Rihlah Ilmiah Kelas 6 SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta


www.sdithidayatullah.net | Sabtu, 23/04/16, murid-murid kelas 6 SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta melakukan Kunjungan Belajar dan Rihlah. Kunjungan ini mengambil tema "Rihlah Ilmiyyah 2016, Bismillah Aku Bisa, Sukses Dunia dan Akhirat". Kunjungan ini mengambil 3 lokasi di Magelang yaitu: SMPIT Ihsanul Fikri, Obyek Wisata Ketep Pass, dan Perkebunan Stroberi.

Kegiatan diawali dengan Apel Motivasi bersama wali kelas masing-masing. Apel Motivasi Kelas 6A (Putra) dilakukan bersama Ustadz Novi Afriadi, S.H.I. Beliau mengatakan, "Orang yang melakukan perjalanan (musafir) itu doanya Insya Allah dikabulkan. Dan hendaknya kita niatkan rihlah kali ini untuk mencari ilmu dan bukan hanya berfoya-foya", Ustadz Novi memberi pesan. Kegiatan apel diakhiri dengan doa bersama dan takbir penuh semangat mujahid Kelas 6A.

Saat waktu menunjukkan pukul 07.35, rombongan murid kelas 6 menaiki bus menuju ke Magelang. Selama perjalanan kami melihat pemandangan indah. Di tengah perjalanan kami melihat truk besar dan mollen yang banyak. Ternyata mereka sedang menambang pasir. Tetapi kami merasa miris,"Kenapa mereka menambang pasirnya berlebihan sekali?" Itu lah yang terbayang oleh kami saat itu.

Pada waktu itu juga banyak mobil-mobil klasik (jaman dulu/jadul) yang sedang melakukan konvoi keliling kota. Perjalanan kami menuju ke Magelang dinaungi rasa kegembiraan. Tak lama kemudian akhirnya kami sampai di Pondok Pesantren Ihsanul Fikri. Disana kita disambut dengan meriah oleh kakak kakak santri di sana. Kami melakukan pembukaan di Masjid Mujahidin, yang berada di kompleks pondok.

Pembukaan dilakukan oleh santri-santri Ihsanul Fikri dan Kepala Sekolah Pak Mohammad Muhtar. Setelah acara ramah tamah, perwakilan dari SDIT Hidayatullah dan Ihsanul Fikri saling bertukar cindera mata atau kenang-kenangan.

Usai acara pembukaan, dilanjutkan sesi presentasi oleh Pengurus OSIS SMPIT Ihsanul Fikri. Setelah itu kita melakukan kunjungan ke sekitar pondok. Setelah berkeliling, kami memasuki GOR dan bermain futsal bertanding dengan kakak-kakak SMPIT Ihsanul Fikri. Meskipun kalah, kami tetap gembira. Kunjungan di Pondok Ihsanul Fikri kami akhiri dengan berfoto bersama di depan masjid juga di pintu masuk.

Rihlah di Ketep Pass dan Kebun Stroberi
Dari Pondok Ihsanul Fikri, kami melanjutkan perjalanan menuju obyek wisata "Ketep Pass". Perjalanan yang cukup lama dan naik turun gunung. Dalam perjalanan, sempat terjadi kemacetan karena sedang diadakan perbaikan jalan.

Setelah sampai di Ketep Pass kami memasuki gedung museum. Banyak kenangan tentang Gunung Merapi yang dipamerkan di gedung museum ini. Setelah dari museum kami menyempatkan beristirahat di atas gunung sambil melihat pesona Gunung Merapi yang saat itu sedang tertutup kabut. Banyak yang menyewakan terepong disana. Setelah cukup beristirahat, kami kemudian makan siang bersama.

Usai makan dan shalat Dhuhur, kami melanjutkan perjalanan menuju "Kebun Stroberi". Perjalanan menuju ke kebun stroberi ini agak menantang, karena jalannya sudah agak rusak dan menanjak. Setelah sampai di sana, kami sejenak menikmati udara sejuk pegunungan. Dan tidak lama kemudian ada murid-murid yang memetik stroberi untuk ditimbangkan dan dibayar. Ada jga yang membeli bibitnya untuk ditanam dirumah.

