Dauroh Murobbi Pandu Hidayatullah Hari ke-3

www.sdithidayatullah.net|Kamis (28/12/17) Hari ini adalah hari terakhir Dauroh Murobbi Pandu Hidayatullah di kompleks yayasan Al-Kahfi Surakarta. 

Kegiatan masih sama dimulai pukul 05.00. Melanjutkan materi yang kemarin tentang tarbiyah tsaqafah, setelah shohihul 'aqidah, mutakholliqun bil Qur'an, mujiddun fil ibadah, selanjutnya adalah da'in illallah dan multazimun bil jama'ah. Namun kedua materi ini disampaikan oleh pemateri yang berbeda, yaitu ustadz Muhammad Syakir. Disela-sela kedua materi tersebut beliau menyampaikan satu materi khusus untuk pandu putri yaitu materi kemuslimahan. Isi dari materi tersebut diantaranya: jatidiri muslimah, fiqh kemuslimahan, muslimah dan problematika kontemporer.

Selanjutnya adalah materi sandi yang disampaikan oleh ustadz Syarif Daryono. Ada 3 jenis sandi yang diajarkan yaitu sandi morse, sandi kotak dan semaphore.


Setelah materi sandi selesai peserta akhwat bergantian dengan peserta ikhwan mencoba rappeling (turun tebing) yang dibimbing oleh ustadz Hamim. Beberapa peserta berani untuk mencoba namun lebih banyak yang tak mencoba.

 Disela-sela istirahat para peserta diminta untuk membuat dragbar atau tandu darurat.
Acara berikutnya adalah evaluasi kemudian penutupan dan foto bersama.






Laporan @yuliasfita

Dauroh Murobbi Pandu Hidayatullah Hari ke-2

www.sdithidayatullah.net|Rabu (27/12/17) Di hari kedua Dauroh Murobbi kegiatan dimulai pukul
05.00 pagi.

Semua peserta sudah harus berkumpul diruangan untuk segera mengikuti kegiatan. Materi selanjutnya, yakni materi 4 di sampaikan oleh ustadz Syarif Daryono, sang panglima pandu nasional.

Materi 4: Konsep Kaderisasi Pandu
Awal munculnya konsep kaderisasi pandu adalah:
a. Lambat/mandegnya perkaderan di Hidayatullah
b. Belum ada konsep tertulis yang ideal
c. Masalah dan tantangan yang kompleks

Materi pembinaan Pandu Hidayatullah :
1. Tarbiyah tsaqafah (keilmuan)
2. Tarbiyah ruhiyah (ruh)
3. Tarbiyah jasadiyah (fisik)
4. Tarbiyah ijtima'iyah (sosial kemasyarakatan)
5. Tarbiyah qiyadiyah (organisasi dan kepemimpinan)

Makna simbol Pandu :
1. Kotak persegi melambangkan ka'bah, simbol persatuan umat Islam
2. Bulan sabit melambangkan ciri khas ke-Islaman, yang akan menjadi bulan purnama yang selalu menerangi, dan warna merah menunjukkan keberanian
3. Logo Hidayatullah menunjukkan bagian dari Hidayatullah
4. Tulisan Pandu Hidayatullah menunjukkan nama organisasi
5. Tulisan laa 'izzata ila bil islam menunjukkan tidak ada kemuliaan kecuali dengan Islam

Selanjutnya materi ke 5 masih disampaikan oleh ustadz Syarif Daryono.
Materi 5: Yel-Yel Pandu Hidayatullah dan Nasyid
Prinsip yel-yel Pandu Hidayatullah :
a. Mengobarkan semangat dan sedikit riang
b. Tidak meniru gerakan dan lagu
c. Tidak meniru gerakan dan lagu terlarang/ jahiliyah
d. Siap dikoreksi jika ada yang menyimpang

Selama sesi materi tentang yel-yel dan nasyid para peserta diajak untuk yel-yel menggunakan yel-yel Pandu dan menyanyikan nasyid-nasyid yang mengobarkan semangat.
Setelah itu para peserta latihan PBB (Peraturan Baris-Berbaris) selama kurang lebih satu jam.


Setelah materi 5 selesai para peserta diminta untuk istirahat dan selanjutnya materi 6.




Materi 6 disampaikan oleh ustadz Ahmad Hamim.
Materi 6: P3K
Ustadz Hamim menyampaikan: "Seorang penolong atau responder harus memiliki APD (alat perlindungan diri) sebelum melakukan pertolongan, seperti: sarung tangan lateks, masker penolong, baju pelindung, kacamata pelindung, helm dan masker. Jika ada anak dan ayah dalam sebuah pesawat dan terjadi keadaan darurat dan masker oksigen di keluarkan maka siapa dulu yang menggunakan masker oksigen tersebut?"  tanya beliau kepada para peserta. "Yang menggunakan terlebih dahulu adalah ayahnya, baru kemudian anaknya, kenapa ayah dulu bukan malah anaknya?  Karna untuk menjadi seorang penolong dirinya harus sehat dulu, jadi kalau ayah mau menolong anaknya tersebut dia harus sehat dulu." lanjut beliau.


"Sebelum melakukan pertolongan pada korban dilakukan penilaian terlebih dahulu pertolongan seperti apa yang dibutuhkan korban, jadi tidak bisa asal. Jika terjadi kecelakaan dan menemukan 3 kondisi seperti orang yang berteriak minta tolong, sekarat/ kritis dan orang yang dipastikan sudah tidak bergerak lagi maka yang pertama harus kita tolong adalah yang kondisi sekarat/kritis.Kita tidak boleh mencabut benda apa pun yang menancap di tubuh.

Luka dibalut untuk meminimalisir darah yang keluar. Kalau tidak ada kain kasa gunakan yang ada, misal baju untuk menahan darah keluar semakin banyak.

