Pelaksanaan Penggunaan KIP Untuk Mendapatkan Layanan Pendidikan Formal Dan Nonformal

kartu-indonesia-pintar
Yang Terhormat :
  1. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi
  2. Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota
  3. Kepala Sekolah SD, SMP, SLB, SMA dan SMK
  4. Operator Dapodik
di seluruh Indonesia
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Dalam rangka untuk mendorong percepatan penggunaan/pemanfaatan KIP Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia telah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 420/3019/SJ Tentang Pelaksanaan Penggunaan Kartu Indonesia Pintar Untuk Mendapatkan Layanan Pendidikan Formal Dan Nonformal. Isi surat edaran bahwa Menteri Dalam Negeri menginstruksikan kepada seluruh Gubernur dan Bupati/Walikota untuk melakukan hal-hal sebagai beikut:
  1. Pemerintah daerah provinsi melalui organisasi perangkat daerah di provinsi yang membidangi pendidikan:
    1. Melakukan sosialisasi penggunaan KIP kepada seluruh bupati/walikota dan masyarakat di wilayahnya.
    2. Menyampaikan kepada seluruh bupati/walikota bahwa anak usia 6 (enam) tahun sampai dengan usia 21 (dua puluh satu) tahun yang mendapatkan KIP agar segera membawa KIP ke sekolah untuk didata dalam dapodik, sedang penerima KIP yang tidak bersekolah agar mendapatkan layanan pendidikan.
    3. Menyelesaikan masalah pendataan anak usia 6 (enam) tahun sampai dengan usia 21 (dua puluh satu) tahun yang belum mendapatkan KIP agar mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan kewenangannya.
    4. Menyampaikan kepada seluruh bupati/walikota untuk mengidentifikasi dan melaporkan kepada pemerintah daerah provinsi melalui organisasi perangkat daerah di provinsi yang membidangi pendidikan untuk anak usia 6 (enam) tahun sampai dengan usia 21 (dua puluh satu) tahun pemegang KIP yang telah mendaftar di satuan pendidikan.
    5. Melayani pengaduan masyarakat terkait dengan penggunaan KIP di wilayahnya.
       
  2. Pemerintah daerah kabupaten/kota me melalui organisasi perangkat daerah di provinsi yang membidangi pendidikan:
     
    1. Melakukan sosialisasi dan mengkoordinasikan penggunaan KIP kepada seluruh sekolah dan masyarakat di wilayahnya.
    2. Menyampaikan kepada kepala sekolah dan pimpinan SKB/PKBM/LKP/BLK atau satuan pendidikan nonformal lainnya bahwa anak usia 6 (enam) tahun sampai dengan usia 21 (dua puluh satu) tahun yang mendapatkan KIP agar segera membawa KIP ke sekolah untuk didata dalam dapodik, sedang penerima KIP yang tidak bersekolah agar mendapatkan layanan pendidikan kembali bersekolah.
    3. Menyelesaikan masalah pendataan anak usia 6 (enam) tahun sampai dengan usia 21 (dua puluh satu) tahun yang belum mendapatkan KIP agar mendapatkan layanan pendidikan sesuai dengan kewenangannya.
    4. Menyampaikan kepada kepala sekolah dan pimpinan SKB/PKBM/LKP/BLK atau satuan pendidikan nonformal lainnya untuk mengidentifikasi dan melaporkan kepada pemerintah daerah provinsi melalui organisasi perangkat daerah di provinsi yang membidangi pendidikan untuk anak usia 6 (enam) tahun sampai dengan usia 21 (dua puluh satu) tahun pemegang KIP yang telah mendaftar di satuan pendidikan.
    5. Melayani pengaduan masyarakat terkait dengan penggunaan KIP di wilayahnya.
Demikian informasi yang kami sampaikan untuk di perhatikan.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Salam Satu Data, 
Admin Dapodikdasmen
Lampiran :
  • Surat edaran Mendagri terkait KIP unduh disini.
Sumber Informasi ini : http://dapo.dikdasmen.kemdikbud.go.id

Menjadi Pedagang Jujur dan Amanah di SDIT Hidayatullah



www.sdithidayatullah.net | Rabu (31/08/2016), ratusan murid SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta berkumpul di halaman sekolah mereka. Beraneka makanan dan minuman tertata rapi. Iya, hari ini, ada kegiatan outdoor bagi murid-murid SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta. 


Ada 28 kelompok, yang setiap kelompok terdiri 10-12 anak, yang menjajakan makanan dan minuman dan setiap kelompok didampingi oleh guru. 
Kali ini kegiatan Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah mengambil tema "Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama Nabi". 

Harapannya, dengan kegiatan ini murid-murid SDIT Hidayatullah bisa belaku jujur dan amanah, sehingga kelak saat dewasa mereka bisa menerapkannya. Begitulah harapan sekolah, sebagaimana yang disampaikan oleh Ustadz Subhan Birori, S.Ag. selaku Kepala Sekolah. 
Ada kesan dan pesan yang disampaikan oleh Mas Anom, kelas IVA, "Alhamdulillah senang, tadi jualannya untung. Semoga ke depannya lebih baik." Kata Mas Anom.