Puas di kebun stroberi, kami kembali lagi ke Ketep Pass untuk menonton theater volcano. Setelah itu kita berfoto bersama. Sebelum pulang, kami diberi waktu sebentar untuk bermain bebas.

Setelah puas bermain, kami bersegera menuju bus untuk kembali pulang ke
sekolah, dan akhirnya pulang kerumah masing-masing. Alhamdulillah... Pengalaman rihlah yang menyenangkan dan luar biasa, yang tak kan kami lupakan.
Galeri foto kegiatan KLIK DI SINI
Reporter: Rofi Pratama & Shalahuddin Al Hasyir, Murid kelas 6A SDIT Hidayatullah Sleman
Editor: Ayun Afifah
Foto: Roidatun Nahdah
Admin: Mahmud Thorif

Parenting : Jangan Sepelekan Janji pada Anak


~Teladan adalah guru terbaik. Begitu pula dalam mengajarkan sikap amanah~

Disadari atau tidak banyak orangtua kelepasan janji kepada anak-anaknya. Saat anak rewel atau merengek minta sesuatu, mengucapkan janji dirasa menjadi cara instan untuk menenangkan anak. Beberapa orangtua yang diwawancarai Karima juga mengakui mereka kerap menggunakan ‘senjata’ ini untuk membujuk anak melakukan sesuatu.

Ola, bunda berusia 34 tahun mengaku bahwa hampir tiap pagi, ia ‘jualan’ janji kepada dua anaknya yang berumur empat tahun dan dua setengah tahun supaya mereka semangat bersekelolah. “Saya sering janji nanti ayahnya akan memberikan hadiah di akhir minggu kalau mereka rajin ke sekolah dan tidak rewel di sekolah,” tuturnya.

Ia merasa cara ini lumayan tokcer untuk memancing semangat anak-anaknya datang ke PAUD. Walaupun kadang diakuinya, upaya ini tak membuahkan hasil. Biasanya iapun tidak menjelaskan secara detail bentuk hadiah yang dijanjikannya kepada anak-anak. Ia takut kalau menyebutkan secara spesifik malah tidak bisa memenuhinya.

“Anak-anak sudah senang ketika disebutkan akan diberikan hadiah. Di akhir minggu biasanya mereka lupa menagih. Tapi saya tetap berusaha memenuhi minimal dengan ajak mereka jalan keliling kompleks bersama suami,” terangnya.

Ria, bunda berusiah 30 tahun , juga memiliki pengalaman serupa. Putra sulungnya yang kini berusia lima tahun, diakui Ria, kerap diiming-imingi sesuatu supaya mau disuruh. “Anakku moddy banget. Kalau lagi mau, disuruh langsung jalan tapi kalau lagi tidak mau, harus penuh dengan iming-iming dulu,”ujarnya.

Ia pun mencontohkan sebuah kejadian di suatu pagi. Lantaran bapaknya tidak bisa mengantar ke sekolah karena sedang di luar kota, Ikhlas, putranya, harus diantar oleh orang lain. Awalnya, tutur Ria, si anak menolak dan harus dibujuk pelan-pelan. “Sambil dijanjikan, ‘Nanti pas Mas pulang sekolah sudah ada es krim di rumah’, barulah dia mau,” ujar Ria.

Seperti Ola, Ria juga mengakui bahwa cara seperti ini memang cukup ampuh. Namun disusu lain, Ria khawatir kebiasaan membujuk anak lewat janji akan menimbulkan efek yang tidak baik ke depannya. “Apa jadi kayak mengajari anak biasa disogok ya?” ujarnya sambil tertawa.

Memelihara Janji
Janji memang ringan diucapkan, tapi menunaikannya tidak selalu mudah. Kadang janji dianggap hal sepele apalagi kalau yang dihadapinya merupakan anak kecil. Kalau anak lupa, dianggap sudah gugur janji-janji yang pernah terucap. Namun tidak begitu aturannya di dalam Islam.