Bidai itu supaya luka patah tulang tidak bergeser. Bidai bisa dibuat dari benda yang lurus dan keras kemudian dibalut dengan kertas untuk keamanan bidai tidak melukai kulit. Alat bidai harus lebih panjang dari yang dibidai. Tenangkan korban.  Talinya bisa apa saja. Pelan-pelan saat membidai dan tali jangan terlalu kencang. Saat dievakuasi tulang yg patah harus tetap lurus.
Luka bakar ada 3 derajat
Derajat 1. Hanya bagian kulit sri
Derajat 2. Seperti kena knalpot
Derajat 3. Seperti ayam bakar / sangat parah

Pertolongan pertama adalah dengan diberi air atau es juga bisa jika tidak terlalu parah. Kalau lukanya terbuka bisa kain dibasahi kemudian dibalut kan. Korban bisa diberi air minum tp air putih hangat tidak boleh air es atau jenis air minum yg lain." beliau menjelaskan tentang pertolongan pada korban.

Kemudian para peserta diminta praktek langsung bagaimana menangani beberapa jenis luka yang terjadi pada korban, mulai dari luka bakar, luka sobek, tertusuk tongkat, hingga patah tulang.


Selain itu beliau juga mempraktekkan cara memadamkan api pada kebocoran gas.

"Ada tiga cara memadamkan api." beliau menjelaskan.
"Tiga cara tersebut adalah:
1. Ditekan bagian yang bocor atau yang mengeluarkan api
2. Ditiup bagian yang keluar apinya
3. Dibawa ketempat terbuka dan dicopot regulatornya

Setelah materi ke 6 selanjutnya para peserta istirahat dan bersih diri kemudian pukul 19.30 melanjutkan materi 7. Materi 7 disampaikan kembali oleh ustadz Syarif Daryono.
Materi 7: Manajemen Halaqah dan Simpati
Beliau menyampaikan:"Salah satu tujuan halaqah adalah menjadikan santri memiliki kepribadian muslim. Dan kedudukannya sebagai wadah pembinaan santri Hidayatullah. Fungsi halaqah ada tiga, yaitu: muakhkhoh (mempersaudarakan), tarbiyah (penanaman nilai-nilai ke-Islaman) dan tandzim (pengorganisasian)."

Selanjutnya tentang tali temali dan simpul. Para peserta dikenalkan tali yang biasa digunakan yakni tali kernmantel.
Berikutnya materi 7
diakhiri  dengan membuat berbagai jenis simpul.




Laporan @yuliasfita

Dauroh Murobbi Pandu Hidayatullah Hari ke-1



www.sdithidayatullah.net | Selasa (26/12/ 2017) Rombongan Dauroh Murobbi dari Jogja alhamdulillah sampai di lokasi kegiatan yang akan berlangsung selama kurang lebih tiga hari dua malam di yayasan Al-Kahfi, Surakarta.

Selama 3 hari kedepan para peserta diwajibkan mengikuti jadwal kegiatan yang telah dibuat.


Masing-masing sekolah membawa peralatan yang telah diinstruksikan, diantaranya: tongkat pramuka, tali pramuka, kompas, bendera semaphur, peluit dan seragam pandu. Itu semua dibutuhkan untuk mengikuti materi- materi yang akan disampaikan.

Dihari pertama dauroh, ada 3 materi yang disampaikan oleh Ustadz Faturrahman. Ustadz Faturrahman menyampaikan bahwa: "Misi besar Hidayatullah adalah terbangunnya peradaban islam.  Pandu adalah wadah kaderisasi.  Di dalamnya ada kurikulum kaderisasi. Dan ada aspek yang akan ditransfer untuk anak kita. Aspek yang sangat mendasar dalam pandu adalah aspek ruhiyah,  kemudian ijtimaiyah,  tsaqafah, dan jasadiyah. Ada 5 paket dalam ruhiyah, yaitu shohihul 'aqidah, mutakholliqun bil Qur'an, mujiddun fil 'ibadah, da'in illallah dan multazimun bil jama'ah".

Aspek ruhiyah  ini disampaikan dalam beberapa sesi yang disampaikan Ustadz Faturrahman
Materi 1: Shohihul 'Aqidah (aqidah yang benar)
Indikator:
a. Pemahaman yg benar
b. Kesadaran yang penuh
c. Mengenal Allah
d. Kesiapan menerima syariat
e. keyakinan yang utuh dan mantap
f.  Kesiapan untuk berjihad
g. Sikap mencintai Allah
h. Pengenalan dan pengamalan wala' dan bara',
i.  Militansi dan tidak takut celaan

Materi 2: Mutakholiqun bil Qur'an (berakhlak sesuai Al-Qur'an)
Semua aktifitas yang kita lakukan harus sesuai dengan  Al-Qur'an.
Kompetensi dasarny adalah:
a. Memahami konsep haq dan batik
b. Memiliki visi hidup Qur'ani
c. Menjadikan Rasulullah sebagai uswatun halaqah

Materi 3: Mujiddun fil 'Ibadah (bersungguh-sungguh dalam beribadah)
Dalam segala hal jangan dibayangkan, jalani saja, terus berbuat, bergerak, jangan berhenti, karna setiap gerakan itu ada barokahnya. Dan kenapa harus sngguh-sungguh dalam beribadah? Karna kalau tidak ada kesungguhan yang ada hanya tataran teori.

Laporan @yuliasfita 


Donasi Membuat Kamar Mandi Ibu Karsiti

Ibu Karsiti dan Melihatkan Lokasi Pembuatan Kamar Mandi
www.sdithidayatullah.net | Senin (18/12/2017) Namanya Ibu Karsiti, usia beliau saat ini kurang lebih 60 tahun. Beliau telah ditinggal suaminya karena sakit komplikasi sekitar 5 tahun yang lalu. Saat ini, Beliau tinggal dengan putrinya di sebuah rumah yang tidak layak disebut rumah, sekitar ukuran 4 x 4 meter di atas tanah kas desa. Di sebuah rumah petak tersebut harus difungsikan sebagai tempat tidur dan dapur. Ditambah jika cuaca hujan, maka bocor di sana sini. 
Ibu Karsiti di depan rumah Beliau
Di usianya yang menginjak renta itu, wanita asli dari Gunungkidul ini harus menghidupi keluarganya dengan menjadi pembantu rumah tangga di daerah sekitarnya. Beruntung, majikan beliau sanggup membiayai kuliah putrinya di sebuah Universitas Negeri di Yogyakarta ini.
Salah satu sudut rumah Ibu Karsiti
Yang sangat memprihatinkan dari Ibu Siti, panggilan beliau di kampungnya ini adalah rumah beliau ini belum ada fasilitas kamar mandi untuk kebutuhan pokok mandi, cuci, dan kakus. Beliau menceritakan bahwa untuk kebutuhan ke kamar mandi, beliau harus nunut di mushola kampung tempat tinggalnya, padahal kamar mandi di mushola tersebut tidak ada fasilitas buang air besar/WC.