Sementara itu Rizal, Kelas IVA juga mengatakan, "Tadi jual roti bakar senang sekali, alhamdulillah untung." Katanya polos.

Kegiatan Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah ini adalah kegiatan rutin yang diselenggarakan tiap semester.
Baca : Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah, Menanamkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini
Salah satu tujuan dari kegiatan ini adalah untuk mengasah jiwa wirausaha murid sejak dini.

Rep. EMTE

SDIT Hidayatullah Menjadi Sekolah Model Ummi Foundation Pusat


Oleh: Ayun Afifah, S.Pd

“Berlomba-lombalah Kalian dalam Kebaikan.” (Q.S Al-Baqarah; 148)

Bulan Agustus rakyat Indonesia memperingati Hari Kemerdekaannya. Kemerdekaan ini dapat terwujud tak lain karena ridha Allah dan perjuangan para syuhada’. Maka kemerdekaan yang kita rayakan hendaknya kita iringi dengan prestasi yang membanggakan, terutama di hadapan Allah SWT. 

Semboyan “hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini” mari kita laksanakan bersama. Isi hari-hari dengan hal yang bermanfaat dan prestasi. Baik dalam ibadah kepada Allah maupun amal shalih yang kita lakukan kepada orang lain dan lingkungan sekitar kita. Sesungguhnya sebaik-baik kita adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Setiap pribadi muslim juga hendaknya berusaha memperbaiki diri menuju lebih baik, dan jangan menjadi orang yang merugi. Karena Allah SWT telah bersumpah dalam Surat Al Ashr: Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.


 Pun SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta yang mempunyai visi “Menjadi sekolah bertauhid, unggul, dan berkarakter”, berupaya menciptakan program-program bermutu dan unggul. Baik dalam mata pelajaran umum, terlebih lagi pelajaran al-Qur’an.

3 tahun SDIT Hidayatullah menggunakan Metode Ummi dalam pembelajaran al-Qur’an, banyak peningkatan yang dirasakan. Banyak wali murid mengungkapkan dengan Metode Ummi, kwalitas bacaan anak semakin baik, dan anak menikmati tilawah karena dalam menggunakan nada yang mudah digunakan. Dari segi guru, manajemen, dan sistem juga lebih tertata karena adanya keunggulan dalam 10 pilar “Sistem Berbasis Mutu”.

Tak berhenti sampai disitu, SDIT Hidayatullah terus berusaha berprestasi menuju lebih baik, di antaranya dengan mengikuti program “Sekolah Model Pendidikan al-Qur’an Bermutu” hasil kesepakatan antara Yayasan AsSakinah (SDIT Hidayatullah) dengan Ummi Foundation Surabaya. Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi dan kwalitas hasil pembelajaran al-Qur’an murid-murid, memberdayakan SDM al-Qur’an, serta membangun sistem manajemen mutu pembelajaran al-Qur’an di sekolah. Kesepakatan ini dijalankan dari Juli 2016 hingga Juli 2019.

Dalam nota kesepakatan (MoU) terdapat beberapa kewajiban dan hak, di antaranya, SDIT Hidayatullah berhak mendapatkan:
  1. Layanan sebaik-baiknya dan support system dari Ummi Foundation dalam rangka mengimplementasikan sistem mutu pembelajaran al-Qur’an Metode Ummi.
  2. Support System yang dimaksud adalah Tashih (pemetaan guru), Tahsin (matrikulasi kompetensi dasar guru), Sertifikasi (pembekalan metodologi, pengelolaan kelas, dan sistem administrasi), Coaching (pendampingan implementasi), Supervisi (penjagaan proses sistem mutu), Munaqasah (ujian akhir murid), Khotaman dan Imtihan (uji publik siswa).
  3. Memberikan masukan dan usulan kepada Ummi Foundation dalam rangka perbaikan peningkatan kwalitas pelayanan serta pelaksanaan pembelajaran al-Qur’an Metode ummi.
Nilai lebih yang didapatkan sebagai Sekolah Model adalah sekolah mendapatkan pendampingan dan monitoring langsung dari Ummi Foundation secara intensif dan berkala. Jadwal coaching dan supervisi selama 8 kali sudah tersusun, yang diantaranya terdiri dari; Coaching, supervisi hingga khataman dan imtihan uji publik murid-murid SDIT Hidayatullah.

Sedangkan kewajiban SDIT Hidayatullah, diantaranya: Menyediakan dana untuk Program Membangun Sekolah Model Pendidikan Al-Qur’an Bermutu di SDIT Hidayatullah sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) per murid per bulan selama tiga puluh enam (36) bulan.

Program Sekolah Model membutuhkan dukungan berbagai pihak, dari Pengambil kebijakan (Yayasan), Lembaga (SDIT Hidayatullah), dan wali murid. Partisipasi wali murid berupa dukungan materi dan pendampingan anak mengaji di rumah. Diharapkan, murid-murid dapat mencapai target yang ditetapkan dalam setiap jilid buku Ummi dengan baik, sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.

