Fauzil Adhim : Diskusi, Bukan Debat


Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Tak ada diskusi ketika semangatnya menjatuhkan. Bukan mencari kebenaran. Tak ada musyawarah ketika ambisinya kemenangan. Bukan.kebaikan. Ada saat ketika menghindari debat dan berhenti darinya itu diganjar pahala sangat besar, yakni ketika debat mengarah pada perpecahan (mira’). Menghindari perdebatan yang semacam ini, meskipun kita berada di pihak yang benar, besar pahalanya surga ganjarannya.

Mendiskusikan ilmu itu baik dan penuh manfaat. Tapi memperdebatkannya amatlah buruk. Diskusi membukakan pikiran dan mendekatkan hati sesama penuntut ilmu. Adapun memperdebatkan ilmu, Imam Malik rahimahullah berkata, “Perdebatan tentang ilmu itu membuat hati keras dan menimbulkan kedengkian.”

Imam Syafi'i rahimahullah juga mengingatkan kita, “Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”

Renungilah sejenak hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah; Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat." Lalu beliau membaca (ayat): “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nah. Maka salah satu bekal menuntut ilmu adalah menahan diri dari berdebat untuk maksud berbantah-bantahan dan menjatuhkan lawan bicara. Jika diskusi telah mengarah kepada mira', sedapat mungkin kita mengingatkan. Tetapi jika tetap dalam perdebatan yang mengarah kepada sikap saling menjatuhkan saling mengolok, maka memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan (mira') itu jauh lebih utama meskipun beresiko disangka tak berani. Sangat berbeda penakut dengan menahan diri dari hal-hal yang membawa kerusakan (mafsadat).

Al-Auza'i: “Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”

Marilah kita ingat sejenak sebuah hadis riwayat Imam Baihaqi berkenaan dengan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

“Wahai Anakku, tinggalkanlah mira’ (mendebat karena ragu dan menentang, debat untuk menjatuhkan) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” ( HR. Baihaqi).

Maka, apakah yang dapat kita renungi darinya?

Mari sejenak kita renungi perkataan Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dinukil Ibnu Abdil Barr, “Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”



Nah. Bagaimanakah dengan kita?

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Twitter @kupinang
FansPage FaceBook Mohammad Fauzil Adhim

Kenakalan Anak, Kenali Sebabnya, Jangan Nafikan


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Pada pokoknya, tidak ada anak yang nakal. Kitalah yang salah didik sehingga mereka menjadi nakal. Tak ada anak yang lahir dalam keadaan nakal. Tetapi kita tak boleh menutup mata atau menyangkal bahwa kenakalan itu ada. Sesungguhnya, eufimisme hanya menyulitkan kita menemukan akar masalahnya. Memahami setiap sebab kenakalan akan memudahkan kita menentukan langkah yang tepat sesuai dengan sebab kenakalannya. Langkah terstruktur.


Menyangkal adanya kenakalan dapat membuat kita terkejut. Tiba-tiba saja ada berita kriminalitas anak. Bukan lagi sekedar kenakalan. Ungkapan sebagian trainer bahwa kenakalan hanyalah soal cara pandang, atau kenakalan adalah kreativitas terpendam, memang menghibur. Tetapi ungkapan ini sangat menjerumuskan. Menganggap biasa tiap kenakalan, memandangnya wajar sehingga tak ada tindakan, akibatnya sangat fatal. Kita menganggap kenakalan itu tidak pernah ada, tapi tiba-tiba saja dikejutkan oleh berita anak SD membunuh. Apakah ini bukan kenakalan? Bukan. Ini sudah kriminalitas. Jauh lebih berat daripada kenakalan.


Ketika ada yang gaduh di kelas, sebagian guru dengan ringan berkata "mereka anak kinestetik". Tapi tak menjelaskan beda kinestetik dan liar. Teringat kisah seorang kawan di Melbourne. Suatu saat anaknya mengantuk di kelas. Catat: mengantuk. Itu pun sebentar. Tapi guru langsung koordinasi. Mereka ingin mengetahui sebab (ini mempengaruhi penanganan) mengantuknya anak. Karena kehilangan motivasi, terlambat tidur atau lainnya.


