Ayah “Bisu”

foto by google

Oleh Jamil Azzaini

Selalu ada hal baru saat saya mengambil rapor anak saya. Sebelum berangkat memberikan training, Jumat pekan lalu, saya ke sekolah Hana (kelas 3 SMP) dan Sabtu ke sekolah Izul (kelas 6 SD) untuk mengambil rapor. Kesempatan langka ini adalah moment dimana saya mendapatkan informasi tambahan tentang perkembangan anak dari sudut pandang seorang guru.
Saya selalu berusaha bisa mengambil rapor agar dapat bahan tambahan untuk diskusi dengan anak saya. Saya tidak ingin menjadi ayah “bisu”. Seorang ayah yang keberadaannya seolah tak ada. Jarang berdiskusi atau ngobrol dengan anak. Saya berusaha keras untuk selalu punya bahan obrolan dengan anak saya. Salah satunya melalui kehadiran saya saat pembagian rapor.
Mengapa saya tidak mau menjadi ayah “bisu?” Di dalam Al-Qur’an terdapat 17 dialog (berdasarkan tema) antara orang tua dengan anak, tersebar di 9 surat. Dari 17 dialog tersebut, 14 dialog antara ayah dengan anaknya, 2 dialog antara ibu dan anaknya, 1 dialog antara kedua orang tua dengan anaknya.
Apa pesan utamanya dari fakta ini? Seharusnyalah seorang ayah lebih banyak berdialog dengan anak-anaknya dibandingkan anak-anak berdialog dengan ibunya, meski sang ibu tinggal di rumah dan lebih sering bersama sang anak. Seorang ayah tak boleh menjadi ayah “bisu”, lebih banyak diam saat bersama anak. Dan jangan sampai, saat bersuara justru yang ada adalah perintah dan amarah.
Saya pun tidak mau menjadi ayah “bisu”, yang asyik dengan dunianya sendiri. Seorang ayah yang sangat jarang punya kesempatan berdialog, diskusi, ngobrol dan bercanda dengan anak-anaknya. Ayah “bisu” membuat anak kehilangan kepercayaan diri, kehilangan gairah untuk tinggal di rumah. Jangan heran bila anak-anak lebih senang curhat di social media dan orang lain, bukan kepada ayahnya.
Bila kita menjadi ayah “bisu” maka jangan menyesal bila suatu saat nanti anak kita diterpa banyak masalah. Hubungan yang “dingin” antara ayah dan anak. Atau, sang anak lebih dekat dengan orang lain yang tidak ada hubungan darah dan keturunan. Seorang ayah bisa benar-benar kehilangan “mutiara” hidupnya bila ia menjadi ayah “bisu”.
Ya Allah, saya tidak mau menjadi ayah “bisu”. Tuntun hamba agar selalu ada bahan untuk bicara. Beri kemampuan kepada hamba agar putra-putri hamba senang saat bicara dan bertanya kepada hamba. Berilah hamba energi dan kekuatan untuk selalu punya kesempatan berharga agar bisa menemani putra-putri hamba tumbuh dewasa menjadi hamba-Mu yang sangat Engkau cinta. Jauhkan hamba dari menjadi ayah “bisu”.

Dikutip dari www.jamilazzaini.com

Ibu untuk Anak Kita


Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Kunci untuk melahirkan anak-anak yang tajam pikirannya, jernih hatinya dan kuat jiwanya adalah mencintai ibunya sepenuh hati. Kita berikan hati kita dan waktu kita untuk menyemai cinta di hatinya, sehingga menguatkan semangatnya mendidik anak-anak yang dilahirkannya dengan pendidikan yang terbaik. Keinginan besar saja kadang tak cukup untuk membuat seorang ibu senantiasa memberikan senyumnya kepada anak. Perlu penopang berupa cinta yang tulus dari suaminya agar keinginan besar yang mulia itu tetap kokoh.

Uang yang berlimpah saja tidak cukup. Saat kita serba kekurangan, uang memang bisa memberi kebahagiaan yang sangat besar. Lebih-lebih ketika perut dililit rasa lapar, sementara tangis anak-anak yang menginginkan mainan tak bisa kita redakan karena tak ada uang. Tetapi ketika Allah Ta'ala telah memberi kita kecukupan rezeki, permata yang terbaik pun tidak cukup untuk menunjukkan cinta kita kepada istri. Ada yang lebih berharga daripada ruby atau berlian yang paling jernih. Ada yang lebih membahagiakan daripada sutera yang paling halus atau jam tangan paling elegan.

Apa itu? Waktu kita dan perhatian kita.