Mari berikan kemampuan terbaik dalam mendukung program tersebut. Wujudkan harapan kita dalam “Membangun Generasi Qur’ani”. Semoga Allah mencatatnya sebagai amal shalih sebagai pemberat timbangan amalan kita di yaumil akhir, dimana saat itu tak ada yang dapat menolong kita kecuali amalan kita di dunia ini. Aamiin.
 

Wallahu a’lam bishawab
Penulis adalah Humas Tim Al-Quran SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah, Menanamkan Jiwa Wirausaha Sejak Dini



www.sdithidayatullah.net | Dalam rangka menanamkan jiwa kewirausahaan sejak dini untuk murid SDIT Hidayatullah, maka SDIT Hidayatullah merancang sebuah kegiatan pembelajaran di luar kelas yaitu "Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah".

Acara semesteran ini menjadi hal yang paling ditunggu-tunggu oleh murid-murid SDIT Hidayatullah dari semua jenjang kelas 1 sampai dengan kelas 6. Antusiasme murid terlihat menjelang akan dilaksanakan kegiatan ini. 

Apa sih Entrepreneurship for Students di SDIT Hidayatullah itu?
Ini adalah ajang mengasah jiwa wirausaha sejak dini, di mana murid kelas 3 sampai dengan kelas 6 dibagi menjadi beberapa kelompok untuk membuat produk makanan atau minuman lalu menjualnya kepada teman-temannya atau orangtua/wali murid yang diundang. 

Setiap kelompok akan dibimbing oleh guru untuk mengarahkan dan membimbing murid-murid. Setiap kelompok, biasanya terdiri dari 9-12 murid, bersepakat untuk mengumpulkan modal usaha, biasanya oleh sekolah dibatasi Rp 10.000 - Rp 15.000 setiap anak. 

Modal yang terkumpul akan dibelanjakan untuk memberi bahan-bahan menu yang akan dijajakan. Adapun menu-menu yang dibuat oleh setiap kelompok telah ditentukan oleh sekolah. Pun setiap kelompok, bersepakat untuk membawa perlengkapan yang akan dipakai untuk membuat menu yang telah ditetapkan tadi.

Siapa Pembelinya?
Kegiatan ini diperuntukkan bagi murid, guru, dan orangtua/wali murid SDIT Hidayatullah dan masyarakat pada umumnya. Jadi siapa saja bisa menjadi pembeli dalam kegiatan ini. Karena di kompleks Pondok Pesantren Hidayatullah ada sekolah mulai dari TK, SD, MTs, dan MA maka kebanyakan yang menjadi pembeli adalah anak-anak ini. 

Setiap murid dibolehkan membawa uang untuk belanja sejumlah yang ditentukan oleh pihak sekolah. Biasanya antara Rp 10.000,- s.d. Rp 15.000,- setiap anak. Murid yang menjualpun dibolehkan membeli barang dagangan murid yang lain.

Ada Untung dan Rugi
Yang namanya jual beli, maka ada keuntungan atau kerugiannya. Nah di sinilah peran seorang pembimbing, bagaimana mengarahkan anak didiknya untuk menjual produk untuk memperoleh keuntungan. Namun tidak sedikit kelompok yang mengalami kerugian, di sini juga bisa menjadi media pembelajaran kepada anak didik, bahwa tidak setiap yang kita usahakan bisa berhasil, terkadang bisa gagal.

Peran pembimbing adalah memotivasi jadi bagaimana bersikap ketika beruntung dan merugi dalam jual beli ini juga menjadi salah satu tugas pembimbing.

Kapan Waktunya?
Pada Semester Gasal Tahun Ajaran 2016/2017 ini, insyaAllah Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah akan dilaksanakan pada Rabu, 31 Agustus 2016 di halaman SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta. Silahkan hadir dan ramaikan.

Rep. EMTE

Surat Cinta untuk Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan

Gedung Fullday School SDIT Hidayatullah Yogyakarta

Oleh : Subliyanto*

“Tidak ada kata terlambat dalam menyampaikan aspirasi”. Inilah yang melatarbelakangi penulisan artikel ini. Karena dalam kacamata media, isu ini mungkin sudah masuk dalam katagori  basi. Namun demikian masih layak untuk menjadi pembahasan demi masa depan Indonesia yang lebih baik.


Beberapa hari yang lalu, dengan alasan agar anak tidak sendiri ketika orang tua mereka masih bekerja, dan sederetan alas an lainnya. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mewacanakan sistem "full day school" untuk pendidikan dasar (SD dan SMP), baik negeri maupun swasta. (Kompas.com Senin, 8 Agustus 2016)

Gagasan tersebut sontak menjadi pembahasan netizen. Tentunya gagasan tersebut tidak datang begitu saja tanpa adanya contoh kongkrit lembaga pendidikan yang sudah melaksanakannya khususnya sekolah swasta.

Pada hakikatnya "full day school" sudah lama diterapkan di Indonesia, namun memang tidak menjadi sebuah kebijakan yang termaktub dalam sebuah peraturan di kementrian pendidikan. Ironisnya sepertinya bangsa ini terjebak dengan sebuah istilah yang dianggap “keren” menurut mereka.