Menyangkal adanya kenakalan dapat membuat kita terkejut. Tiba-tiba saja ada berita kriminalitas anak. Bukan lagi sekedar kenakalan. Ungkapan sebagian trainer bahwa kenakalan hanyalah soal cara pandang, atau kenakalan adalah kreativitas terpendam, memang menghibur. Tetapi ungkapan ini sangat menjerumuskan. Menganggap biasa tiap kenakalan, memandangnya wajar sehingga tak ada tindakan, akibatnya sangat fatal. Kita menganggap kenakalan itu tidak pernah ada, tapi tiba-tiba saja dikejutkan oleh berita anak SD membunuh. Apakah ini bukan kenakalan? Bukan. Ini sudah kriminalitas. Jauh lebih berat daripada kenakalan.


Ketika ada yang gaduh di kelas, sebagian guru dengan ringan berkata "mereka anak kinestetik". Tapi tak menjelaskan beda kinestetik dan liar. Teringat kisah seorang kawan di Melbourne. Suatu saat anaknya mengantuk di kelas. Catat: mengantuk. Itu pun sebentar. Tapi guru langsung koordinasi. Mereka ingin mengetahui sebab (ini mempengaruhi penanganan) mengantuknya anak. Karena kehilangan motivasi, terlambat tidur atau lainnya.


Point pentingnya adalah, masalah kecil pun perlu segera ditangani agar tak berkembang lebih parah atau justru jadi masalah kolektif.


Terdapat banyak literatur yang khusus membahas kenakalan anak, mengenali tanda dan sebabnya serta cara menangani. Ini menunjukkan bahwa kenakalan itu ada dan perlu langkah-langkah yang tepat untuk menanganinya. Bukan menafikan.


Jika setiap yang tak sesuai kita anggap biasa, maka ketika anak sudah berperilaku sangat menyimpang pun, kita sudah tak peka lagi. Kita menganggap biasa apa yang sebenarnya tak biasa tanpa mencoba memahami sebabnya dan akhirnya gagap ketika persoalan berkembang serius.


Ini sama dengan belajar anak. Kita perlu bedakan antara kemampuan dan kemauan. Jika anak goblog karena malas, jangan cari pembenaran. Berbakat tapi tak bersemangat akan kalah dibanding tak berbakat tapi gigih. Awalnya sulit, sesudah itu mereka akan menemukan kemudahan.


Sama halnya capek dan lelah. Capek (tired) bersifat fisik, lelah (fatigue) bersifat mental. Capek karena belajar seharian itu wajar. Cukup beri kesempatan istirahat, dia akan segar kembali. Tapi lelah setelah belajar, full day atau pun half day, itu yang perlu diatasi. Dan itu tidak terkait dengan panjang pendeknya durasi belajar. Di sekolah yang durasi belajarnya pendek pun bisa saja banyak yang kelelahan.


Jika anak kelewat bersemangat sehingga kecapekan belajar, paling-paling cuma badannya yang sakit. Bisa flu, bisa demam. Paling seminggu. Tapi sangat berbeda dengan kelelahan. Jika dibiarkan, anak dapat kehilangan motivasi belajar, apatis, gangguan perilaku atau kenakalan. Anak juga dapat menjadi trouble maker alias biang kerok. Ini jika anak tidak memperoleh stimulasi media. Nah, apalagi kalau media merusak dan memperparah.


Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Twitter @kupinang

Dzikrullah : Palestina itu Urusan Akidah, Bukan Sekadar Urusan Kemanusiaan

Solo, Sabtu, 25 Oktober 2014. Nasyid penggugah semangat keluar dari lisan tim nasyid Santri Hidayatullah Yogyakarta. Mereka membakar peserta Silaturahim Wilayah (Silatwil) Hidayatullah DIY – Jawa Tengah Bagian Selatan yang selama dua hari ini akan berlangsung. Mereka membakar semangat dengan melatunkan nasyid-nasyid tentang Palestina.

Malam ini adakah sesi bersama Mas Dzikrullah Wisnu Pramudia, beliau adalah salah satu relawan dari sahabat Al-aqsha (SA) yang selama ini intens dengan isu-isu bumi Palestina dan Suriah, memberikan informasi tentang Palestina terkini.