Dalam Islam, sikap mengingkari janji terhadap siapapun tidak dibenarkan. Kendati terhadap anak kecil. Al-Imam Abu Daud Rahimahullah telah meriwayatkan hadits dari shahabat Abdullah bin ‘Amir Radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, “Pada uatu hari ketika Rasulullah Shalallahu ‘alahi wasallam duduk di tengah-tengah kami, (tiba-tiba) ibuku memanggilku dengan mengatakan, ‘Hai kemari, aku akan beri kamu sesuatu!’ Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada ibuku : ‘Apa yang akan kamu berikan kepadanya?’ Ibuku menjawab: ‘Kurma,’ lalu Rasulullah bersabda, ‘Ketahuilah, seandainya kamu tidak memberinya sesuatu, maka ditulis bagimu kedustaan.’” (Riwayat Abu Daud).

Di dalam hadits ini ada faedah bahwa apa yang biasa diucapkan seseorang kepada anak-anak kecil ketika mereka menangis, seperti kalimat janji yang tidak ditepati atau menakut-nakuti dengan sesuatu yang tidak ada adalah diharamkan. (‘Aunul Ma’bud, 13/22).

Kartika, seorang ibu tiga anak mengatakan bahwa menepati janji kepada anak memang hal penting. Menurut dia, mengingkari janji kepada anak sama seperti menanamkan kejelelakan dalam diri meraka. Dengan menepati janji, tuturnya, orangtua secara tidak langsung mengajarkan kepada anak untuk juga amanah terhadap janjinya ketika suatu saat giliran mereka yang berjanji kepada ayah ibunya. Kartika sendiri mengakui bahwa kedua anaknya yang besar sudah mengenal istilah “sistem negoisasi” sehingga mereka kerap saling berjanji.

“Kalau aku janji sama mereka itu ada dua jenis. Pertama, janji yang memang aku inginkan. Kedua, janji yang aku ucapkan ketika mereka sedang rewel. Selai itu, aku juga sering mereka berjanji. Misalnya, tidak makan permen, rajin sikat gigi, mau tidur cepat, matikan televisi. Kalau kita sering ingkar janji, mereka akan belajar kalau janji itu bisa dilanggar dan bukan sesuatu yang harus selalu ditepati,” papar dia. Makanya, Kartika melanjutkan, sekarang ia menjadi sering menginstrospeksi diri perihal janji ini.

Jangan Ketinggian
Salah satu cara mudah menepati janji kepada anak adalah dengan menjanjikan sesuatu yang terukur oleh kamampuan. Jangan mengumbar janji yang terlalu tinggi. Kartika, misalnya, karena merasa memiliki kemampuan dalam hal memasak, ia kerap ‘menjual’ keterampilannya ini ketika sedang berjanji kepada anak-anak. “Paling sering membuatkan makanan tertentu,” timpalnya.

Kadang juga, orangtua tidak menepati janji karena alasan lupa. Karena itu tak ada salahnya ketika sedang berjanji sekalian minta anak agar nanti membantu mengingatkan kita. jangan sungkan juga meminta maaf kepada anak ketika terlupa atau tidak bisa memenuhi janji.

Bisa juga, ketika sedang berjanji, kita katakan kondisi-kondisi yang membuat janji tersebut tak bisa terpenuhi. Harapannya agar anak mau mengerti. Seperti yang dilakukan Ola. Ketika berjanji membelikan anak-anak mainan, misalnya, ia juga menjelaskan bahwa waktunya harus menunggu setelah Ayah mereka mendapat gaji.”


|Meutia Rahmi, Nina Nurlena, Nuria Bonita, Majalah Karima Edisi 04/2015|
Admin: Mahmud Thorif
Foto https://akuanaksholehah.files.wordpress.com/2015/02/anak-perempuan-berjilbab-kerudung.jpg

Tadabur Alam Melalui Outbond dan Field Trip Agrowisata


www.sdithidayatullah.net | Sekolah Dasar Isilam Terpadu (SDIT) Hidayatullah Yogyakarta kembali mengadakan kegiatan outbond untuk murid kelas atas. Sebanyak 164 murid hadir dalam outbond di Agrowisata Bhumi Merapi, Sawungan, Hargobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta.(12/04). Ada yang menarik, tidak sekedar outbond tetapi kegiatan juga dikemas dengan field trip yang asyik.