Istilah "full day school" bisa dikatakan baru datang sehingga kedengarannya “wah”. Padahal faktanya sistem di dalamnya sudah ada jauh sebelum  istilah yang dianggap “keren” tersebut bomming di Indonesia. Hanya saja penerapannya memang masih beragam. Ada yang masih tradisional dan ada juga yang sudah modern.

"full day school" dengan konsep tradisional sudah lahir lebih dulu dan diterapkan khususnya di perkampungan yang notabeni pendidikannya di pondok pesantren. Sistem yang mereka terapkan  adalah “double school” dengan tempat dan waktu yang berbeda namun berkelanjutan.

“double school”  yang dimaksud adalah sekolah umum dan sekolah diniyah. Sehingga anak-anak diarahkan kepada dua pendidikan. Pagi mereka bersekolah di sekolah umum fokus pada pelajaran umum dengan waktu kurang lebih dari jam 07:00 s/d 12:00, dan ketika sore mereka bersekolah diniyah yang pada umumnya berada dilingkungan pesantren dengan waktu kurang lebih dari jam 14:00 s/d 17:00 fokus pada pelajaran diniyah.

Sistem tersebut tidak hanya pada jenjang sekolah dasar,akan tetapi berlanjut hingga jenjang sekolah menengah, yang sebagai puncaknya mereka belajar di pondok pesantren. "full day school" dengan konsep tradisional ini pada umumnya sudah diterapkan di kalangan Nahdhatul Ulama (NU).

Sementara "full day school" dengan konsep modern juga sudah banyak diterapkan di lembaga pendidikan swasta, khusunya diperkotaan yang notabeni masyarakatnya bekerja di perkantoran.

Sebut saja sebagai salah satunya adalah Muhammadiyah dengan konsep "full day school" yang dimilikinya dan Hidayatullah yang hadir dengan konsep kurikulum integralnya, serta beberapa lembaga lain yang mempunyai visi “hampir” sama dengan dua lembaga di atas.

Namun, memang perlu diakui bahwa tak semua masyarakat perkotaan khusunya masyarakat menengah ke bawah bisa menikmati sekolah "full day school" yang menggunakan konsep modern, karena terkait dengan biaya yang cukup tinggi.

"full day school" dengan konsep modern merupakan konsep perpaduan antara pendidikan tradisional dengan pendidikan modern yang dikemas menjadi sebuah sistem yang terpadu dalam satu kurikulum dan satu atap lembaga pendidikan dengan waktu kegiatan pembelajaran kurang lebih dari jam 07:00 s/d 17:00.

Tentunya antara "full day school" dengan konsep tradisional dan "full day school" dengan konsep modern mempunyai plus dan minus. Sehingga tinggal masyarakat menilai dan memilihnya sesuai dengan seleranya masing-masing.

Lantas seperti apakah sistem "full day school" yang diwacanakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy ? Untuk itu perlu kiranya untuk dikaji ulang secara mendalam sebelum menjadi sebuah kebijakan. Jangan sampai gagasan tersebut menjadi penghalang terwujudnya tujuan utama pendidikan.


*Penulis adalah pemerhati pendidikan, alumni "full day school" dengan konsep tradisional, dan praktisi "full day school" dengan konsep modern, tinggal di Sleman Yogyakarta, twitter @Subliyanto 

Sumber: www.subliyanto.id

Akreditasi Sekolah di SDIT Hidayatullah

 
Assesor saat berkunjung ke perpustakaan SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | Senin dan Selasa, (22-23/8/2016) SDIT Hidayatullah di Akreditasi oleh Pemda DIY. Hadir sebagai Assesor adalah Bapak Kadarisman,M.Pd. dan Bapak Drs,Rubino MA membersamai Panitia Akreditasi sekolah.Pada  hari pertama, Tim Assesor diterima oleh Ketua Panitia Akreditasi, Kepala Sekolah, Ketua Yayasan As-Sakinah, dan Ketua Komite Sekolah SDIT Hidayatullah.


Assesor disambut oleh Panitia Akreditasi


Usai acara ceremonial, Assesor langsung menuju lapangan, mengecek sarana dan prasarana di SDIT Hidayatullah. "Banyak hal positif baik kritik dan saran yang diberikan kepada sekolah kami untuk kemajuan sekolah, baik dari segi sarana prasarana maupun pembelajaran." Begitu Kata Bapak Untung Purnomo, S.Pd. selaku ketua panitia akreditasi sekolah. 

Setelah mengecek sarpras, maka dilanjutkan dengan mencocokkan dokumen akreditasi yang dikumpulkan oleh SDIT Hidayatullah.

Sesi Cek Data

Hari kedua, pada Selasa (23/08/2016) Para Assesor kembali mengecek data administrasi sekolah, dan adapula Assesor yang masuk melihat proses pembelajaran di kelas.


Terlihat wajah-wajah lelah yang sumringah saat para Assesor menyelesaikan tugasnya masing-masing. "Apapun hasilnya, kita sudah menyiapkan sebaik dan selengkap mungkin," Kata Ustadz Arifin, selaku bagian sarana prasarana yang memang tugasnya begitu berat.