“Bertahannya rakyat Gaza bukan karena perlengkapan senjatanya, karena kalau mengandalkan senjata, mereka akan akan kalah, namun karena kembalinya orang Palestina kepada Islam,” begitu terang Mas Dzikrullah kepada ratusan kader, anggota, dan simpatisan Hidayatullah di Solo.

Menurut Dzikrullah, berbicara tentang Palestina ini meliputi enam kondisi, apa saja itu? Pertama adalah Quds. Al-Quds ini lepas secara resmi kepada penjajah zionis Israel pada tanggal 5 Juni 1967. Kedua adalah Tepi Barat, di mana Tepi Barat ini dijuluki juga otorita Palestina, padahal kita memahami bahwa di tangan penjajah, Palestina tidak punya otoritas sama sekali.

Ketiga adalah Israel itu sendiri, yang notabene adalah penjajah. Keempat para tawanan yang ada di penjara-penjara Israel, karena mereka merupakan bagian dari Palestina. Kelima adalah tempat-tempat pengungsi, para pengungsi juga bagian dari Palestina. Dan kelima adalah Gaza. Gaza ini sebenarnya ‘penjara’ terbesar di dunia, karena Gaza dikepung dari segala penjuru, dari darat, laut, dan udara. 

Karena rakyat Palestina untuk keluar atau masuk dari Gaza harus diijinkan oleh para penjajah ini.
Bermacam informasi disampaikan oleh Mas Dzikrullah ini, mulai dari apa yang paling ditakuti oleh tentara-tentara zionis misalnya sniper, terowongan, hingga rudal milik pejuang Hamas yang hingga saat ini bisa mencapai 60 km.

Ada juga vonis-vonis gila zionis Israel yang menjatuhi hukuman kepada rakyat Palestina yang mereka tangkap di jalan atau di rumah-rumah mereka. Misalnya ada vonis yang mencapai 450 tahun, 500 tahun, dan yang paling lama adalah 6.633 tahun.


Acara ini diakhiri dengan penggalangan dana untuk Bangsa Palestina. Semoga Allah menolong mujahid-mujahid di Palestina.* Thorif,/Jogja

Dr. Abdul Mannan : Mari Istikomah di Jalan Dakwah


Ust Dr. Abdul Mannan
Solo, Sabtu 25 Oktober 2014. Gema takbir membahana menyambut Ketua Pimpinan Wilayah Hidayatullah DIY – Jawa Tengah Bagian Selatan, Ust. Budi Gunawan, saat beliau akan memberi sambutan pada acara Silaturahim Wilayah (Silatwil) Hidayatullah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) – Jawa Tengah Bagian Selatan. Beliau berjalan secara tertatih karena memang kondisi fisik beliau yang baru kecelekaan beberapa bulan lalu, namun semangat beliau tetap memancar.

MURID SDIT HIDAYATULLAH JOGJA MASUK FINALIS LOMBA MENULIS CERITA NASIONAL

Adalah Nida’un Taqwiyani Ash-Shafiyah, salah satu murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang masuk finalis dalam Lomba Menulis Cerita Nasional. Hal itu berdasarkan surat edaran Kementrian Pendidikan dan Kebudayaaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Nomor 4565/C.C1/TU/2014. Surat tersebut merupakan surat undangan kepada para finalis  Lomba Menulis Cerita Nasional untuk menghadiri seleksi final.

APBS

Oleh Mahmud Thorif

Bicara pendidikan tidak terlepas dari biaya. Walau biaya bukanlah segalanya. Karena tentu masih banyak manusia yang peduli dengan anak-anak yang kebetulan dilahirkan dari orangtua yang tidak berpunya yang mau membantu mereka mengenyam pendidikan.

Anggaran Pendapatan dan Biaya Sekolah (APBS), tentulah semua sekolah membutuhkannya, baik itu sekolah yang dibiayai oleh pemerintah atau sekolah swasta. APBS ini menjadi sesuatu yang penting, karena dalam APBS ini akan terlihat seberapa besar biaya anggaran yang masuk dan seberapa besar anggaran yang keluar. Tentu dengan APBS ini akan tahu berapa bisar biaya yang dibutuhkan dalam setahun ke depan pada sebuah sekolah.