"Saya harus pagi-pagi sekali untuk keperlua cuci dan kakus, Mas, di mushola, kalau untuk buang air besar saya biasanya di sungai di kampung ini." Ujar Beliau kepada salah satu relawan Hidayatullah Sleman.
Baca : Mari Ulurkan Tangan untuk Membantu Ibu Pratiwi Sang Penjaga Anak Yatim
Lebih mengenaskan adalah putri beliau, yang harus menahan kebutuhan buang air nya, "Biasanya anak saya harus menahan dan membuangnya di sekolah." Curhat Beliau kepada Relawan Hidayatullah Sleman.
Ini adalah kondisi kamar putri Ibu Karsiti
"Alhamdulillah, setelah program Bedah Rumah Ibu Pratiwi kita gulirkan, ternyata respon masyarakat sangat antusias. InsyaAllah Hidayatullah Sleman akan mencoba mengangkat dengan membuatkan kamar mandi yang bisa dipakai oleh keluarga kecil ini (Ibu Karsiti, Red.)," ujar Ustadz Mansur, selaku Ketua DPD Hidayatullah Sleman. "
Donasi Program ini bisa menghubungi Ustadz Mansur HP 085227731825
Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah :
>> Narahubung : Mahmud Thorif 087738219070
>> Grup WhatsApp : https://chat.whatsapp.com/6SvcUfWIvRuJsIdiBsHbU0 
>> Formulir : UNDUH DI SINI
>> Biaya Masuk : UNDUH DI SINI  

Laporan : Mahmud Thorif
Foto : Salim Abdullah

Ustadz Abdullah Munir : Membangun Kesholehan

www.sdithidayatullah.net | Senin (18/12/2017) Rapat Kerja (Raker) Guru dan Pegawai SDIT Hidayatullah Yogyakarta akan berlangsung selama tiga hari, yaitu Senin hingga Rabu, 18 sampai dengan 20 Desember 2017 M atau bertepatan dengan 29 Rabiul Awal sampai dengan 2 Rabiul Akhir 1439 H.

Ustadz Abdullah Munir, S.Ag., selaku Ketua Yayasan As-Sakinah Yogyakarta ketika memberikan sambutannya dalam acara pembukaan raker ini menyampaikan bahwa : “Tujuan dari Rapat Kerja ini adalah perbaikan, tujuan dari perbaikan ini adalah kesholehan.” Begitu kata Ustadz Munir di depan puluhan guru dan pegawai SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

“Yang dimaksud kesholehakan adalah kesholehan sistem, kesholehan sekolah, kesholehan guru, dan juga kesholehan murid.” Kata Ustadz Munir.

“Salah satu indikator kesholehan adalah ‘terbukanya dada kita untuk menerima Islam”, kalau dada kita mulai sempit menerima Islam, maka itu indikator kesholehan mulai hilang dari diri kita.” Lanjut Beliau.

Ustadz Abdullah Munir menyampaikan bahwa “Prinsip dari perbaikan ini adalah menjaga tradisi lama yang baik sambil membuka diri jika ada yang lebih baik.”

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah :
>> Narahubung : Mahmud Thorif 087738219070
>> Grup WhatsApp : https://chat.whatsapp.com/6SvcUfWIvRuJsIdiBsHbU0 
>> Formulir : UNDUH DI SINI
>> Biaya Masuk : UNDUH DI SINI  


Laporan @mthorif

Penerimaan Raport di SDIT Hidayatullah Yogyakarta



www.sdithidayatullah.net | Sabtu (16/12/2017) Hari ini sebanyak 540 an murid SDIT Hidayatullah menerima raport dari sekolah yang diambil oleh orangtua/wali murid. Hampir di Kabupaten Sleman, serentak diadakan penerimaan raport. Penerimaan raport di sekolah ini dilaksanakan pada pukul 09.00 ssampai dengan pukul 12.00 wib.

Ada dua macam kurikulum yang diterapkan di sekolah ini, yakni kurikulum KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang diterapkan untuk kelas 2, 3, 5, dan 6 serta Kurikulum 2013 yang diterapkan untuk kelas 1 dan 4. Tentulah banyak kekurangan dan kelebihan serta pernak-pernik dari masing-masing kurikulum keduanya ini.

Setelah penerimaan raport, murid-murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta akan menjalani libur akhir semester gasal tahun ini, yaitu mulai tanggal 18 Desember 2017 sampai dengan 1 Januari 2018. 

"InsyaAllah murid akan kembali masuk di semester genap tahun 2017/2018 pada 2 Januari tahun 2018," kata Ustadz Subhan Birori, S.Ag. dalam sebuah rapat koordinasi. "Selama 3 hari awal masuk akan dilaksanakan masa orientasi semester genap." Lanjut Beliau. 

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah :
>> Narahubung : Mahmud Thorif 087738219070
>> Grup WhatsApp : https://chat.whatsapp.com/6SvcUfWIvRuJsIdiBsHbU0 
>> Formulir : UNDUH DI SINI
>> Biaya Masuk : UNDUH DI SINI  

Camping Ceria SDIT Hidayatullah Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | Sabtu (9/12/2017) Bertempat di Bumi Perkemahan Garongan, Turi Camping SDIT Hidayatullah Yogyakarta ini diselenggarakan. Acara 2 tahunan ini mengambil tema 'Ceria, Berakhlak, Mandiri, dan Berpotensi'. Saat datang di Jumat siang, seluruh peserta mendirikan tenda dengan didampingi oleh para guru pembimbing. Cuaca sempat sedikit hujan ketika tenda telah didirikan, tapi tidak menyurutkan semangat mereka untuk bertahan di tenda-tenda mereka.

Dalam acara pembukaan camping, pada Jumat malam (7/12/2017) yang lalu, Ustadz Subhan Birori, S.Ag. menyampaikan pesan-pesan kepada anak-anak, bahwa kita hidup di alam, maka wajib untuk menjaga alam ini dengan sebaik-baiknya, akhlak kita kepada alam harus diamalkan. 