Kita punya waktu setiap hari. Tidak ada perbedaan sedikit pun antara waktu kita dan waktu yang dimiliki orang-orang sibuk di seluruh dunia. Kita juga mempunyai waktu luang yang tidak sedikit. Hanya saja, kerapkali kita tidak menyadari waktu luang itu. Di pesawat misalnya, kita punya waktu luang yang sangat banyak untuk membaca. Tetapi karena tidak kita sadari –dan akhirnya tidak kita manfaatkan dengan baik—beberapa tugas yang seharusnya bisa kita selesaikan di perjalanan, akhirnya mengambil hak istri dan anak-anak kita. Waktu yang seharusnya menjadi saat-saat yang membahagiakan mereka, kita ambil untuk urusan yang sebenarnya bisa kita selesaikan di luar rumah.

Bagaimana kita menghabiskan waktu bersama istri di rumah juga sangat berpengaruh terhadap perasaannya. Satu jam bersama istri karena kita tidak punya kesibukan di luar, berbeda sekali dengan satu jam yang memang secara khusus kita sisihkan. Bukan kita sisakan. Menyisihkan waktu satu jam khusus untuknya akan membuat ia merasa lebih kita cintai. Ia merasa istimewa. Tetapi dua jam waktu sisa, akan lain artinya.

Sayangnya, istri kita seringkali hanya mendapatkan waktu-waktu sisa dan perhatian yang juga hanya sisa-sisa. Atau, kadang justru bukan perhatian baginya, melainkan kitalah yang meminta perhatian darinya untuk menghapus penat dan lelah kita. Kita mendekat kepadanya hanya karena kita berhasrat untuk menuntaskan gejolak syahwat yang sudah begitu kuat. Setelah itu ia harus menahan dongkol mendengar suara kita mendengkur.

Astaghfirullahal ‘adziim....

Lalu atas dasar apa kita merasa telah menjadi suami yang baik baginya? Atas dasar apa kita merasa menjadi bapak yang baik, sedangkan kunci pembuka yang pertama, yakni cinta yang tulus bagi ibu anak-anak kita tidak ada dalam diri kita.
Sesungguhnya, kita punya waktu yang banyak setiap hari. Yang tidak kita punya adalah kesediaan untuk meluangkan waktu secara sengaja bagi istri kita.

Waktu untuk apa? Waktu untuk bersamanya. Bukankah kita menikah karena ingin hidup bersama mewujudkan cita-cita besar yang sama? Bukankah kita menikah karena menginginkan kebersamaan, sehingga dengan itu kita bekerja sama membangun rumah-tangga yang di dalamnya penuh cinta dan barakah? Bukan kita menikah karena ada kebaikan yang hendak kita wujudkan melalui kerja-sama yang indah?

Tetapi...

Begitu menikah, kita sering lupa. Alih-alih kerja-sama, kita justru sama-sama kerja dan sama-sama menomor satukan urusan pekerjaan di atas segala-galanya. Kita lupa menempat¬kan urusan pada tempatnya yang pas, sehingga untuk bertemu dan berbincang santai dengan istri pun harus menunggu saat sakit datang. Itu pun terkadang tak tersedia banyak waktu, sebab bertumpuk urusan sudah menunggu di benak kita.

Banyak suami-istri yang tidak punya waktu untuk ngobrol ringan berdua, tetapi sanggup menghabiskan waktu berjam-jam di depan TV. Seakan-akan mereka sedang menikmati kebersamaan, padahal yang kerapkali terjadi sesungguhnya mereka sedang menciptakan ke-sendirian bersama-sama. Secara fisik mereka berdekatan, tetapi pikiran mereka sibuk sendiri-sendiri.

Tentu saja bukan berarti tak ada tempat bagi suami istri untuk melihat tayangan bergizi, dari TV atau komputer (meski saya dan istri memilih tidak ada TV di rumah karena sangat sulit menemukan acara bergizi. Sampah jauh lebih banyak). Tetapi ketika suami-istri telah terbiasa menenggelamkan diri dengan tayangan TV untuk menghapus penat, pada akhirnya bisa terjadi ada satu titik ketika hati tak lagi saling merindu saat tak bertemu berminggu-minggu. Ada pertemuan, tapi tak ada kehangatan. Ada perjumpaan, tapi tak ada kemesraan. Bahkan percintaan pun barangkali tanpa cinta, sebab untuk tetap bersemi, cinta memerlukan kesediaan untuk berbagi waktu dan perhatian.

Ada beberapa hal yang bisa kita kita lakukan untuk menyemai cinta agar bersemi indah. Kita tidak memperbincangkannya saat ini. Secara sederhana, jalan untuk menyemai cinta itu terutama terletak pada bagaimana kita menggunakan telinga dan lisan kita dengan bijak terhadap istri atau suami kita. Inilah kekuatan besar yang kerap kali diabaikan. Tampaknya sepele, tetapi akibatnya bisa mengejutkan.