Untuk sekolah yang dibiayai oleh pemerintah, mungkin, tidaklah terlalu khawatir dengan anggaran, karena sudah tentu pemerintah pusat, daerah/kota yang memikirkan biayanya. Naah.... yang perlu diperhatikan adalah sekolah swasta, mau tidak mau sebagian besar APBS pada sekolah swasta akan dibebankan di pundak para orangtua/wali murid di sekolahnya.

Kita bandingkan saja, untuk sekolah yang dibiayai oleh pemerintah dari segi gaji guru dan pegawai, misalnya, tentulah hampir seratus persen dibiayai oleh pemerintah, mungkin ada beberapa yang diusahakan dari sekolah tapi itu prosentasenya sangat kecil. Bukan hanya gaji guru dan pegawai, biaya operasional seperti alat tulis, perlengkapan belajar, perawatan, dan tentu banyak kebutuhan lainnya dibiayai juga oleh pemerintah. Berbeda dengan sekolah swasta, hampir seratus persen biaya gaji, operasional, sarana prasarana dibiayai oleh yayasan pengelolanya atau sekolah itu sendiri. Sehingga wajar jika sekolah di sekolah negeri berbiaya lebih murah dibanding dengan sekolah swasta.

Peran sang kepala sekolah dalam penyusunan APBS ini sangat penting, karena tentu kepala sekolah ini lebih tahu tentang peta uang masuk dan uang keluar di sekolahnya. Sang kasek mempunyai hak tentang program apa yang harus dijalankan atau ditahan di tahun yang sedang berjalan. Tentu dengan dibantu oleh para staffnya sang kasek bisa memilah dan memilih program-program yang diajukan oleh guru dan pegawainya di setiap bagian.

Secara garis besar sekolah ini ada tiga komponen, yaitu guru, murid, dan sarana prasarana. Naah... tentu penyusunan APBS bisa mengacu kepada tiga hal tersebut, misalnya komponen guru dengan menganggarkan biaya kesejahteraan guru, mulai dari gaji, THR, dana kesehatan, transportasi, uang makan, dan lainnya. Untuk sekolah negeri tidak perlu khawatir, karena biaya ini sudah dicover oleh pemerintah dan untuk sekolah swasta ini yang harus teliti, satu rupiah saja harus diperhitungkan.

Setelah semua kebutuhan guru terpenuhi, maka kebutuhan murid juga harus dipenuhi satu persatu, apa kegiatannya? Berbiaya berapa? Kapan waktunya? Siapa yang bertanggungjawab atasnya? Semakin detail semakin bagus. Untuk sekolah swasta biaya yang dibutuhkan tentu lebih besar, mulai dari bagaimana mencari murid sampai mengelolanya hingga lulus.

Setelah kebutuhan guru dan murid sudah tercatat dengan rapi, maka komponen ketiga adalah sarana dan prasarana, mulai dari ruang kelas dan segala macam penunjangnya.

Selain tigal hal tersebut, tentu banyak pernak-pernik kebutuhan biaya pendidikan yang harus didetailkan, sehingga segala macam kegiatan terekam dengan jelas dalam sebuah APBS. Peran komite sekolah, di sekolah swasta, sangat dibutuhkan pada penyusunan ABPS ini, karena hampir seratus persen kebutuhan biaya sekolah berasal dari orangtua/wali murid.

Naah... dari paparan di atas tentu membuka wawasan kepada kita semua, betapa biaya ini sangat vital dalam menjalankan roda pendidikan. Kalau sekolah fokus memikirkan tentang banyak biaya yang dianggarkan untuk kesejahteraan guru, tentu pada bagian murid dan sarana prasarana akan kurang, atau sebaliknya kalau sekolah fokus hanya memikirkan murid dan sarana prasarana tanpa memikirkan kesejahteraan guru dan pegawainya, tentu segala kegiatan tidak akan berjalan efektif.


Semoga satu rupiah yang dikeluarkan oleh orangtua untuk pendidikan anak mereka akan menjadi pembuka jalan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka dan sekolah bisa amanah mengelola kepercayaan para orangtua dalam mendidikan putra-putri mereka. Karena setiap kita akan dimintai tanggungjawabnya. Wallahu a’lam bishawab.