Kegiatan diawali dengan apel bersama yang dipimpin oleh Ustadz Novi Afriadi. Beliau mengatakan "Nabi Muhammad Saw. adalah sosok sempurna, baik akhlak maupun keimanannya. Tidak hanya memiliki iman kuat, tapi juga fisik yang kuat. Terbukti perang melawan kafir quraisy membawa pedang seberat 20 kg."
Ustadz Novi kemudian mengutip sabda Nabi Muhammad Saw. "Mukmin yang kuat lebih dicintai dari pada mukmin yg lemah."
Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa Islam tidak sekedar memerintahkan kita untuk makan makanan yang sehat, tapi juga ada perintah puasa, bangun malam, itu yang membuat fisik kita menjadi kuat.
"Tidak cukup hanya makan makanan sehat tetapi perlu pembakaran dengan olahraga teratur. Mari kita manfaatkan outbond kali ini sebaik-baiknya jangan hanya bersantai-santai." pungkas Ustadz Novi.

Acara dibuka oleh Ustadz Subhan Birori selaku Kepala Sekolah. Beliau berpesan agar para murid menjaga sikap dimana pun mereka berada. "Kita sedang mentadaburi dan mensyukuri nikmat Allah. Ini bagian dari bentuk syukur di hamparan luas ciptaan Allah. Bukan merusak tapi menjaga. Bisa bekerjasama dengan baik bersama tim dan pemandu. Belajar berkelompok menyatukan keinginan bersama dalam kebaikan. Jangan pernah merusak, mencabut dan lain-lain. Mari bersama kita jaga kelestarian lingkungan."

Rangkaian outbond berlangsung segera setelah mendapat pengarahan dari pemandu. Murid-murid dibagi menjadi beberapa kelompok. Selanjutnya kegiatan field trip pun dimulai.
Beberapa wahana Field Trip di kunjungi secara bergantian antar kelompok. Diantaranya wahana kambing etawa, hidroponik (menanam menggunakan air), kebun jahe merah, unit pengolahan limbah, biogas yang berasal dari kotoran dan urin kambing etawa, dan dunia kelinci. Ada juga kura-kura, buaya dan ular yang ukurannya cukup besar. Semua takjub melihat ciptaan Allah SWT.

Setelah cukup menikmati field trip, permainan outbond dimulai dengan semangat oleh murid-murid. Mereka berhamburan ke pos-pos permainan penuh tantangan. Satu persatu permainan mereka lalui penuh perjuangan dan berakhir di sungai kuning.

Acara ditutup dengan pemaknaan oleh Ustadz Novi. Beliau mengajak muridnya mereview kembali apa saja yang mereka lakukan ketika outbond. Ustadz Novi menyimpulkan bahwa begitu besar nya manfaat disiplin dan keteraturan dalam hidup ini. Permainan pipa bocor melatih kerjasama. Pembagian tugas siapa yang menutup siapa yang mengisi air.
Terakhir Ustadz Novi berpesan "Buatlah jadwal dan laksanakan olahraga di rumah agar fisik kita kuat."

Ustadz Zainal Arifin selaku ketua panitia menutup acara dengan doa "semoga dengan berakhirnya kegiatan ini, iman dan taqwa kita akan bertambah." Harapannya kepada seluruh peserta outbond.

Ani murid kelas 4 mengaku kegiatan ini sangat seru dan membuat dirinya menjadi lebih berani.
"Seru, menjadi lebih berani. Jika ada tantangan harus konsentrasi dan fokus. Tadi pas di kolam ada yang kecebur soalnya nggak fokus." Kata Ani antusias.

Foto-foto kegiatan lainnya Like fans page SDIT Hidayatullah Yogyakarta dan  KLIK DI SINI

Rep. Anik Maindra, Guru SDIT Hidyatullah Jogja
Admin dan Foto Mahmud Thorif

Mendampingi Anak Saat Belajar Menghadapi Ujian Nasional


Oleh: Tanti Kusrini DS*

Selama 4 hari (4 - 7 April 2016), murid-murid kelas 6 SD di SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta kembali mengikuti Try Out, sebagai rangkaian persiapan Ujian Nasional yang akan dihadapi di bulan Mei 2016.

Selasa (5/4) adalah giliran matematika, yang menjadi mata pelajaran untuk diujikan. Senin malam, Ahmad (bukan nama sebenarnya) salah seorang murid SDIT Hidayatullah Sleman, belajar matematika, sebagai persiapan try out di keesokan harinya.