Tentang bagaimana menyemai cinta di rumah kita, silakan baca kembali Agar Cinta Bersemi Indah (Gema Insani Press, 2002, edisi revisi insya Allah akan diterbitkan Pro-U Media). Selebihnya, di atas cara-cara menyemai cinta, yang paling pokok adalah kesediaan kita untuk meluangkan waktu dan memberi perhatian. Tidak ada pendekatan yang efektif jika kita tak bersedia meluangkan waktu untuk melakukannya.

Nah.

Jika istri merasa dicintai dan diperhatikan, ia cenderung akan memiliki kesediaan untuk mendengar dan mengasuh anak-anak dengan lebih baik. Ia bisa memberi perhatian yang sempurna karena kebutuhannya untuk memperoleh perhatian dari suami telah tercukupi. Ia bisa memberikan waktunya secara total bagi anak-anak karena setiap saat ia mempunyai kesempatan untuk mereguk cinta bersama suami. Bukankah tulusnya cinta justru tampak dari kesediaan kita untuk berbagi waktu berbagi cerita pada saat tidak sedang bercinta?

Kerapkali yang membuat seorang ibu kehilangan rasa sabarnya adalah tidak adanya kesediaan suami untuk mendengar cerita-ceritanya tentang betapa hebohnya ia menghadapi anak-anak hari ini. Tak banyak yang diharapkan istri. Ia hanya berharap suaminya mau mendengar dengan sungguh-sungguh cerita tentang anaknya –tidak terkecuali tentang bagaimana seriusnya ia mengasuh anak—dan itu “sudah cukup” menjadi tanda cinta. Kadang hanya dengan kesediaan kita meluangkan waktu untuk berbincang berdua, rasa capek menghadapi anak seharian serasa hilang begitu saja. Seakan-akan tumpukan pekerjaan dan hingar-bingar tingkah anak sedari pagi hingga malam, tak berbekas sedikit pun di wajahnya.

Alhasil, kesediaan untuk secara sengaja menyisihkan waktu bagi istri tidak saja mem¬buat pernikahan lebih terasa maknanya, lebih dari itu merupakan hadiah terbaik buat anak. Perhatian yang tulus membuat kemesraan bertambah-tambah. Pada saat yang sama, menjadikan ia memiliki semangat yang lebih besar untuk sabar dalam mengasuh, mendidik dan menemani anak.

Ya... ya... ya..., cintailah istri Anda sepenuh hati agar ia bisa menjadi ibu yang paling ikhlas mendidik anak-anaknya dengan cinta dan perhatian. Semoga!

*) Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku dan Pakar Parenting | Twitter : @kupinang
Top of Form


Hari Pertama Murid SDIT Hidayatullah Dijemput di Depan Kelas

SDIT Hidayatullah.net NGAGLIK, 08/12/2014. Hari ini adalah hari pertama menggunakan jalur melingkar untuk penjemputan murid SDIT Hidayatullah. Para orangtua/wali murid diperbolehkan masuk ke halaman sekolah dan menunggu di depan kelas putra dan putri mereka.

"Alhamdulillah kurang lebih 75% hari ini anak-anak bisa dijemput di depan kelas mereka," Ungkap Subhan Birori, selaku kepala sekolah yang ikut terjun langsung memantau kegiatan penjemputan. "Walau terjadi penumpukan kendaraan di beberapa tempat, mudah-mudahan ke depannya bisa diperbaiki." Lanjut belia berbinar.

"Dan dimohon para pengguna kendaraan, baik mobil atau sepeda motor untuk mengendarai kendaraannya saat di halaman sekolah dengan pelan, karena banyak kendaraan lain dan anak-anak yang berlalu lalang," begitu kata Subhan Birori. "Diharapkan kepada orangtua/wali murid untuk menjemput putra dan putrinya tepat waktu." Lanjutnya.

orangtua/wali murid menunggu putra/putrinya
Memang kegiatan penjemputan langsung ini baru dilaksanakan hari ini, sehingga masih terlihat penumpukan kendaraan dibeberapa tempat. Sebagaimana yang dilaporkan salah seorang wali murid SDIT Hidayatullah, dalam akun twitternya @ds_dedisaid :  ujicoba lalu lintas lewat depan kelas, masjid dan kantor hasilnya agak "stuck" dan "crowded" di depan kela, begitu komentar beliau.

Kami sampaikan kembali bahwa alur kedatangan dan penjemputan murid mulai Senin, 08 Januari 2014 ada perubahan. Pada awalnya orangtua/wali murid yang menjemput menunggu di halaman parkir sekolah, maka dirubah dengan para penjemput masuk ke halaman sekolah dan bisa menunggu putra/putrinya di depan kelas masing-masing.* Thorif

SDIT Hidayatullah Atasi Kemacetan


Dalam rangka mengatasi macetnya arus lalulintas di lingkungan SDIT Hidayatullah ketika penjemputan kepulangan murid, maka SDIT Hidayatullah akan mengoperasikan jalan lingkar. Operasi tersebut akan diuji coba mulai hari Senin, tanggal 08 Desember 2014.