Ustadz Haris, dalam sebuah tausiyah ba'da shalat Maghrib menyampaikan, bahwa ada 3 adab yang ditekankan kepada anak-anak selama mengikuti kegiatan camping ini, yaitu adab kepada Allah Ta'ala, dengan bersungguh-sungguh menjalankan ibadah dengan benar, memenuhi panggilan adzan untuk shalat berjamaah. Adab kepada guru dan temannya, bagaimana menghormati dan mentaati guru serta menjaga persaudaraan dengan teman-temannya, baik dalam satu kelompok atau beda kelompok. dan ketiga adalah adab kepada alam, baik kepada tumbuh-tumbuhan dengan menjaganya, serta jangan sembarangan membuang sampah.

Bermacam kegiatan murid selama camping ini telah dilaksanakan, misalnya tadi malam kelompok putra melakukan perjalanan malam, di mana setiap kelompok berjalan dengan hanya berbekal 3 buah lilin dan 3 batang korek api selama perjalanan. Sedangkan kelompok putri mendapatkan materi klasikal dengan tema khusus yang survival dilanjutkan dengan melihat film.

Pada pagi harinya, diawali shalat tahajud, shalat subuh, dan senam, kelompok putra berjalan menyusuri sungai sedangkan kelompok putri berkegiatan outbound dengan para trainer dari pengelola bumi perkemahan.

Bermacam kegiatan masih akan dilakukan oleh peserta camping ini, karena waktu pelaksanaan camping akan diakhir pada Ahad sore (10/12/2017) .

Tentulah pengalaman belajar inilah yang menjadi nilai tersendiri bagi anak-anak sekolah dasar ini. Bagaimana mereka melayani teman-temannya, bagaimana mereka bekerja dalam sebuah kelompok, dan masih banyak lagi. Semoga kelak, dengan pengalaman belajar mereka, bisa menjadi bekal memimpin negeri ini.

Info murid baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI atau bisa bergabung dengean Grup WhatsApp Info SDIT Hidayatullah dengan klik tautan ini : https://chat.whatsapp.com/6SvcUfWIvRuJsIdiBsHbU0 atau bisa hubungi HP 087738219070

Laporan Mahmud Thorif
Foto Ayun Afifah

Mari Ulurkan Tangan untuk Membantu Ibu Pratiwi Sang Penjaga Anak Yatim


 
Ketua Muslimat Hidayatullah Sleman Menyampaikan Donas dari Masyarakat kepada Ibu Pratiwi

www.sdithidayatullah.net | Selasa (5/12/2017) Kesan pertama saat kami  berkesempatan bersilaturrahim kerumah ibu Pratiwi, beliau seorang ibu yang tabah, sabar dan tegar dalam menghadapi pahitnya kehidupan.

Ibu Pratiwi tinggal di Gowok depan  Amplas Jogja bersama ke 4 (empat) anaknya di rumah bambu (gedhek) yg masyaAllah kondisinya begitu memprihatinkan (hampir roboh) dan kalau hujan air biasa masuk ke rumah.

Semenjak suaminya tercinta meninggal beberapa tahun  lalu, seorang ibu Pratiwi berjuang banting tulang sebagai buruh cuci di sekitar rumahnya demi menghidupi ke 4 buah hatinya.

Minggu lalu salah satu putranya sakit demam berdarah dan harus opname, Alhamdulillah sekarang sudah sembuh dan boleh pulang, akan tetapi sekarang Ibu Pratiwi lah yang saat ini terbaring sakit sehingga tidak bisa lagi bekerja sebagai buruh cuci sekedar untuk mencari sesuap nasi untuk buah hatinya.

Sebenarnya Beliau sudah lama merasakan nyeri yang sangat setelah diperiksa dokter dan discan  hasilnya Beliau sakit kanker di bagian tubuhnya.

Hanya kepada Allah tempat Beliau memohon, semoga Allah memberikan pertolongan melalui hati dan tangan mulia Panjenengan semua untuk turut meringankan beban Ibu Pratiwi dan menyantuni ke 4 anak yatimnya.

Bukankah Rasulullah SAW akan bersama orang yang menyantuni anak yatim di surgaNya? Semoga kita bagian darinya.



Alhamdulillah...
Pada hari Ahad, 03 Des 2017 kami, MZ BMH (Mitra Zakat Baitul Maal Hidayatullah Kantor Balong) bersama Mushida (Muslimat Hidayatullah) Kabupaten Sleman telah menyerahkan donasi dari Bapak/Ibu sejumlah Rp 8.729.000,- kepada Ibu Pratiwi.


Sebagian dana infak itu dimanfaatkan Ibu Pratiwi untuk membayar sewa tanah kas desa tempat beliau tinggal, melunasi hutang saat putranya sakit, memperbaiki tiga sepeda anaknya yg biasa untuk sekolah, dan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. 

Adapun sisanya akan digunakan untuk mewujudkan mimpi mengganti tiang dan dinding rumah bambunya yg semakin rapuh, mengganti atap rumahnya yang bocor dari banyak sisi saat hujan turun.

Namun untuk mewujudkan mimpinya ini masih dibutuhkan dana tambahan sebesar Rp 20.000.000,- (dua puluh juta rupiah).

Mari kita bantu mewujudkan mimpi ibu Pratiwi sang penjaga anak yatim ini. Mari bersama kita entaskan beliau dari kesusahan yang sedang mendera hidupnya. 

Semoga Allah memilih tangan tangan mulya kita untuk menjadi penolong hamba-hamba-Nya yang sangat membutuhkan. Aamiin

#Donasi hubungi
Mansur (085227731825)
#MZ BMH Balong
#Yayasan AsSakinah Jogja


Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah 087738219070, atau bisa klik tautan ini untuk bergabung dengan Grup WhatsApp Info SDIT Hidayatullah : https://chat.whatsapp.com/6SvcUfWIvRuJsIdiBsHbU0

Grup WA Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah

www.sdithidayatullah.net | Senin (4/12/2017) SDIT Hidayatullah Yogyakarta menyebarkan informasi penerimaan murid baru melalui berbagai media sosial, salah satu yang bisa diakses adalah WhatsApp Grup atau yang lebih sering disingkat WAG.

