Marahnya Cinta


Oleh Mahmud Thorif

“Kalian harus bisa menjadi kebanggaan orangtua kalian. Kalau seperti ini sifat kalian, apa yang bisa dibanggakan.” Teriak Pak Hasan dengan muka merah menahan amarah. “Saat pelajaran kalian bermain-main, saat shalat berjamaah juga bermain. Bermain itu ada waktu dan tempatnya sendiri. Paham!” Lanjut beliau masih dengan nada 5 oktaf. “Kalau shalat kalian tertib Pak guru bangga dan tentu orangtua kalian juga bangga. Tapi apa yang kalian lakukan? Apa?” kata Pak Hasan mulai menurunkan nada suaranya. Anak-anak hanya tertunduk dalam diam. “Pak Guru tidak membenci kalian, bahkan Pak Guru sayang sama kalian. Pak Guru hanya tidak suka dengan sifat kalian.” Semakin rendah Pak Hasan menyampaikan kata-katanya.

Ya, siang yang panas itu ada tujuh anak laki-laki yang bergurau dan bermain saat shalat dhuhur, sehingga mereka harus mendapat nasihat dari sang guru. Sebenarnya hal ini sudah terjadi berkali-kali, tapi baru kali ini sang guru begitu marah sampai dengan nada suara tinggi.
Gelisah anak-anak yang seharusnya jam dhuhur mereka pulang mulai tampak, dan hal ini tidak dihiraukan oleh Pak Hasan, beliau memang sengaja membuat terlambat mereka pulang. Agar menjadi pengalaman bagi mereka.

Ya inilah pernak-pernik pendidikan di sekolah, seorang guru yang dituntut oleh pemerintah untuk mecerdaskan anak bangsa, seorang guru yang dituntut oleh orangtua untuk membuat pandai dan menshalihkan putra-putrinya, seorang guru yang dituntut oleh sekolahnya sendiri agar anak didiknya berprestasi sehingga mengangkat nama baik sekolahnya. Jadi guru memang harus bisa mengendalikan emosinya sendiri, tapi bukan berarti membiarkan anak didiknya berbuat semaunya. Adakalanya memang diperlukan teguran keras, teguran sedang, dan teguran ringan kepada anak didik yang memerlukannya.

Guru juga manusia. Tentu beliau-beliau mempunyai keluarga yang menjadi tanggungannya. Nah emosi dalam rumah tangga, mungkin saat marah dengan suami atau istri atau juga orangtuanya, bagi guru tidak boleh tidak dibawa ke dalam ruang kelas. Jika di bawa ke kelas, akibatnya bisa fatal. Kesalahan sedikit seorang murid bisa tampak besar di mata sang guru. Ya, sekali lagi guru dituntut untuk bisa mengatur ritme emosinya. Sehingga kalaupun diperlukan marah, itu hanya marah wajahnya saja, tidak sampai marah ke dalam hati apalagi terus menimbulkan dendam sehingga mengecap anak didiknya menjadi jelek. Setelah masalahnya usai, guru harus kembali berwajah ceria kepada anak didiknya.
Sebuah pekerjaan berat memang. Disinilah seninya menjadi guru, para guru harus pandai membawa suasana hati. Semangatnya bukan terlihat saat tanggal muda saja, tapi harus pada setiap tanggal, dari muda sampai tua.

Marahnya guru kepada anak didik tentu bukan karena sang guru benci kepadanya. Itu adalah wujud sayang seorang guru kepada anak-anaknya di sekolah. Bagaimana tidak sayang, seandainya anak didik yang berbuat salah tetap dibiarkan, walau sang guru sangat paham akan kesalahannya, maka yang terjadi adalah si murid merasa dibenarkan akan perbuatan salahnya dan tentu dia akan kembali mengulangi perbuatannya karena merasa dibenarkan.

Tapi lagi-lagi sang guru juga harus pandai-pandai mengkomunikasikan kepada orangtua, alih-alih mau memberi sayang lebih kepada anak didiknya dengan ‘memberikan marah’, malah orangtua salah pengertian. Apalagi jika si anak pandai membuat alur cerita bagaimana dia diberi marah oleh sang guru. Sang guru harus mengkomunikasikan terlebih dahulu kepada orangtua, mungkin bisa melalui telepon atau bagusnya ketemu langsung, bagaimana sebenarnya yang terjadi. Jangan sampai marahnya guru kepada anak didik menjadi pemicu buruknya hubungan antara guru dan orangtua atau bahkan orangtua dengan sekolah. Dan sebagai orangtua tentunya lebih bijaksana jika meminta penjelasan kepada guru terlebih dahulu sebelum memberi komentar. Baiknya dengarkan cerita anak, tanpa perlu memberi komentar buruk kepada gurunya anak-anak, apalagi sampai menghina guru anak-anak di depan mereka. Semoga tulisan ini membawa manfaat bagi semua. Kebenaran hanya milik Allah ‘azza wa jalla. || 

Mahmud Thorif, Tata Usaha SDIT Hidayatullah Sleman Yogyakarta
Twitter @tuswanreksameja
Foto ldkalihsan.wordpress.com

0 Response to "Marahnya Cinta"

Post a Comment