Adapun rutenya adalah sebgai berikut:
1.penjemput masuk melalui jalur depan koperasi
2.penjemput menunggu putra putrinya di depan kelas masing-masing sesuai denah
3.penjemput keluar melalui jalan lingkar (utara masjid,timur masjid,selatan masjid,halaman utama sekolah,pitu gerbang,dan menuju jalan utama)
4.penjemput yang menggunakan roda 4 menunggu di selatan masjid dan halaman utama sekolah

Oleh karena itu kami mengharap kepada orang tua/wali murid untuk menjemput putera dan puterinya tepat waktu. *Humas SDIT Hidayatullah

Jalan Masuk Hidayatullah Diaspal



SDIT Hidayatullah.net. NGAGLIK. Sabtu/6/12/2014. Jalan masuk menuju kampus Hidayatullah Yogyakarta sampai di dusun Wonosari Donoharjo diaspal. "Pengaspalan ini berlangsung sejak Jumat hingga Senin," Ujar Suhendar, selaku koordinator lapangan kegiatan ini. "InsyaAllah Sabtu ini untuk yang bagian utara kampus akan selesai, sedangkan yang bagian selatan kampus baru akan dikerjakan Senin besok." Ujar Suhendar.

"Jadi kami himbau, bagi orangtua/wali murid yang Senin besok akan menjemput putra-putrinya sekolah, mulai dari KB Permata Ummi, TKIT Yaa Bunayya, SDIT Hidayatullah, MTs Hidayatullah, dan MA Hidayatullah untuk menjemput dari arah utara," kata Suhendar.


Kegiatan pengaspalan jalan ini menggunakan anggaran APBD Kabupaten Sleman Tahun 2014, "Hal ini berdasarkan proposal yang telah kami kirimkan beberapa bulan sebelumnya," Ujar Suryanto, selaku bagian sarana dan prasarana di Yayasan As-Sakinah Yogyakarta.


"Semoga dengan akses jalan yang semakin bagus, memudahkan antar dan jemput atau kegiatan yang lain bagi orangtua/wali murid yang putra-putrinya sekolah di KB Permata Ummi, TKIT Yaa Bunayya, SDIT Hidayatullah, MTs Hidayatullah, dan MA Hidayatullah," ujar Suryanto. 

Semoga* Thorif

SDIT Hidayatullah Gelar Kenaikan Sabuk Karate


Ahad/23/11/2014. Perguruan Karate Kala Hitam SDIT Hidayatullah menyelenggarakan ujian kenaikan sabuk. Acara yang diikuti oleh murid-murid SDIT Hidayatullah ini berlangsung selama setengah hari, mulai dari pukul 07.00 sampai dengan pukul 13.00 wib.

Kegiatan ini diikuti oleh seluruh peserta pengembangan diri karate, “Ada sekitar 100 san lebih peserta ujian kenaikan sabuk pada kali ini.” Demikian tutur Untung Purnomo, selaku pelatih Pengembangan Diri Karate Kala Hitam ini.

Penggemblengan fisik menjadi hal yang ditekankan dalam kegiatan ini. Mulai dari pemanasan, berlari lebih kurang dua kilometer, teknik-teknik karate, dan ada juga uji nyali bagi yang akan naik dari sabuk hijau ke sabuk coklat dengan mentusuk jarinya sendiri dengan jarum.

“Kegiatan kenaikan sabuk ini insyaAllah akan rutin dilaksanakan setahun dua kali, sehingga diharapkan murid yang mengikuti kegiatan pengembangan diri bisa mengikuti dengan baik.” Kata Untung Purnomo.

Semoga kegiatan ini, selain meningkatkan fisik murid SDIT Hidayatullah juga akan meningkatkan ruhiyah mereka sehingga kuat menghunjam iman dalam dada setiap murid. * Thorif

Untuk melihat album Kenaikan Sabuk Karate Kala Hitam 2014 silahkan klik SDIT Hidayatullah Yogyakarta


Meraih Prestasi dari Mimpi

Nida'un (kanan) di acara LMC 2014

Oleh Deny Herawati

Nida’un Taqwiyani Ashshofiyyah adalah salah satu murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Dia gemar sekali membaca dan mempunyai cita-cita ingin menjadi penulis yang hebat. Dari cita-cita inilah dia menunjukkan prestasinya dengan mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pada beberapa bulan lalu Nida’un mengirimkan karya tulisannya yang berjudul “My Forest My Heaven” untuk diikutkan dalam Lomba Menulis Cerita (LMC).