Bagi Anda yang ingin bergabung dengan WAG Info SDIT Hidayatullah silahkan bisa klik tautan berikut ini : https://chat.whatsapp.com/6SvcUfWIvRuJsIdiBsHbU0 InsyaAllah Anda akan terhubung langsung dengan grup informasi sekolah ini.

Informasi lebih lanjut hubungi 087738219070

Ujian Akhir Semester Tahun 2017 di SDIT Hidayatullah Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | Senin (27/11/2017) Mulai hari ini, murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta akan menghadapi Ujian Akhir Semester Gasal Tahun Pelajaran 2017/2018. Ujian, yang dalam istilahnya Tes Kendali Mutu (TKM) ini akan berlangsung selama lebih kurang 10 hari.

Dalam kegiatan Apel Motivasi, Ustadz Muhammad Rifki Saputra, S.Pd.I. memberikan tausiyah berupa tips dalam menghadapi ujian kepada seluruh murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Ada tiga tips yang bisa dilakukan untuk sukses ujian menurut, Ustadz Rifki, sapaan Beliau sehari-hari di sekolah. 

Inilah tips menghadapi ujian :
Pertama : Konsentrasi

Kedua : Memahami soal yang diberikan atau yang ditanyakan, karena memahami soal itu sudah bisa menjawab 50%


Ketiga : Fokus dan teliti   

Kegiatan Ujian Akhir Semester SDIT Hidayatullah Yogyakarta ini berlangsung sejak dari hari Senin s.d. Jumat, 27 Juli s.d. 8 Desember 2017 dan selama ujian, seluruh murid kelas 1 sampai dengan kelas 6 pulang pukul 13.00 wib. Sedangkan untuk guru dan pegawai pulang tetap pukul 14.30 wib, untuk mengoreksi soal ujian.

Usai Ujian Akhir Semester, akan ada kegiatan camping untuk kelas 4, 5, dan kelas 6. Adapun tempat kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Bumi Perkemahan Garongan, Turi.

Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI atau hubungi 087738219070
@emthorif

Selamat Hari Guru Nasional dari Puncak Gunung Merbabu

www.sdithidayatullah.net | Sabtu (25/11/2016) Beberapa Guru dan Pegawai SDIT Hidayatullah Yogyakarta memberikan Selamat Hari Guru Nasional 25 November 2017 dari Puncak Tertinggi Gunung Merbabu di Jawa Tengah.

Dikomandani oleh Ustadz Untung Purnomo, S.Pd. rombongan guru tiba di kaki Gunung Merbabu sekitar pukul 16.30 wib. Setelah mempersiapkan segala sesuatunya, usai shalat maghrib rombongan mulai menaiki Gunung Merbabu. Diiringi hujan yang cukup deras perjalanan ini dimulai. Perjalanan malam diiringi hujan membuat hawa udara semakin dingin dan menusuk tulang.

Tim berhenti dan mendirikan tenda di Pos 3 Gunung Merbabu sekitar pukul 23.00 wib, dari Pos 3 ini jarak waktu menuju puncak masih sekitar 4 jam perjalanan dengan medan yang cukup terjal.

Setelah melaksanakan shalat subuh berjamaah di dalam tenda ditemani oleh udara dingin yang menusuk tulang, tim kembali meneruskan perjalanan menuju puncak Gunung Merbabu. Tidak ketinggalan, tim menyiapkan segala perlengkapan dan perbekalan menuju ke puncak ini.

Lebih kurang 4 jam perjalanan, tim akhirnya sampai di pucak Gunung Merbabu, dengan ketinggian 3.142 Mdpl. Perjalanan yang melelahkan ini terobati dengan sampainya di puncak Merbabu ini. Kabut yang menyelimuti gunung membuat pemandangan tidak bisa dinikmati dengan leluasa.

Setelah hampir 1 jam di atas puncak tertinggi Gunung Merbabu, tim melanjutkan perjalanan menuruni gunung. Konon, kata para pendaki, perjalanan menuruni gunung ini bukan perjalanan ringan, justru perjalanan yang cukup berat. Alhamdulillah, tim berhasil mencapai camp pendakian di Selo Boyolali lebih kurang pukul 16.30 wib. 

Banyak sekali pengalaman berharga yang bisa didapatkan dari perjalanan menaiki. Di antaranya adalah solidaritas. Sesama pendaki gunung saat berhenti istirahat dalam perjalanan kadang bercerita tentang pengalamannya naik gunung. Bahkan saat bercerita mereka tidak mengenalkan namanya lebih dulu, namun diawali dari pertanyaan dari mana? Berapa temannya? Menjadi modal mereka untuk saling berkisah. 

Tentu masih banyak lagi pengalaman rohani yang dialami oleh setiap orang yang naik gunung.


Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah KLIK DI SINI | Kontak Person Hubungi 087738219070
Laporan Mahmud Thorif

Lembut Itu Ada Takarannya



Oleh: Mohammad Fauzil Adhim
Ada tiga hal penting dalam mendidik anak. Ketiganya merupakan sifat terpuji, bukan hanya dalam mendidik anak. Yang pertama adalah kelembutan atau rifq. Apa itu rifq? Sikap yang ramah, bersahabat, lembut, santun ketika melakukan muamalah dengan orang lain, termasuk ketika orangtua berhubungan dengan anak dalam kehidupan sehari-hari.

Ar-Rifq (الرفق) itu diperlukan bukan hanya dalam suasana gembira atau menyampaikan nasehat. Bahkan saat memberikan hukuman maupun konsekuensi kepada anak pun, tetap diperlukan sikap rifq. Dengan itu anak merasakan bahwa orangtua menyayangi dia, bahkan di saat menghukum. Hilangnya rifq, meskipun dalam keadaan sedang memenuhi keinginan anak, menjadikan anak sulit merasakan cinta orangtua kepadanya. Ia tidak yakin orangtua peduli kepadanya. Padahal merasa dicintai merupakan awal tumbuhnya rasa hormat dalam diri anak kepada orangtua.