Namun, ada yang berbeda saat belajar malam itu. Sang anak bertanya kepada ibundanya:"Bunda bukankah kemarin saat ada pertemuan wali murid di sekolah, bunda mendapatkan materi "Matematika Hebat" untuk mengerjakan soal-soal matematika ini?" tanya sang anak kepada bundanya.

"Iya nak benar, ayo sini bunda ajarkan, apa yang bunda dapatkan saat pertemuan di sekolah kemarin." Jawab sang Bunda dengan antuasias.

Tak lama kemudian, dengan rasa percaya diri sang bunda menyampaikan materi yang didapatkannya saat pertemuan komite sekolah.

Dengan gaya seorang pengajar privat profesional, sang bunda menjelaskan dan memberi beberapa contoh soal dan cara mengerjakannya.

Hasilnya sukses....beberapa soal dapat diselesaikan dengan baik.

Namun, kemudian sang anak memberikan jenis soal yang agak berbeda, dimana soal tersebut belum dibahas saat training "Matematika Hebat". Sang bunda pun agak kesulitan menemukan cara praktis untuk menyelesaikannya.

Melihat hal tersebut, sang anak tidak merasa kecewa, namun dia mengatakan sesuatu hal yang membuat sang bunda menjadi terharu, "Bunda sudah ikut belajar "Matematika Hebat", itu berarti bunda adalah bunda yang hebat..." Ucap sang anak sambil memeluk sang bunda.

Maa Syaa Allah..bundapun tersenyum malu, dan membalas pelukan anaknya dengan hangat.

Para bunda...ternyata dalam mendampingi anak-anak belajar, para bunda sebaiknya menjadikan anak kita sebagai kawan, ibarat kawan kita dalam sebuah kelompok belajar.

Berilah pujian yang tulus, jika sang anak mampu menyelesaikan soal dengan baik ataupun belum berhasil namun dia sudah berusaha belajar dengan sungguh-sungguh.

Jadikan suasana belajar, menjadi suasana yang menyenangkan. Maka hasilnya Ujian Nasional (UN) pun bukanlah lagi menjadi hal yang menakutkan bagi anak-anak kita.

Salam Semangat😃...
untuk para bunda yang terus mendampingi putera-puterinya saat belajar.
Semoga sukses.....

Penulis : Tanti Kusrini DS, Orangtua/Wali Murid Kelas 6 SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta.
Editor: Ayun Afifah

"Berdagang Ala Nabi" di Entrepreneurship for Students SDIT Hidayatullah


www.sdithidayatullah.net | Bertempat di halaman utama sekolah, Jumat (1/4/2016) murid-murid SDIT Hidayatullah kembali mengikuti kegiatan rutin tiap semester "Entrepreneurship For Students 2016". Dengan tema "Berdagang Jujur dan Cerdas, Berdagang yang Diridhai Allah SWT", kegiatan ini diikuti oleh 457 murid SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta, yang dimeriahkan juga wali murid SDIT dan murid SMI (MTS-MA) Hidayatullah sebagai pembeli.

Selaku Ketua Panitia Arif Bagas Setiawan menuturkan, tujuan diadakannya kegiatan Entrepreneurship For Students ini adalah untuk "Melatih murid belajar berdagang, dalam hal ini berbentuk makanan dan minuman" tutur Bagas. Lebih lanjut, ucap Bagas, kegiatan ini juga "melatih murid mengelola keuangan, dan agar murid mengetahui hukum jual beli dalam Islam" Lanjut Bagas.

Bagas berharap, dengan adanya kegiatan ini "Murid memahami tentang hukum berdagang dalam Islam, juga dapat menerapkan adab makan dan minum dengan baik" pungkas Bagas.

Subhan Birori, S.Ag, dalam sambutannya menyatakan, bahwa dalam kegiatan ini terdapat banyak pembelajaran yang bisa diambil murid. Subhan menyampaikan "Para siswa kelas 3-6 sebagai penjual, akan mempraktikan belajar transaksi, berkomunikasi dan bekerja kelompok. Hal tersebut merupakan pembelajaran dengan pendekatan scientifik" ujar Subhan.

Untuk diketahui, kegiatan ini Entrepreneurship For Students ini berlangsung setiap semester sekali. Dan biasanya dilaksanakan setelah pelaksanaan UTS/ mid semester.