Untuk menjadi karya yang terpillih, semua naskah yang diterima oleh panitia lomba harus melewati dua tahapan seleksi, termasuk naskah cerita yang ditulis Nida’un. Naskah cerita yang ditulis Nida’un menyisihkan lebih dari tiga ribu naskah karya anak-anak  dari seluruh Indonesia yang telah diterima oleh panitia.

Pada akhirnya Nida’un terpilih menjadi finalis ke-empat dari limabelas finalis. Tanggal 10-14 November 2014 Nida’un diundang untuk mengikuti workshop di Rizen Premiere Hotel Cisarua, Bogor. Dalam lima hari ini dia mengikuti berbagai kegiatan, salah satunya uji wawancara oleh dewan juri.

Pada uji wawancara ini setiap anak menghadapi lima dewan juri. Salah satu dari dewan juri tersebut adalah sastrawan tersohor, Dr. Taufik Ismail. Uji wawancara ini dilakukan untuk membuktikan bahwa karya  atau naskah yang ditulis adalah benar-benar naskah atau tulisan asli para finalis, bukan dari menjiplak atau plagiat.

Akhirnya pada hari Kamis siang tanggal 13 November 2014 limabelas finalis pemenang LMC ini memperoleh penganugerahan dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, termasuk salah satunya adalah Nida’un Taqwiyani Ashshofiyyah dari SDIT Hidayatullah Yogyakarta yang meraih juara ke-empat. Para finalis yang menang memperoleh piala, sertifikat, uang pembinaan dan wisata edukasi ke Taman Safari Indonesia.

Demikianlah prestasi yang dicetak oleh Nida’un berawal dari mimpinya, cita-citanya, menjadi seorang penulis yang hebat. Semoga jejak Nida’un dapat diikuti oleh seluruh anak-anak Indonesia pada umumnya, dan siswa siswi SDIT Hidayatullah Yogyakarta pada khususnya.


*) Deny Herawati, Guru SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta

Catatan Cinta untuk SDIT Hidayatullah


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Laa hawlaa wa laa quwwata illa billaah, subhanallaah, walhamdulillah, Allahu Akbar

Nasehat ini begitu menyejukkan kami, terimakasih kepada Gurunda Mohammad Fauzil Adhim atas nasihatnya kepada kami. Semoga catatan beliau di twitter @kupinang bisa menjadikan kami tambah bersyukur dan bisa berbenah diri.

Inilah catatan cinta yang disampaikan oleh beliau dalam akun twitternya :

Jika sekolah mengajari murid dengan benar, maka tak perlu terjadi stress massal hanya karena mau menghadapi UN. Justru harusnya bergembira.

Jika ada yang tak jujur saat mengerjakan UN, berarti ada yang rapuh di sekolah tersebut. Baru menghadapi UN saja sudah curang. Baru segitu.


Bisa pula didikan dari rumah yang payah. Orangtua ajari dusta, guru di sekolah mencontohkan berbohong; bergegas memoles saat penilai datang.

Kita patut bersyukur atas prestasi yang diraih oleh anak-anak kita. Dan jangan lupa menyertai dengan istighfar & muhasabah. @sdhidayatullah

Saat meraih kemenangan, kita perlu berbenah dan mensucikan nama-Nya. Semoga kita tak tergelincir pada 'ujub dan lupa diri. @sdhidayatullah

Sebanyak apa pun prestasi yang kita raih, berbenah tetap amat penting. Semoga dari waktu ke waktu senantiasa ada perbaikan. @sdhidayatullah



Inilah catatan sederhana seorang kawan. Selamat kepada @sdhidayatullah atas beberapa prestasi yang diraih dalam beberapa hari ini.

Rep. Thorif

Siswi SDIT Hidayatullah Jogja Raih Juara 4 Lomba Menulis Cerita Nasional


Setelah mengikuti seleksi final Lomba Menulis Cerita Anak Nasional (LMC), 10 s.d. 14 November 2014 di The Rizen Premier Hotel, JL. Raya Puncak KM 77 Cisarua Bogor Jawa Barat, akhirnya Nida’un Taqwiyani Ash-Shafiyah, salah satu murid SDIT Hidayatullah Yogyakarta berhasil meraih juara 4 dalam Lomba Menulis Cerita Nasional (LMC) yang diselenggarakan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar.

Pada tahapan seleksi ia merasa tegang ketika diwawancarai oleh sastrawan Taufik Ismail. Ketegangan tersebut ia tuliskan di status facebooknya serta mohon do’a dari temen-temenya. “MENEGANGKANNN!!!  Do'akan aku ya semuanya... Diwawancarai sama Prof. Dr. Taufik Ismail.