Tiga Pilar Pendidikan Islam Bagi Anak

Subliyanto,S.Pd.I
Wakil Kepala Sekolah SDIT Hidayatullah

Salah satu kewajiban kita sebagai orangtua adalah memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita. Pendidikan sangat penting untuk masa depan mereka. Apabila kita sebagai orangtua salah dalam memberikan pendidikan kepada anak-anak kita, maka akan berakibat fatal.

Demikian juga sebaliknya jika kita sebagai orangtua bersungguh-sungguh dalam memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita, maka berarti kita sudah memberikan hadiah terbaik untuk masa depan mereka, dan juga tentunya bernilai positif bagi diri kita sebagai orangtua ketika dimintai pertanggung jawaban kelak di hadapan Allah Ta’ala.

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam tentang tiga amalan manusia yang tidak terputus ketika ia mati. Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Apabila manusia meninggal dunia maka amalnya terputus darinya kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya”. (HR.Muslim)

Untuk memberikan pendidikan yang baik kepada anak, setidaknya ada tiga pilar pendidikan utama yang harus kita ajarkan. Pertama, pendidikan tauhid. Pada pendidikan ini kita kenalkan anak-anak kita dengan Allah Ta’ala sebagai penciptanya dan pencipta alam semesta dan isinya, sehingga keimanan anak-anak kita kepada Allah Ta’ala benar-benar melekat dan tertanam dengan kuat di hati mereka.

Kedua, pendidikan akhlak. Pada pendidikan ini kita tanamkan karakter-karakter baik kepada mereka, kita ajarkan dan kita bimbing anak-anak kita untuk memahami tentang adab-adab dalam kehidupan mereka, baik adab kepada diri sendiri, maupun adab terhadap orang lain, serta adab beramal dalam kehidupan sosial mereka.

Pendidikan akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia, karenanya Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda “Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam timbangan (pada hari kiamat) dari akhlak yang baik”. (HR. Abu Dawud).

Ketiga, pendidikan ibadah. Pada pendidikan ini kita ajarkan dan kita bimbing anak untuk beribadah dengan baik dan benar sesuai dengan syari’at yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam, karena hakikat manusia yang sesungguhnya adalah sebagai ‘abdullah, yaitu hamba Allah yang senantiasa beribadah kepada Allah Ta’ala dengan menjalankan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Ketiga pilar pendidikan utama di atas merupakan mata rantai pendidikan yang tidak bisa dipisahkan pelaksanaanya dalam kehidupan manusia. Ketiganya saling melengkapi sehingga menjadi rangkaian pendidikan yang utuh dan sempurna.
Selain tiga pendidikan utama tersebut, hendaknya kita juga mengajarkan pendidikan keterampilan kepada anak-anak kita sebagai bekal bagi mereka dalam menjalani kehidupan.

Namun, tentunya dalam mendidik anak-anak kita, kita juga harus menyesuaikan dengan jenjang dan kemampuan mereka dalam menerima pendidikan dan pemahaman. Sebab pendidikan adalah proses perubahan yang berkesinambungan sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak-anak kita.
Jenjang kemampuan inilah yang menjadi filosofis lahirnya sebuah lembaga pendidikan yang bernama sekolah yang bergerak dalam bidang pendidikan dan dikelola secara tersruktur guna membantu kita para orangtua dalam memberikan pendidikan kepada anak-anaknya.

Lahirnya lembaga pendidikan yang bernama sekolah bukan berarti menggugurkan kewajiban kita sebagai orangtua dalam memberikan pendidikan secara langsung kepada anak-anak kita. Sebab pendidikan utama tetap bertumpu kepada kita sebagai orang tua.


Jika kita sebagai orangtua memberikan pendidikan yang baik kepada anak-anak kita, baik secara langsung maupun melalui lembaga pendidikan yang bernama sekolah, maka insya Allah kita akan melahirkan generasi yang baik pula di masa yang akan datang, demikian juga sebaliknya. Wallahu A’lam.