"Kami Tim Akreditasi dan segenap keluarga besar SDIT Hidayatullah Ngaglik Sleman mengucapkan Jazakumullah khairan katsiran kepada Bapak-bapak Assesor yang sudah berkenan menjalankan tugas di SDIT Hidayatullah dan memberikan masukan berharga demi kemajuan sekolah kami, semoga amal kebaikann Bapak diberi balasan Allah Subhanahu Wa ta’ala dengan balasan yang baik." Begitu kata Bapak Untung Purnomo, sebagai ketua Panitia Akreditasi.

Acara diakhiri dengan kritik dan saran oleh para Assesor kepada SDIT Hidayatullah, "Semoga ini menjadi power kita untuk lebih baik ke depannya." Begitu kata Bapak Subhan Birori, S.Ag.

Rep. EMTE 

Bersinarlah Matahariku, Gapai Cita-Citamu!


Oleh: Tanti Kusrini DS

Hari demi hari berlalu
Di antara angan dan asaku 
Di antara mimpi dan nyataku
Ingin kembali ku goreskan pena
Untuk berbagi cerita

Perasaanku saat ini
Sedih, terharu, bahagia bercampur menjadi satu.
Kupandangi sosok tubuh remaja jangkung
Dengan baju koko dan peci yg menempel di kepalanya
berjalan menuju ke arahku

Benarkah dia Anandaku?
Yaa..dia menyapaku

Maa syaa Allah...
Kau sudah banyak berubah, Nak...

Cara kau sapa orang tuamu...
Cara kau berbicara...
Cara kau bersikap...
Sedikit kau tunjukkan bertambah kedewasaanmu.

Suka duka kau rasakan disini.
Kau pun punya saudara-saudara baru.
Juga harus beradaptasi dengan sekitarmu.

Jatuh bangun kau hadapi...
Tanpa ayah dan ibu
Disampingmu...

Namun dari mata dan senyummu...
Telah menguatkan hati ibumu.
Dari sikapmu telah meyakinkan ibu...
Bahwa kau mampu.

Berjuanglah, Nak...
Doa ibu juga orang orang yg menyayangimu akan selalu menyertaimu...

Ya Allah...Ya Rabb...
Bimbing dia pada jalanMu
Untuk meraih RidhaMu

Didedikasikan tuk para Bunda yang anaknya sedang mondok
😉

Penulis : Ibunda Shalahuddin Al Hasyir (Alumni SDIT Hidayatullah 2015).
Editor: Ayun Afifah
Foto: google

Jangan Lupakan Sejarah!


Oleh: Mahmud Thorif

Setiap tanggal 17 Agustus adalah perayaan Hari Kemerdekaan Indonesia. Di mana sejarah mencatat, pada tanggal dan bulan itu adalah tanggal dan bulan yang sangat bersejarah, di mana Sang Proklamator Indonesia, Soekarno-Hatta, mengambil inisiatif untuk menyampaikan kemerdekaan Republik Indonesia kepada dunia.

Kita mengetahui dari catatan sejarah, bahwa bangsa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 3,5 abad lalu dilanjutkan dijajah oleh Jepang selama 3,5 tahun. Konon, menurut sejarah 3,5 tahun dijajah Jepang terasa lebih lama dibanding 3,5 abad dijajah oleh Belanda. Mungkin bisa dirasakan bagaimana perlakuan para penjajah kepada rakyat Indonesia.

Sejarah juga mencatat, berkat kerjasama para kyai dan santri yang menggelorakan semangat jihad di seantero penjuru Indonesia untuk melawan penjajah, sehingga Indonesia bisa merdeka. Kita bisa melihat pekikkan takbir Arek-arek Suroboyo mampu memporak-porandakan semangat para penjajah, kita bisa membaca kemumpunian Pangeran Diponegoro dengan perang gerilya yang selalu ditakuti oleh penjajah.

Nah, jangan lupakan sejarah. Begitu kata para pendahulu kita.

Sebagai pembelajar, tentu kita tidak akan pernah melupakan sejarah. Baik sejarah yang berupa kebaikan ataupun sejarah yang berupa keburukan. Baik dan buruk sejarah akan menjadi catatan bagi kita yang hidup di jaman sekarang ini.

Kita bisa belajar dari catatan sejarah untuk menentukan langkah kita ke depannya agar, jika itu keburukan, tidak terulang kembali sejarah keburukan menimpa diri kita. Pun, kita bisa membaca dan belajar tentang sejarah kebaikan, mengapa bisa tercapai puncak-puncak kejayaan, sehingga kita bisa menirunya.

Selamat belajar dari sejarah. 
Jangan pernah melupakan sejarah!
Merdeka!

Foto by Budi CC Line

Lowongan Guru Al-Qur'an di SDIT Hidayatullah

Foto SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Bismillahirrahmaanirrahim.