Sementara di detik-detik menjelang penganugrahan LMC Nida’un juga menyempatkan diri untuk mengaupdate status di akun facebooknya, ia mohon do’a dari rekan-rekannya semoga Allah memberikan yang terbaik untuk para finalis LMC 2014. “Bismillah, mohon do'a dari sahabatku semua, semoga Allah memberikan yang terbaik untuk para finalis LMC 2014.

“Mantapkan langkahmu, always positive thingking, keberhasilan di depan matamu, jangan pernah ada keraguan, pulanglah dengan membawa keberhasilan, buatlah orang-orang yang kau sayangi menangis karena keberhasilanmu bukan karna kegagalanmu.

Itulah ungkapan-ungkapan motivasi yang disampaikan Nida’un yang akhirnya dengan semangat itulah serta do’a yang senantiasa dipanjatkan oleh Nida’un, akhirnya Nida’un Taqwiyani Ash-Shafiyah berhasil meraih juara 4 dalam Lomba Menulis Cerita Nasional (LMC).

Keberhasilan tersebut membawa kebahagiaan tersendiri pada Nida’un dan keluarganya, serta pihak sekolah tempat Nidaun belajar. Pihak sekolah berharap agar potensi tersebut dikembangkan dan di asah sehingga prestasinya terus melejit. Sehingga menambah mujahid-mujahidah yang berjuang dengan pena.

Selain itu pihak sekolah juga berharap agar keberhasilan Nidaun menjadi contoh bagi adik-adik kelasnya di SDIT Hidayatullah Yogyakarta.

Sementara itu, Ibnu Qayyim selaku Bapak dari Nida’un merasa senang dan bangga atas prestasi yang diraih anaknya. Qayyim berharap agar prestasi tersebut menjadi motivasi bagi Nida’un untuk tetap semangat dalam belajar.

“Kami berharap agar prestasi tersebut menjadi motivasi bagi Nida’un untuk tetap semangat dalam belajar”. Pungkasnya

*) Yayan, Yogyakarta.

TIGA SANTRI HIDAYATULLAH JOGJA RAIH JUARA MTQ



Tiga santri Hidayatullah Yogyakarta ditunjuk untuk mewakili Kecamatan Ngaglik pada kegiatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Kabupaten. Mereka adalah Atina Nu’ma Fidaroina, murid kelas 6 SDIT Hidayatullah, Syauqi dan Mujahid, keduanya adalah murid MTs-MA Hidayatullah Yogyakarta.

LOWONGAN : SDIT HIDAYATULLAH JOGJA BUTUH GURU AL-QUR'AN


Dibutuhkan 3 Guru Al-Qur'an untuk mengajar di SDIT Hidayatullah

Syarat :
1. Muslim/Muslimah
2. Bisa baca dan tulis Al-Qur'an dengan baik.
3. Hafal Al-Qur'an Juz 30
4. Mencintai dunia anak-anak

Kirim CV Anda ke : SDIT Hidayatullah, Jl. Palagan Tentara Pelajar Km 14,5 Balong, Donoharjo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.


Surat Lamaran bisa dikirim via email : sdithidayatullahsleman@hidayatullah.or.id
Kontak Person : Thorif 087738219070

Pertanyaan bisa via twitter @sdhidayatullah

LAZNAS BMH DAN DPPAI UII GELAR SEMINAR NASIONAL


Dalam rangka menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berzakat, BMH menggelar seminar zakat dengan tema “Zakat dan kesejahteraan Umat”. 

Acara ini digelar disela Rapat Kerja Nasional ( Rakernas) XI Laznas Baitul Maal Hidayatullah di Kampus UII, Yogyakarta yang bekerjasama dengan Dewan Pengembangan dan Pendidikan Agama Islam UII.  

Acara yang digelar pada 04 November ini menghadirkan narasumber Dr. H. Abdul Mannan selaku Ketua Umum PP Hidayatullah, Dr. Abdul Jamil, SH, M Hum yang mewakili rektor  UII dan Bapak Ir. Munadhir selaku direktur Lazis UII.

“Acara ini merupakan bagian edukasi yang kita sampaikan kepada masyarakat mengenai peran ZIS dalam pembangunan. Sekaligus menjadi sarana edukasi untuk membangkitkan kesadaran berzakat,” ujar Firman ZA.

Ratusan peserta mengikuti acara dengan antusias, mulai dari aktifis zakat hingga civitas akademik UII yang bertempat di ruang audio visual perpustakaan pusat UII yang dibuka langsung perwakilan dari pemprov Jogyakarta.

Beragam latar belakang pembicara yang hadir membuat wawasan peserta semakin luas dalam memandang dimensi perzakatan di Indonesia.

“Acara ini menjadi sangat strategis karena tergabungnya praktisi dalam perzakatan yang di gagas BMH serta akademisi pihak kampus dari UII,” terang Dede selaku peserta dalam acara seminar ini.