Sesungguhnya besarnya rasa hormat mendorong anak untuk taat, meskipun orangtua tidak sedang berada di hadapannya. Sangat berbeda ketaatan yang muncul karena anak tidak berdaya menghadapi orangtua dengan ketaatan yang tumbuh dari rasa hormat. Jika anak taat semata karena takut kepada orangtua, maka ketika kendali maupun pengawasan orangtua melemah, ketaatan anak pun akan melemah.

Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Ramah-Lembut (Rafiq). Dan Allah Ar-Rafiq mencintai kelembutan. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللهَ رَفِيْقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ ، وَيَعْطِي عَلَى الرِّفْقَ مَا لاَ يَعْطِي عَلَى الْعُنْفِ ، وَمَا لاَ يَعْطِي عَلَى سِوَاهُ

“Sesungguhnya Allah itu Rafiq (Maha Lembut) dan mencintai rifq (kelembutan, keramahan), Dia memberikan kepada lemah-lembut (rifq) apa-apa yang tidak diberikan pada sikap ‘anaf (kasar-keras), dan tidak pula Dia memberikan pada yang selainnya.” (HR. Muslim).

Lemah lembut bukanlah penghalang untuk bersikap tegas. Justru sebaliknya, kelembutan itu diperlukan saat bersikap tegas agar anak merasakan bahwa aturan ditegakkan sebagai bentuk konsistensi orangtua. Semua itu untuk kebaikan anak. Bukan karena orangtua seenaknya sendiri atau pun karena orangtua tidak suka kepada anak.

Lembut dan tegas bukanlah dua hal yang bertentangan. Bahkan kelembutan itu bukan lawan dari sikap keras sejauh sikap keras itu tepat takarannya, benar alasannya. Kelembutan yang tidak disertai ketegasan adalah kelemahan. Ini yang menjadikan anak sulit belajar untuk bersikap konsisten. Sikap keras dalam hal prinsip yang ditegakkan dengan kelembutan memudahkan orangtua menempa mental anak.

Tengoklah tuas persneling sebagian mobil mewah. Sangat lembut di tangan, tetapi bukan tidak keras. Tuas persneling akan kehilangan fungsinya apabila tidak keras. Kita tidak dapat melakukan pergantian gigi dengan baik.

Kelembutan tidak dapat bertemu dengan sikap kasar. Sebagian orang menghimpun dua keburukan; ia kasar dan pada saat yang sama lemah. Kasar saat memberi, kasar pula saat menolak permintaan anak. Ia kasar saat memerintah, bertutur dengannya menggunakan fazhzhan (kasar kata, keras ucapan); kasar pula saat melarang. Bersuara kepada anak pun menggunakan seburuk-buruk suara –suara keledai—yakni ia berbicara serupa keledai yang melengking tiba-tiba dan tak enak didengar. Tetapi ketika anak bersikeras tidak menuruti, atau anak merengek merajuk, orangtua segera mengalah. Inilah bentuk sikap yang lemah itu.

Maka benarlah, kunci segala kebaikan itu terletak pada kelembutan. Saat menegakkan aturan dengan bersikap tegas atau pun tatkala memberi apa yang disukai anak, kita perlu bersikap lembut kepada mereka. Hilangnya kelembutan saat mendidik akan menghilangkan segenap kebaikan, meskipun ketika itu kita sedang mengajarkan agama.

Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ يُحْرَمُ الرِّفْقَ ، يُحْرَمُ الْخَيْرَ كُلَّهُ

“Barangsiapa yang diharamkan baginya rifq, diharamkan baginya kebaikan seluruhya”. (HR. Muslim).

Semoga Allah Ta’ala karuniai kita kelembutan dan jauhkan kita dari sikap kasar lagi keji. Sesungguhnya tidaklah kelembutan

Dari beliau (‘Aisyah) radhiyallahu ‘anha juga, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عَلَيْكِ بِالرِّفْقِ ، وَإِيَّاكَ وَالْعُنْفِ ، وَالْفَحْشِ ، إِنَّ الرِّفْقَ لاَ يَكُوْنُ فِيْ شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ ، وَلاَ يَنْزِعُ مِنْ شَيْءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Wajib bagimu untuk berbuat lemah lembut, berhati-hatilah dari sikap ‘anaf (keras dan kasar), sesungguhnya tidaklah sikap lemah lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah ia dicabut dari sesuatu, melainkan akan memburukkan perkara tersebut”. (HR. Muslim).

Tenang, Tidak Reaktif

Hal penting lainnya dalam mendidik anak adalah sikap al-hilm (الحلم) dan al-‘anah (الأناة). Al-hilm adalah sikap tenang dan lembut berupa kemampuan yang bagus dalam mengendalikan diri. Ia menguasai dirinya bahkan ketika sedang marah, sehingga tidak tergesa-gesa bereaksi. Ketenangan itu menjadikannya mampu memilih tindakan yang terbaik dan paling membawa kemaslahatan. Ini sulit didapatkan ketika orangtua bersikap reaktif, bahkan impulsif, saat menghadapi kesalahan anak sehingga tindakannya cenderung tidak terukur.

Adakalanya anak datang mengadukan masalahnya, bukan untuk mencari jalan keluar, tetapi untuk meringankan beban emosinya karena ada tempat untuk berbagi. Ia bercerita untuk memperoleh dukungan emosi maupun sosial dari orangtua. Tetapi manakala orangtua kehilangan hilm, ia dapat kehilangan ketenangan. Di saat seharusnya masih mendengarkan anak dengan penuh perhatian, ia sudah tergesa-gesa memberi nasehat panjang. Bukan tak baik kita memberi nasehat, bahkan sangat baik, tetapi perlu sabar dan penuh kasih-sayang.

Adapun ‘anah adalah sikap berhati-hati, tidak tergesa-gesa menentukan sikap kecuali setelah sangat jelas duduk permasalahannya. Ia baru mengambil keputusan setelah memperoleh pengetahuan yang mencukupi dan memadai. Perlu tabayyun ketika belum jelas baginya suatu persoalan, dan kadang harus disertai dengan tatsabbut, yakni memastikan maksud dari suatu tindakan maupun ucapan.

Baik hilm maupun ‘anah, keduanya diperlukan untuk dapat menegakkan kelembutan (rifq) dalam mengasuh anak.