Dibutuhkan Segera
Guru Al Qur'an untuk bisa bergabung mengajar di SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Syarat :
1. Laki-laki/Perempuan
2. Bisa membaca Al Qur'an dengan Tartil
3. Senang dengan dunia anak
4. Sudah sertifikasi metode UMMI (lbh diutamakan)

Surat lamaran dilampiri dengan:
1. Curiculum vitae
2. FC KTP
3. FC Sertifikat UMMI yang masih berlaku (jika sdh sertifikasi)

Lamaran bisa disampaikan langsung ke SDIT Hidayatullah
Alamat :
Jl. Palagan Tentara Pelajar KM 14,5 , Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, DIY

Atau via email ke sdithidayatullahsleman@hidayatullah.or.id

Info Hub : Haris 0856 3651 465, 0852 4920 6415

By Admin

Tumbuhkan Jiwa Kepedulian Sejak Dini

 
www.sdithidayatullah.net | Hari ini, salah seorang murid SDIT Hidayatullah kelas 3 dipapah oleh teman-temannya menuju ke ruang UKS, dengan keluhan lutut berdarah karena terjatuh saat bermain sepakbola. 

Dengan sigap, teman-teman sekelas yang mengantarnya langsung mengambil peralatan P3K yang dibutuhkan untuk mengobati luka sang anak ini. Kapas, perban, gunting, betadine, dan selotip.

Mereka pun mulai "mengobati" sang pasien. Berbagi tugas; luka dibersihkan dengan kapas basah, lalu ditetesi betadine, dibalut perban dan ditutup dengan selotip. Setelah selesai, mereka pun kembali memapah temannya, menuju ke kelas.

Bagai satu tubuh, ketika salah satu anggota tubuh merasakan sakit, maka yang lain akan turut merasakannya. Mata menangis, maka tangan akan menghapusnya.

Begitulah sejatinya hubungan persaudaraan dan persahabatan dalam Islam. Ketika berbahagia, bahagia bersama. Namun ketika salah seorang terluka, maka yang lain akan turut merasakannya, segera membantu dan menolong teman yang tengah terluka. Di sisi yang lain; anak-anak pun sudah paham, bahwa mereka memilih untuk bermain maka mereka pun siap dengan resikonya.

Sebelum para murid cilik ini meninggalkan ruang UKS, salah seorang Guru yang ada disana berpesan: "Hati-hati saat main, Nak. Bermain itu boleh, asal tidak berlebihan dan tetap menjaga diri agar tidak sampai terluka.. Dan satu lagi, jangan bermain saat jam pelajaran."

"Siap, Ustadzah..!"

Rep. Ida Nahdhah

Seminar Tentang Imunisasi di SDIT Hidayatullah



www.sdihidayatullah.net | Bekerjasama dengan Puskesmas Ngaglik 2, SDIT Hidayatullah mengadakan Seminar tentang imunisasi untuk orangtua/wali murid kelas 1, 2, dan 3 dengan menghadirkan dr. Bambang Edy Sosianto, M.Kes., Sp.A.

"Imunisai itu ikhtiar, proses merangsang pembentukkan imunitas pada seseorang dengan cara pemberian bahan imunobiologik." Begitu Kata dokter spesialis anak yang juga dosen Universitas Muhammadiyah ini dihadapan orangtua/wali murid SDIT Hidayatullah.

"Keuntungan dari imunisasi ini tidak hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk menjaga imunitas di lingkungan di mana kita tinggal." Kata dokter Bambang. "Jadi semakin banyak anak yang melakukan imunisasi, semakin baik imunitas lingkungannya. "Imunisasi itu tidak hanya melulu bisnis, tapi lebih jauh untuk kesehatan manusia." Kata Beliau. "Jadi salah jika ada yang beranggapan diciptakan penyakit dulu baru diciptakan obatnya." Lanjutnya.

Seminar ini dalam rangka mensosialisasikan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) yang akan dilaksanakan di bulan September 2016 yang akan dilaksanakan oleh Tim dari Puskesmas Ngaglik 2.

Mari kita sukseskan program BIAS yang dilaksanakan oleh Puskesmas Ngaglik ini, agar tujuan anak-anak sehat tercapai.

Rep. TMT

Ajaklah Anak Berdialog

Sebagian ulama mengatakan, "Al-hurmat khairum minath tha'ah." Respek itu lebih baik daripada taat, sebab dari respek akan lahir ketaatan yang tulus.

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim, S.Psi.

“Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai”

Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya.

Hanya sepintas melihat raut muka anak atau sikap yang ditunjukkan tidak serta merta menjadikan kita mengerti apa yang sungguh-sungguh dirasakan dan dipikirkan oleh anak. Kita bisa langsung berbicara kepada mereka, tetapi kita tidak mampu luas dan dalamnya apa yang dirasakan, dipikirkan dan diinginkan oleh anak. Kenapa? Ibarat sungai, kita belum menyeberangi. Kalau ingin mengetahui luas dan dalamnya, kita perlu menyeberanginya.

Kata Pappaseng to Ogie (Petuah Bugis), “Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai. Luas dan kedalaman sungai itu bisa diketahui ketika telah menyeberanginya.”
Lalu bagaimana cara kita menyeberangi perasaan dan pikiran anak kita? Berdialog. Kita ajak berbicara dari hati ke hati, pikiran terbuka dan perasaan lapang. Kita dengarkan pembicaraan anak, memberikan umpan balik kepadanya, dan bila diperlukan kita pun dapat menyampaikan apa yang kita pikirkan tentang dia. Melalui dialog itu kita lebih mengetahui perasaan anak sesungguhnya dan pada saat yang sama anak merasa lebih diterima.