Disela acara, BMH menyalurkan motor untuk dai pedalaman  untuk menguatkan barisan dai dalam menempuh dakwah kedaerah-daerah pedalaman.



“Dengan adanya seminar ini semoga kesadaran masyarakat dalam berzakat semakin meningkat, sehingga kesejahteraan rakyat kian dekat dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian maka peran Laznas seperti BMH bisa semakin menguatkan program-program pengentasan kemiskinan yang dicanangkan pemerintah,” pungkas Firman ZA selaku Kepala BMH Cabang Yogyakarta.*/Emthorif

Fauzil Adhim : Diskusi, Bukan Debat


Oleh Mohammad Fauzil Adhim


Tak ada diskusi ketika semangatnya menjatuhkan. Bukan mencari kebenaran. Tak ada musyawarah ketika ambisinya kemenangan. Bukan.kebaikan. Ada saat ketika menghindari debat dan berhenti darinya itu diganjar pahala sangat besar, yakni ketika debat mengarah pada perpecahan (mira’). Menghindari perdebatan yang semacam ini, meskipun kita berada di pihak yang benar, besar pahalanya surga ganjarannya.

Mendiskusikan ilmu itu baik dan penuh manfaat. Tapi memperdebatkannya amatlah buruk. Diskusi membukakan pikiran dan mendekatkan hati sesama penuntut ilmu. Adapun memperdebatkan ilmu, Imam Malik rahimahullah berkata, “Perdebatan tentang ilmu itu membuat hati keras dan menimbulkan kedengkian.”

Imam Syafi'i rahimahullah juga mengingatkan kita, “Percekcokan dalam agama itu mengeraskan hati dan menanamkan kedengkian yang sangat.”

Renungilah sejenak hadis riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah; Rasulullah shallaLlahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا ضَلَّ قَوْمٌ بَعْدَ هُدًى كَانُوْا عَلَيْهِ إِلاَّ أُوْتُوْا الْجَدَلَ، ثُمَّ قَرَأَ : مَا ضَرَبُوْهُ لَكَ إِلاَّ جَدَلاً

“Tidaklah sebuah kaum menjadi sesat setelah mereka dulunya berada di atas hidayah kecuali yang suka berdebat." Lalu beliau membaca (ayat): “Mereka tidak memberikan perumpamaan itu kepadamu melainkan dengan maksud membantah saja.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Nah. Maka salah satu bekal menuntut ilmu adalah menahan diri dari berdebat untuk maksud berbantah-bantahan dan menjatuhkan lawan bicara. Jika diskusi telah mengarah kepada mira', sedapat mungkin kita mengingatkan. Tetapi jika tetap dalam perdebatan yang mengarah kepada sikap saling menjatuhkan saling mengolok, maka memilih untuk tidak melanjutkan perdebatan (mira') itu jauh lebih utama meskipun beresiko disangka tak berani. Sangat berbeda penakut dengan menahan diri dari hal-hal yang membawa kerusakan (mafsadat).

Al-Auza'i: “Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”

Marilah kita ingat sejenak sebuah hadis riwayat Imam Baihaqi berkenaan dengan Nabi Sulaiman ‘alaihis salam kepada anaknya:
يَا بُنَيَّ، إِيَّاكَ وَالْمِرَاءَ، فَإِنَّ نَفْعَهُ قَلِيلٌ، وَهُوَ يُهِيجُ الْعَدَاوَةَ بَيْنَ الْإِخْوَانِ

“Wahai Anakku, tinggalkanlah mira’ (mendebat karena ragu dan menentang, debat untuk menjatuhkan) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.” ( HR. Baihaqi).

Maka, apakah yang dapat kita renungi darinya?

Mari sejenak kita renungi perkataan Imam Ahmad rahimahullah sebagaimana dinukil Ibnu Abdil Barr, “Tak akan pernah bahagia orang yang suka berdebat. Dan tidaklah engkau menjumpai seseorang yang suka berdebat kecuali di hatinya tersimpan sebuah penyakit.”



Nah. Bagaimanakah dengan kita?

Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku
Twitter @kupinang
FansPage FaceBook Mohammad Fauzil Adhim

Kenakalan Anak, Kenali Sebabnya, Jangan Nafikan


Oleh Mohammad Fauzil Adhim

Pada pokoknya, tidak ada anak yang nakal. Kitalah yang salah didik sehingga mereka menjadi nakal. Tak ada anak yang lahir dalam keadaan nakal. Tetapi kita tak boleh menutup mata atau menyangkal bahwa kenakalan itu ada. Sesungguhnya, eufimisme hanya menyulitkan kita menemukan akar masalahnya. Memahami setiap sebab kenakalan akan memudahkan kita menentukan langkah yang tepat sesuai dengan sebab kenakalannya. Langkah terstruktur.