Kepada Allah Ta’ala saya memohon karunia rifq, hilm dan ‘anah bagi diri saya, istri saya dan keturunan saya serta kita semua. Semoga Allah Ta’ala baguskan keturunan kita dan memasukkan mereka ke dalam golongan orang-orang shalih lagi bersih.

Catatan:
Tulisan ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul "Lembut tapi Tak Mendidik". Artikel yang dimuat di majalah Hidayatullah bulan ini, November 2017 lebih menitikberatkan pada pembahasan mengenai kelembutan yang terkandung dalam istilah ar-rifq. Insya Allah tulisan berikutnya mengenai al-hilm yang berdekatan juga maknanya dengan kelembutan akan menyusul. Setelah itu, kita akan berbincang tentang al-anah. Ketiganya penting untuk menegakkan sikap dengan tepat dalam mendidik anak. Semoga Allah Ta'ala karuniai sifat tersebut.

Tulisan ini saya posting untuk memenuhi harapan Saudara kita Helda Mustika dan banyak pembaca lainnya yang meminta saya menulis lanjutan pembahasan tentang kelembutan serta menampilkannya di media sosial. Juga kepada peserta kajian rutin tentang parenting tiap Selasa sore di Masjid Nurul Ashri, Yogyakarta. Semoga bermanfaat dan barakah.


Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi., Penulis Buku-buku Parenting

Ujian Kenaikan Sabuk Perguruan Karate Kala Hitam Dojo SDIT Hidayatullah Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | Ahad (19/11/2017) Bertempat di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Yogyakarta, Ujian Kenaikan Sabuk Perguruan Karate Kala Hitam dari berbagai Dojo dilaksanakan. 

Ada puluhan peserta dari Dojo SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang mengikuti kegiatan ini. Ujian kenaikan sabuk yang dilaksanakan setiap semester ini biasanya dilaksanakan di tempat-tempat yang berbeda. 

Pengembangan Diri Karate Kala Hitam di SDIT Hidayatullah Yogyakarta adalah salah satu kegiatan pengembandan diri pilihan, dimulai dari Kelas 3 sampai dengan Kelas 6 boleh mengikuti kegiatan ini. 

Di Lembaga Pendidikan Integral Hidayatullah, yaitu SDIT Hidayatullah Yogyakarta ada bermacam kegiatan pengembangan diri, mulai dari Pandu Hidayatullah, Hafalan Al-Quran, Memanah, Berenang, dan Karate. 

Bela Diri Karate ini adalah pengembangan diri yang berjenjang yang diawali dengan sabuk putih, sabuk biru, sabuk kuning, sabuk coklat, dan sabuk hitam. Jenjang-jengan sabuk ini bisa dilalaui dengan ujian kenaikan sabuk.
Informasi Murid Baru HP 087738219070, atau KLIK DI SINI
Laporan @emthorif
Foto Bunda Dona

Lembut tapi Tak Mendidik




Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Ada dua hal yang seolah bertentangan, padahal sebenarnya seiring sejalan. Keduanya harus ada dalam mendidik anak, sehingga kehadirannya tidak dapat dipertentangkan satu sama lain. Satu hilang, runyamlah pendidikan. Yang satu menguatkan jiwa, yang satu menguatkan pegangan anak pada nilai dan sikap yang jelas. Dua hal itu adalah kelembutan dan ketegasan. Keduanya perlu kita miliki dalam mendidik. Tidak bisa salah satunya saja. Memenangkan kelembutan saja, apalagi jika karena alasan lebih sesuai dengan teori parenting mutakhir, akan dapat menggelincirkan pada sikap meremehkan sunnah berkait dengan ketegasan. Salah-salah bukan hanya meremehkan. Lebih dari itu bersikap nyinyir mencibir atau bahkan merendahkan tuntunan karena dianggap sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Menjadi orangtua adalah perjalanan untuk mengasah keduanya sekaligus dan kadangkala kita perlu melakukan keduanya secara bersamaan. Ini memerlukan usaha untuk melatih diri disertai ilmu. Tanpa mengilmu, maksud hati berlemah-lembut kepada anak, tetapi akibatnya justru tak mendidik. Seolah lembut, padahal yang tersisa hanyalah kelemahan. Hal yang sama juga berlaku untuk ketegasan. Betapa sering ingin menunjukkan sikap tegas, tetapi tanpa takaran yang tepat, terlebih jika tidak disertai ilmu, yang kita maksudkan sebagai ketegasan itu justru menjelma sebagai sikap keras lagi kasar.

Sungguh, sangat berbeda antara keras (apalagi kasar) dengan tegas. Banyak orang keras dan kasar, tetapi tak ada ketegasan pada dirinya. Mereka mudah marah, tetapi keputusannya dengan cepat berubah. Sikapnya beralih karena keadaan atau merasa sedikit terdesak. Saat anak meminta es krim, dengan kasar orangtua menolak. Ketika anak merengek, semakin kasar orangtua menampik permintaan anak. Tetapi begitu ada tamu datang, buru-buru permintaan anak dikabulkan, meskipun dengan cara yang tetap kasar. Uang disodorkan, padahal tadinya menyampaikan kepada anak kalau tak ada uang.

Ini merupakan contoh sederhana bagaimana keras dan kasar itu sama sekali berbeda dengan tegas. Pada kasus tersebut, orangtua bahkan bukan sekedar kasar. Orangtua juga menunjukkan kebohongan yang besar kepada anak. Padahal, ada tuntunan khusus komunikasi orangtua kepada anak di dalam AL-Qur’anul Kariim, yakni berbicara dengan qaulan sadiidan (perkataan yang benar).

Ketegasan itu sangat diperlukan oleh anak. Ia memerlukan keyakinan dan pijakan yang kokoh. Ketegasan mengajarkan kepadanya tentang betapa pentingnya bersikap konsisten terhadap aturan, keyakinan dan agama. Komitmen tidak bernilai tanpa konsistensi. Anak tak dapat belajar memiliki komitmen ketika melihat bagaimana perkataan mudah diciderai. Sebaliknya, anak sulit untuk belajar konsisten manakala yang tampak seolah tegas itu identik dengan keras dan kasar.