Inilah yang patut dilakukan jika menginginkan anak memiliki sikap hormat (respek) kepada orangtua. Merasa didengarkan dan dihargai justru menjadikan anak lebih tumbuh dorongan untuk respek dan dekat hatinya dengan orang tua.

Sebaliknya, cara-cara yang menjatuhkan harga diri justru membuat anak kehilangan rasa hormat kepada orangtua. Bahkan dapat terjadi, anak mengembangkan pemberontakan dalam berbagai bentuknya. Boleh jadi ia menunjukkan ketaatan di depan orang tua, tetapi memberontak meledak-ledak di luar rumah. Ini ketika anak takut kepada orang tua. Dan sangat berbeda antara takut dan respek. Yang kedua ini mendorong anak tetap melakukan hal yang baik, meskipun orang tua tidak melihatnya.

Ibarat pemimpin, orangtua dituntut untuk “Nasiri’i alena, nasiri toi padanna rupatau. Menjaga harkat dan martabat dirinya, serta menghormati harkat martabat orang lain.”

Jadi, agar harkat dan martabat orangtua terjaga, anak menghargainya, maka kita sebagai orang tua harus menjaga harkat martabat anak. Tidak menjatuhkan di depan teman-temannya.

Kata siri’ sebenarnya memiliki makna malu. Sedangkan kata nasiri’i bermakna membuat diri sendiri malu memperbuat sesuatu yang jelek, hina, tercela. Dari makna dasar ini dapat diambil pengertian bahwa orangtua seharusnya nasiri (menjaga martabat) anaknya dengan tidak mempermalukannya dan menjatuhkan harga dirinya. Jika anak sampai merasa dipermalukan atau jatuh harga dirinya, ia bisa kehilangan orientasi hidup yang baik. Bukankah siri’ na pesse? Malu itu luka.

Lawrence E. Tyson, Ph.D., dari University of Alabama at Birmingham menunjukkan 4 sebab kenakalan anak di kelas. Salah satunya adalah dendam. Ia terluka karena merasa dipermalukan oleh orangtua atau karena merasa orangtua tidak adil. Ketika anak mendendam kepada orangtua sehingga tidak peduli lagi dengan prestasi. Ia hanya berpikir dan berusaha untuk membayar lunas dendamnya.

Boleh jadi ketika kita selaku orangtua menjatuhkan harga diri anak, ia tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan perasaannya kepada kita. Atau ia sebenarnya cukup terbuka untuk mengungkapkan gagasannya. Tetapi ketika orang tua menanggapinya dengan mengedepankan kuasa, anak tidak punya pilihan selain taat. Dan ini bukanlah ketaatan yang baik. Di saat kecil merunduk kepada orang tua karena takut, tetapi ketika mulai beranjak besar anak mulai unjuk keberanian. Tak ada lagi perkataan orangtua yang ditaati.

Sebagian ulama mengatakan, “Al-hurmat khairum minath tha’ah.” Respect is much more better than obedience. Respek itu lebih baik daripada taat, sebab dari respek akan lahir ketaatan yang tulus. Saya lebih suka memaknai al-hurmat dengan respek daripada hormat karena kata-kata yang diserap dari hurmat ini sudah banyak mengalami pendangkalan makna. Di luar itu, kita juga mengenal istilah takzim (mengagungkan, memuliakan, menghormati) dan takrim (memuliakan, menghormati) yang biasa dipakai dalam konteks sikap kepada tamu maupun tetangga. Nah, sikap hurmat melahirkan keduanya.

Nah, bagaimana agar memiliki sikap kepada kita? Berusahalah memahami perasaan dan pikiran anak, mendengarkannya dan memberikan umpan balik kepada anak. Kita tidak akan tahu dalam dan luasnya sungai kecuali apabila kita telah menyeberanginya. Cara untuk menyeberangi itu adalah berdialog. Bukan menjadi orangtua yang sok tahu.*

Penulis: Mohammad Fauzil Adhim, Guru Motivasi Pesantren Masyarakat Merapi Merbabu

Rep: Admin Hidcom
Editor: Cholis Akbar
Sumber: www.hidayatullah.com 

Momentum Istimewa di Tahun Ajaran Baru




Oleh: Untung Purnomo, S.Pd.
                                                        
Ada dua momentum menarik kita rasakan di Bulan Juli 2016, sebagai seorang mukmin kita menggunakan setiap momentum yang ada untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan pada Allah S.W.T.

Momentum pertama, adanya Bulan Sawwal. Bulan Sawwal adalah salah satu rangkaian bulan pada tahun hijriyah. Bulan yang posisinya di urutan setelah bulan Ramadhan. Bulan Sawwal bulan di mana seorang mukmin yang sudah menjalani “diklat” sebulan penuh dituntut membuktikan hasil diklatnya. Jika dia mengerjakan amalan yang dituntunkan di Bulan Ramadhan dengan penuh semangat adalah sesuatu hal yang wajar. Namun di Bulan Sawwal ini motivasi ibadahnya diuji. Dengan berubahnya hukum maupun pahala yang dijanjikan apakah dia juga masih bersemangat mengerjakan amalan ibadah sebagaimana di Bulan Ramadhan.