Menyangkal adanya kenakalan dapat membuat kita terkejut. Tiba-tiba saja ada berita kriminalitas anak. Bukan lagi sekedar kenakalan. Ungkapan sebagian trainer bahwa kenakalan hanyalah soal cara pandang, atau kenakalan adalah kreativitas terpendam, memang menghibur. Tetapi ungkapan ini sangat menjerumuskan. Menganggap biasa tiap kenakalan, memandangnya wajar sehingga tak ada tindakan, akibatnya sangat fatal. Kita menganggap kenakalan itu tidak pernah ada, tapi tiba-tiba saja dikejutkan oleh berita anak SD membunuh. Apakah ini bukan kenakalan? Bukan. Ini sudah kriminalitas. Jauh lebih berat daripada kenakalan.


Ketika ada yang gaduh di kelas, sebagian guru dengan ringan berkata "mereka anak kinestetik". Tapi tak menjelaskan beda kinestetik dan liar. Teringat kisah seorang kawan di Melbourne. Suatu saat anaknya mengantuk di kelas. Catat: mengantuk. Itu pun sebentar. Tapi guru langsung koordinasi. Mereka ingin mengetahui sebab (ini mempengaruhi penanganan) mengantuknya anak. Karena kehilangan motivasi, terlambat tidur atau lainnya.


Menyangkal adanya kenakalan dapat membuat kita terkejut. Tiba-tiba saja ada berita kriminalitas anak. Bukan lagi sekedar kenakalan. Ungkapan sebagian trainer bahwa kenakalan hanyalah soal cara pandang, atau kenakalan adalah kreativitas terpendam, memang menghibur. Tetapi ungkapan ini sangat menjerumuskan. Menganggap biasa tiap kenakalan, memandangnya wajar sehingga tak ada tindakan, akibatnya sangat fatal. Kita menganggap kenakalan itu tidak pernah ada, tapi tiba-tiba saja dikejutkan oleh berita anak SD membunuh. Apakah ini bukan kenakalan? Bukan. Ini sudah kriminalitas. Jauh lebih berat daripada kenakalan.


Ketika ada yang gaduh di kelas, sebagian guru dengan ringan berkata "mereka anak kinestetik". Tapi tak menjelaskan beda kinestetik dan liar. Teringat kisah seorang kawan di Melbourne. Suatu saat anaknya mengantuk di kelas. Catat: mengantuk. Itu pun sebentar. Tapi guru langsung koordinasi. Mereka ingin mengetahui sebab (ini mempengaruhi penanganan) mengantuknya anak. Karena kehilangan motivasi, terlambat tidur atau lainnya.


Point pentingnya adalah, masalah kecil pun perlu segera ditangani agar tak berkembang lebih parah atau justru jadi masalah kolektif.


Terdapat banyak literatur yang khusus membahas kenakalan anak, mengenali tanda dan sebabnya serta cara menangani. Ini menunjukkan bahwa kenakalan itu ada dan perlu langkah-langkah yang tepat untuk menanganinya. Bukan menafikan.


Jika setiap yang tak sesuai kita anggap biasa, maka ketika anak sudah berperilaku sangat menyimpang pun, kita sudah tak peka lagi. Kita menganggap biasa apa yang sebenarnya tak biasa tanpa mencoba memahami sebabnya dan akhirnya gagap ketika persoalan berkembang serius.


Ini sama dengan belajar anak. Kita perlu bedakan antara kemampuan dan kemauan. Jika anak goblog karena malas, jangan cari pembenaran. Berbakat tapi tak bersemangat akan kalah dibanding tak berbakat tapi gigih. Awalnya sulit, sesudah itu mereka akan menemukan kemudahan.


Sama halnya capek dan lelah. Capek (tired) bersifat fisik, lelah (fatigue) bersifat mental. Capek karena belajar seharian itu wajar. Cukup beri kesempatan istirahat, dia akan segar kembali. Tapi lelah setelah belajar, full day atau pun half day, itu yang perlu diatasi. Dan itu tidak terkait dengan panjang pendeknya durasi belajar. Di sekolah yang durasi belajarnya pendek pun bisa saja banyak yang kelelahan.


Jika anak kelewat bersemangat sehingga kecapekan belajar, paling-paling cuma badannya yang sakit. Bisa flu, bisa demam. Paling seminggu. Tapi sangat berbeda dengan kelelahan. Jika dibiarkan, anak dapat kehilangan motivasi belajar, apatis, gangguan perilaku atau kenakalan. Anak juga dapat menjadi trouble maker alias biang kerok. Ini jika anak tidak memperoleh stimulasi media. Nah, apalagi kalau media merusak dan memperparah.


Mohammad Fauzil Adhim, Penulis Buku-buku Parenting

Twitter @kupinang