Tahun ini, kegiatan ini diikuti 24 kelompok stand yang menjual berbagai menu makanan dan minuman, seperti Bakmi jawa, nasi goreng, somai ,empek-empek, tela-tela, sup buah, es degan, es campur, es krim, dan lain sebagainya.

Shalahuddin salah satu murid 6A merasa senang dan mendapatkan banyak manfaat mengikuti kegiatan tersebut, " Aku bisa belajar kewirausahaan sejak kecil" ucap Shalahuddin. Selain itu Shalahuddin menambahkan "Juga melatih kekompakan antar teman sekelompok, melatih kejujuran dan ketekunan saat berjualan, aku berharap semoga kedepannya lebih baik lagi" tutup Hudi dengan harapannya.

Aisyah, murid 6B juga merasakan hal yang sama, "Ada pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini, seperti jujur" kata Aisyah. Aisyah menambahkan, "bukan hanya untung yang dicari, tapi berdagang karena Allah", ucap Aisyah.

Selain itu Aisyah pun dapat mengaplikasikan materi-materi pelajaran yang didapatkan di sekolah, "Pelajaran umum pun bjuga aku dapatkan, seperti, ipa (radiasi, konveksi, konduksi, mencair, dll), juga matematika." ungkap Aisyah dengan senang.

Ida Nahdhah, salah satu Guru pendamping kegiatan, merasa senang dengan diadakannya kegiatan ini, "Alhamdulillaah.. Senang sekali rasanya melihat antusias anak didik dalam kegiatan ini. Disini mereka belajar bagaimana bahu membahu saling membantu melayani pembeli yang membludak, dan bagi anak-anak yang membeli, mereka pun belajar sabar mengantri menunggu gilirannya."

Lebih lanjut Ida menambahkan, "Point yang paling penting, dengan kegiatan ini diharapkan anak didik dapat berlatih bagaimana mengutamakan kejujuran, adil dan memegang teguh kepercayaan yang diberikan orang lain, juga bersikap sopan dan bertingkah laku baik dan menjauhi hal-hal yang merugikan kedua belah pihak, sebagaimana hadits Rasulullah, "Rahmat Allah atas orang-orang yang berbaik hati ketika ia menjual dan membeli serta ketika membuat keputusan." (HR Bukhori)"

Dalam kegiatan ini juga mengundang wali-wali murid untuk memeriahkannya. Salah satu wali yang hadir, Ibu Tanti merasa senang dan salut dengan kegiatan ini, "Saya benar-benar salut melihat anak-anak begitu bersemangat mengolah, mengemas dan menjajakan makanan ataupun minuman yg mereka buat" tutur Tanti.

Lebih lanjut Tanti menambahkan, "Saya juga melihat kekompakan dan tanggungjawab di setiap kelompok. Kerjasama antar teman, ketangguhan mereka belajar menjadi jiwa-jiwa wira usaha" ucap Tanti.

Tanti berpesan kegiatan ini dapat terus dilaksakan karena banyak manfaatnya, "Anak-anak belajar mengelola keuangan/modal yg harus dikembangkan". Harapan Tanti, semoga dari kegiatan ini, "anak-anak kedepan menjadi pribadi yang tangguh, jujur, dan mau bekerja keras apapun cita-cita dan harapan mereka" Harap Tanti dengan berbinar-binar.

Pasca berjualan, peserta entrepreneurship bersama guru pedamping mengadakan evaluasi kegiatan. Evaluasi dilakukan dengan merinci berapa modal yang dikeluarkan dan omset yang didapatkan. Sehingga akan terlihat apakah mendapatkan untung atau rugi. Peserta juga diajak menganalisis pada lembar evaluasi mengapa mereka untung atau rugi. Suatu pembelajaran saintifik yang bagus untuk murid-murid.

Foto-foto kegiatan bisa like fanspage SDIT Hidayatullah atau KLIK DI SINI

Ayun Afifah/ Guru SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Dodolan 'Terakhirku' di SDIT Hidayatullah


Oleh: Aisyah Nuraini

Pada Jum'at, 01 April disekolahku mengadakan acara Entrepreneurship For Students. Acara yang sangat kutunggu- tunggu setiap semesternya, karena aku bisa belajar berdagang dengan jujur dan bijaksana. Tapi dodolan kali ini adalah dodolan terakhirku di sekolah ini, cukup menyedihkan. Tapi dodolan kali ini aku harus lebih semangat dari dodolan biasanya.