Catatan Perjalanan Hiking dan Susur Goa Kiskendo SDIT Hidayatullah

di dalam goa Kiskendo
Oleh Mahmud Thorif

Jumat-Sabtu, 10-11 Oktober 2014, Murid SDIT Hidayatullah mengadakan kegiatan ‘Hiking dan Susur Goa’ Kiskendo di Kulonprogo Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh kelas 4, 5, dan kelas 6. Kegiatan yang bertema “Menaklukkan Bukit Menoreh” ini diikuti sebanyak 130 an murid.
Dimulai Jumat siang, pukul 13.00 WIB anak-anak sudah berkumpul di sekolah dilanjutkan perjalanan naik bus. Kurang lebih 1 jam bus menepi di daerah Kulonprogo.

Apakah perjalanan anak-anak SDIT Hidayatullah selesai? Tidak. Justru dimulai dari sinilah perjalanan mereka. Selepas shalat Asar berjamaah, pukul 16.00 wib anak-anak dikelompokkan berdasarkan kelasnya masing-masing, mereka menyusuri jalan beraspal menuju ke penginapan di dekat wilayah Goa Kiskendo.
inisiatif saling membantu di perjalanan

Penulis yang mengikuti perjalanan ini jadi bisa merasakan betapa berat perjalanan ini, apalagi bagi anak-anak usia SD. Saya kira perjalanan ini antara 7-8 KM, namun setelah tanya penduduk setempat, perjalanan ini bukan berjarak 7-8 km, namun sekitar 12-13 km. Ah, tentu bagi anak-anak usia SD berjalan sepanjang itu memerlukan energi dan semangat tersendiri.

Alhamdulillah, sepanjang perjalanan kami memberikan nilai-nilai kepada anak-anak, “Mas-Mbak, jadi kita harus bersyukur, orang tua Mas dan Mbak mempunyai mobil, sepeda motor sehingga tidak merasa kecapaian dengan berjalan kaki.” Dan banyak nasehat-nasehat kami yang tentu anak-anak menyerap dengan kemampuan mereka masing-masing.

Perjalanan yang diperkirakan sampai di lokasi pukul 20.00 wib ini ternyata ada yang tepat waktu dan ada yang meleset jauh. Secara kebetulan yang meleset jauh adalah penulis dan beberapa murid putri. Memang saya sengaja mengikuti perjalanan mereka dengan alasan untuk menjaga mereka dari hal-hal yang tidak diinginkan. Penulis sampai di lokasi tujuan sekitar pukul 09.30, dan itupun setelah penulis ‘kesasar’ beberapa ratus meter.
menikmati makan malam diperjalanan

Penulis merasakan anak-anak antusias menikmati perjalanan ini. Mereka bersenda gurau sesame temannya, walau memang tampak kelelahan dalam raut wajah mereka. Namun seaakan hilang ditimpa oleh keceriaan yang mereka rasakan.

Tidak mudah memang menyusuri sepanjang perjalanan malam ini, disamping lelah fisik juga hawa dingin yang menyerang. Lelah fisik akan bertambah-tambah jika diiringi keluh dan kesah, sepanjang perjalanan memang ada anak-anak yang berkeluh kesah. Alhamdulillah, kami juga bisa memasukkan nilai-nilai jika hidup diiringi dengan keluh dan kesah maka yang lelah bukan hanya fisik, namun jiwa kita.
salah satu anak yang terlelap tidur kelelahan

Namanya anak-anak, saat sudah sampai tujuan ada yang tertidur karena kecapaian dan ada pula yang tetap bermain. Sehingga suasana kampung yang biasanya sepi, gaduh oleh suara-suara anak-anak yang bersenda gurau.

Setelah istirahat, yang rencana bangun pukul 03.00 wib untuk shalat tahajud, penulis rasakan gagal, mungkin karena lelahnya perjalanan malam sehingga anak-anak pulas tertidur hingga subuh.
Selepas subuh, anak-anak diajak untuk berolahraga sejenak untuk meregangkan otot-otot yang kaku, baru dilanjutkan dengan sarapan dan bersih-bersih badan.
anak-anak menyusuri jalan menanjak