Seorang mukmin yang lulus dari tarbiyyah di Bulan Ramadhan akan berusaha menjaga dan melanjutkan amalan ibadah di bulan Sawwal ini. Bahkan dengan kualitas dan kuantitas yang lebih baik daripada di bulan Ramadhan. Amalan-amalan ibadah yang dapat dikerjakan bermacam-macam, di antaranya puasa sawwal, tadarrus al quran, shalat lail, sedekah, shalat sunnah dan lain sebagainya. Dalam salah satu sabdanya Rasulullah s.a.w. memberi gambaran tentang hal ini, orang yang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari pada hari kemarin, orang yang rugi adalah orang yang hari ini sama dengan hari kemarin dan orang celaka adalah orang yang hari ini lebih buruk dari pada hari kemarin. Naudzubillahi min dzalik.

Di sinilah salah satu makna nama sawwal yang berarti peningkatan, patut menjadi renungan bagi setiap muslim. Peningkatan iman dan takwa serta kualitas dan kuantitas amalan ibadah harus jadi visi menjalani aktivitas di bulan Sawwal ini.

Momentum kedua, adanya awal tahun ajaran baru bagi siswa dan guru. Mengapa momentum ini di bulan Juli 2016 tahun ini menarik? Awal tahun ajaran baru merupakan masa krusial terutama bagi siswa mengawali kegiatan masuk sekolah. Siswa menemui banyak hal baru di awal tahun ajaran ini. Wali kelas baru, ruang kelas baru, lingkungan baru, teman baru, peralatan sekolah baru dan yang lebih penting materi pelajaran yang baru juga. Bagi siswa kelas satu terlebih lagi, mereka akan mendapati suasana dan sesuatu  yang sama sekali berbeda dari apa yang sudah dialami sebelumnya.

Kebetulan pula, awal tahun ajaran ini didahului dengan liburan kenaikan kelas dan Idul fitri yang relatif panjang. Lebih dari sebulan. Sekitar satu bulan siswa off dari aktivitas belajar formal di sekolah. Beragam kegiatan mereka kerjakan selama liburan. Ada yang positif ada juga yang negatif. Karena lamanya masa liburan ini siswa butuh dukungan ekstra dari berbagai pihak untuk mengembalikan minat dan motivasi belajar mereka. Di sinilah sekolah, dalam hal ini guru, perlu merencanakan kegiatan orientasi yang tahun ini diberi istilah Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Jika kegiatan ini direncanakan secara baik maka masa recovery setelah liburan membawa dampak positif bagi siswa dan sekolah. Saking pentingnya masalah ini, tahun ini pula, pejabat dinas Kemendikbud tingkat bawah sampai tingkat menteri memberi arahan bagi sekolah dalam menyelenggarakan Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Awal tahun pelajaran kali ini bersamaan juga munculnya kasus mencuat di bidang pendidikan. Yaitu adanya guru yang harus menjalani proses hukum di pengadilan karena berusaha melatih dan membangun sikap disiplin dan tanggungjawab siswa. Permasalahan ini sudah diupayakan selesai lewat jalur kekeluargaan, namun beberapa pihak masih keukeuh membawa masalah ini selesai lewat jalur hukum.

Pro dan kontra menanggapi masalah ini ramai menjadi topik perbincangan. Sesuai dengan argumentasinya masing-masing. Baik yang membicarakan apa yang dilakukan guru kepada murid ataupun yang dilakukan orangtua murid terhadap guru yang bersangkutan. Permasalahan ini tidak menjadi pembahasan di sini karena keterbatasan ruang. Namun satu hal penting patut menjadi perhatian bagi sekolah dan orangtua, yaitu perlunya membangun kesepahaman dan kesepakatan dalam menyelenggarakan pendidikan. Apa yang dilakukan guru tidak akan menimbulkan permasalahan jangka panjang jika sudah disepakti kedua belah pihak bahkan membawa efek positif bagi terbangunnya sikap belajar, disiplin dan tanggungjawab pada diri siswa. 

Sudahkah ini kita lakukan?

Akhirnya, satu hal yang menjadi kesimpulan dari pembahasan ini mari kita jadikan momentum ini sebagai upaya untuk terus menerus melakukan upaya perbaikan dalam merencanakan dan menyelenggarakan pendidikan. Sehingga peningkatan terjadi bukan hanya dari aspek takwa, keimanan, dan amal ibadah saja, namun juga penyelenggaraan proses pendidikan di sekolah kita tercinta. Wal ‘asr. Innal insana lafii khusr. Illaladziina amanu wa’amiliusshalihati watawa shaubil haq watawa shaubis shabr. (Al ‘Asr 1-3).

Penulis: Untung Purnomo, S.Pd. Bagian SDM dan Guru Kelas SDIT Hidayatullah Yogyakarta
Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Cinta Al-Qur'an Edisi Juli 2016