakarta akan menyelenggarakan Seminar dengan Tema Apa Untung dan Ruginya Gadget bagi Anak-anak. Acara ini untuk mengisi pertemuan orangtua/wali murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta.


Pimpinan sekolah mengambil tema ini karena jaman sekarang, atau lebih terkenalnya 'Zaman Now' gadget sudah menjamur mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, orangtua, bahkan kakek nenek. Gadget seakan menjadi barang yang wajib dipunyai oleh semua orang. Sehingga perlu diangkat apa sih untung dan ruginya gadget bagi anak-anak kita? 


Seminar ini akan menghadirkan Ibu Puji Haryanti, S.Sos., M.I.Kom. salah satu Dosen Program Pendidikan Komunikasi Universitas Islam Indonesia, yang juga menjadi salah satu wali murid di SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada Sabtu, 11 November 2017 dimulai pada pukul 13.00 s.d. 14.30 wib dan bertempat di gedung Sekolah Menengah Intergral (SMI) Hidayatullah Yogyakarta.

Rangkaian dari kegiatan seminar ini adalah pertemuan orangtua/wali murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta menjelang Ujian Akhir Semester Gasal Tahun Ajaran 2017/2018 yang akan dilaksanakan di kelas masing-masing. Pertemuan di kelas ini sebagai persiapan menghadapi Ujian Akhir Semester Gasal Tahun Ajaran 2017/2018 yang akan diselenggarakan pada akhir November 2017 ini.

"Harapan kami, semoga orangtua/wali murid bisa hadir dalam pertemuan-pertemuan yang diselenggarakan oleh sekolah, demi terjalinnya komunikasi yang baik antara sekolah dan rumah." Begitu harapan Ustadz Subhan Birori, S.Ag. dalam sebuah rapat koordinasi.

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI, atau hubungi admin dengan nomor HP/WA 087738219070.

Rep. @emthorif

Penitipan Murid Baru SDIT Hidayatullah Tahun 2018/2019

www.sdithidayatullah.net | Penitipan Murid Baru SDIT Hidayatullah Tahun Pelajaran 2018/2019 sudah kami buka.

Bagi orangtua/Wali Murid yang hendak menitipkan putra/putrinya bisa mengambil formulir di kantor SDIT Hidayatullah pada jam kerja.

Jam Kerja :
> Senin-Jumat Pukul 07.00 - 14.30 wib.
> Sabtu Pukul 08.00 - 12.00 wib


a. Waktu Pendaftaran  
  1.  Gelombang 1        : Bulan November 2017 – Januari 2018  
  2.  Gelombang 2        : Februari – April 2018
  3.  Gelombang 3        : Mei – Juni 2018
b.  Syarat Pendaftaran 
  1. Usia minimal 6 tahun pada bulan Juli 2018
  2. Membayar biaya pendaftaran
  3. Menyerahkan fotocopy akta kelahiran 1 lembar
  4. Menyerahkan fotocopy Kartu Keluarga (KK) 1 lembar
  5. Menyerahkan pas photo ukuran 3 X 4 sebanyak 2 lembar
  6. Tidak memiliki cacat yang mengganggu aktivitas.

c. Cara Pendaftaran  
  1. Datang langsung ke tempat pendaftaran atau mendownload formulir di www.sdithidayatullah.net  
  2. Membayar biaya pendaftaran Rp 200.000,-  
  3. Mengisi formulir pendaftaran atau mengirim via email ke sdithidayatullahsleman@hidayatullah.or.id 
  4. Mengisi buku data murid dan dikembalikan pada saat daftar ulang.
  5. Konfirmasi pendaftaran via email ke nomor 087738219070 (Thorif).
Bagi Orangtua/Wali Murid yang hendak mengunduh formulir dan rincian biaya masuk bisa download pada link di bawah ini :

1. FORMULIR MURID BARU 2018/2019

2. RINCIAN BIAYA PENDIDIKAN 2018/2019


Silahkan berkas formulir yang telah diisi bisa diemail ke sdithidayatullahsleman@hidayatullah.or.id

Informasi Pendaftaran :
1. Subhan Birori 0813-2885-5324
2. Untung Purnomo 0878-3823-6137
3. Mahmud Thorif 0877-3821-9070, 0857-2955-5454

by Admin

Visitasi Standarisasi Pendidikan Berbasis Tauhid di Hidayatullah Yogyakarta



www.sdithidayatullah.net | Senin (06/11/2017). Bertempat di Gedung Sekolah Menengah Integral (SMI) Hidayatullah Yogyakarta, kunjungan Tim Assessor Departemen Pendidikan Dasar dan Menengah Dewan Pengurus Pusat Hidayatullah dalam kegiatan Visitasi Standarisasi Pendidikan Integral Berbasis Tauhid berlangsung.  

Dalam sambutannya, Ustadz 'Alimin Mukhtar menyampaikan bahwa tujuan dari visitasi ini adalah,  "Agar Hidayatullah mempunyai sekolah model, sehingga ketika di daerah-daerah akan membuka lembaga pendidikan baru, maka sudah ada contoh nyata yang bisa diaplikasikan." Kata Beliau di hadapan para Asatidzah SDIT dan SMI Hidayatullah Yogyakarta.

Dihadiri oleh 2 Assessor, yaitu Ustadz Aep dan Ustadz 'Allimin Mukhtar, kegiatan visitasi ini berjalan dengan cair. 

Berkas-berkas yang disiapkan oleh sekolah, SDIT Hidayatullah Yogyakarta, MTs Hidayatullah Yogyakarta, dan MA Hidayatullah Yogyakarta satu persatu diuji kebenarannya, dicari bukti fisiknya. Mulai dari standar administrasi, standar proses, standar kurikulum, standar Pandu Hidayatullah, standar kepengasuhan, dan beberapa standar yang lain.

Beberapa kali para Assessor memberi saran kepada sekolah di bawah jaringan Hidayatullah ini agar menjadi lebih baik, misalnya dari segi layanan kepada orangtua/wali murid, layanan kepada murid. Ada juga masukkan bagaimana sekolah ini mempunyai output yang bagus.

Kegiatan visitasi ini rencananya akan berlangsung selama satu hari penuh, mulai dari pagi hingga sore hari.

Laporan dan Foto @emthorif