Saat itu aku berjualan siomay bersama Ustadzah Naning di kelompok 17. Sebelum dibuka pembukaan oleh Ustadz Subhan, aku mempersiapkan dagangan seperti, memotong siomay, membungkus bumbu kacang. Setelah di buka, banyak pembeli yang mengantri siomay buatan kelompokku. Hingga berakhirnya dodolan siswa ini.

Dodolan pun usai, aku bersama kelompokku membagi hasil jualan kami. Dan Alhamdulillah kelompokku untung 1 anak Rp.19.000,-

Aku banyak mendapat pelajaran dari kegiatan ini seperti menjadi pedagang seperti Rasulullah. Pelajaran umum juga kami dapat seperti ipa dan matematika.

*Penulis adalah murid kelas 6B SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
Editor: Ayun Afifah

Dodolan yang Menyenangkan di Sekolahku


Oleh : Rasyida Kamilatunnikma*

Setiap semester sekolahku mengadakan kegiatan Entrepreneurship For Students, yang biasa kami sebut "dodolan". Aku merasakan kegiatan dodolan kali ini lebih menyenangkan. Banyak pengalaman yang aku dapatkan. Mulai dari baju masih bersih sampai baju sudah mulai kotor.

Di dodolan kali ini ada 24 kelompok, yang terdiri dari 12 kelompok putri dan 12 kelompok putra. Berbagai macam menu yang dijual dalam dodolan ini, ada Roti Bakar, Bakmie, Bakso, Es Campur, Jagung Bakar, Tela Tela, Siomay, Pempek, dan lain-lain.

Kelompokku berjualan Roti Bakar. Namanya Khubzun Musakhon atau Roti Bakar Istimewa. Satu porsi seharga 2.000,-. Ada yang isi selai dan isi sosis.

Saat berjualan, kami semua bekerjasama dengan baik. Tidak ada yang tidak bekerja. Ada yang mengoles, membakar, membuat tempat roti, dan melayani pembeli.

Disaat kasir kelompok kami sepi, kami bergantian membeli makanan di stand yang lain. Dan setelah selesai kami membakar semua roti tawar, kami lalu menjualnya secara berkeliling, hingga akhirnya roti itu pun habis.

Setelah selesai berjualan, kami membagi hasil jualan yang kami dapatkan. Hal pertama yang kami lakukan adalah mengganti uang yang digunakan untuk membeli bahan bahan untuk jualan. Setelah itu sisa uang yang ada menjadi laba yang kami bagi rata untuk semua anggota kelompok.

Rasanya ingin mengulang kegiatan dodolan tadi. Hehe 😅

*Penulis adalah murid SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
Editor: Ayun Afifah

Pengalamanku Saat Ikut Entrepreneurship for Students


Oleh : Naufa Hanin Amiza*

Pagi itu , Jumat 1 April 2016, aku bersiap berangkat sekolah. Hari itu adalah hari Entrepreneurship For Students. Setelah Apel Motivasi, kami melaksanakan sholat Dhuha. Kemudian dilanjutkan bersiap-siap untuk berjualan nanti.

Aku berkumpul di tempat yang sudah ditentukan. Aku dan kelompokku akan berjualan roti bakar. Aku sudah membawa roti tawar. Aku bertugas membuat bungkusan untuk roti bakar. Setelah siap semua, aku dan teman-teman ku bersiap untuk berjualan.

Kelompokku membuat banyak roti bakar. Ada rasa coklat, stroberi, bluberi, dan roti sandwich. Saat itu yang antri banyak, kami sampe bingung melayani.

Akhirnya waktu berjualan sudah habis. Lalu kami semua berkumpul untuk menghitung keuntungan, kemudian dibagi. Aku mendapatkan uang pengganti membeli bahan-bahan. Tapi keuntungannya cuma sedikit sekali.

Sekarang aku tahu, ternyata menjadi pedagang itu lumayan sulit. Aku juga harus jujur dan sabar. Ketika pulang, aku merasa capek tapi aku senang.

*Penulis adalah Murid Kelas 3C SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
Editor: Ayun Afifah