Sebelum perjalanan susur goa pun, anak-anak harus menempuh perjalanan sepanjang sekitar kurang lebih 2 km. Baru dilanjutkan dengan susur goa. Ada yang unik sebelum memasuki pintu goa, eh ternyata pintunya masih dikunci, jadi anak-anak lebih dulu dating disbanding juru kuncinya.
Di dalam goa anak-anak juga menikmati perjalanan, karena pemandu berjumlah satu orang, maka hanya beberapa anak yang mengikuti sang pemandu, sehingga banyak anak yang hanya dipandu oleh guru pendamping. Sengaja penulis mengikuti sang pemandu goa, karena penulis yakin, banyak kisah-kisah mistik yang akan diceritakan oleh sang pemandu.
anak-anak SDIT Hidayatullah berpose di mulut goa Kiskendo

Benar saja, banyak keluar kisah-kisah pewayangan yang keluar dari lisan sang pemandu, ah apakah benar kisah itu atau itu hanya kisah fiksi belaka. Justru yang penulis harapkan bahwa goa ini adalah dulu markas para pejuang kemerdekaan tidak keluar dari lisan sang pemandu, atau jangan-jangan memang goa ini bukan markas pejuang ya? Ah ndak tahu juga ah.

Satu hal yang penulis khawatirkan saat anak-anak diajak berdoa dengan mematikan seluruh lampu senter yang mereka bawa, dalam hati penulis semoga anak-anak ini berdoa hanya kepada Allah. Ternyata benar, anak-anak ada yang bertanya, “Kan syirik ya pak, kalau berdoa bukan kepada Allah.” Alhamdulillah lega hati ini. Walau memang sang pemandu menyuruh anak-anak berdoa kepada Sang Mahakuasa, yang bisa mengandung banyak arti di sini.
anak-anak menikmati makan siang

Perjalanan susur goa diakhiri menjelang adzan dhuhur, dilanjutkan perjalanan kembali ke penginapan dengan berjalan kaki di tengah terik matahari, sekitar kurang lebih 2 km. Lalu dilanjutkan makan siang. Penulis melihat anak-anak begitu lahap makan siang itu, padahal sederhana saja, mi dan telor dadar. Mungkin karena mereka lapar, lelah sehingga mereka begitu menikmati makan siangnya.
Sekitar pukul 15.00 wib, anak-anak bersiap pulang ke sekolah. Perjalanan kali ini seru karena mereka naik truk, bukan naik bus seperti saat berangkat. Panitia hanya menyediakan 2 armada truk untuk peserta 130 an. Waah bisa dibayangkan seperti apa mereka, ‘untel-untelan’ di truk mereka masing-masing.
pulang naik truck, ini menjadi pengalaman tersendiri

Penulis kebagian truk perempuan, sehingga hanya bisa merasakan atmosfir yang terjadi di truk perempuan, ada yang nangis, ada yang cuek saja, ada yang gembira, ah banyak wajah-wajah di truk perempuan ini.

Ops ada yang kelewatan dalam kisah perjalanan ini, tentang nomor HP. Ada apa sih dengan nomor HP ini? Panitia hanya menebarkan kontak person dengan nomor-nomor tertentu, mohon maaf ya, penulis tidak menyebutkan dari mana saja, naah ternyata di lokasi tidak ada sinyal sama sekali, sehingga terputuslah kontak jika ada yang mau menanyakan sekadar bagaimana kabar anak-anaknya. Ternyata setelah dapat informasi dari tuan rumah, nomor yang bisa hanya ada dua, dan itupun satu nomor yang biasanya dipakai untuk olah data. Jadi pengalaman yang akan datang semua kartu HP harus tersedia.
suasana di truck putri

Ah, tentu masih banyak cerita yang anak-anak kita dapatkan dari perjalanan ini, penulis atas nama sekolah mengucapkan terimakasih kepada tim hiking dan susur goa kiskendo yang telah meluangkan waktu menemani anak-anak SDIT Hidayatullah, ada Pak Untung, Pak Arifin, Pak Bagas, Mas Ari, Mas Iqbal, Mas Tardi, dan mas satunya, lupa deeh. Bu Guru Narti dan satu pendatang baru, Mbak Roi dari UNY, entah siapa beliau, penulis juga belum mengenalnya, beliau ikut karena sekolah kami membutuhkan pendamping guru putri karena secara kebetulan guru-guru putri ada kegiatan di sekolah.

Untuk melihat Album Hiking dan Susur Goa silahkan klik di sini yaa!
Bagi yang mau lihat vidionya bisa klik di sini yaa!
Salam
Penulis