Keras itu adakalanya diperlukan sejauh takarannya pas. Orangtua memiliki ilmu yang memadai untuk menakar maslahat – madharatnya, pun waktu serta cakupan masalah yang perlu disikapi. Ini berarti, orangtua harus mengilmui agar sikap tersebut tidak rancu dengan kasar, tidak pula membuat anak lari dari dirinya, lebih-lebih dari agama. Cara mendidik inilah yang kita dapati pada diri Asaduddin Syirkuh, paman dari Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi. Menghadapi keponakannya yang cengeng, Asaduddin mendidiknya dengan keras beriring tulusnya kasih-sayang seraya menunjukkan besarnya tanggung-jawab yang kelak harus dipikul oleh Yusuf. Sikap keras itu menghilang seiring terbentuknya kepribadian Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi yang kian kokoh. Kelak kita mengenal Yusuf sebagai pembebas Masjid Al-Aqsha yang sangat dihormati, teguh pendirian, kuat tekadnya dan ia mendapat sebutan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Keras berbeda dengan kasar. Orangtua yang mendidik anaknya dengan keras tetap dapat menunjukkan kelembutan dan kasih-sayang. Sementara sikap kasar menandakan tercabutnya kelembutan dan itu berarti menjauh dari kebaikan. Sikap keras kerap dianggap sama dengan tegas, padahal sama sekali berbeda. Jika kita mendidik anak dengan keras tanpa mengilmui, yang terjadi adalah pola asuh yang keras dan bahkan kasar, tanpa ada ketegasan. Tanpa empati dan kasih-sayang.

Hal yang perlu diwaspadai oleh mereka yang cenderung keras adalah mengendalikan emosi. Cara mendidik yang cenderung keras hanya akan baik apabila dilakukan oleh mereka yang kendali emosinya sangat kuat. Bukan reaktif yang lebih dekat dengan gegabah dan ceroboh. Tanpa mengilmui dan kemampuan mengendalikan emosi, cara mendidik yang keras akan melahirkan permusuhan. Tak ada kepedulian antar saudara, tak ada empati kepada orang lain, termasuk kepada teman sebaya.

Lembut tapi Tak Mendidik

Kelembutan itu membaguskan segala sesuatu yang ia melekat kepadanya. Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, kecuali ia akan membaguskannya. Dan tidaklah ia tercabut dari sesuatu, kecuali akan membawa kepada keburukan. Maka pada sikap tegas, kelembutan itu harus ada. Ketika untuk menegakkan pendidikan kadang harus keras, kelembutan itu harus ada. Tanpa kelembutan, kerasnya sikap menjadi tindakan gegabah dan kasar.

Begitu pentingnya kelembutan sehingga kita perlu mengilmui agar tak keliru. Jangan sampai mengira sebagai kelembutan, padahal ia sesungguhnya telah menjatuhkan kita kepada sikap yang lemah. Jangan pula karena ingin bersikap lembut, anak justru tidak memiliki keyakinan kokoh dan sikap yang jelas sehingga ketika memasuki usia remaja, terombang-ambinglah dirinya. Ia mengalami krisis. Tanpa mengilmui, sikap lembut hamper-hampir tak ada bedanya dengan sikap tak peduli.

Kelembutan itu menghiasi segala sesuatu. Artinya, sesuatu itu harus ada. Mengasuh mendidik anak harus disertai kelembutan. Ini berarti lembut saja tidak cukup. Jika orangtua melimpahi anak dengan kelembutan tanpa menegakkan tugasnya mengasuh, maka anak akan menuai masalah. Anak kecil belajar mencoba berbagai hal; kadang ia benar, kadang ia salah. Tugas kita membimbing dan memberi respon dengan baik disertai kelembutan sehingga ia dapat belajar dari berbagai kegiatannya. Hanya memberinya kelembutan, tanpa menunjukkan respon yang memadai, anak tak dapat belajar. Jangankan untuk hal-hal yang pelik, sekedar mengucap kata dan berbicara pun, anak perlu rangsang dan respon yang mencukupi, Bukan hanya sering mendengar suara orang berbicara. Rangsang itu antara lain berupa perkataan yang suaranya memang ditujukan kepadanya (shooting voice). Tanpa itu, riuh rendah suara orangtua berbicara maupun bercanda dengan orang lain akan menjadi sekedar kebisingan (noise).

Ada orangtua yang begitu cinta kepada anak. Ia ingin mengasuh dengan lembut. Tetapi yang terjadi, ia hanya menganugerahi anak dengan kelembutan yang tak habis-habis, sementara lisannya tertahan tak bicara. Tak pula sigap ketika anak melakukan sesuatu. Menggeleng dan memberi isyarat dengan jemari memang dapat memahamkan anak tentang maksud kita, tetapi tidak menawarkan pengalaman yang utuh kepada anak. Ia juga kesulitan untuk menirukan bahasa sehingga berdampak sulit memproduksi kata-kata.

Ini hanyalah sekedar contoh. Banyak sekali kasus anak bermasalah bukan karena orangtua kasar. Orangtuanya bahkan sangat lembut. Tetapi manakala tidak diletakkan pada sikap yang ngemong (nurturing) dan responsif, kelembutan itu justru menjadi kelemahan.

Ringkasnya, sikap apa pun perlu kita ilmui. Inilah PR besar sebagai orangtua. Saya pun masih harus terus belajar dan bahkan perlu lebih banyak lagi. Dalam hal ini, peran istri sangat besar untuk senantiasa mengingatkan dan berhenti belajar, termasuk belajar mengendalikan diri.

Catatan:
Tulisan ini sebelumnya saya posting dalam bentuk catatan, tetapi banyak yang lebih menyukai dalam bentuk status FB semacam ini karena dapat langsung dibaca. Lebih mudah. Atas sebab itu, tulisan ini saya posting ulang.

Setelah tulisan ini, insya Allah segera menyusul tulisan lain yang berkait dengan kelembutan. Tulisan berikutnya tentang kelembutan lebih menitikberatkan pada pembahasan mengenai ar-rifq. Sesudah itu, baru membahas tentang al-hilm di dalam tulisan yang berbeda. Semoga ini memudahkan kita dalam mengamalkan mendidik anak.

Sumber : Facebook Mohammad Fauzil Adhim
Foto Ilustrasi : google